RENESSANCE DAN CORAK KHASNYA

RENESSANCE DAN CORAK KHASNYA

(Pius Samponu, Tkt. II, Filsafat Agama)

I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah

Zaman Renessance merupakan suatu zaman di antara sekian zaman yang telah menyejarah dalam hidup manusia zaman ini. Bagi para pemikir dan ilmuwan, zaman ini ternyata menjadi suatu era baru sekaligus sebagai suatu sumbangsih yang besar terhadap eksistensi manusia sebagai makhluk rasional. Terlepas dari zaman ini, baiklah kalau kita melihat kebelakang sebelum zaman renessance ini. Tepatnya pada abad pertengahan yaitu abad 14-16 M. Semua kebenaran di dominasi oleh iman Kristen. Pada abad ini, orang hidup dalam suatu kebudayaan di mana agama menjadi esensial dalam hidup.[1] Penelitian dan eksperimen yang dilakukan dengan menggunakan kemampuan rasio, tidak juga mendapat tempatnya. Hal ini pun merembas pada bidang filsafat. Dalam filsafatnya Plato dan Aristoteles orang kristen menggunakannya untuk menjelaskan kebenaran iman Kristen. Misalnya diinspirasikan oleh dualisme Plato, St. Sgustinus menjelaskan bahwa jiwa manusia adalah substansi abadi yang menggunakan tubuh. Jiwa bersifat kekal dan tubuh dapat hancur. Tubuh hancur dan jiwa kembali kepada Allah. Sementara menurut Thomas Aquinas yang memandang filsafat Aristoteles tentang “penggerak pertama dan penyebab terakhir yang tak dapat digerakkan” disebut oleh Thomas begitu saja sebagai jalan untuk membuktikan eksistensi Tuhan.[2]

Dengan adanya kewenangan yang terlampau kuat dari pihak Gereja terhadap pelbagai kebenaran yang muncul dari pelbagai disiplin ilmu pada abad itu, kini muncul pertanyaan bagi kita: apakah tidak ada otoritas yang melebihi otoritas Gereja pada saat itu? Dan bagai mana usaha mengatasi kewibawaan Gereja yang didasarkan pada kebenaran iman dan wayu? Siapa saja yang mempunyai andil yang besar dalam gerekan pembaharuan ini?

1.2.  Batasan Masalah

Dalam paper ini saya akan membatasi pembicaraan pada masa sebelum renessance dan masa renessance ini dan sedikit membicarakan sumbangan renessance bagi sejarah pemikiran modern.

II. Renessance : Pengertian dan sejarahnnya

Pada bagian ini kita akan mencoba memahami apa sebenarnya Renessaance itu. Lewat lliterratur yang ada penulis akan berusaha untuk menghantar kita  pada suatu pemahaman yang kurang lebih mendekati kebenaran berdasarkan sumber-sumber yang ada.

II.1. Pengertian Renessance

a/. Kata Renessance ini berasal dari kata bahasa perancis yang artinya  adalah “Kelahiran kembali atau kebangkitan kembali”. Kata Renessance ini juga diturunkan dalam  bahasa inggris yaitu Re yang artinya “Lagi, Kembali” dan Naisance yang artinya  “Kelahiran”. Arti ini tidak beda jauh dari kata bahasa perancis tadi.

Sementara dalam bahasa latin ada kata yang juga menunjuk pada kata pengertian seperti kata perancis yaitu  “Nascientia” yang berarti Kelahiran,lahir atau dilahirkan (Nasiar,Natus).

Jadi arti dari semua istilah dara berbagai bahasa tadi menunjuk pada suatu gerekan yang meliputi suatu zaman dimana orang merasa dialahirkan kembali dalam keadaban.Gerakan ini juga menunjuk pada zaman dimana ditekankan otonomi dan kedaulatan manusia dalam berpikir, berkreasi serta mengembangkan seni dan sastra dan ilmu pengetahhuan .3

b/. Kedudukan Renessance  dalam sejarah

Gerkan ini diterpkan pada periode waktu di eropa barat yang merentang dari abad 14 hingga 16. Istilah ini akhirnya muncul kembali setelah Michael 1885 dan Burckhardt pada 1860 menggunakan istilah ini dalam judul karya-karya sejarah tentang perancis dan Italia. Periode tadi dipandang sebagai kelahiran kembali semangat yunani dan kebangkitan kembali belajar ilmiah. Periode Peradaban ini terletak diujung atau sesudah abad kegelapan sampai munculnya abad moderen. Dengan adanya kelahiran kembali semangat untuk menghidupi kembali apa yang pernah ada. Orang mulai “Come back to basic” untuk mengangkat sekaligus menghargai kemampuan manusia sebagai makhluk rasional.  Come back to basic itu adalah “suatu zaman dimana peradaban  begitu bebas, pemikiran tidak dikungkung, sain maju yaitu zaman yunai kuno.4

III. CORAK KHAS DARI RENESSANCE DAN SUMBANGANYA TERHADAP BEBRBAGAI DISPLIN ILMU: APA DAN SIAPA

Dalam bagian terakhir dari paper ini penulis akan berusaha memaparkan ciri-ciri renessance dimana akan dijelaskan tentang penghargaan bagi manusia sebagai makhluk yang otonom. Manusia sebagai makhluk otonom yang dimaksudkan oleh penulis adalah manusia yang tidak dibatasi  kebebasannya untuk melakukan sesuatu. Manusia sebagai makhluk otonom berarti manusia sama sekali tidak menggantungkan diri pada kebenaran iman/wahyu seperti yang terjadi pada abad pertengahan melainkan berusaha dengan kekhasanya sebagai makhluk rasional untuk menemukan pelbagai kebenaran. Pada taraf inilah justru manusia tampil beda dengan mengguanakan daya kerja otaknya untuk mencari kebenaran yang bersifat ilmia dari berbagai disiplin ilmu.

Oleh karena  pada bagian ini kita akan melihat corak khas dari Renessance maka baiklah jika kita melihat juga oran-orang yang berpengaruh dalam zaman ini. Adapun yang akan menjadi focus pembahasan adalah orang-orang yang lewat kemampuan intelektualnya dapat menghadirkan pelbagai hal yang baru dalam bidangnya masing-masing.

1. Bersifat individualistis

Zaman ini kita boleh katakana bahwa orang menemukan dua hal yaitu dunia dan dirinya sendiri. Orang mulai menemukan bahwa pengenalan akan dirinya sendiri merupakan suatu nilai dan sekaligus menjadi kekuatan bagi pribadnya. Penemuan akan kemampuan yang ada pada diri sendiri jusrtu membuka peluang  bagi kelanjutan kreatifitas yaang mau dilakukan oleh manusia. Dalam suasana seperti ini muncullah suatu kesadaran akan kemampuan yang didasarkan pada rasio mansuia sendiri. Tak secara langsung orang mulai masuk pada sikap individualitas. Namun perlu diingat bahwa sikap ini sama sekali tidak punya arti yang sangat sempit. Dalam bidang filsafat misalnya, para pemikir berpendapat bahwa kretifitas yang ditunjuk lewat penemuan-penemuan tiada sedikitpun terikat pada wibawa apapun atau pada suatu keyakinan bersama. Kebenaran hendaknya harus dicapai pada kekuatan sendiri. Orang ingin menentukan sendiri apa yang harus diselidiki. Dengan jelas kita boleh katakana bahwa zaman ini cenderung pada sikap yang individual.

Lewat zaman inipun kita boleh temukan sejarah yang menampilkan banyak teori yang dipaparkan oleh orang-orang tertentu. Titik tolak dari individualitas ini didasarkan pada kebebasan mutlak bagi pemikiran dan penelitian, bebas dari pada tiap wibawa dan tradisi tertentu. Pengetahuan yang pasti bukan didapatkan dari pewarisan melainkan dari apa yang diperoleh manusia sendiri lewat kekuatan sendiri.

Untuk memahami lebih lanjut sifat individualistas dari zaman ini alangka baiknya kita melihat siapa-siapa yang lewat kemampuanya berusaha menemuakn meneliti, dan memunculkan hal-hal baru.

a. Dalam bidang Sains

v        Bidang Astronomi

  • Nikolaus Kopernikus (1473-1543)

Dia menemukan bahwa matahari beredar di pusat jagat raya . Dan bumi mempunyai dua gerak yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengitari matahari. Teori kopernikus ini belum diterbitkan pada zamanya itu karena takut ia akan dikucilkan dari gereja. Memang pada zaman itu pandanganya belum moderen.5

  • Yohanes kepler (1571-1630)

Ia menerima teori bahwa jagat raya berpusat pada matahari.

  • Galileo galilei (1564-1642)

Dialah yang mula-mula menemukan pentingnya akselerasi dalam dinamika. Yang dimaksudkan dengan Akselerasi adalah perubahan kecepatan baik dalam besarnya maupun dalam geraknya . Dia juga yang mul-mula menetapkan hukum benda yang jatuh. Selain itu juga ia menerima pandangan yag mengajarkkan bahwa matahari menjadi pusat jagat raya seperti yang dikemukakan oleh koprnikus. Ia juga membuat teleskop setelah berkenalan dengan teleskop buatan hans lliper dari Nederland.

v  Dalam bidang ilmu negara

  • Nicola machiavelli (1469-1527)

Cita-cita machiavelli adalah memulihkan kebudayaan romawi kuno dahulu. Dalam buku yang berjudul Il Principe cara –cara untuk mempertahankan negara. Menurtnya kekuasaan dan kewibawaan penting untuk dipertahankan oleh seseorang demi menjaga ketertiban masyarakat atau negara. Dia menngatakan bahwa pemimpin yang di takuti lebih baik dari pemimpin yang dicintai belaka karena ketakutan bisa mencegah timbulnya kecenderungan untuk melawan kekuasaan.6

Dalam penegasan ini kita boleh menemukan asas yang disampaiakan “Tujuan meghalalkan cara”. Dalam kondisi bagaimanapun pemimpin dibenrakan menempuh berbagai cara asal ditujukan demi ketertiban umum dan keselamtan negara. Pemimpin negraa tidak boleh menghiraukan masalah agama dan moral. Ia harus memanfaatkan situasi untuk kepentingan negara. Aspek negatif dari teorinya ini adalah rakyat yang dianggap bodoh dipergunkan untuk kemajuan negara.7

  • Thomas hobbes (1588-1679)

Pada tahun1651 ia menerbitkan bukunya “Leviatan”. Ungkapanya yang terkenal adalah Homo homini lupus Arti dari ungkpan ini berarti manusia senantisa terancam keselamatannya oleh sesamanya. Oleh karena itu manusia memerlukan adanya lindungan bagi keselamatan warganya.. Pusat lindungan itu adalah negara, maka negara harus mempunyai kekuasaan mutlak.

Demikian beberapa hal yang telah saya paparkan sesuai dengan ciri individual dari zaman Renessace ini. Memang masih banyak teori dan orang-orang yang berjsa pada zaman ini. Namun penulis hanya memaparkan beberapa bidang ilmu yang pengaruhnya cukup bermanfaat bagi pemikiran moderen dalam perjalanan sejarah manusia.

2. Sifat humanisme

Dalam masa renessance dicanangkannya humamnisme sebagai nilai yang diunggulkan dalam usaha memahami permasalahan manusia dan kemanusiaaan.  Orang tidak lagi menghayati hidup dan pikiranya  dengan memusatkan perhatian pada  yang ilahi dalam hal ini yang bersifat Teosentris tetapi berusaha  menampilkan diri sebagai manusia yang keratif. Paham Teosentris  mulai bergeser menuju  paham Antroposentris. Sebua paragdigma yang menitik tolakan pemikiran, pengembangan ilmu dan perdaban  pada manusia sebagai pusatnya.8 Di Italia pada abad 14  kata humanis sudah lazim dipakai. Para sarjana pemikir renessance mempopulerkan istilah ini sampai pada abad 16. Paham humnisme ini tidak berhenti pada zaman ini. Paham ini berjalan terus sehingga memberikan sumbangan yang beser  terhadap dunia. Dimana nilai kemartabatan mansuia  dipandang begitu berharga. Hak ini bisa kita lihat dan nikmati sendiri pada zamn kita ini yaitu diresmikannya piagam hak-hak asasi manusia yang berlaku untuk seluruh dunia pada tahun 1948.

Dalam buku”A history westerm philosophy” dikatakan bahwa:

The first phase of the renessance at cultural movement was humanism. Humansim in this restulcted  sense is the process of turning to the clasical civilization of ancient Greece kind romo for the exemplar and the instruments for fullflling the aim at the renessanse, that this the realization of a new concept and image pf man in a new order of works and forms of live.9

Maksud gerakan kelahiran kemabali ini dalah merealisasikan apa yang pernah hidup pada za,man yunani kuno yaitu titik tolak segal sesuatu bersumber pada manusia. Manusialah  yang menjadi  pusat dari segala  sesuatu  bukan raja atua Allah. Konsekwensi positijf  yang boleh didapat adalah adanya suatu bentuk hidup  yang baru dibandingkan dengan  apa yang terjadi pada abad pertengahan.

Adapun strategi awal dari renessance  untuk mengembalikan segala dimensi kehidupan kepada mansuia. Kurang lebih ada dua peristiwa  yaitu: The first of the these may be called the philogical. Thje second may be called the interpretative and expressive and in the case of at philosophy, speculative.10

Kedua peristiwa itu bertujuan memberikan  suatu pegangan dasar yaitu bahasa, pernyataan perasaan dan interpretasi terhadap segala bentuk penemuan ilmu pengetahuan dan seni yang ada  pada waktu itu. Lewat bahasa  orang zaman itu dapat mengetahui secara benar kebudayaan yunani kuno sekaligus menafsirkan pelbagai bentuk disiplin ilmu yang sejak awal telah dirintis  oleh orang-orang yunani kuno. Semua usaha tidak terlepas dari usaha untuk menampilakan manusia sebagai  sosok yang memiliki pelbagai kemampuan berdasarkan apa yang dimilikinya sebagai makhluk yang berakal budi.

IV. RENESSANCE SEBAGAI LAHAN SUBUR BAGI MODERENISME

Meskipun terdapat perubahan-perubahan yang begitu asasi, namun abad-abad renessance ( Abad 15 dan 16 ) tidaklah secara langsung menjadi tanah subur  bagi pertumbuhan pemikiran moderen. Pada abad  17 daya hidup yang kuat  yang telah timbul pada zaman renessance itu mendapatkan pengungkapannya  yang serasi di bidang filsafat. Jadi kejadian-kejadian pada abad 15 dab 16  hanya menjadi persiapan bagi pembentukan filsafat abad 17.  Tokoh yang berpengaruh dalam babakan baru pada awal abad 17 ini adalah Rene Descartes. Ia dijuluki sebagai Bapak Filsuf moderen dengan ungkapannya yang terkenal adalah “Cogito Ergo Sum”. Penegasan yang mendasar dari rene descartes ini adalah penghargaan terhadap manusia. Menururtnya segala hal boleh kita ragukan namun yang tak perlu diragukan adalah saya yang berpikkir  tentang segala sesuatu yang berada diluar saya.

Lewat penegasan ini Rene Descartes kembali mengangkat pososi manusia sebagai makhluk rasional yang dapat kreatif boleh menemukan banyak penemuan baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam bidang filsafat. Singkatnya kita boleh katakana bahwa awal pemikiran moderen ini ditandai dengan penghargaan terhadap posisi manusia sebagai makhluk rasional.

Dengan demikian kita boleh katakan  Renessance menjadi lahan subur  bagi pertumbuhan pemikiran moderen


[1] Drs. M.A.W. Brower, Latar Belakang Pemikiran Modern, (Bandung: ALUMNI, 1982), hlm. 53-56.

[2] J. Ohoitimur, Pengantar Berfilsafat (Jakarta: Yayasan Gapura, 1997), hlm. 21-22.

3 Bdk, Loerens bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm.953-959

4 Prof.Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat umum:Akal dan hati sejak Thales sampai Capra,(Bandung:Rosdakarya,2001),hlm.125

5 Bdk, Dr. Harun hadiwijono, Sari sejarah filsafat Barat 2 (Yokyakarta: Kanisius, 1980), hlm.13

6 Fuad hasan, pengantar filsafat barat ( Bandung: Pustaka jaya, 2001) hlm.63

7  Bdk,A. Gunawan Setiardja, Dialektika hukum dan moral (Yokyakarta: kanisius,1990), hlm.26-27

8 Dr Madji Sutrisno, Humanisme,Krisis humanisasi ( Jakarta: Obor,2001) hlm.27-29

9 A.Robert  Caponigri, A History Westerm philosophy: Philosophy from the renessance to the romantic Age (Londin: Notre Dame press, 1963 ), hlm

10 Ibid,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: