Thomas Aquinas Pembuktian Eksistensi Tuhan

(Oleh: Koko Istya Temorubun,SS)

Pendahuluan

Thomas Aquinas seorang pemikir Kristen menunjukan bahwa ilmu pengetahuan bias berjalan berbarengang dengan iman. Salah satu pembuktian yang ia berikan adalah dengan menerapkan pemikiran Aristoteles dalam pembutiannya tentan Allah. Pembuktian ini mengambil pemikiran Aristoteles dalam bulunya Yang berjudul Metafisika. Dalam hal ini ia membuktikan eksistensi Tuhan berdasarkan hubungan antara kebenaran inderawi dan eksistensi Tuhan.

A.       Eksistensi Tuhan Perlu untuk Dibuktikan

Bagi Thomas Aquinas manusia pada dirinya sendiri tidak dapat memiliki pengetahuan yang benar dan lengkap tentang Tuhan. “Bagaimanapun manusia tidak dapat menggambarkan Allah sebagaimana ia dapat menggambarakn suatu objek di dunia ini; ia tidak dapat menyentuh, melihat, membaui atau mendengar Allah.”[1] Walaupun demikian bukti adanya Tuhan bias ditemukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Dalam pemikirannnya, Aqunas sendiri bertentangan denganAnselmus yang menyatakan bahwa dengan berpikir tentnag Allah sudah dapat membuktikan bahwa Tuhan itu ada.bagi Aquinas, pembuktian A priori, tidaklah jelas. Pengetahuan tentang Allag tidaklah tertanam secara alamiah dalam pikiran manusia. Pengertian tersebut malah kabur dan tidak jelas, yang dengan demikian membutuhkan penerangan sehingga bias dimegerti secara eksplisit.[2] Oleh karena itu Aquinas bertanya, “Apakah jelas dengan sendirinya bahwa Allah Ada?”[3]

  1. B. Pembuktian Allah Dengan Cara A posteriori

Jika memang pembuktian eksistensi Allah dengan model a priori, melaui ide tentang Allah, bukan menimbulakan pengertian dan pembutian malah menimbulkan kebingungan, maka bagi Aquinas tentang Allah harus dapat dibuktikan dengan cara a posteriori. Pembuktian ini dilakukan dengan cara menyelidiki efek dari Allah sendiri.[4] Aquinas kemudian mengajukan lima jaln untuk mem,buktikan eksistensi Tuhan. Pembuktian ini didasarkan pada pengertian rasional mengenai objek-objek inderawi, ‘bahwa semua peristiwa atau setiap objek memiliki penyebab, adalah sesuatu yang dapat diketahui oleh intelek manusia sebagai suatu prinsip, tanpa mengganggu pembuktian berdasarkan pengalaman.”[5]

a. Jalan Pembuktian Yang Pertama: Berdasarakan Gerak.

Pembutian in didasrkan pada gerak. Melalui persepsi inderawi kita menangkap bahwa sesautgu itu bergerak. Mengikuti Aristoteles, Aqunas menaytakan bahwa sautu gerak tidak mungkin direduksi dari potensialitas gerak. Maksudnya bahwan suatu potensialits gerak tidak mungkin melahirkan dari padanya suatu aktualitas dari gerak. Dengan demikian suatu aktuialitas hanya dapat dihasilakn oleh aktialitas yang lain. Menurut Aquinas, segala seauatu yang bergerak pasti digerakan oleh sesuatu yang lain. Aqunas menerangkannya dengan menunjuk pada serangkaian gerak actual dari domino yang di sususn berderet yang ditmbulkan oleh aktualitas dari yang lain. Ia kemudian menunjuk pada rangklaian terakhir yang meyebabkan rangkaian gerak tersebut. Dalam hal ini, ia menunjukan bahwa dari rangkaian gerak domino tersebut domino yang pertama tidak mungkin bergerak kalau tidak digerakan. Dengan demikain segala sesuatu yang ada tidak mungkin bergerak tanpa ada yang  menggerakan, sehingga kta akan tiba pada sesuatu yang bergerak yang menggerekan yang lain dan tidak memilki potensialitas pada  dirinya.Jika sesuatu itu bergerak sendiri, maka gerak tersebut lahir dari dalam dirinya sendiri dan di dalam dirinya sendiri ia tiadak memiliki potensialitas dan tidak digerakan, dengan demikian sesuatu itu adalah aktualitas murni. Inaialh yang dimengerti oelh manusia sebagai Tuhan.[6] Aquinas menyebut pembuktian ini sebagai manifestion via

b. Jalan Pembuktian Ke Dua: Pennyebab Efisien

Aqunas sendiri berpendapat bahwa tidak ada sesuatupun yang menjadi oenyebab bagi dirinya sendiri, sesuatui pasti tidak ada sebelum dia ada. Dengan demikian sesuatu yang pasti disebabkan oleh sesuatu yang lain, oleh karenan itu menjadi tidak masuk akal bila sesuatu itu menjadi penyebab dalam dirinya sendiri. Jika hubungan sebab-akibat ini ditelusuri akan ditemukan serangkaian hubungan sebab akibat yang rumit dan panjang, dimana masing-masing sebab nerupakan akibat dari sebab yang lain.  Aquinas menegaskan bahwa tidak mungkin ada suatu rangkaian sebab akibat yang tidak memiliki akhir dan tanpa batas.[7] Indikasi dari semua rangkaian sebab akibat ini bahwa pasti ada suatu peneyebab yang tidak disebabkan, yakni Allah.[8]

c. Pembuktian Dengan Jalan Ke Tiga: Bukti Berdasarkan Kemungkinan dan Keharusan

Aquinas melihat bahwa sesuatu itu pada suatu waktu tidak ada, kemudian ada dan akhirnya berhenti berada. Keberadaan yang kontingen ini menunjuk pada suatu rangkaian regenerasi. Dengan demikian Aquinas menyimpulkan bahwa ada saat dimana segala seuatu itu tidak ada. Menjadi pewrtanyaan sekarang bagaimana sesuatu itu menjadi ada pada tidak mungkin bahwa sesuatu itu lahir dari ketiadaan. Oleh karena itu Aquinas menegasakan bahwa harus ada sesuatu yang berada diluar rangkaian tersebut.[9] Sesautui yang ada itu haruslah merupakan suatu yang harus didalam dirinya sendiri, dan keharusan yang ia miliki tidaklah diperoleh dari yang lain. Dia haruslah merupakan penyebab dari sesuatu yang lain. Sesuatu itu tidak lain adalah Allah sendiri.[10]

d. Pembuktian Ke Empat: Berdasarakan derajat kesempurnaan

Pada pembuktian yang keempat ini Aquianas menunjuk pada derajad kesempurnaan. Aquinas melihat bahwa ada suatu penilaian terhadap benda-benda objektif, diamana yang satu diaktakan lebih dari yang lain ataupun sebaliknya sesuatu itu diukatakan kurang dari yang lain. Ia melihat bahwa penilaian ini hanya menunjuk pada tingkat kesmpurnaan relatif. Bagi Aquinas sendiri menyatakan bahwa Allah itu lebih dari sesuatu tiodaklah menunjukan bahwa tuhan itu ada.[11] Dengan menyatakan bahwa sesuatu itu lebih dari yang lain menunjukan bahwa apa yang lebih hanya merupakan partisipasi dari apa yang kurang dari yang lain. Berdasarkan derajad ini, maka pasti ada sesuatu yang mereupakan penyebab akhir dari kesempurnaan yang sempurna dalam dirinya sendiri dan tidak menerima kesempurnaan itu dari yang lain.[12] Oleh karean itu Aqunias menyimpulkan bahwa ada sesautu yang meruoakan penyebab segala kesempurnaan dalam segala yang ada, sesuatu itu tidak lain ialah tuhan sendiri.[13]

e. Jalan Pembuktian Ke Lima: Berdasarkan alam semesta

Aquinas melihat bahwa alam menunjukan gerak yang tidak berubah dan praktis serta selalu mengarah pada sesautu yang baik. Oleh karean itu ia melihat bahwa dalam alam sendiri ada suatu tujuan atau arah tertentu yang hendak dicapai. Tujuan dan arah tersebut bukanlajh sesuatu yang kebetulan semata. Ia sendiri berpendapat bahwa sesuatu yang memiliki arahj dan tujuan pastilah memiliki kesadaran, jika tidak pastila diarahkan atau disebabkan oleh sesuatu yang memiliki kesadaran dan pengertian.[14] Ia kemudian menunjuk bahwa ad Inteligent being yang demngannya segala sesuatu yang naturak tersebut diarahkan pada tujuan tertentu. Inteligent being tersebut tidak lainadalah Allah sendiri.[15]

Daftatar Pustaka

Copleston, F. A  History  Of Philosophy: Albert The Great to Duns Scotus. Vol II. Part II. 3th Printing. New Yor: Image Books, 1962.

Mondin, Batista A history of Medieval Philosophy. Translated by M. A.  Czdyn. Corected and Revised by L. M. Cizyn. Banglore: Theological Press, 1991.

Ohoitumur, J. ”Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan.” Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004.

Smith, L dan W illiam Reaper. Ide-ide:Filsafat Agama Dahulu dan Sekarang. Diterjemahkan oleh P Hardono H. Yogyakarta: Kanisius, 2000.


[1] Linda Smith dan W illiam Reaper, Ide-ide:Filsafat Agama Dahulu dan Sekarang, diterjemahkan oleh P Hardono H, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 48.

[2] F. Copleston, A History  Of Philosophy: Albert The Great to Duns Scotus, vol II, part II, 3th Printing (New Yor: Image Books, 1962), hlm. 56.

[3] Linda Smith dan W. Reaper, Ide-ide:Filsafat Agama Dahulu dan Sekarang, hlm. 48.

[4] Bdk.  F. Copleston, A History  Of Philosophy, hlm. 57.

[5] J. Ohoitumur,”Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan,” (Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004), hlm. 135-136.

[6] Bdk.  Batista Mondin, A history of Medieval Philosophy, translated by M. A.  Czdyn, corected and Revised by L. M. Cizyn (Banglore: Theological Press, 1991), hlm. 321.

[7] Bdk.  Linda Smith dan W. Reaper, Ide-ide, hlm.48

[8] Bdk.  Batista Mondin, A history of Medieval Philosophy, hlm. 324.

[9] Bdk.  F. Copleston, A History  of Philosophy, hlm. 61

[10] Bdk.  Batista Mondin, A history of Medieval Philosophy, hlm. 327

[11] Bdk.  F. Copleston, History  of Philosophy, hlm. 63.

[12] Ibid.,

[13] Bdk.  Batista Mondin, A history of Medieval Philosophy, hlm. 329

[14] Bdk.  Linda Smith dan W. Reaper, Ide-ide, hlm.50.

[15] Bdk.  Batista Mondin, A history of Medieval Philosoph, hlm.330

4 Tanggapan to “Thomas Aquinas Pembuktian Eksistensi Tuhan”

  1. […] suatu objek di dunia ini; ia tidak dapat menyentuh, melihat, membaui atau mendengar Allah.”[1] Walaupun demikian bukti adanya Tuhan bias ditemukan dalam kehidupan manusia […]

  2. Jeane Yosefa Tine Says:

    Aku mendapat satu masalah di tempatku mengajar.
    Salah satu muridku yang terpintar,… setelah selesai jam mengajar matematika beradu debat denganku. Dan dari debat itu, tersimpulkan satu karakter tentang murid pintarku itu, bahwa: “Ia seorang atheis.”

    Umur yang masih muda sebenarnya untuknya. Masih kelas 1 SMA.
    Tapi yang mengherankan, ia dibesarkan dari keluarga katolik. Kedua org tuanya adalah katolik.

    Tapi dari hasil pertanyaanku padanya, mencerminkan bahwa hidup katolik mereka sangat tidak baik.

    Sebagai gurunya, yang juga sebagai seorang katolik, aku punya tanggung jawab besar untuk keselamatan imannya.
    Karena bukan hanya ilmu matematika yang harus ku ajar, tetapi juga kepribadiannya, lakunya, mentalnya, dan hidup rohaninya.

    Aku bertanya pada teman frater,…
    mereka mengusulkan aku untuk membaca bukunya Thomas Aquinas yg membahas tentang 5 jalan membuktikan eksistensi Allah.

    Kayaknya ini bagian pokoknya yah,…?
    Thanks yahh,..
    Klo bisa ku minta yang rincinya,…
    ^ _ ^

  3. Venny Kahiking Tiala Says:

    Menjadi seorang guru harus punya mental yang kuat..sungguh pekerjaan sabagai seorang guru sangat mulia.tapi aku tau siapa kamu.dan sepertinya kamu sok pamer.biasa aja lagi,,.

  4. Hi Venny,..
    Membaca komentar anda ini, ada beberapa kesan dari saya:

    1) Saya setuju ttg pendapat anda mengenai guru, tapi sayang.. Comment anda sangat tdk nyambung dgn tulisan diatas, asal bunyi, membawa perasaan pribadi, dan sangat dipenuhi dendam dan kebencian.

    2) Anda menyatakan bhw anda mengenal saya, padahal saya sendiri tdk mengenal anda sama sekali.
    Jdi, bgmana bisa anda menyatakan mengenal saya? Cerita org?
    Atau anda fans saya yg diam2 menyelidiki saya?
    Maaf, bkn kegeeran, tapi memberikan kemungkinan yg logis bgmna sampai anda bisa mengenal saya.

    Demikian, tidaklah benar dan tidaklah hrs bhw anda menyatakan pendapat bhw saya adalah sok pamer, krn anda mengenal saya.

    Itu artinya, anda asal bunyi, suka menjelekkan org, suka menghina org, dan membenci saya.

    Anda hrs kenal dulu orgnya secara langsung, baru bisa mengata-ngatai.
    Jikapun kenal, tak baik mengatai org,.
    Agama melarang kita dgn hukum “kasih” dan
    hukum negara melarang kita, dgn tindak “pencemaran nama baik”.

    Hehe,. Berlebìhan ya? Maklum, ku suka nulis.

    Jdi, bgmana jika saya memberi kemungkinan atas tuduhan anda?
    -Mmg saya suka nulis, & share, aplg bertanya sprt diatas.

    3)Nama anda, marga anda mengingatkan saya akan suatu kisah tentang laki2 bejat yg menghamili perempuan kmudian tak bertanggung jwb. Hampir dijebloskan ke penjara dgn semua bukti, tapi syukur2 diampuni oleh si perempuan.
    Anda adalah perempuan, beradalah di posisi si perempuan.

    Skrg perempuan it sdh menikah, berkeluarga,dan jgn campuri hdpnya lgi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: