PANDANGAN WHITEHEAD TENTANG PERSONALITAS TUHAN

(Oleh: Koko istya temorubun, ss)

A. Pendahuluan

Dewasa ini perdebatan modern mengenai eksistensi Allah telah bergeser. Kita tidak lagi mempertahankan pandangan dunia Abad Pertengahan. Sementara Aquinas yakin bahwa bukti-buktinya sekaligus ilmiah dan teologis, sekarang  terdapat jurang yang jelas antara bahasa teologis dan bahasa ilmiah yang sangat diupayakan untuk dijembatani oleh banyak pemikir. Banyak teologi moderen berpendapat bahwa kiranya tidak dapat diberikan suatu demonstrasi “ilmiah” mengenai eksistensi Allah. Mereka akan menunjuk pada iman  terdahulu Aquinas sebagai dasar penalarannya. Kenyataannya banyak teologi modern telah sampai pada  pertanyaan apa sebenarnya  arti kata “Allah” dan “berada”. Sebab, bila Allah ada, bagaimana Dia berada. Pengertian  tradisional  mengenai Allah sebagai Bapa personal, penuh kasih dan pencipta, yang aktif di dunia, yang ingin mencintai dan menyelamatkan manusia telah terancam.  Bahkan  beberapa filsuf sampai pada penolakan bahwa Allah adalah  seorang pribadi (personalitas Tuhan), mis: Whitehead. Bagaimana gambaran atau deskripsi Whitehead tentang personalitas Tuhan? Dan bagaimana tanggapan gereja terhadap pendapat Whitehead? Akan kami uraikan dalam tulisan ini.

B. Pandangan Whitehead: Personalitas Tuhan.

Whitehead menggambarkan  Tuhan sebagai suatu kesatuan aktual dengan hakikat ganda, yakni hakikat awali dan hakikat akhiri. Tuhan tidak disamakan dengan kreativitas, sebaliknya kreativitas pun tidak dapat dipikirkan sebagai aktivitas unik dari Tuhan. Karena dalam filsafat organisme kreativitas disejajarkan dengan atau mempunyai kedudukan yang sama dengan Tuhan dalam filsafat monistis atau idealisme Absolut, yaitu yang memandang Tuhan sebagai Yang Mutlak; Tuhan dipandang sebagai eminent reality yang final dan kreativitas adalah sifat atau salah satu sifat Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan adalah Maha Pencipta, semua yang  lain adalah ciptaan-Nya, sebagaimana yang dapat ditemukan dalam konteks Skolastik, aktivitas penciptaan itu dipandang sebagai suatu produksi ex nihilo dengan esensi dari ciptaan sebagai bergantung, tidak harus; ciptaan berkedudukan lebih rendah sebagai suatu realitas daripada pencipta yang bersifat has to be. Dalam  hubungan dengan ini, whitehead tidak mengikuti paham atau ajaran creatio ex nihilo.[1] Sedangkan bagi Whitehead kreativitas sebagai princip kebaruan yang menunjuk kepada karakter metafisik dari satuan-satuan aktual (termasuk Tuhan) yang terus-menerus berproses. Menjadi pertanyaan untuk kita, jika kreativitas tidak merupakan aktivitas unik dari Tuhan, adakah Tuhan merupakan suatu pribadi? Pertanyaan ini perlu dikemukakan karena jika semua manusia sebagai pribadi dicakup  oleh Tuhan ini penting bagi agama-agama dan orang-orang percaya kepada Tuhan, karena secara teologis orang beriman tidak dapat beribadat kepada Tuhan dan berbicara tentang Tuhan, jika Tuhan yang diimani dan disembah bukan merupakan suatu pribadi yang hidup.

Jika kita melihat konsep whitehead mengenai Tuhan, kita dapat katakan bahwa sumber-sumber nilai-nilai Tuhan dapat dipikirkan sebagai suatu pribadi yang menjamin bahwa nilai-nilai yang diberikan pun bercorak  personal. Jadi, nilai-nilai yang diberikan tidak mungkin berasal dari suatu sumber yang impersonal. Tetapi, menjadi pertanyaan untuk kita apakah Whitehead  sungguh memberikan  gambaran atau deskripsi yang spesifik tentang personalitas Tuhan.

B.1. Pengertian Person

Untuk memahami gambaran Whitehead mengenai personalitas Tuhan,  kami pertama-tama ingin membahas pengertian tentang person  dari bebarapa filsuf termuka. Karena gambaran atau deskripsi Whitehead sangat dipengaruhi oleh pandangannya tentang seorang person. Berberapa pandangan  coba kami uraikan di bawah ini:

  1. Plato.

Menurut Plato, martabat manusia sebagai pribadi tidak terbatas pada mulainya jiwa bersatu dengan raga. Jiwa telah berada lebih dahulu sebelum jatuh ke dunia dan disatukan dengan badan. Maka bagi plato, yang disebut manusia atau pribadi adalah jiwa sendiri. Sedangkan badan oleh plato dianggap sebagai alat yang berguna tetapi juga memberati jiwa mencapai kesempurnaan, yaitu kembali ke dunia ide.

  1. Thomas Aquinas

Pendapat Plato di atas  ditolak oleh Aquinas. Bagi Aquinas yang disebut manusia sebagai pribadi adalah”makhluk individual yang dianugerahi kodrat rasional”(Summa Theologia 1,q. 29, a. ac dan 2). Yang dimaksud makhluk  individual adalah makhluk yang merupakan kesatuan antara jiwa dan badan. Jadi yang dimaksud dengan pribadi oleh Aquinas adalah masing-masing manusia individual: manusia konkret dan riil. Manusia aalah substansi yang komplet terdiri dari badan dan jiwa. Tetapi tidak setiap kesatuan jiwa-badan boleh disebut pribadi. Menurut Aquinas, forma dari setiap benda hidup di dunia ini  disebut jiwa. Tetapi untuk bisa disebut pribadi, jiwa dalam kesatuan jiwa-badan tersebut haruslah jiwa rasional. Maka “pribadi” menurut Aquinas, adalah makhluk individual yang mempunyai kodrat rasional.

  1. David Hume

Kalau David Hume berbicara mengenai  “pribadi”, yang dimaksudkannya adalah kualitas diri, yaitu kesamaan jati diri manusia dalam kaitannya dengan waktu. Dia menolak bahwa budi atau pikiran “locus” dari identitas diri.

  1. Immanuel Kant

Imanuel Kant memahami pribadi sebagai berikut,” Sesuatu yang sadar akan identitas numerik mengenai dirinya sendiri pada waktu yang berbeda-beda disebut seorang pribadi. Jiwa itu sadar, dan lain-lain. Maka jiwa adalah pribadi.

  1. John Stuart Mill.

Bagi Mill yang disebut pribadi  adalah manusia individual yang mempunyai kebebasan mutlak dalam hubungannya dengan masyarakat. Oleh karena itu, individu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada masyarakat; individu harus diprioriataskan atas masyarakat.

6.   John Dewey

Kata  pribadi bagi john Dewey berarti seorang yang bertindak sebagai wakil dari suatu grup atau masyarakat. Seorang individu hanya bisa disebut pribadi kalau ia mengemban dan menampilkan nilai-nilai sosial masyarakat tertentu. Jadi, Dewey menolak mentah-mentah  ide Mill yang mempertentangkan individu dengan masyarakat.[2]

Setelah melihat pendapat para filsuf di atas maka pengertian seorang person sekurang-kurangnya meliputi dua aspek fundamental, yakni individualitas  dan kesadaran. Kehadiran jiwa dalam tubuh membuat seorang individu menjadi unik dan sadar akan keunikannya. Selain itu seorang person juga memiliki identitas yang bisa  dikenal sejak orang itu hadir sampai ia mati. Walaupun harus diakui bahwa setiap orag pasti mengalami perubahan-perubahan baik pada tubuh maupun wataknya, akan tetapi identitasnya tetap sama sehingga ia bisa  dikenal secara tetap. Dari semua pendapat tentang person di  atas, rupanya Whitehead mempunyai gambaran sendiri mengenai seorang person. Menurut Whitehead, seorang person sekarang tidak lain dari satu sintesis satuan-satuan  peristiwa dari masa lampau. Eksistensi person-sekarang merupakan hasil dari proses menjadi yang  melampui person masa-lampau. Jadi personalitasku  tidak lain dari sintesis dari masa lampau. Sintesis itu berkembang  perlahan-lahan dalam rentangan waktu tertentu. Berdasarkan pengertian di atas bagi Whitehead personalitas hendaknya dipikirkan sebagai wadah yang menampung pengalaman-pengalaman seorang dari tahap-tahap proses menjadinya. Identitas personalitas ialah suatu yang menerima semua peristiwa yang terjadi dalam eksistensi si subyek.[3]

Ada yang berpendapat bahwa pandangan Whitehead tentang person yang demikian karena ia ingin menekankan hakikat keterjalinan sebagai hakikat kehidupan, yakni bahwa manusia pada hakikatnya hidup dalam jaringan-jaringan relasi-relasi. Relasi-relasi itu bersifat asimetris. Di dalamya masing-masing orang mempengaruhi dan dipengaruhi, memberikan dan menerima. Dalam Konteks itu manusia sebagai person hendaknya tidak digambarkan sebagai  substansi, melainkan sebagai ciptaan kreatif yang terus-menerus melihat dalam kebaruan-kebaruan yang terjadi dalam alam semesta. Dengan kata lain, seorang person selalu merupakan kebaruan terkini yang berelasi dengan masa lampau dan senantiasa terbuka terhadap masa depan. Itu berarti bahwa relasi yang bersifat temporal dan penciptaan-diri merupakan karakteristik dasar dari seorang person.  Relasi temporal menunjuk pada  kenyataan bahwa secara obyektif setiap person dikondisikan  dalam peredaran waktu. Jadi, meski masa lampau kita  berlalu dan lenyap, tetapi ia  tetap bergema dalam personalitas kini dan terbuka ke masa depan. Sedangkan aspek penciptaan menyatakan bahwa seorang person adalah pelaku atau subyek dan tidak sekedar bagaikan wadah penerima pasif terhadap data-data prehensif. Karena itu Walter E. Stokes berpendapat bahwa  menjadi seorang person tidak saja berarti membangun relasi dengan satuan-satuan aktual lain, tetapi secara lebih esensial berarti “menciptakan diri dalam suatu sejarah pribadi.

Berdasarkan semua penjelasan di atas rupanya gagasan tentang personalitas tidak mendapat tempat khusus  dalam sistem metafisika Whitehead. Menurut Whitehead” menjadi seorang person yang hidup, tidak merupakan esensi kehidupan (PR,107) dan bahwa”perbedaan antar makhluk yang hidup dan yang mati amatlah tipis. Pengertian ini tidak berarti bahwa person manusia sama dengan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, ia hanya ingin mengatakan bahwa pengertian  person merupakan gagasan yang diturunkan konsep yang lebih fundamental, yakni bahwa setiap satuan aktual merupakan subyek yang mencipta-dirinya sendiri dan prehensi merupakan relasi internal yang terjalin antarasatuan-satuan aktual.

B.2. Pandangan Tentang personalias Tuhan[4]

Setelah melihat pendangan Whitehead tentang person di atas maka pada bagian ini  kita akan melihat apakah Whitehead akan memberikan gambaran bahwa  apakah Tuhan merupakan suatu pribadi?

Berbicara tentang personalitas Tuhan, Whitehead rupanya menolak pandangan tradisional bahwa Tuhan merupakan satu pribadi yang maha tinggi, pencipta, dan asal usul segala sesuatu. Bagi Whitehead Tuhan bukan Pribadi ilahi yang tertinggi dan bukan pula Realitas terakhir; dan  kreativitas bukanlah aktivitas dari Tuhan. Oleh karena itu Tuhan tidak dibayangkan sebagai satu subyek personal. Kalau pengertian ini dikaitkan dengan pengalaman keagamaan,  Whitehead menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang bisa mendasarkan dirinya atas  pengalaman tentang Tuhan yang personal” karena  tidak pernah  terjadi bahwa  seorang manusia punya penglihatan (pengalaman) langsung tentang Tuhan sebagai person.  Maksudnya, apabila kita  ingin berbicara tentang Tuhan sebagai person dengan berdasar  atas pengalaman langsung tertentu, maka kita harus mengakui bahwa sebagian terbesar manusia tidak pernah mempunyai jenis pengalaman tersebut

Dalam bagian akhir buku  Proses and Reality Aquinas menguraikan aspek  personal Tuhan. Pada bagian ini dibuka oleh Whitehead dengan suatu pricip umum bahwa,”setiap aktualitas dalam  dunia temporal diterima dalam hakikat Tuhan”(PR,350). Artinya elemen-elemen dari dunia aktual yang dapat binasa diangkat dan ditransformasi menjadi” a living, ever-present fact

Selanjutnya dari  perspeksitif hakikat primordial-Nya, Tuhan dapat dipikirkan sebagai anteseden atau masa lampau” dari setiap satuan aktual. Karena sebagai sumber tujuan subjektif Tuhan mendahului  atau diadakan oleh setiap satuan aktual yagng baru. ”Masa lampau” ini terlibat dalam setiap satuan aktual. Tetapi dari perspektif  hakikat konsekuensial, Tuhan adalah subyek dari kesadaran-Nya yang tak berkesudahan akan dunia temporal. HakikatNya ini tergantung pada relasi atau prehensi dengan setiap satuan aktual dalam sejarah.  Tuhan  benar-benar ada dalam dunia  dan berelasi dengan dan menjalin relasi riil dengan setiap peristiwa yang terjadi dalam dunia. Setiap moment seharusnya dialami oleh  Tuhan. Menurut Ogden, keterlibatan Tuhan dalam sejarah mengandung implikasi bahwa analog Tuhan boleh digambarkan sebagai”Tuhan yang hidup dan terus berkembang. Ia berelasi dengan alam semesta dan segala sesuatu bagaikan jiwa bersatu dengan tubuh. Konsekuensinya, “tanpa kualifikasi, Tuhan harus identik dengan diri-Nya sendiri dan di dalam-Nya tak satupun hal yang dapat lenyap. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Tuhan merangkum segala sesuatu dalam alam semesta.

Gagasan yang sama dapat diartikulasi dengan cara lain. Kalau kita melihat dari sudut pandang akhiri, Tuhan membiarkan diri-Nya dialami oleh satuan-satuan aktual. Setiap satuan aktual diterima masuk dan dicakup secara abadi dalam realitas Tuhan. Karena itu Tuhan bepengaruh atas hidup manusia dan dari sana manusia bisa mengalami secara dekat gerak hati Tuhan. Whitehead menggambarkan hakikat akhiri Tuhan ini sebagai”cinta Tuhan bagi dunia”.

Prehensi hakikat akhiri Tuhan menyatakan bagaimana pribadi manusia dirangkul olehNya. Dalam cinta itu segala sesuatu dirangkul Tuhan tanpa kehilangan satu tetes pengalaman pun. Hal ini mengandaikan bahwa  dalam Tuhan pribadi masa  lampau  tidak lenyap. Apa yang telah berlalu secara temporal ditransformasi dan diangkat  ke dalam eksistensi ilahi yang abadi.  Sebagaimana pengalaman kita tetap terpatri di hati kita demikian juga setiap priadi manusia tetap berada dalam Tuhan. Dalam arti itu setiap pribadi hidup untuk selamanya dalam Tuhan.  Kematian tidak berarti ia akan lenyap  dari hadapan Tuhan. Whitehead menarik satu kesimpulan bahwa Tuhan yang mencintai dunia merupakan sahabat sejati yang rela mengerti dan tidak menolak masa lampau setiap pribadi.

Sehingga pada akhir, dalam Proses and Reality Whitehead berbicara mengenai Tuhan sebagai sahabat sejati, sesama penderita yang rela mengerti, pemberi nilai dan ketertiban, Tuhan yang mencintai, bijaksana dan punya kesadaran, sesungguhnya ia berpikir tentang Tuhan sebagai pribadi yang patut disembah oleh  umat beragama. Akan tetapi perlu diingat bahwa Whitehead tidak pernah secara eksplisit  menyatakan bahwa Tuhan adalah satu person.

C. Kritik

Kalau mencermati dengan baik pengertian Whitehead terutama pendapatnya pada bagian akhir Poses and Reality, di mana Tuhan digambarkan  Sebagai sahabat yang sejati, sesama penderita yang rela mengerti, dll, maka sebenarnya Whitehead berpikir juga tentang tentang Tuhan sebagai pribadi. Walaupun harus diakui bahwa Whitehead tidak pernah menyatakan secara eksplisit bahwa Tuhan sebagai  person. Apa yang dikemukakan oleh Whitehead di atas juga menjadi pergumulan beberapa pemikir. Mereka berpendapat bahwa Allah bukan person, antara lain:

  1. Aristoteles : mengemukakan ajarannya tentang Allah, sebagai ”Penggerak yang tidak  digerakkan” Ia memberikan beberapa keterangan berkaitan dengan ajaran tentan Allah sebagai Penggerak Pertama yang tidak digerakkan.”  Penggerak pertama diterima untuk mengartikan gerak abadi yang terdapat dalam dunia. Menurut Aristoteles gerak dalam alam tidak mempunyai permulaan dan penghabisan. Karena setiap hal yang bergerak digerakkan oleh sesuatu yang lain, perlulah  menerima satu penggerak pertama  yag menyebabkan gerak  itu tetapi  ia sendiri tidak digerakkan. Penggerak itu harus bersifat abadi, sebagaimana juga gerak yang disebabkan olehnya. Penggerak ini sama sekali terlepas dari materi, karena segalanya yang mempunyai  materi mempunyai juga potensi untuk bergerak. Allah sebagai Penggerak Pertama tidak mempunyai potensi apa pun juga. Allah harus dianggap sebagai aktus murni. Apakah aktivitas Allah sebagai aktus murni? Bagi arsitoteles aktivitas itu tidak lain daripada pemikiran saja. Karena itu Allah bersifat immaterial atau takbadani.
  2. Baruch Spinoza:  ia yakin bahwa Allah bukan lain daripada alam semesta, dan alam dengan segala keanekaragaman unsurnya adalah Allah sendiri dalam modus-modusnya. Itu berarti bahwa Allah tidak  bersifat pribadi, dalam arti: Allah sebagai “lawan” manusia, yang dapat menyapa manusia dan mendengarkannya, kepadanya kita dapat berdoa, yang berhadapan dengan kita, Allah, partner dialog manusia(misalnya melalui wahyu). Paham ini di tolak oleh Spinoza.
  1. Paul Tillich (1886-1965), salah seorang teolog modern paling berpengaruh, menyatakan pemahamannya akan iman sebagai “perhatian utama.” Teologi Tillich bersifat eksistensial dan ia mengklaim bahwa karena Allah tidak dapat dikatakan berada dalam cara yang sama dengan benda-benda lain di dunia, maka dalam arti sesungguhnya Allah tidak dapat dikatakan berada sama sekali. Tillich percaya bahwa penyajian Allah di dalam Kitab Suci merupakan gambar dari pengalaman utama manusiawi. Akibatnya, ia menolak iman akan seorang Allah yang bersifat pribadi. Sebaliknya ia menyatakan bahwa Allah adalah “dasar dari keberadaan kita.[5]

Selain beberapa pandangan yang menolak personalitas  Tuhan, ada juga beberapa pandangan yang menerima personalitas Tuhan. Saya sendiri tidak setuju dengan  pendapat yang  menolak personalitas Tuhan. Karena sebagai orang beriman saya yakin bahwa Allah sebagai Bapa personal, penuh kasih dan pencipta, yang aktif di dunia, yang ingin mencintai dan menyelamatkan manusia. Untuk lebih jelas kami akan menguraikan beberapa pendapar di bawah ini.

  1. Agustinus:

sebagai orang yang percaya kepada Allah, bagi Agustinus manusia mencapai identitas definitifnya justru apabila ia berhadapan dengan penciptanya, Allah, jadi di seberang hidup ini. Transendensi  manusia  itu berakar dalam transendensi Allah. Karena itu, yang membedakan etika  Agustinus dari etika filsafati Barat sebelumnya adalah dimensi transenden.

Allah yang diyakini Agustinus bukan sebuah princip abstrak atau semacam daya kosmis, melainkan Allah personal dalam arti Allah menyapa manusia, yang mengarahkan kehidupannya, yang turut campur dalam sejarah manusia. Jadi, jelas kalau Allah ada dan Allah menyapa manusia ciptaan-Nya sehingga makna kebahagiaan manusia tidak dapat dicari di luar Allah. Hanya dalam Allah, manusia dapat mencapai kebahagiaannya ciptaan-Nya[6]

  1. Pandangan Gereja

Allah mahasempurna dalam segala hal. Artinya Tuhan mempunyai semua semua sifat yang baik tanapa batas, yang tidak bisa dibayangkan. Meskipun Allah mempunyai sifat yang tanpa batas, namun hal itu tidak membuat sifat Allah menjadi kabur dan tidak jelas, karena Allah menyapa manusia secara pribadi. Maka di satu pihak Allah jauh, namun dipihak lain Ia mempunyai hubungan langsung, sebagai pribadi dengan pribadi. Seperti dikatakan pada Perjamuan malam terakhir,”Aku telah menyatakan nama-Mu keda semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia ”(Yoh 17:6)

Yesus mengajarkan orang  supaya menyapa Allah dengan “Bapa kami yang ada di surga”. Siapa pun nama-Nya, Allah di akui dan dihormati sebagai pribadi, bukan hanya sebagai suatu daya kekuatan. Maka juga dikatakan Tuhan itu di satu pihak marah, menyesal dan kecewa, namun di pihaklain melihat yang baik, berkenan kepada manusia, mencintai dunia. Sering dipakai kata yang sangat manusiawi seperti “cemburu” dan  “benci”.  Yang mau dinyatakan dengan kata-kata itu bukanlah Allah sama dengan manusia, melainkan bahwa manusia mengimani Allah sebagi pribadi, yang mempunyai hati bagi manusia.[7]

Allah mewahyukan Diri kepada bangsa Israel dnengan memeritahukan nama-Nya. Nama mengungkapkan identitas seseorang, identitas pribadi dan arti nama-Nya. Allah mempunyai nama. Menyatakan nama berarti memperkenalkan diri kepada orang lain: berarti seakan-akan menyerahkan diri sendiri, membuka diri, supaya dapat dikenal lebih dalam dan dapat dipanggil secara pribadi.[8]

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dewey John, Individualis Old and New, New York: Capricon, 1962

KWI                                                    Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi, Yogyakarta: Kanisius, 1996  

Magnis-Suseno                                 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-    19, Yogyakarta: Kanisius,1997

Mawi                                                  Katekismus Gereja Katolik, Ende: Arnoldus.

Raper William dan Smith Linda    Ide-ide: Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, Yogyakarta: Kanisius..2000

Supadiar Damardjati                        Filsafat Ketuhanan, Yogyakarta: Kanisius, 2000.


[1] Bdk. Damardjati Supadjar, Filsafat Ketuhanan (Yogyakarta: CV Adipura, 2000), hlm. 139-140

[2] John Dewey, Individualis Old and New (New York: Capricon Books, 1962), hlm, 111-112.

[3] Bdk. Terkutip dalam, J. Ohoitimur,”Gagasan-gagasan Dasar Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whitehead tentang Realitas dan Tuhan” ( Traktat Kuliah STF-SP, 2002), hlm. 111-112

[4] Bdk. J. Ohoitimur,” Gagasan-gagasan Dasar Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whitehead tentang Realitas Tuhan, hlm 113-115.

[5] Bdk. Linda Smith dan William  Raepaer, Ide ide: Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 51.

[6] Bdk. Franz Magnis-Suseno, 13 Tokoh Etika:Sejak zaman Yunani Sampai Abad ke-19 (Yoyakarta:Kanisius, 1997), hlm. 67

[7] Bdk. KWI, Iman Katolik: Buku informasi dan Referensi (Yogyakarta: kanisius dan Obor, 1996), hlm. 141-142.

[8] Bdk. MAWI, Katekismus Gereja Katolik (Ende: Arnoldus,1995), hlm 87.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: