PEMBUKTIAN EKSISITENSI TUHAN MENURUT DESCARTES

(Oleh: Koko Istya Temorubun, SS)

A. Pendahuluan

Pembicaraan seputar pembuktian eksistensi Tuhan telah banyak dibicarakan oleh para pemikir terdahulu. Thomas Aquinas misalnya memandang filsafat Aristoteles tentang penggerak pertama dan penyebab terakhir yang tak dapat digerakkan disebutnya begitu saja sebagai jalan untuk membuktikan eksistensi Tuhan.[1] Sementara dalam zamannya, Rene Descartes tampil agak berbeda dengan para pemikir abad pertengahan yang membuktikan eksisitensi Tuhan.

Pembuktian yang dilakukannya ini dilandaskan pada kemampuan manusia sendiri. Descartes meyakini bahwa eksisitensi Tuhan yang sudah pernah dikemukakan oleh Santo Anselmus dan Thomas Aquinas tidak diterima begitu saja.[2] Baginya bukti eksisitensi Tuhan itu harus tetap berada dalam kerangka berpikir yang sedang dibangunnya. Dan pembuktian eksisitensi Tuhan itu tidak boleh dibuktikan berdasarkan prinsip kausalitas dan gerak yang terjadi dunia empiris.[3]

Sejalan dengan upaya pembuktian itu marilah kita mencoba melihat bagaimana Descartes membuat penalaran rasio yang digunakannya sebagai satu-satunya cara untuk membuktikan ekisitensi Tuhan.

B. Kesangsian Sebagai Metode: Upaya menuju pembuktian eksistensi Tuhan

Dalam usaha pembuktian eksistensi Tuhan ini, Descartes lebih dulu mencari semacam satu metode sebagai landasan penelusurannya. Metode yang digunakannya  adalah metode kesangsian. Metode ini dipandangnya sebagai jalan untuk membutikan eksisitensi Tuhan. Kesangsian macam apa yang dimaksudkan  oleh Descartes sendiri. Hal pertama yang disangsikannya adalah segala pengetahuan yang ia terima melalui pancaindra. Ia berkeyakinan bahwa sering pancaindra menipunya. Kemudian hal berikut yang turut ia sangsikan ialah tentang eksisitensi tubuh dan organ-organ yang dimilikinya. Alasan keraguan ini disebabkan karena kadang-kadang ia bermimpi bahwa tangannya terbakar padahal sebenarnya tidak. Selanjutnya, Descartes juga menyangsikan kepastian matematis. Baginya kepastian semacam ini amat tergantung pada struktur pemikiran.[4]

Dengan demikian kita bisa katakan  bahwa argumen-argumen Descartes ini bergerak dari lapisan kesangsian universal kepada lapisan kesangsian metafisik. Pada tahap kesangsian universal ia menyangsikan semua yang memiliki eksisitensi riil sedangkan pada lapisan metafisik ia menyangsikan obyek metafisik seperti ide-ide.[5] Oleh karena itu bagi Descartes segala sesuatu termasuk pengetahuan manusia tak lolos dari kesangsian. Lantas apakah terdapat sesuatu yang lolos dari kesangsian itu? Descartes menjawab ada.

Ia menemukan bahwa ternyata eksisitensi subyek yang menyangsikan itu tak mungkin diragukan. Yang lolos dari segala kesangsian itu diistilakan oleh Descartes dengan Cogito Ergo Sum (Saya berpikir maka saya ada). Inilah kebenaran yang akurat, pasti, jelas dan terpilah-pilah. Suatu kebenaran yang tak tergoyakan.[6]

C. Cogito Ergo Sum sebagai jalan menuju pembuktian eksistensi Tuhan.

Setelah menemukan kebenaran yang sama sekali kokoh Descartes terus menelusuri landasan yang telah ditemukannya itu. Ia mengungkapkan bahwa:

Jika saya berpikir maka saya ada maka saya harus mengatehui juga apa yang membuat keyakinan itu pasti. Saya perhatikan bahwa dalam dalil saya berpikir, jadi saya ada tak ada satu pun yang menjamin kebenarannya selain saya melihat dengan jelas bahwa untuk berpikir saya harus ada. Kemudian di saat saya ragu-ragu bahwa keberadaan saya tidak sempurna dan karena saya melihat dengan jelas bahwa mengetahui merupakan kesempurnaan yang lebih besar daripada keraguan, maka saya memutuskan untuk mencari dari mana saya telah belajar untuk memikirkan sesuatu yang sempurna dari pada saya . Dengan demikan saya ketahui bahwa pasti ada sesuatu yang kodratnya memang lebih sempurna.[7]

Lewat penelusran ini kita bisa menemukan bahwa analisis Descartes terhadap Cogito Ergo Sum ini merupakn cara dimana kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan itu.

D. Ide Bawaan: Prinsip kausalitas adanya eksisitensi Tuhan yang riil.

Descartes meyakini bahwa sejak  lahir manusia sudah memiliki ide-ide yang ada dalam kesadarannya. Ide-ide yang dimiliki itu disebut olehnya sebagai ide bawaan. Bagaimana cara ia menggunakan ide bawaan sebagai prinsip kausalitas untuk membuktikan eksistensi Tuhan itu ?

Ia mengatakan bahwa dalam rasio manusia terdapat tiga ide bawaan. Pertama ide pemikiran yaitu ide tentang subyek yang sadar akan dirinya sendiri sebagai mahkluk yang berpikir. Kedua ide keluasan yaitu ide tentang adanya dunia eksternal. Ketiga ide kesempurnaan yaitu ide tentang Tuhan yang Maha-Sempurna.[8] Jadi menurut prinsip kausalitas, sesuatu tidak dapat diturunkan dari ketiadaan atau sesuatu yang kurang sempurna. Satu-satunya kemungkinan logis untuk memahami itu ialah harus ada sesuatu yang menjaminnya. Kemungkinan itu tidak lain dari Tuhan. Karena hanya Tuhan yang dapat menciptakan sesuatu yang jelas dan terpilah-pilah dalam kesadaran subyek.

Atas penelusuran seperti ini, maka Descartes yakin bahwa Tuhan yang dikenal dalam kesadaran setiap orang itu pasti bereksistensi riil.

E. Ide Kesempurnaan sebagai Jaminan eksistensi Tuhan yang Riil

Dalam uraiannya tentang ide bawaan yang dimiliki manusia, Descartes meyakini bahwa salah satu ide bawaan yang dimiliki manusia itu menjamin adanya eksistensi Tuhan itu. Ide itu adalah ide kesempurnaan. Descartes mengatakan: “I can conceive of an absolutely perfect being, which I may call God. A perfect being cannot reside in an idea alone; it must exist actually as well.”[9]

Jadi bagi Descartes, memang ada perbedaan Tuhan sebagai ide (ada dalam pikiran) dengan  Tuhan yang ada secara riil (tidak kelihatan tetapi ada). Karena Tuhan Maha-sempurna, tidak mungkin Tuhan yang ada dalam ide atau kesadaran tidak ada secara riil. Karena itu bagi Descartes, jika Tuhan ada dalam ide saja berarti Tuhan itu tidak sempurna. Tuhan yang sempurna adalah Tuhan yang  bereksistensi pada ide dan pada kenyataan. Dengn demikian, ide kesempurnaan yang ada dalam kesadaran manusia justru menjadi jaminan bagi eksistensi Tuhan itu. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Tuhan bereksistensi secara nyata dan Dialah yang merupakan kebenaran yang Maha-Sempurna.

F. Penutup

Lewat argumen-arguimen pembuktian yang dikemukakan Descartes, kita dapat memahami bahwa pembuktian eksistensi Tuhan yang ditelusurinya ini amat bersifat rasional. Sikap rasional yang diterapkan dalam usaha penelusurannya untuk membuktikan eksistensi Tuhan ini hanya didasarkan pada analisis-analisis cogito yang dimiliki manusia. Dengan cogito ergo sum yang dijadikannya sebagai landasan yang kokoh, Descartes berani berusaha mengungkapkan keberadaan Tuhan entah di dalam pikiran atau pun di dalam kenyataan  sebagai Yang Maha-Sempurna. Derngan demikian, Tuhan adalah Dia yang bereksistensi secara Sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Caponigri, A Robert. A History of Western Philosophy: Philosophy from the Renaisance to the Romantic Age. Volume 3. London: University of Notre Dame Press, 1963.

Descartes, Rene. Risalah tentang Metode. Terj. I. Husein dan R.S Hidayat. Jakarata: Gramedia Pustaka utama, 1995.

Williams, Bernard  “Descartes,” Encyclopedia of Philosophy. Edited by Paul Edwards.  New york: The Macmillan company and The Free Press, 1967.

Ohoitimur, Yong. Pengantar Berfilsafat. Jakarta: Yayasan Gapura, 1997.

Smith, Linda dan Wiliam Raeper, Ide-Ide: Filsafat dan Agama.Dulu dan Sekarang. Yokyakarta: Kanisius, 2000.


[1]Bdk, Yong Ohoitimur, Pengantar Berfilsafat (Jakarta: Yayasan Gapura, 1997), hlm 21-22.

[2]Bdk, Bernard Williams, “Descartes,” Encyclopedia of Philosophy, edited by Paul Edwards ( New york: The Macmillan company and The Free Press, 1967).

[3]Bdk, Linda Smith dan Wiliam Raeper, Ide-Ide: Filsafat dan Agama.Dulu dan Sekarang (Yokyakarta: Kanisius, 2000), hlm 61-62.

[4]J.Ohoitomur, “Sejarah Filsafat Barat Modern dari Bacon sampai Nietzsche,” (Catatan kuliah untuk mahasiswa Semester V program Studi Filsafat, Pineleng,2004 ), hlm 32.

[5]Ibid.

[6]Bdk, Yong Ohoitimur, Pengantar Berfilsafat, hlm 77.

[7]Rene Descartes, Risalah tentang Metode, terj. I. Husein dan R.S Hidayat (Jakarata: Gramedia Pustaka utama, 1995), hlm 35.

[8][8]Bdk, Yong Ohoitimur, Pengantar Berfilsafat, hlm 77

[9] A. Robert Caponigri, A History of Western Philosophy: Philosophy from the Renaisance to the Romantic Age, volume 3  (London: University of Notre Dame Press, 1963), hlm. 180.

Satu Tanggapan to “PEMBUKTIAN EKSISITENSI TUHAN MENURUT DESCARTES”

  1. Cukup bisa difahami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: