PANDANGAN THOMAS AQUINAS TENTANG KEBAHAGIAAN MANUSIA

Oleh: Koko Istya Temorubun, SS

Pendahuluan

Setiap orang dalam hidupnya tentu berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan. Usaha untuk memperoleh kebahagiaan ini tentunya akan dinikmati oleh totalitas manusia itu sendiri. Totalitas yang dimaksud Thomas tidak lain adalah tubuh dan jiwa manusia.[1] Karena itu kebahagiaan yang dicari manusia akan membahagiakan jika itu menyentuh keseluruhan manusia yaitu yang dirasakan oleh tubuh dan jiwa manusia.

Namun kini yang menjadi pertanyaan bagi kita kebahagiaan macam apakah yang dimaksud oleh Thomas itu ?. Apakah kebahagiaan yang dirasakan itu berasal dari indra atauakah kebahagiaan itu melampaui indra itu ?.

A. Tubuh sebagai instrumen untuk memperoleh kebahagiaan

Dalam penelusurannya tentang manusia Thomas mengakui bahwa manusia disebut sebagai manusia jika ia dilengkapi dengan tubuh dan jiwa. Dengan kenyataan ini Thomas tiba pada satu penghargaan akan tubuh manusia itu. Menurutnya tubuh dapat memberikan pengetauhuan pada tingkat tertentu tentang obyek-obyek indarwi sehingga manusia dapat tertarik sebagai hal yang dapat menyenangkan dan mendatangkan kebahagiaan. Selain itu bagi Thomas Tubuh sebagai penerima segala yang dapat dirasakan dan yang dialami dapat juga menolak obyek-obyek tertentu atau yang mendatangkan ketidakbahagiaan yang sama sekali menyakitkan tubuh.[2] Dengan demikian kita dapat memahami bahwa ketertarikan dan penolakan ini merupakan suatu permulaan dari kemampuna manusia untuk mencintai yang mendatangkan kebahagiaan dan membenci yang tidak menyenangkan.

Namun mengenai obyek-obyek yang mendatangkan kebahagiaan itu Thomas dalam Summa Contra Gentilesnya menungkapkan bahwa semua kegiatan yang berhubungan dengan pencapaian kebahagiaan ( dalam uang, dalam harta milik, dalam makanan dan minuman, dalam kenikamatan indra, didalam kekuasaan serta gengsi) beregerak maju dalam pencarian terus yang tak ada hentinya demi memuaskan keinginan tubuh.[3] Sampai pada penejelsan seperti ini kita lalu bertanya  lanjut jika begitu apakah dengan yang dirasakan tubuh itu  sudah cukup untuk membuat manusia bahagia ?. Thomas menjawab tidak !.

B. Kebahagiaan manusia adalah memandang Allah

Bagi Thomas kebahagiaan yang hanya didasarkan  pada yang dirasakan tubuh sebenarnya belum cukup. Alasannya karena yang membuat manusia bahagia yang bearasal dari Tubuh adalah bersifat terbatas.[4] Mengenai kebahagiaan yang merupakan tujuan hidup manusia ini pernah diungkapkan juga oleh Aristoteles. Ia mengatakan bahwa kebahagiaan itu bersifat natural. Artinya bahwa seseorang manusia bahagia jika ia mampu mengembangkan rasio sedemikian rupa agar rasio itu bisa berfungsi untuk mendatangkan kebahagiaan.[5] Lewat pemahaman-pemahaman ini Thomas masih mengungkapkan semua itu belum cukup. Thomas mengungkapkan argumennya bahwa keinginan yang ada dalam tubuh terarah pada pelbagai obyek yang cenderung untuk segera dipuaskan. Tugas untuk menjatuhkan pilihan ini adalah kehendak. Bagi Thomas semua keputusan kehendak belum tentu benar mendatangkan kebahagiaan. Oleh karena itu harus dituntun oleh intelek tetapi menurut Thomas intelek juga bukanlah sumber terakhir pengetahuan manusia. Intelek membutuhkan rahmat Tuhan dan kebenaran wahyu ilahi.[6]

Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa kebahagiaan yang dialami dan yang dirasakan berkat tubuh yang diputuskan oleh kehendak dan rasio adalah masih bersifat terbatas dan belum mendatangakan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan yang sebenarnya yang dirasaklan oleh sesorang atau masyarakat tidaklah terletak pada benda, nilai atau materi tertentu tetapi kebahagiaan itu terjadi jika manusia memandang kemuliaan Allah.[7] Dalam mencari dan mengejar kebahagiaan manusai tidak berhenti pada tahap berhingga serta yang relatif saja tetapi manusia toh akhirnya mengarahkan diri pada nilai yang tak berhingga kepada hal yang paling baik dan tidak terbatas. Menurut pandangan Thomas proses pencarian kebahagian itu berjalan terus dari barang tertentu, nilai-nilai lahiria yang menuju pada nilai-nilai yang lebih tinggi yang akhirnya tiba pada penegjaran  hidup batiniah manusai yang mencapai ketenangan dalam kemuliaan Tuhan.[8] Kebahagiaan ini dipandang Thomas sebagai suatu kemungkinan akan makna terdalam kehidupan manusia yang akan direalisasikan secara defintif sesudah kematian dalam satu kehidupan abadai yang terikat pada Tuhan secara tak terlepaskan.[9]

C. Aplikasi Pandangan Thomas Aquinas tentang kebahagiaan bagi orang beriman Kristen.

Menurut Thomas kebahagiaan suatu masyarakat amat dipengaruhi oleh kebijaksanaan, keadilan, ketabahan,dan kesederhanaan yang dimiliki setiap individu dalam membangun hidup kebersamaan. Karena dengan kebijaksanaan, ketabahan kesederhanaan ini akan menjamin setipa orang untuk mengalami kebahagiaan pula.[10] Karena lewat pengejaran untuk mendapatkan kebahagiaan itu haruslah melampaui nilai-nilai atau kenikmatan-kenikmatan yang hanya memuaskan tubuh. Maka sebgai orang beriman janganlah mencari kebahagiaan itu pada sesuatu yang bersifat duniawi tetapi harus dicari lebih tinggi karena hanya ada sesuatu yang sempurnah, tertinggi dan tetap yang dapat membahagiakan manusia sepenuh-penuhnya.[11] Sebab menjadi bahagia dalam persataun dengan Tuhan yang sudah dimulai dibumi ini dengan hidup sacara rasional manusiawi dan saleh itu berarti sudah mengambil bagian pada apa yang baik yaitu pada Allah.

D. Penutup

Kebahagiaan yang dimaksud Thomas adalah tidak lain dari pada  memandang Allah dalam kemuliaanNya. Cara untuk mencapai kebahagiaan ini adalah menggunkan rasio dengan bantuan rahmat ilahi. Oleh karena itu kebahagiaan yang didasarkan pada intelek dan kehendak tidaklah menjamain untuk merasakan kebahgaain bersama Allah. Dari itu dintutut sikap pencarian kebahagiaan yang selalu mengharapakan rahmat ilahi karena lewat rahmat inilah Thomas yakin bahwa manusia bisa menikmati kebahagiaan yang bukan saja dirasakan untuk sementara tetepi lebih dari itu yakni kebahagiaan untuk selamanya dan tidak akan berkesudahan. Bagi Thoams semu itu akan terwujud jika manusia memandang Allah di saat ia telah beralih dari dunia ini yaitu setelah kematian manusia.[12]

Daftar Pustaka

Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat, cet. Ke-15. Yokyakarta: Kanisius, 1998.

Hadiwijino, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Yokyakarta: Kanisius, 1980.

Mayer, Frederick A History of Ancient of Mediavel Philosphy. New York: Amearican Book Company, 1950.

Mondin, Batista. A. History of  Medieval Philosophy. Banglore: Theological Publication on India, 1991

Suseno, Frans, Magnis. Tiga Belas Model Penedekatan Etika: Bunga Rampai teks-teks etika dari Plato- sampai dengan Nietzche. Yokyakrta: Kanisius, 1997.

Weisheipl, James. A. “ Thomas Aquinas.The Encyclopedia of Religion. vol 13 edited by Mirlea Eliade. London: Macmillan Publishing Company, 1993.

Weis, Van Der  P.A. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia Yokyakarta: Kanisius, 2000


[1]Bdk, K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, cet. Ke-15 (Yokyakarta: Kanisius, 1998), hlm 38.

[2]Bdk, J. Ohoitimur, Pokok-pokok sejarah filsafat masa Yunani Kuno dan Abad pertengahan (Traktat Kuliah STF- Seminrai Pineleng, Januari 2004), hlm 148.

[3]Batista Mondin, A. History of  Medieval Philosophy (Banglore: Theological Publication on India, 1991), hlm 350.

[4]Bdk, P.A. Van Der Weis, Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia (Yokyakarta: Kanisius, 2000), hlm 51

[5]Bdk, Frans Magnis-Suseno, Tiga Belas Model Penedekatan Etika: Bunga Rampai teks-teks etika dari Plato- sampai dengan Nietzche (Yokyakrta: Kanisius, 1997 ), hlm 39.

[6]Bdk, J. Ohoitimur, Pokok-pokok sejarah filsafat masa Yunani Kuno dan Abad pertengahan, hlm 149

[7] Harun Hadiwijino, Sari Sejarah Filsafat Barat I (Yokyakarta: Kanisius, 1980), hlm 12.

[8]Bdk, Frederick Mayer, A History of Ancient of Mediavel Philosophy (New York: Amearican Book Company, 1950),  hlm  112

[9]P.A. Van Der Weis, Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, hlm 52.

[10]Bdk, James. A Weisheipl, “ Thomas Aquinas,The Encyclopedia of Religion, vol 13 edited by Mirlea Eliade (London: Macmillan Publishing Company, 1993)

[11]P.A. Van Der Weis, Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, hlm 72.

[12] Bdk, K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, hlm 38.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: