PENDIDIKAN: SARANA PENDEWASAAN DAN PEMANUSIAAN MANUSIA: Perspektif Filsafat Pendidikan Herbart

(Oleh: Koko Istya Temorubun, SS)

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu bidang kehidupan manusia yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Karena esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia, maka muncul pertanyaan: Pendidikan macam apakah yang diidealkan? Apakah pendidikan itu sendiri telah memanusiakan manusia? Bagaimana dengan sistem dan proses pendidikan itu sendiri? Apakah pendidikan itu sendiri dapat menghantar manusia untuk menentukan dirinya sendiri secara bebas dan bertanggunjawab?

Dalam rangka menjawab pertanyaan-pentanyaan di atas kami akan mengangkat pemikiran Johann Frederich Herbart (1776-1841) terutama tentang pendidikan (selain konsepnya tentang manusia) untuk mendasari pemahaman tentang pendidikan sekaligus kritik/refleksi filosofis atasnya.

1. Konsep Pemikiran Johann Frederich Herbart

1.1. Konsep tentang Manusia

Penekanan yang diberikan oleh Herbart dalam pembicaraannya tentang manusia adalah aktifitas rasional (ide-ide manusia) yang secara kodrati telah dimiliki oleh setiap orang. Karena ide-ide merupakan kekuatan yang mendasari diri setiap orang, maka ide-ide itulah yang mendasari manusia untuk dapat berpikir dan bertindak.

Dalam konteks moral, Herbart memperlihatkan lima relasi yang berasal dari kehendak baik, yang menjadi ide fundamental dari moral, yakni: kebebasan dari dalam (inner freedom), kesempurnaan relasi, kebajikan/perbuatan baik, ide tentang moral dan ide tentang keadilan/kewajaran. Kelima korespondensi ini memperlihatkan satu kesatuan saat seseorang hendak menghasilkan suatu putusan dan tindakan moral.

1.2. Konsep tentang Pendidikan

Herbart meletakan dasar metode pendidikannya atas suatu pemahaman dari proses mental atau perhatian psikologi. Menurutnya, psikologi dan filsafat moral merupakan suatu mata rantai yang saling berhubungan. Herbart mendesak agar dalam pendidikan, seluruh bagian dari kurikulum harus terbuka terhadap suatu penyatuan dan bisa berelasi dengan subyek-subyek didik. Perlu penyaluran perkembangan psikologi pribadi (revolusi kultur manusia) dari kehidupan primitif yang tidak beradab menuju ke yang beradab. Maka tujuan utama dari pendidikan adalah membangun karakter subyek didik.

Herbart menekankan pendidikan dengan didasarkan pada filsafat dan pengalaman. Dalam pandangannya ia mengatakan bahwa untuk memahami kenyataan hidup perlu ada filsafat dan teori-teori pendidikan. Teori pendidikan bukan hanya menunjuk pada sekolah dasar saja tetapi juga pada pendidikan secara keseluruhan.

1.2.1. Hakikat Pendidikan

Adapun mengajar ide-ide materi memberi latihan kepada seseorang untuk membangun perasaan dan keingintahuannya merupakan bagian dari pembentukan personalitas. Hal ini harus diajarkan oleh guru. Siswa yang mendapat ide baru bukan hanya melulu ditentukan oleh materi-materi dari luar melainkan juga harus mampu mengorganisasikan ide tersebut. Karena itu, pendidikan tidak hanya mencerdaskan seseorang tetapi juga mengupayakan pembentukan personalitas orang tersebut. Di sana akan tampak adanya usaha pembentukan karakter seseorang. Dan jika dibangun komunikasi dengan orang lain, akan terjadi pembentukan persepsi demi penyempurnaan kehendak, karakter dan pendewasaan hidup.

1.2.2. Kurikulum Inti

Bagi Herbart manusia lebih muda didekati dari segi pengetahuan ketimbang segi moral. Yang terpenting baginya adalah instruksi. Dibutuhkan instruksi pendidikan yang tergantung pada sistem partikal. Dalam hal ini ada tiga faktor, yakni intensitas, urutan dan unifikasi dari upaya-upaya intelektual. Artinya bahwa sebelum tahap pengetahuan yang terbentuk dalam efek berawal dari ketertarikan. Ketertarikan berarti pikiran menyerap fakta-fakta dan dan proses itu termasuk suatu aktifitas personal. Selain itu, ketertarikan itu berarti bukan hanya tertarik pada subyek partikular tetapi banyak efek lain yang melampaui subyek itu. Ketertarikan menunjuk pada aktifitas pribadi. Ada dua macam ketertarikan: ketertarikan pengatahuan dan ketertarikan etika. Ketertarikan pengetahuan sifatnya empirik (tertarik pada fakta-fakta yang didatangkan dari rasa ingin tahu yang dalam akan botany). Spekulatif (tertarik pada hukum-hukum umum dan logika), dan estatis (tertarik pada kontemplasi dan hal-hal yang menarik, indah).  Sedangkan ketertarikan etika sifatnya simpatik (tertarik kepada seseorang yang sifatnya pribadi), sosial (tertarik pada kehidupan nasional, terutama dalam kehidupan berorganisasi), dan religius (tertarik pada Yang Ilahi). Adapun pengklasifikasian tersebut terdapat dapat di bagi ke dalam 2 kelompok sebagaimana terdapat di bawah ini:

  1. Ilmu Sejarah, yang terdiri dari sejarah dan bahasa.
  2. Ilmu pengetahuan, yang terdiri dari studi tentang alam, geografi dan matematika.

Baginya, kurikulum tersebut memberikan efek samping, diantaranya dapat mendatangkan fondasi yang kuat.

1.2.3. Metode Pendidikan

Metode yang dipakai oleh Herbart adalah metode aplikatif. Dalam metode ini diadakan evaluasi atau tes dengan melihat fakta-fakta yang ada di dalamnya. Misalnya dalam rumus aritmatika, ditemukan suatu sistem sehingga anak akan berlatih dalam pengetahuannya. Akan tetapi, untuk mencapai aplikasi diperlukan langkah-langkah formal, yang oleh hukum Herbartian ditemukan lima langkah formal, yakni persiapan, presentasi, asosiasi, kondensasi dan aplikasi.

Adapun perincian langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: 1) ide atau informasi yang hendak diajarkan diperkenalkan kepada siswa haruslah dipersiapkan agar dapat dipahami secara jelas (persiapan); 2) ide yang diperkenalkan haruslah menarik dan dapat diikuti oleh para siswa (presentasi); 3) melalui perbandingan semua asosiasi harus dieliminasi agar ide-ide dapat diberikan secara penuh dalam suatu garis pemikiran (asosiasi); 4) ide-ide yang telah disatukan haruslah terfokus dalam satu urutan pemikiran (kondensasi) dan 5) untuk menguatkan ide-ide yang telah terikat para siswa harus dituntun menuju penerapan ide ke dalam situasi yang baru (aplikasi).

2. Komentar terhadap pemikiran Herbart tentang Pandidikan

Menurut Herbart setiap kurikulum itu harus terbuka dan menyatu dengan setiap subyek didik sehingga dapat membantu pembentukan kepribadiannya dari tidak beradab menuju kepada yang beradab (yang manusia menuju yang manusiawi). Karena itu pendidikan harus bertujuan untuk membangun setiap subyek didik dengan memperkenalkan kepada subyek didik ide-ide secara jelas, terseleksi, menarik dan sesuai kurikulum sehingga subyek didik dapat berkreasi atas dasar ide tersebut untuk menghasilkan ide baru dan diaplikasikan dalam kehidupannya. Konsekwensinya, ide-ide yang tidak menarik dan tidak sesuai dengan kurikulum haruslah dieliminasikan

Kami setuju dengan pendapat Herbart yang mengatakan bahwa ide yang ditanamkan ke dalam diri subyek didik harus menghasilkan buah. Artinya melalui penanaman ide-ide tersebut subyek didik dapat mengkritisi segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Kita dapat membandingkan dengan pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa keutamaan dalam diri manusia (ratio) itu tidak tinggal  sebatas potensialitas belaka dalam diri subyek didik melainkan justru potensialitas itu dapat teraktualisasi dalam hidupnya. Jadi, ide yang diterima oleh subyek didik dapat dipakai sebagai aktivitas intelektual yang mengaktualisasikan seluruh potensialitas yang ada dalam dirinya. Herbart sendiri mengutamakan nilai kreatifitas ratio dari setiap subyek didik untuk mencegah ide-ide yang diperoleh dan mengaplikasikannya di dalam hidup setiap hari. Konsekwensinya pendidik tidak memonopoli seluruh proses pendidikan tetapi justru menciptakan iklim yang kondusif bagi setiap subyek didik untuk mengolah pengetahuan/ide yang telah diterima.

Oleh karena itu kita perlu memperlihatkan otonomi pribadi di sekolah-sekolah. Anak yang didik seharusnya dilatih untuk berpikir sendiri serta teliti tentang realitas kehidupannya, berani berbeda pendapat serta memberikan alasan yang tepat yang bisa dipertanggungjawabkannya. Setiap subyek didik perlu disadarkan akan hak dan tanggungjawab pribadinya sebagai menusia yang unik dan otonom dalam kebersamaan dengan yang lain. Dan terlebih, para pendidik patut belajar dari sejarah tentang sistem pendidikan yang serba seragam yang hanya menekankan hafalan terhadap seluruh isi buku tanpa memberi kesempatan kepada si subyek didik untuk mengemukakan pendapatnya. Seorang pendidik harus tahu bahwa ia seharusnya mengajar muridnya untuk berpikir, mengembangkan pikiriannya dan bukan sekedar mentransfer pengetahuan yang dimilikinya kepada subyek didik. Jadi pendidik yang diharapkan adalah pendidik mampu menghasilkan subyek didik yang tahu berpikir dan bertindak atas kemampuan yang ada di dalam dirinya dengan bantuan ide dari si pendidik itu sendiri, sehingga mampu menyikapi situasi yang ada dengan sikap kritis tanpa harus menerima perbuatan yang tidak baik.

Penutup

Manusia yang mengalami proses pendidikan adalah makhluk yang sekaligus individu dan sosial. Ia adalah individu yang otonom dalam kebersamaan dengan yang lain. Maka dari itu pendidikan mengemban tugas besar yakni, menuntun, membimbing dan menyadarkan manusia sebagai pribadi yang otonom dalam menentuikan diri sendiri serentak pula mengantar setiap individu menjadi makhluk sosial yang bisa hidup harmonis bersama orang lain.

Pendidikan sangat penting karena dapat mengantar setiap orang kepada pemahaman yang benar akan makna hidup. Karena itu misi pendidikan bersifat universal, tanpa dibatasi oleh perlbagai kepentin dan pribadi atau golongan. Pendidikan hadir untuk membentuk kepribadian manusia yang matang dan integral. Kepribadian yang matang berarti mampu menentukan diri sendiri secara bebas dan bertanggungjawab.**

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Cet. Ke-15. Yogyakarta: Kanisius, 1998.

Boyd, William. The History of Western Education. London. J.W. Arrowsmith LTD. 1959.

Durkhaim, Emille. “Herbart, Johann Friederich” The Encyclopedia of Philosophy. Vol. 3 & 4 Edited by Paul Edwars. New York: Simon and Schuster Macmillan, 1996.

Durkhaim, Emille. Pendidikan Moral: Suatu Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga, 1990.

Vander, Weij. P. A. Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, diindonesiakan oleh K. Bertens. Yogyakarta: Kanisius 2000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: