Pandangan Thomas Aquinas tentang jiwa

JIWA SEBAGAI SUBSTANSI MANDIRI

MENGHASILKAN KEBAIKAN DAN KEJAHATAN

Pendahuluan

Thomas Aquinas atas salah satu cara mau menunjukkan bahwa jiwa adalah substansi niragawi yang menduduki tingkat tertinggi dari substansi-substansi ragawi.[1] Akan tetapi di salah satu pihak Aquinas mau menunjukkan bahwa jiwa tak terlepas dari tubuh. Maksudnya jiwa dan tubuh saling berhubungan.

Sebelum Aquinas, konsep jiwa sudah ditekuni oleh Plato dan Aristoteles. Akan tetapi pandangan kedua filsuf ini menurut  Aquinas sudah terbukti lewat pengalaman yang dilakukan setiap hari. Sehingga pandangan Aquinas tentang jiwa melampaui pandangan kedua filsuf tersebut.

Dengan demikian dalam paper ini akan diuraikan pandangan Aquinas tentang jiwa lebih sebagai substansi mandiri. Dan dalam paper ini kami akan menarik relevasinya pada kejahatan dan kebaikan yang dilakukan oleh manusia lewat pemahaman tentang jiwa sebagai subtansi mandiri. Dengan demikian pertanyaan yang muncul yakni “apakah kejahatan dan kebaikan berasal dari jiwa sebagai substansi mandiri ataukah kegiatan itu hanya dilaksanakan oleh tubuh sendiri tanpa terlepas dari jiwa.

I. Pandangan filsuf mengenai jiwa.

a. Plato[2]

Plato atas salah satu cara memandang manusia sebagai makhluk terpenting di antara makhluk yang ada di dunia ini.[3] Lebih lanjut lagi Plato mengungkapkan bahwa jiwa manusia merupakan substansi independen, kekal dan sudah bereksistensi sebelum bersatu dengan tubuh[4]. Akan tetapi pada intinya Plato mau menjelaskan bahwa tubuh merupakan penjara jiwa, karena kemurnian jiwa dapat diperoleh kembali kalau ia berhasil melepaskan dari dari ikatan-ikatan ragawi. Sehingga  dapat dikatakan bahwa hakekat jiwa bertentangan dengan tubuh. Dengan kata lain Plato lebih menekankan otonomi jiwa itu sendiri.

b. Aristoteles[5]

Aristoteles memahami jiwa dalam arti luas. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang hidup baik tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia mempunyai jiwa.[6] Lebih lanjut Aristoteles mengungkapkan bahwa jiwa manusia mampunyai kedudukan istimewa karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup mengamati dunia sekitar secara indrawi, tetapi sanggup juga mengerti dunia maupun dirinya.[7] Akan tetapi Aristoteles lebih menekankan kesatuan antara tubuh dan jiwa sehingga menurutnya jiwa itu tidak otonom.[8]

c. Thomas Aquinas[9]

Pandangan Aquinas mengenai jiwa dilatarbelakangi oleh pandangan Plato dan Aristoteles. Aquinas beranggapan bahwa pandangan mereka tidak bisa menghubungkan secara jelas antara tubuh dan jiwa. Pandangan Aquinas hendak melampaui kedua filsuf tersebut.

Berangkat dari realitas yang ada, Aquinas melihat bahwa segala aktifitas perbuatan subyek berasal dari kerja sama antara forma substansial dengan tubuh. Aquinas lebih menekankan jiwa sebagai usaha manusia untuk melakukan aktifitas. Aquinas memahami bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang tidak lengkap yaitu materi dan forma.[10] Sehingga tubuh dan jiwa adalah dua unsur yang tidak terpisahkan.

Pandangan Aquinas tentang jiwa tidak terlepas dengan tubuh, karena segala aktifitas subjek tiadak bisa dianggap bahwa aktifitas tidak hanya dilakukan oleh jiwa sendiri melainkan aktifitas itu terealisasi apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri. Sehingga Aquinas berpendapat bahwa aktifitas manusia tidak hanya dilakukan oleh tubuh atau jiwa saja melainkan tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan utuh.[11]

2. Jiwa sebagai Substansi Mandiri

Seperti telah diuraikan di atas (pandangan Aquinas) bahwa tubuh dan jiwa adalah dua unsur yang saling membutuhkan dan bekerja sama. Dengan kata lain jiwa tidak harus terpisah dari badan; sebaliknya, suatu jiwa adalah sesuatu yang memberi hidup kepada badan.[12] Akan tetapi pandangan Aquinas tidak hanya berhenti pada keterkaitan antara tubuh dan jiwa melainkan Aquinas mau menunjukkan bahwa jiwa adalah substansi yang mandiri.

Pandangan Aquinas tentang jiwa atas salah satu cara mau menekankan bahwa jiwa dapat otonom maksudnya jiwa adalah substansi mandiri yang terlepas dari tubuh. Jiwa dapat melaksanakan aktifitas tanpa harus bekerja sama terlebih dahulu dengan tubuh, maksudnya untuk melaksanakan sesuatu kegiatan maka terlebih dahulu yang terjadi yakni rencana yang harus dibuat. Rencana itulah yang datang dari jiwa sendiri. Dalam arti bahwa rencana yang akan kita lakukan terlebih dahulu dilakukan lewat pikiran. Pikiran itulah yang bekerja untuk dapat merencanakan sesuatu lewat apa yang disebut dengan intelek jiwa

Dengan demikian intelek jiwalah yang bekerja  agar tugas/pekerjaan itu dapat berlangsung dengan baik.

Jadi jiwa sebagai substansi mandiri dimaksudkan bahwa jiwa dapat bekerja sendiri tanpa kaitannya dengan tubuh, jadi jiwa yang terlebih dahulu bekerja dalam diri manusia. Akan tetapi  nanti terealisasi aktifitas itu apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri.

3. Aktifitas jiwa bisa menghasilkan kejahatan dan kebaikan

Bila kita melihat realitas dunia saat ini, ditandai dengan peperangan, pembunuhan, pemerkosaan dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang tejadi di belahan dunia ini. Akan tetapi masih banyak pula kebaikan dan kebahagiaan yang terjadi di dunia ini sehingga masih banyak orang yang bisa hidup dalam suasana berdampingan dan  penuh kekeluargaan, walaupun tidak bisa dihindari masih banyak pula penderitaan yang menimpa banyak orang.

Dari realitas yang ada dapat diangkat suatu pertanyaan “dari manakah kejahatan dan kebahagiaan itu datang?”

Untuk menjawab pertanyaan ini tidak hanya langsung mengatakan bahwa itu semua karena perbuatan manusia. Memang sangat jelas bahwa suatu kebaikan berasal dari perbuatan manusia begitu juga kejahatan itu merupakan perbuatan manusia pula. Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ini kita harus sampai realitas terdalam manusia itu sendiri yakni jiwa dan tubuh.

Seperti yang telah diungkapkan pada bagian kedua bahwa jiwa adalah substansi yang mandiri dengan kata lain jiwa dapat beraktifitas tanpa kesatuan dengan tubuh. Bila melihat realita yang terjadi saat ini maka realita atau fenomena-fenomena yang terjadi pertama-tama datang dari aktifitas jiwa sendiri. Berpikir tentang kejahatan dan kebaikan sebetulnya datang dari aktifitas intelek jiwa sendiri. Apabila jiwa sendiri telah memikirkan akan melakukan suatu kejahatan maka konsep yang ada dalam jiwa kita pasti dipenuhi dengan kejahatan. Begitu juga dengan kebaikan, apabila kita telah memikirkan sesuatu yang baik pastilah jiwa kita akan dipenuhi dengan konsep kebaikan.

Semua ini harus kita sadari bahwa ini akan terjadi apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri. Walaupun kita telah merencanakan suatu kejahatan pembunuhan tetapi tidak diikuti oleh aktifitas tubuh sebagai perealisasian maka kejahatan tidak akan terjadi. Begitupun dengan kebaikan. Jadi kejahatan dan kebaikan terjadi hanya apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri, karena walaupun intelek jiwa telah memikirkan sesuatu tetapi tanpa diikuti oleh aktifitas tubuh maka segala aktifitas itu tidak akan terjadi.

Dengan demikian segala kejahatan dan kebaikan yang terjadi dibelahan dunia ini, diakibatkan adanya kerja sama antara tubuh dan jiwa.

Penutup

Konsep jiwa dari Aquinas sebetulnya mau melampaui pandangan dari Plato dan Aristoteles. Aquinas lebih menekankan jiwa sebagai substansi mandiri walaupun pada kenyataannya jiwa memerlukan tubuh untuk beraktifitas. Akan tetapi segala aktifitas pertama-tama datang dari intelek jiwa sendiri. Aktifitas intelek jiwa akan terealisasi apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri.

Kebaikan dan kejahatan pertama-tama datang dari aktifitas intelek jiwa sendiri, akan tetapi ini hanya dapat terjadi apabila aktifitas intelek jiwa diikuti dengan aktifitas tubuh sendiri.

Daftar Pustaka

Ohoitimur, J., “Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whitehead tentang Realitas Tuhan”, Traktat kuliah STF-SP:2002.

Ohoitimur J., Pengantar Berfilsafat, Jakarta: Yayasan Gapura, 1997

Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales Sampai Aristoteles, Yogyakarta: Kanisius, 1975.

Magnis-Suseno, Franz., 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19, Yogyakarta: Kanisius, 1997

Mudji Sutrisno, Fx. Dan Budi Hardiman, F., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Weij, van der P.A., Filsuf-Fisuf Besar Tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Smith, Linda dan Rapar, William, Ide-Ide, Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, Yogyakarta: Kanisius, 2000.


[1] J. Ohoitimur, “Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whitehead tentang Realitas Tuhan”, (Traktat kuliah STF-SP:2002), hlm. 40.

[2] J. Ohoitimur, Pengantar Berfilsafat, (Jakarta: Yayasan Gapura, 1997), hlm. 42. Plato lahir di Athena dalam tahun 428/27sM, setahun sesudah kematian Perikles dan ketika Sokrates berusia 42 tahun. Kota Athena sedang mengalami kejayaan kultural dan keluarga Plato termasuk keluarga terkemuka. Tak mengherankan jika sejak berusia muda Plato mendapat pendidikan yang baik termasuk dalam bidang seni, politik dan filsafat.

[3] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles, (Yogyakarta: Kanisius, 1975), hlm. 111.

[4] J. Ohoitimur, “Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whitehead Tentang Realitas dan Tuhan”, hlm. 40.

[5] Frans Magnis-Suseno, 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 27. Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara. Delapan belas tahun kemudian ia masuk akademia di Athena dan sampai tahun 347 menjadi murid Plato. Pada tahun 342 ia diangkat menjadi pendidik Iskandar Agung muda di kerajaan Raja Philippus dari Makedonia. Tahun 355 ia kembali ke athena dan mendirikan sekolah yang namanya Lykaion, juga disebut Peripatetik, yang sebenarnya adalah pusat penelitian ilmiah. Pada tahun 323, sesudah kematian Iskandar Agung, ia harus melarikan diri dari Athena  karena ia, seperti Sokrates 80 tahun sebelumnya, dituduh menyebarkan ateisme. Ia meninggal pada tahun 322 SM.

[6] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales Sampai Aristoteles, hlm. 148.

[7] Fx. Mudji Sutrisno dan F. Budi Hardiman, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 22

[8] J. Ohoitimur, “Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whithead Tentang Realitas dan Tuhan”, hlm. 40.

[9] Thomas dari Aquino (1225-1274) dilahirkan di Rocca Sicca dekat Napoli, Italia. Menjelang umur 20 tahun ia bergabung dengan tarekat Santo Dominikus (Ordo Dominikan) dan menjadi murid dari Albertus Magnus di Paris Koln. Setelah studinya selesai ia mengajar teologi di Universitas di Paris dan berbagai tempat lainnya di Italia. Saat ia meninggal dunia pada usia 49 tahun, ia meninggalkan banyak karya tulis. Dalam edisi modern, semua karya itu dikumpulkan dalam 34 jilid. Karya-karya itu antara lain: Komentar atas buku “Sententiae”, karangan Petrus Lombardus, Summa Contra Gentiles dan karyanya yang utama adalah Summa Theologiae. Karya-karyanya termasuk sebagai karangan terpenting dari seluruh kesusastraan kristiani.

[10] P.A. van der Weij, Filsuf-Fisuf Besar Tentang Manusia, (Yogyakarta: Kanisius, 2002) hlm. 49.

[11].J. Ohoitimur, “Metafisika Th. Aquinas dan A.N. Whitehead Tentang Realitas dan Tuhan”, hlm. 41.

[12] Linda Smith dan William Rapar, Ide-Ide, Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 28.

2 Tanggapan to “Pandangan Thomas Aquinas tentang jiwa”

  1. Fernando Peter Says:

    Terima kasih. Sy mmliki bbrp knsep stlh mmbca laman paper ni. 1) Mnurt sy knsp Sdr ttg “jiwa sebagai substansi” menurut Aqui~ msh kurang. Alasannya, Sdr msh sgt mneknkan aktifits mndri jw yg otonm d luar tbh. Pdhal ada jg aktfts jw yg trgntung pd tbh. Krn, jw mliki 3 prinsp: aktfts, grak n hdp. It artny, dlm metafsk Aqui~ pmbicraan ttp jw slalu brkaitn dgn tbh. Tnp tbh, jw di bs dsbt hntu/roh. Tp, tnp jw jg, tbh dsbt myat. Itulh sbbny, (ni poin 2) jw tak bs dktakan sbg suatu substnsi tp sesuatu yg otonm. Mnurt Aqui~ mc sjati = br1ny tbh+jw=substansi. Mc sbg pnck substansi ragawi trtinggi tak prnh trlepas dr jw sbg bgn dr substnsi nirragawi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: