KONSEP JEN MENURUT KONFUSIUS

(Oleh: Koko Istya Temorubun, SS)

“Perlakukanlah orang lain

seperti apa yang anda harapkan

orang lain lakukan bagi anda

dan janganlah lakukan kepada orang lain

apa yang anda sendiri tidak kehendaki

orang lain lakukan bagimu” (Lun Yu, 12.2).

Berhadapan dengan situasi zamannya, Konfusius melihat bahwa persoalan utamanya adalah manusia tidak lagi dihargai sesuai dengan martabatnya. Atas dasar itu, ia ingin mengadakan reformasi masyarakat dan membentuk masyarakat yang hidup dalam kerukunan dan kedamaian. Konfusius berkeyakinan bahwa reformasi masyarakat harus dimulai dengan mengembalikan setiap orang pada identitas aktualnya. Maka lahirlah teori Cheng Ming (Rektifikasi nama).[1] Tetapi karena sumber nilai kebaikan dan kebahagiaan adalah manusia, maka setiap langkah reformasi atau pemulihan keadaan harus didasarkan pada  prinsip-prinsip moral dasar.

Menurut Konfusius, prinsip-prinsip moral dasar itu adalah; Jen, Li, Yi, Hsin dan Chih. Inilah yang disebut Wu Chang atau Lima sifat mulia (Lihat penjelasannya pada Bab I, bagian 3.3). Di antara konsep-konsep ini, menurut Konfusius, Jen melandasi semua konsep lainnya.[2] Hal ini disebabkan karena Jen adalah suatu konsep yang padat, yang mencakup juga penderitaan manusia, rasa hormat terhadap hirarki  sosial dan pemerintahan yang ideal.[3] Konfusius menjelaskan, “Jika seorang ayah menunjukkan Jen-nya kepada keluarga dan anak-anaknya, ia akan menerima penghormatan (Li) dari mereka sebagai ganjarannya. Dan jika Pemerintah menunjukkan Jen kepada rakyat, pemerintah akan menerima ketaatan dari mereka.”[4] Menjadi persoalan teoretis, apa itu Jen dan mengapa Jen menjadi amat penting dalam pemikiran Konfusius untuk mengupayakan reformasi masyarakat pada zamannya?

1. Memahami Konsep Jen

Apabila dipilah-pilah huruf Cina untuk kata Jen, yaitu     dibentuk oleh dua karakter yakni               (dibaca Jen), yang berarti Manusia dan           (dibaca erh), yang berarti Dua. Jen menyatakan kwalitas-kwalitas moral yang perlu dipegang sebagai pedoman untuk menata hubungan antar-manusia.[5] Meskipun demikian, arti sesungguhnya dari Jen tidak secara jelas didefinisi. Jen sering diterjemahkan sebagai Kebajikan, belas kasih, kemurahan hati, kebaikan, cinta, hakikat manusia, peri-kemanusiaan, kemanusiaan, manusia sejati, kemurahan hati, kasih, keutamaan yang sempurna dan manusia yang beradab (tahu adat-sopan santun).[6] Untuk memahami konsep Jen, penulis akan mencoba untuk memahami latar belakang konsep ini dan pemahamannya menurut Konfusius sendiri.

1.1. Konteks Munculnya Konsep Jen Konfusius

Telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa Konfusius hidup dalam situasi sosial yang amat memprihatinkan. Kondisi sosial Cina pada masa itu diwarnai oleh ketidakteraturan, degradasi moral yang bermuara pada dehumanisasi. Pada masa itu, tidak ada lagi rasa saling menghargai, saling menghormati satu terhadap yang lain. Antara kelompok atau negara yang satu dan kelompok atau negara yang lain terjadi ketegangan. Hal ini disebabkan karena masing-masing individu berusaha memisahkan diri dari kebersamaan demi kepentingan pribadinya. Akibatnya, mereka yang memiliki kuasa semakin berkuasa, sedangkan yang tidak mempunyai kuasa harus rela diperalat demi kepentingan penguasa. Krisis ini terjadi sekitar tahun 2100 SM.[7] Situasi ini dapat dibandingkan dengan situasi Yunani kuno, seperti yang digambarkan oleh Windelband,

Puncak perkembangan yang subur dari individualisme ditandai dengan hilangnya kesadaran umum akan iman dan moral, yang diancam oleh perkembangan budaya Yunani baru bersama dengan bahaya anarkhi, sehingga manusia secara individu semakin tertekan, yaitu orang-orang yang penting karena posisi mereka dalam hidup, karena kebijaksanaan dan karakter mereka, menemukan keawjiban untuk menemukan kembali ukuran yang hilang dalam refleksi mereka.[8]

Di Yunani, situasi ini menyebabkan munculnya Filsafat Sokrates. Di Cina, situasi seperti ini menyebabkan munculnya Filsafat Konfusius.

Konfusius sendiri menilai bahwa persoalan yang terjadi di negaranya disebabkan karena masing-masing individu tidak lagi hidup berdasarkan identitasnya. Pandangan ini melahirkan teori Cheng Ming (Rektifikasi nama) yang dianggap sebagai jalan keluar dari krisis sosial yang dialami oleh masyarakat jamannya. Ketika ditanyakan oleh seorang muridnya bahwa apakah yang pertama-tama dilakukan jika ia memerintah negara? Konfusius menjawab,

Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak.[9]

Konfusius percaya bahwa dengan mengembalikan identitas seseorang maka negara pasti aman. Tapi karena sumber nilai kebaikan dan kebahagiaan adalah manusia, maka usaha reformasi atau pemulihan keadaan masyarakat harus didasarkan atas prinsip-prinsip moral dasar.[10] Hal itu berarti, menurut Konfusius, pembaharuan sosial-politik perlu mendapatkan pendasarannya pada moralitas.

Keyakinan itu bertolak dari reaksinya terhadap krisis sosial-politik zamannya. Konfusius berpandangan bahwa persoalan utama yang menyebabkan ketidakteraturan ini adalah problem kemanusiaan. Padahal menurutnya, Kemanusiaan mencerminkan kemuliaan otentik dari manusia.[11] Situasi dan kondisi yang dialaminya telah menimbulkan problem kemanusiaan yang sangat serius, yang dapat menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri. Dengan ini, Konfusius bertekad untuk mengadakan reformasi masyarakat zamannya dengan memfokuskan perhatiannya pada manusia itu sendiri. Maka muncullah prinsip-prinsip moral dasar yang dianggap oleh Konfusius sebagai yang dapat membawa kedamaian, ketenangan dalam diri sendiri maupun  bagi orang lain. Prinsip-prinsip moral dasar itu adalah Jen. Li, Chih, Yi dan Hsin. Di antara nilai-nilai ini, Konfusius menempatkan Jen sebagai fokus perhatiannya untuk mewujudkan cita-cita reformasi masyarakat. Karena menurutnya, Jen merangkum keseluruhan nilai-nilai utama tersebut. Pemahaman ini menimbulkan pertanyaan, apa itu Jen menurut Konfusius.

1.2. Pengertian Jen Menurut Konfusius

Konfusius memberikan arti yang berbeda-beda pada Jen sesuai dengan konteks percakapan seperti yang ditemukan dalam Lun Yu. Misalnya ketika Yen Yuan bertanya mengenai Jen, Konfusius menjawab, “Menguasai diri sendiri dan kembali pada kesopanan (propriety), itulah Jen” (Lun Yu, 12.1).[12] Di sini Jen diartikan sebagai pengembangan diri menuju pribadi yang matang dan dewasa. Selanjutnya ketika Fan Ch’ih bertanya tentang arti Jen, Konfusius berkata, “Jen berarti mencintai [sesama] manusia” (Lun Yu, 12.22).[13]

Di sini tersirat gagasan bahwa hakikat kemanusiaan adalah cinta. Kemampuan mencinta  merupakan karakteristik dasar manusia. Begitu pula segala kebajikan (benevolence) bermuara pada cinta. Dalam arti ini, sebagai suatu keutamaan yang umum, Jen dimengerti sebagai kemanusiaan, apa yang membuat manusia menjadi makhluk bermoral. Sedangkan sebagai keutamaan khusus Jen dimengerti sebagai cinta.[14] Pada kesempatan lain, ketika Chung-Kung bertanya tentang Jen, Konfusius menjawab, “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang anda sendiri tidak kehendaki orang lain lakukan bagimu (Lun Yu, 12.2).[15] Cara riil mencintai sesama ialah memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri. Dalam arti itu  Jen dipahami sebagai salah satu bentuk keadilan.[16]

Beberapa penjelasan di atas memperlihatkan bahwa Jen adalah suatu term yang memiliki banyak arti, karena itu sulit untuk ditemukan pengertian yang definitif. Akan tetapi beberapa pemahaman di atas menunjukkan bahwa Jen berhubungan erat dengan manusia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa arti yang ditempatkan pada kata Jen, yaitu: Virtue (Keutamaan), Humanity (Kemanusiaan), Benevolence (Kebajikan), True man hood (Kemanusiaan sejati), Moral Character (Watak moral), Love (Cinta), Human goodness (Kebaikan manusiawi).[17] Dari semuanya ini, nampaknya “Kemampuan mencinta” merupakan terjemahan yang merangkum kekayaan arti kata Jen, karena arti tersebut menunjuk secara akurat apa yang persis membedakan manusia dari makhluk lain manapun. Karena itulah Jen dipahami sebagai realitas terdalam dari manusia.[18]

Akan tetapi seperti yang tersirat di atas, Konfusius ternyata tidak menawarkan ataupun mempertahankan definisi tertentu tentang Jen. Ia mengembangkan arti Jen menurut konteks percakapannya. Kenyataan ini mungkin menjelaskan pandangan Konfusius bahwa intisari kemanusiaan bersifat amat personal dan terletak di dasar kedalaman setiap pribadi. Watak kemanusiaan yang mendalam hanya bisa terungkap melalui tindakan personal, artinya tindakan yang melibatkan pribadi yang seutuhnya. Karena itu, Konfusius berkata, “Menjadi Jen awalnya dari diri sendiri.”[19] Oleh karena itu, setiap tindakan yang menjadikan seorang person sebagai obyek atau instrumen merupakan distorsi serius terhadap Jen. Maka dalam konteks relasi dengan orang lain, Konfusius menjelaskan bahwa Jen berarti mencintai sesama manusia (Lun Yu, 12.22).[20]

Dengan ini, Konfusius hendak menyatakan  bahwa kemampuan manusiawi untuk mencintai merupakan inti dari hakikat sejati. Bahkan Jen telah dianggap sebagai nilai utama yang amat menentukan dalam suatu tindakan manusiawi. Untuk lebih jelasnya, kami akan memaparkan Analects tentang Jen antara Konfusius dan murid-muridnya.

1.3. The Analects Tentang Konsep Jen

The Analects adalah terjemahan dari Lun Yu yang berisi tentang ajaran-ajaran Konfusius. The Analects merupakan kumpulan perkataan-perkataan Konfusius dan murid-muridnya tentang ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan. Nama Lun Yu muncul sekitar abad 2 SM. Pada waktu itu, ada sekitar tiga versi, dengan beberapa variasi. Dua dari tiga versi ini hilang. Versi yang masih ada dan digunakan adalah yang ada di negara Lu. Materi-materi dalam Lun Yu tidak tersusun secara sistematis; dan ada data-data historis yang tidak akurat. Meskipun demikian, secara umum Lun Yu dianggap sebagai sumber yang paling otentik dan dapat dipercaya mengenai ajaran-ajaran Konfusius. Chu Hsi mengumpulkannya bersama dengan Book of Mencius, The Great Learning, and The Doctrine of The Mean sebagai “Empat Buku” yang merupakan warisan tradisi klasik Cina.[21]

1.3.1. Analect 1.2

Ada sebagian orang yang membangun diri mereka sebagai seorang anak dan sebagai seorang saudara suka menghina yang lebih tua. Mereka yang tidak suka menghina orang yang lebih tua tidak pernah menjadi pegangannya. Orang yang lebih tua memusatkan perhatiannya pada hal-hal fundamental. Ketika hal-hal yang fundamental dibangun maka jalan yang benar (Tao) muncul. Bukankah bakti dan ketaatan pada yang lebih tua merupakan hal-hal fundamental bagi undang-undang?[22]

Jen merupakan suatu kata yang sulit untuk diterjemahkan, karena tidak nyata secara spesifik. Konfusius sendiri, seperti yang telah dijelaskan diatas, tidak memberikan suatu arti yang definitif. Ia memahami Jen berdasarkan konteks percakapannya. Akan tetapi Jen dipahami sebagai suatu unsur yang menunjuk pada kapasitas terdalam dari manusia sebagai manusia. Oleh karena itulah Jen sering diterjemahkan sebagai “kemanusiaan.”

Dalam analect 1.2 ini, dikatakan bahwa seorang Superior man selalu mendasarkan dirinya pada hal-hal yang fundamental. Ketika hal-hal yang fundamental itu dibangun, hukum moral (Jalan-Tao) akan berkembang.[23] Penegasan ini mengarah pada kesesuaian antara perilaku dan Tao. Perilaku seseorang hendaknya sesuai dengan hukum moral yang didasarkan pada Jen. Dalam konteks relasi antar-manusia, seorang Superior man harus menjunjung tinggi rasa hormat terhadap siapa saja. Dalam arti itu, menjadi seorang Superior man hendaknya mendasarkan hidupnya pada kemanusiaan (Jen). Dengan demikian, keteraturan dalam relasi kehidupan sosial dapat tercapai karena adanya saling menghormati satu sama lain. Di sini kita melihat peranan Jen, terutama dalam proses pengembangan diri seseorang untuk menjadi Superior man.

Di Cina, Jen dipandang sebagai “Fungsi esensial,” Jen dapat dimengerti sebagai esensi dari semua jenis manifestasi dari nilai-nilai, seperti: Kebijaksanaan, bakti, hormat, kesopanan, Cinta, Ketulusan, dan lain-lain, semua aspek ini adalah fungsi dari Jen. Melalui praktek dari salah satu nilai ini, seseorang boleh disebut sebagai Superior man, atau Manusia Jen. Dalam Analects, Konfusius mengakui bahwa Manusia Jen mendapat kedudukan tertinggi.[24]

1.3.2. Analect 6.8

Tzu Kung bertanya, “Anggaplah bahwa ada penguasa yang dapat menguntungkan masyarakat dan dapat memberikan keselamatan pada banyak orang, apa pendapatmu tentang orang tersebut? Bolehkah ia disebut Jen?

Sang Guru berkata, mengapa hanya Jen? Dia pastilah orang yang bijaksana. Bahkan Yao dan Shun mau berjuang untuk mencapai hal ini. Sekarang manusia Jen, mau dirinya dibangun, melihat bahwa orang-orang lain dibangun, dan karena ia mau dirinya untuk menjadi sukses, melihat bahwa orang-orang lain sukses. Mampu untuk menjadikan perasaan-perasaan sebagai penuntun dapat disebut seni Jen.[25]

Analect ini hendak menegaskan bahwa menjadi manusia berarti menyadari bahwa dia selalu berhubungan dengan orang lain, berpikir dan bertindak agar hubungan itu selalu harmonis dengan segala implikasinya. Di sini kita menemukan suatu pemahaman bahwa manusia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Penegasan di atas juga memperlihatkan aspek praktis dalam etika konfusianisme bahwa menjadi Manusia Jen tidak berarti menarik diri dari masyarakat demi kesempurnaan dirinya melainkan juga untuk mengembangkan masyarakat. Dengan demikian Manusia Jen, kata Konfusius, membangun dirinya sendiri dan orang lain sehingga kesuksesan dirinya adalah juga kesuksesan orang lain. Konfusius menambahkan, hal ini dapat terwujud jika seseorang merasa dirinya memiliki seni Jen.

1.3.3. Analect 7.9

Konfusius berkata, “Adakah Jen begitu jauh? Jika saya menginginkan Jen benar-benar ada di sini!” [26]

Konfusius hendak menegaskan bahwa, Jen tidak jauh dari manusia. Jen ada dalam diri manusia itu sendiri. Bahkan ia pernah berkata bahwa, “Jen berawal dari diri manusia itu sendiri.” Tetapi seseorang bisa memperoleh Jen kalau ia menginginkannya. To Thi Anh memahami Jen dalam konteks percakapan ini sebagai suatu etika situasional, suatu etika dari manusia-dalam-masyarakat. Ia melihat Konfusianisme sebagai etika praktis.

Kemanusiaan Jen bukan suatu kemanusiaan yang abstrak atau suatu arketip Platonis, atau sesuatu yang diturunkan oleh langit yang tidak bisa diwujudkan. Jen adalah perasaan dari realitas manusia dan keberadaannya di antara manusia-manusia. Ia ada dalam masyarakat, menyusup dalam peradaban, dari padanya manusia mengembangkan dirinya.[27]

Menyadari keberadaan Jen inilah, Konfusius yakin bahwa Jen tidak jauh berada jauh dari manusia. Jen ada dalam diri manusia. Berdasarkan keyakinan inilah, ia berpandangan bahwa semua orang mempunyai potensi untuk menjadi Chun Tzu.

1.3.4. Analect 12:2

Chung Kung bertanya tentang arti Jen. Sang Guru berkata, “Keluarlah dari rumahmu seolah-olah engkau menerima seorang tamu penting. Pekerjakanlah orang lain seolah-olah engkau sedang membantu pada suatu upacara besar. Apa yang engkau tidak ingin dilakukan pada dirimu sendiri, jangan lakukan kepada orang lain. Hiduplah dalam kotamu tanpa memiliki rasa dendam, dan hiduplah dalam rumahmu tanpa memiliki rasa dendam.” Chung Kung berkata, “Meskipun saya tidak begitu pandai, saya akan menerapkan ajaran ini dalam diriku.”[28]

Berdasarkan Analect ini, Konfusius hendak menegaskan bahwa dalam relasi antar manusia, Jen mendapat arti sesungguhnya. Manusia Jen amat menekankan suatu relasi yang harmonis, sehingga ia tahu bagaimana memperlakukan sesamanya. Manusia Jen juga memiliki kepekaan hati terhadap kepentingan orang lain. Ia terbuka untuk menerima kehadiran orang lain. Keterbukaan ini tidak mengenal batas-batas, karena manusia Jen tahu bahwa, “dalam batas empat samudera semua orang bersaudara.” Dalam upaya melestarikan keharmonisan ini, Konfusius selalu menekankan, “Apa yang engkau tidak ingin dilakukan kepada dirimu jangan lakukan kepada orang lain.”

1.3.5. Analect 12.22

Fan Chih bertanya tentang arti dari Jen. Konfusius berkata, “Cintailah sesama manusia.” Ia bertanya tentang arti dari pengetahuan. Sang Guru berkata, “Ketahuilah tentang manusia.” Fan Chih tidak mengerti hal ini. Guru berkata, “Jika engkau membiarkan kejujuran menguasai dirimu, dan membuang ketidakjujuran, engkau akan memaksa ketidakjujuran menjadi kejujuran.”[29]

Nampak bahwa Konfusius amat menekankan kepentingan manusia. Sehingga ketika ditanyakan arti Jen Konfusius menjawab “Cintailah manusia,”  sedangkan saat ditanya tentang Pengetahuan, Konfusius menjawab “Ketahuilah tentang manusia.” Penekanan terhadap kepentingan manusia ini menyebabkan munculnya beberapa pandangan yang mengatakan bahwa Konfusius jauh dari nilai-nilai religius. Terhadap pendapat ini, D. Howard Smith memberi komentar bahwa,

Konfusius sendiri memiliki perasaan dan penghayatan yang dalam terhadap kehidupan beragama termasuk pula kepercayaan terhadap Surga (Heaven – T’ien). Ia selalu berusaha mengikuti jalan surga melalui perwujudan nilai-nilai moral yang telah dipercayainya sebagai anugerah dari Surga (Smith, 1973).[30]

Dengan demikian penekanan terhadap kepentingan manusia melalui prinsip-prinsip moral adalah suatu cara untuk mengikuti Tao. Konfusius yakin bahwa Tao mempunyai hubungan yang erat dengan kodrat manusia yang merupakan “Pemberian langit.” Oleh karena itu, prinsip-prinsip moral yang ditekankan pada Jen adalah demi kepentingan manusia untuk menciptakan harmoni antar-manusia itu sendiri.

1.3.6. Analect 15.8

Konfusius berkata, “Shih yang telah ditentukan dan Manusia Jen tidak akan menyelamatkan hidup mereka jika hal itu menuntut perusakan Jen mereka. Mereka bahkan akan mengorbankan dirinya untuk memanifestasikan Jen.[31]

Berdasarkan Analect ini, Jen dipahami sebagai Kemanusiaan itu sendiri. Jen adalah hakikat kemanusiaan, yang mencakup harkat dan martabat manusia. Dalam arti ini, Konfusius mengatakan bahwa orang akan rela untuk mengorbankan dirinya untuk memanifestasikan Jen, karena berkaitan dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Oleh karena itu merusak Jen, berarti merusak manusia itu sendiri.

1.3.7. Analect 17.6

Tzu Chang bertanya kepada Konfusius tentang Jen. Konfusius berkata, “Jika engkau dapat mempraktekkan kelima hal ini dengan semua orang, engkau dapat disebut Manusia Jen.” Tzu Chang bertanya apa kelima hal itu. Konfusius berkata, “Kesopanan, Kemurahan, Kejujuran, Ketekunan dan Kebajikan. Jika engkau berlaku sopan, engkau tidak akan tidak dihormati; Jika engkau bermurah hati, engkau akan memperoleh segala sesuatu; Jika engkau jujur, orang akan berharap padamu; Jika engkau tekun, engkau akan memperoleh hasilnya; Jika engkau bermaksud baik, engkau dapat memperkerjakan orang lain.”[32]

Dalam Analect ini Konfusius menekankan tentang bagaimana menjadi seorang Manusia Jen (manusia yang sempurna). Menjadi manusia yang sempurna di sini hendaknya dimengerti secara moral. Artinya manusia yang memiliki tingkah laku yang baik sesuai dengan norma-norma moral. Sikap baik ini diharapkan tumbuh dari hatinya sendiri sehingga menampakkan keagungan jiwanya. Ia adalah orang yang patut untuk diteladani dalam hidup. Dalam Analect ini, Konfusius menawarkan lima hal untuk menjadi seorang Manusia Jen, yaitu: Kesopanan, Kemurahan, Kejujuran, Ketekunan dan Kebajikan.

2. Berbagai Dimensi Konsep Jen

Berdasarkan uraian The Analects tentang Jen di atas, dapat ditemukan bahwa Jen merupakan elemen hakiki kodrat manusia. Pemahaman ini menyiratkan bahwa Jen tak dapat dipisahkan begitu saja dari manusia. Bahkan Jen telah dianggap sebagai standar atau tolak ukur di dalam tingkah laku dan etika moral oleh Confucianis.[33] Maka tak heran jika Jen termasuk dalam Lima sifat mulia (Wu Chang) yang menjadi standar untuk menjadi Chun Tzu. Dalam arti ini, Jen menjadi dasar bagi relasi timbal balik antar-manusia. Konfusius pernah mendefenisikan keadaan timbal balik sebagai, “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang anda sendiri tidak kehendaki orang lain lakukan bagimu.” Berdasarkan prinsip timbal balik ini, terdapat dua aspek penting dari konsep Jen yang disebut Chung dan Shu.[34]

Oleh karena itu, akan diuraikan pandangan Konfusius tentang kedua aspek ini. Selain itu juga, akan dijelaskan beberapa sifat Jen yang menjadi keunggulan dari konsep ini dalam hubungannya dengan Kemanusiaan. Beberapa sifat itu adalah Jen sebagai suatu keunggulan nilai manusiawi, Jen sebagai suatu sifat luhur yang bersifat kemanusiaan dan Jen sebagai prinsip dasar solidaritas kemanusiaan.

2.1. Dua Aspek Jen: Chung dan Shu

Menurut Konfusius, wujud dari konsep Jen adalah kasih sayang antara manusia yang mempunyai dua segi yaitu: Chung dan Shu.

Chung (positif), mengandung makna: “Apa yang engkau suka orang lain berbuat kepadamu, maka berbuatlah kepadanya atau orang lain”. Shu (negatif), mengandung makna: “apa yang engkau tidak suka orang lain berbuat kepadamu, maka janganlah engkau berbuat seperti itu kepadanya atau orang lain.[35]

Hal ini merupakan inti ajaran Konfusius kepada para muridnya. Konfusius berkata,

Shen (nama kecil dari Tseng Tzu), ada satu ikatan yang mengikat ajaran-ajaranku. Tseng Tzu berkata, “Ya.” Setelah Konfusius kembali, murid itu bertanya, ”Apa yang ia maksudkan?” Tseng Tzu menanggapi kembali, “Ajaran guru tidak lain adalah mendengarkan kata hati (Chung) dan sikap altruisme (Shu-sifat mementingkan kepentingan orang lain). (Lun Yu, 4.15).[36]

Chung merupakan pengembangan kesadaran manusiawi untuk berkehendak baik terhadap orang lain. Chung berarti melakukan kebaikan bagi orang lain dan mendukung pengembangan dirinya sendiri. Sedangkan Shu menyatakan rasa kemanusiaan yang terbuka atau sikap altruistik dan simpatik terhadap mereka yang berada dalam keadaan malang.[37] Dengan kata lain, Chung menyerukan kehendak dan perbuatan baik bagi orang lain, sementara secara negatif Shu menyatakan larangan untuk tidak menjahati orang lain. Menyatunya Chung dan Shu, membentuk relasi timbal-balik yang mendasari ‘Aturan emas’ Konfusius yang berbunyi, “Perlakukanlah orang lain seperti apa yang anda harapkan orang lain lakukan bagi anda dan janganlah lakukan kepada orang lain apa yang anda sendiri tidak kehendaki orang lain lakukan bagimu” (Lun Yu, 12.2).[38]

Berdasarkan pemahaman ini, Konfusius telah menjawab persoalan tentang apa landasan konseptual yang dapat diambil sebagai pedoman dalam seluruh kehidupan? Konfusius menjawab, Jen (kemanusiaan). Dengan mendasarkan hidup pada Jen, orang akan tahu bagaimana seharusnya ia hidup, bagiamana ia memperlakukan sesamanya. Konsep ini menjiwai seluruh pribadi manusia, sehingga ia menyatukan pribadi yang berbeda-beda itu dalam satu persekutuan. Selain keunggulan ini, ada juga keunggulan-keunggulan lain dari Jen (Kemanusiaan). Di bawah ini akan diuraikan keunggulan-keunggulan lain dari Jen dalam konteks kehidupan sosial manusia.

2.2. Jen Sebagai Suatu Keunggulan Nilai Manusiawi

Menurut Konfusius, Jen amat menentukan kwalitas manusia sebagai manusia. Dengan hidup berdasarkan Jen, manusia akan memiliki kekuatan yang dapat menyebabkan manusia hidup dalam suatu kehidupan yang damai dan tenang. Konfusius berkata, “Jika manusia berbakti kepada Jen, ia akan bebas dari dosa” (Lun Yu, 4.4). Tanpa Jen manusia tidak dapat mengakhiri untung dan malang, ia tidak dapat sampai pada kemakmuran. Seorang manusia Jen harus hidup berdasarkan Jen (Lun Yu, 4.2). Oleh karena itu, tanpa Jen, kehidupan manusiawi tidak bernilai, tanpa arti.[39] Konfusius mempunyai cukup alasan untuk menekankan peranan vital dari Jen ini. Ia berkata,

Kekuatan para murid dan manusia Jen tidak akan nampak pada waktu mengembangkan Jen, tetapi terlebih pada pengorbanan hidup mereka untuk memelihara Jen (Lun Yu, 15.8). Jen adalah unsur esensial dalam diri manusia daripada api dan air. Saya telah melihat manusia mati dari loncatannya ke dalam api dan air, tetapi saya tidak pernah melihat seorang manusia mati dari loncatannya ke dalam Jen (Lun Yu, 15.3,4).[40]

2.3. Jen Sebagai Sifat Luhur yang bersifat Kemanusiaan

Sedemikian pentingnya Jen dalam membentuk manusia sebagai manusia sehingga para Confucianis berpendapat bahwa Jen menjadi tolak ukur di dalam tingkah laku dan etika moral. Jen merupakan hakikat kemanusiaan. Pengertian Jen tidak berpangkal pada kesucian semu, tetapi kebaikan yang luhur dari pribadi manusia. Ketika seseorang bertanya tentang membalas hinaan dengan keutamaan, Konfusius berkata, “Dengan apa kita membalas keutamaan? Suatu hinaan dibalas dengan sikap jujur dan keutamaan dibalas dengan keutamaan (Lun Yu, 14.36).[41]

Dengan demikian Jen menjadi standar tingkah laku bagi setiap manusia yang bijaksana, sehingga orang yang demikian akan dapat hidup tanpa penderitaan baik dalam kemiskinan, kesukaran ataupun kesenangan. Ketenangan hidup akan diperoleh apabila Jen telah ditanamkan dalam kebijaksanaan seseorang, karena orang tersebut telah terbebas dari keragu-raguan dan ketakutan. Konfusius berkata, “Seseorang yang tidak memiliki Jen, tidaklah dapat bertahan hidup lama dalam kesukaran maupun dalam kemakmuran. Orang yang memiliki Jen secara natural hidup dengan tenang dengan Jen, orang yang bijaksana mengolah kemanusiaan untuk keuntungan kemanusiaan itu(Lun Yu, 4.2).[42]

2.4. Jen Sebagai Prinsip Dasar Solidaritas Manusia

Menurut Konfusius, orang yang memiliki Jen adalah orang yang ideal. Dia tidak saja memberikan contoh yang baik kepada orang lain, tetapi juga bertugas untuk membimbing orang lain. Konfusius berkata, “Orang yang memiliki Jen pada waktu ingin menegakkan dirinya berusaha untuk memajukan orang lain, maka dapat dipanggil Jen yang sempurna” (Lun Yu, 6.30). Oleh karena itulah Jen dianggap sebagai prinsip dasar solidaritas manusia. Ia mengandung perikemanusiaan dan sekaligus penghargaan antar-manusia. Jen memungkinkan manusia menjadi saudara satu bagi yang lain, melampaui batas-batas apapun. Dalam arti inilah, Konfusius menyatakan, “Dalam batas empat samudera, semua orang bersaudara.” Inilah tanda dari persamaan dan persaudaraan. Jen tampil sebagai “Pelindung” bagi martabat manusia. Tanpa Jen manusia dapat  menderita kekurangan dan tidak menikmati kelimpahan. Jen selalu membawa damai dan tenang kepada orang yang hidup olehnya. Jen dapat digolongkan sebagai kebijaksanaan dan kekuatan, memimpin manusia untuk bersatu dalam satu kesatuan.[43]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Jen adalah unsur hakiki bagi kehidupan manusia, secara khusus dalam menciptakan kehidupan yang harmonis baik untuk dirinya sendiri maupun dalam relasi dengan sesama. Tetapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita dapat memperoleh dan menumbuhkan Jen dalam diri kita sendiri?

3. Cara Memperoleh dan Menumbuhkan Jen

Untuk mencapai Chun Tzu atau Superior man, orang harus memiliki Jen. Jen adalah syarat mutlak untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, baik dalam diri sendiri maupun dalam relasi dengan sesama. Konfusius berkata, “Jika manusia berbakti kepada Jen, ia akan bebas dari dosa. Tanpa Jen manusia tidak dapat mengakhiri untung dan malang, ia tidak dapat sampai pada kemakmuran. Seorang manusia Jen akan memperoleh kesenangan dalam Jen” (Lun Yu, 4.2). Kata-kata ini menyiratkan bahwa tanpa Jen, kehidupan manusiawi tanpa arti, tak bernilai. Oleh karena itu orang harus mengejar dan memperoleh Jen.

Menurut Konfusius, Jen dapat diperoleh apabila kita senantiasa giat belajar, memiliki tekad dan tujuan yang baik, jujur dan senantiasa merenung diri atau berkonsentrasi ke dalam diri (bermeditasi). Tentang cara menumbuhkan Jen dalam diri manusia, salah seorang murid Konfusius, Tzu Hsia, pernah berkata, “Hanya dengan belajar secara giat serta mempunyai tekad dan tujuan yang baik, bertanya dengan sejujurnya dan menunjukkan permenungan diri, maka Jen akan diperoleh” (Lun Yu, 19.6).[44]

Jadi untuk memperoleh Jen orang harus masuk dalam dirinya sendiri, bermenung, seperti yang dikatakan Konfusius, “Jen berawal dari diri manusia itu sendiri.” Jika seseorang ingin menjadi Chun Tzu, ia harus memiliki Jen dan hidup berdasarkan Jen tersebut. Dalam konteks inilah, Jen dipandang sebagai suatu harkat martabat tertinggi dari sifat kemanusiaan. Oleh karena itu seseorang tidak akan segan-segan untuk mempertahankan nama baiknya demi keutuhan Jen-nya. Dengan demikian, Konfusius telah menyentuh hakikat terdalam dari manusia untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan dan terutama untuk mengangkat kembali harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Jen adalah hakikat manusia itu sendiri. Karena itu, untuk menjadi Chun Tzu, orang harus memiliki Jen dan hidup berdasarkan Jen dengan memperhatikan kelima hal ini: Kesopanan, Kemurahan, Kejujuran, Ketekunan dan Kebajikan.[45] Setelah memiliki Jen, bagaimana Jen dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini menyangkut moralitas manusia yang berhubungan dengan tingkah laku manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk itu, Konfusius menekankan prinsip moral ‘kedua’ yang dapat merealisasikan Jen dalam kehidupan nyata. Menurut Konfusius, prinsip moral itu adalah Li.

4. Jen dan Realisasinya

Dari penjelasan di atas, nampak bagi kita suatu kehidupan sosial yang dapat tercipta harmoninya jika orang hidup berdasarkan Jen. Dengan demikian identitas sejati bersumber pada manusia sebagai manusia.[46] Tindakan manusia hanya dapat dikatakan sebagai tindakan manusiawi apabila didasarkan pada Jen. Dalam arti itu, gagasan Konfusius ini mengandung implikasi penting dalam bidang moral. Konfusius berkata,

Kemakmuran dan kehormatan dicari oleh setiap manusia, tetapi apabila semua itu dicapai melalui tindakan yang menyimpang dari prinsip-prinsip moral, maka seharusnya kemakmuran dan kehormatan tidak dipertahankan. Kemiskinan dan kesederhanaan adalah apa yang tidak disukai setiap orang, tetapi apabila semua itu dapat dihindari hanya melalui tindakan yang menyimpang dari prinsip-prinsip moral, maka seharusnya kemiskinan dan kesederhanaan tidak dihindari. Jika seorang manusia Jen menjauh dari kemanusiaan (Jen), bagaimana mungkin ia dapat merealisasikan sebutan itu? Seorang manusia Jen sepantasnya tak pernah boleh melupakan kemanusiaan (Jen) sekalipun ia harus bertindak sesuai kemanusiaan. Dengan kesulitan dan kebingungannya, dia justru bertindak menurut kemanusiaan. (Lun Yu, 4.5).[47]

Berdasarkan pernyataan ini, dapat ditemukan bahwa manusia Jen adalah manusia sempurna, manusia yang berperan penting untuk “membangun karakter dirinya sendiri, ia juga membangun karakter orang lain dan dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang terkemuka, dan membantu orang lain untuk menjadi pribadi yang terkemuka (Lun yu, 6.8).[48]

Dengan demikian, manusia Jen tidak hanya mengutamakan kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain. Pandangan ini mendapat realisasinya melalui Li.

4.1. Li: Realisasi dari Jen

Li diperkenalkan oleh Konfusius sebagai realisasi dari Jen. Relasi antara Li dan Jen adalah saling mengukur. Li merupakan ukuran dari Jen, dan tidak dapat melampaui Jen. Apa yang bertentangan dengan Li, berarti bertentangan juga dengan Jen.[49]

4.1.1. Pengertian Li

Li berarti sikap yang patut di hadapan orang lain. Selain itu, Li berarti pula peraturan-peraturan menyangkut masyarakat tertentu. Maksudnya tak lain dari adat istiadat, kebiasaan, aturan-aturan ritual, norma-norma sopan santun, termasuk aturan-aturan mengenai pergaulan sosial dan hubungan antara anggota keluarga. Menurut Konfusius, praksis atau perilaku yag sesuai dengan Li merupakan realisasi konkrit dari Jen, karena hanya manusia yang bisa berperilaku sesuai dengan tuntutan-tuntutan kepatutan.

Dalam konteks ini, boleh dimengerti perkataan Konfusius bahwa Jen tak lain dari penguasaan diri dan kembali kepada sikap patut. Konfusius  berkata, “Menguasai diri dan kembali kepada kesopanan (Li-propriety) adalah kemanusiaan” (Lun Yu, 12.1).[50]

Secara historis, Li berkembang menurut tiga lapisan kehidupan. Pertama, Li berasal dari lingkungan religius, yakni aturan-aturan ritus yang dilakukan oleh para leluhur Cina. Kedua, Li menunjuk pada aturan-aturan sopan santun dalam pergaulan sosial. Di sini Li berarti kebiasaan berperilaku yang berkaitan dengan tata krama kehidupan kaum bangsawan. Ketiga, arti Li diperluas sampai menjangkau segala sesuatu yang dianggap sesuai dengan Jen. Dalam konteks inilah Jen dianggap sebagai dasar bagi Li. Melalui Li, Jen dapat direalisasikan dalam kehidupan konkrit manusia.[51]

4.1.2. Hubungan antara Li dan Jen

Ketika Yen Yuan bertanya tentang Jen yang sempurna, Konfusius menjawab, “Menguasai diri dan kembali pada kesopanan (propriety), itulah Jen.” Selanjutnya, ia berkata, “Jika seorang manusia dapat menguasai dirinya untuk satu hari dan kembali kepada kesopanan, segala sesuatu yang berada di kolong langit akan kembali kepada Jen (kemanusiaan). Mempraktekkan kemanusiaan tergantung dari masing-masing orang” (Lun Yu, 12.1).[52] Ini berarti bahwa Jen merupakan dasar bagi Li. Dalam arti ini, Jen adalah prinsip yang menjadikan Li sebagai standar perilaku. Jadi Li tidak boleh bertentangan dengan Jen.[53] Tentang realisasinya, Konfusius menjelaskan bahwa, “Tidak melihat apa yang bertentangan dengan Li, tidak mendengar apa yang bertentangan Li, tidak membicarakan apa yang bertentangan dengan Li, tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Li” (Lun Yu, 12.1).[54] Untuk itulah, Jen dan Li selalu berjalan bersama-sama. Keduanya tidak boleh bertentangan. Konfusius menjelaskan bahwa zaman keemasan Cina dapat dicapai karena pada waktu itu Jen dan Li amat ditekankan oleh para pemimpin negeri. Konfusius berkata,

Mereka menaruh perhatian serius pada prinsip Li, dan karena itu keadilan benar-benar ditegakkan, kejujuran diuji, dan kesalahan-kesalahan karena praktek yang keliru ditonjolkan. Atas cara itu, manusia ideal (jen) diwujudkan serta sikap sopan santun dipelihara sebagai perilaku yang layak diikuti oleh segenap rakyat.[55]

Dengan demikian Jen direalisasikan melalui Li dan Jen adalah dasar bagi Li. Melalui Li manusia bisa mencapai pribadi yang sempurna (Jen), atau dengan kata-kata Konfusius, menjadi Chun Tzu atau superior man.

5. Kesimpulan: Jen Sebagai Prinsip Dasar Kemanusiaan

Konfusius memperkenalkan lima sifat mulia (Wu Chang) yang harus dimiliki oleh seorang Chun Tzu. Kelima sifat mulia itu adalah: Jen (terdiri dari semua kualitas moral), Li (berhubungan dengan tindakan manusia), Yi (berhubungan dengan kebenaran tindakan), Hsin (berfungsi untuk membuat setiap kata sepadan dengan tindakan), Chih (berhubungan dengan kebijaksanaan, pengertian, kearifan terhadap orang lain). Menurut Konfusius, Jen merangkum semua keutamaan ini. Bahkan Jen dianggap sebagai hakikat dari manusia itu sendiri.

Konsep Jen sendiri tidak didefenisi secara definitif oleh Konfusius. Jen dipahami berdasarkan konteks percakapannya. Hal ini dapat dilihat dari percakapan dengan para muridnya seperti tersebar dalam buku Lun Yu. Tetapi dari penjelasan-penjelasan Konfusius dalam percakapan tersebut, dapat ditemukan bahwa konsep Jen mempunyai hubungan yang sangat erat dengan manusia, terutama dalam upaya pengembangan dirinya menjadi Chun Tzu. Sedemikian pentingnya Jen dalam diri manusia, mendorong Konfusius untuk menekankan bahwa manusia harus hidup berdasarkan Jen. Dengan kata lain, tanpa Jen kehidupan manusia tidak berarti, tanpa nilai. Seorang manusia disebut manusia apabila ia mendasarkan seluruh kehidupannya pada Jen.

Selain itu, Manusia Jen juga mampu untuk menciptakan ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Jen mempunyai peran yang amat vital dalam relasi sosial  seseorang. Hal ini disebabkan karena melalui Jen, manusia tahu bagaimana ia bertindak, bagaimana ia memperlakukan orang lain. Atas cara itu, Konfusius menekankan suatu relasi timbal-balik yang disertai rasa tanggung jawab, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dalam relasi timbal balik itu, Jen memiliki dua aspek penting yaitu aspek positif (Chung) dan aspek negatif (Shu). Berdasarkan konteks inilah, Jen dipahami sebagai prinsip solidaritas manusia.

Jadi, Jen tidak hanya berguna untuk diri sendiri tetapi juga bagi orang lain dalam suatu kehidupan sosial. Jen dilihat sebagai suatu keunggulan nilai manusiawi dalam membentuk suatu kehidupan yang damai dan tenang. Jen juga dilihat sebagai suatu sifat yang luhur yang bersifat kemanusiaan. Jen menjadi standar tingkah laku bagi setiap manusia.

Oleh karena itu, Jen memungkinkan manusia menjadi saudara bagi yang lain, melampaui batas-batas apapun. Tetapi untuk mencapai Jen, manusia melaksanakan Li (propriety). Li merealisasikan Jen dalam kehidupan nyata. Dalam arti inilah, Jen dianggap sebagai dasar bagi Li. Li berfungsi sebagai “alat kontrol” yang mengontrol tingkah laku manusia. Tetapi Li dapat berfungsi jika orang memiliki Jen. Karena itu Jen menentukan kualitas kehidupan moral manusia, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Dengan demikian, Konfusius telah memperkenalkan suatu prinsip utama yang amat menyentuh lapisan terdalam dari kehidupan manusia. Jen adalah suatu prinsip dasar yang amat menentukan perkembangan pribadi manusia, secara khusus dalam hal bertingkah laku. Karena itu, Jen dianggap sebagai prinsip dasar kemanusiaan. Jen adalah kemanusiaan itu sendiri.


[1] Teori Cheng Ming adalah suatu gerakan “Pemulihan atau rektifikasi nama.” Yang dimaksudkan ialah bertindak sesuai dengan kata-kata. “Kata-kata” di sini berarti nama diri atau identitas, tetapi juga deskripsi fungsi atau jabatan tertentu. Doktrin Cheng berarti realitas masyarakat harus dipulihkan melalui penegakan atau pemurnian identiatas setiap anggota masyarakat teristimewa mereka yang memangku jabatan publik.  (Bdk. J. Ohoitiumur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: dari Konfusius ke Mao Tse-Tung” [Traktat Kuliah STF-Seminari Pineleng, 2000], hlm. 18.)

[2] Bdk. Wing-tsit Chan, A Source Book in  Chinese Philosophy (New Jersey: Princenton University Press, 1973), hlm. 594.

[3] Bdk. “Confucian Political Theory,” dalam  http://www.empereur.com.

[4] Ibid. Confucius argued that if the father demonstrates his Jen toward family and son, in return he will receive their obedience and Li the respect. Therefore, if government demonstrates its Jen to people, the government will receive the obedience of people.

[5] J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: dari Konfusius ke Mao Tse Tung,” hlm. 19.

[6] Manuel B.DY.YR, “The Confucian Jen, Acritical Hermeneutics,” dalam http://www.crvp.org. It has been translated as benevolence, com-passion, magnanimity, goodness, love, human-heartedness, hu-maneness, humanity, true manhood, manhood at its best, kind-ness, charity, perfect virtue, and man to-manness.

[7] Bdk. H.G. Creel, Confucius and The Chinese Way (New York: Harper and Row Publisher, 1960), hlm. 109.

[8] Ibid. There more the luxuriant development of individualism loosened the old bonds of the common consciousness of faith and of morals and threatened by youthful civilization of Greece with danger of anarchy, the more pressing did individual men, prominent by their position in life, their insight and there character, find the duty of recovering in their own reflection the measure that was becoming lost.

[9] Terkutip dalam: Bagus Takwin, Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur (Yogyakarta: Jalasutra, 2001), hlm. 60.

[10] J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: dari Konfusius ke Mao tze Tung,” hlm. 19.

[11] Bdk. Mother Saint-Ina, F.M.M., “Confucius: Witness to Being,” dalam International Philosophical Quarterly 2/4 (Desember 1963), hlm. 546.

[12] Wing-tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 38. Yen Yuan asked about humanity. Confucius said, “To Master oneself and return to propriety is humanity” (Analects, 12.1).

[13] Ibid., hlm. 40. Fan Ch’ih asked about humanity. Confucius said, “It is to love man” (Analects, 12.22).

[14] Ibid. As a general virtue, Jen means humanity, that is, that which makes a man a moral being. As a particular virtue, it means love.

[15]  Ibid., hlm. 39. Do not do to others what you do not want them to do to you (Analects, 12.2).

[16] J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filasaf Cina: dari Konfusius ke Mao Tse-Tung,” hlm. 19.

[17] Ibid., hlm. 20.

[18] Ibid.

[19] Wing-tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 39. Confucius said, “Becoming jen originates from oneself.”

[20] J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: dari Konfusius ke Mao Tse-Tung,” hlm. 20.

[21] Bdk. Wing-tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 17-18.

[22] Charles Muller, “Sayings About Jen,” dalam http://www.toyogakuen-u.ac.jp. Yu Tzu said: “There are few who have developed themselves filially and fraternally who enjoy offending their superiors. Those who do not enjoy offending superiors are never troublemakers. The superior man concern himself with the fundamentals. Once the fundamentals are established, the proper way (tao) appears. Are not filial piety and obedience to elders fundamental to the enactment? (Analect, 1.2).

[23] Istilah “Tao” (Jalan) di sini berbeda dengan yang dipahami oleh para Taois. Kaum Konfusianis memahami Tao dalam bingkai moralitas, perangkat aturan dan asas perilaku dalam arti social. Dengan kata lain, Tao adalah hukum moral yang mengatur kehidupan sosial manusia. (Bdk. Bagus Takwin, Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur, hlm. 50).

[24] Charles Muller, “Sayings About Jen,” dalam http://www.toyogakuen-u.ac.jp.

[25] Ibid. Kung asked: “Suppose there were a ruler who benefited the people far and wide and was capable of bringing salvation to the multitude, what would you think of him? Might he be called Jen? The Master said, “Why only Jen? He would undoubtedly the sage. Even Yao and Shun would have had to strive to achieve this. Now the Jen Man, wishing himself to be established, sees that others are established, and wishing himself to be successful, sees that others are successful. To be able to take one’s own feelings as guide may be called the art of Jen. (Analect, 6.28).

[26] Ibid. Confucius said: “Is Jen far away? If I aspire for Jen it is right here!”

[27] To Thi Anh, “Nilai Budaya Timur dan Barat I” terj. John Yap Pareira, dalam Basis 30 (November 1981), hlm. 426.

[28] Charles Muller, “Sayings About Jen,” dalam http://www.toyogakuen-u.ac.jp. Chung Kung asked about the meaning of Jen. The Master said: “Go out of your home as if you were receiving an important guest. Employ the people as if you were assisting at a great ceremony. What you don’t want done to yourself, don’t do to others. Live in your town without stirring up resentments, and live in your household without stirring up resentments.” Chung Kung said, “Although I am not so smart, I will apply myself to this teaching.” (Analect, 12.2).

[29] Ibid. Fan Chih asked about the meaning of jen. Confucius said “love others.” He asked about the meaning of “knowledge.” The Master said, “Know others.” Fan Chih couldn’t get it. The Master said, “If you put the honest in positions of power and discard the dishonest, you will force the dishonest to become honest.”

[30] Terkutip dalam: Lasiyo, “Epistemologi Confucianisme,” dalam Jurnal Filsafat 14 (Mei 1993), hlm. 9.

[31] Charles Muller, “Sayings About Jen,” dalam http://www.toyogakuen-u.ac.jp. Confucius said: “The determined shih and the man of jen will not save their lives if it requires damaging their jen. They will even sacrifice themselves to consummate their jen.”

[32]Ibid. Chang asked Confucius about jen. Confucius said, “If you can practice these five things with all the people, you can be called jen.” Tzu Chang asked what they were. Confucius said, “Courtesy, generosity, honesty, persistence, and kindness. If you are courteous, you will not be disrespected; if you are generous, you will gain everything. If you are honest, people will rely on you. If you are persistent you will get results. If you are kind, you can employ people.”

[33] Bdk. Lasiyo, “The Nation of Self in Chinese Philosophy,” dalam Jurnal Filsafat: Axiologi, Ketegangan antara Subjektivisme dan Objektivisme (Yogyakarta: Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada, 1993), hlm. 19.

[34] Bdk. Wing-tsit Chan, A Source Book In Chinese Philosophy, hlm. 27. Chu Hsi (Salah satu pemikir Neo-Confucianis) memahami Chung sebagai Perkembangan penuh dari diri sendiri dan Shu sebagai perpanjangan dari orang lain. Ch’eng (Ch’eng I-Ch’uan, 1033-1107) memahami Chung sebagai jalan surga, Shu adalah jalan manusia. Ia menunjuk pada Lun Yu 6.8. Liu Pao-Nan menyamakan Chung dengan kata-kata Konfusius, “Membangun karakter diri sendiri,” dan Shu dengan “Membangun juga karakter orang lain.”

[35] Bdk. J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: dari Konfuisu ke Mao Tse- Tung,” hlm. 21.

[36] Wing-tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm.27. Confucius said, “Shen, there is the one thread that runs through my doctrines.” Tseng Tzu said, “Yes.” After Confucius had left, the disciples asked him, “What did he mean?” Tseng Tzu replied, “the way of our master is none other than conscientiousness (Chung) and altruism (Shu)” (Analect, 4.15).

[37] J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: dari Konfusius ke Mao Tse-Tung,” hlm. 21.

[38] Terkutip dalam: Ibid.

[39] Bdk. Paul. K.K. Tong, Understanding Confucianism,” dalam International Philosophical Quarterly 9/4 (Desember 1969), hlm. 527-528.

[40] Ibid., hlm. 528. The strong-willed scholars and Jen-minded men will not seek life at the expense of Jen, but rather sacrifice their lives to preserve Jen (Analect, 15.8). Jen is more essential to man than fire and water. I have seen men die from stepping into fire and water, but I have never seen a man die from stepping into Jen (Analect, 15. 3,4).

[41] Wing-tsit Chan, A Source Book In Chinese Philosophy, hlm. 42. Some one said, “What do you think of reparying hatred with virtue? Confucius said, In that care what are you going to repay virtue with? Rather, repay hatred with uprightness and repay virtue with virtue” (Analect, 14.36).

[42] Ibid., hlm. 25. Confucius said, “One who is not a man of humanity cannot endure adversity for long, nor can he enjoy prosperity for long. The man of humanity is naturally at ease with humanity, the man of wisdom cultivates humanity for its advantage” (Analects, 4.2).

[43] Bdk. Mother Saint–Ina, F.M.M., “Confusius: Witness to Being” dalam International Philosophical Quarterly 2/4, hlm. 547.

[44] Charles Muller, “The Analects of Confucius,” dalam http://members.rogers.com. Tzu Hsia said, “Studying widely and thickening your will, questioning precisely and reflecting on things at hand: Jen lies in this.”

[45] Bdk. Charles Muller, “Sayings About Jen,” dalam http://www.toyogakuen-u.ac.jp.

[46] J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: Dari Konfusius ke Mao Tse-Tung,” hlm.18.

[47] “Humanity-Jen” dalam http://www.rwc.uc.edu. Confucius said, “Wealth and honor are what every man desires. But if they had been obtained in violation of moral principles, they must not be kept. Poverty and humble station are what every man dislikes. But if they can be avoided only in violation of moral principles, they must not be avoided. If a superior man departs from humanity, how can he fulfill that name? A superior man never abandons humanity of difficulty or confusion he acts according to it.” (Analects, 4.5).

[48] Ibid., The man of Jen is the perfect man, the man of golden rule, for, “wishing to establish his own character, he also establishes the character of others, and wishing himself to be prominent himself, he also helps others to be prominent.” (Bdk. Wing Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm.31).

[49] Bdk. Paul K.K. Tong, “Understanding Confucianism,” dalam International Philosophical Quarterly 9/4, hlm. 527.

[50] Wing-tsit Chan, A Source in Book Chinese Philosophy, hlm. 38. Confucius said, “To master oneself and return to propriety is humanity” (Analects, 12.1).

[51] Bdk. J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: Dari Konfusius ke Mao Tse-Tung,” hlm. 23.

[52] Wing-tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 38. If a man (the ruler) can for one day master himself and return to propriety, all under heaven will return to humanity. To practice humanity depends one oneself. (Analects, 12.1).

[53] Bdk. Paul K. K. Tong, “Understanding Confucianism” dalam International Philosophical Quarterly 9/4, hlm. 527.

[54] Wing-tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, hlm. 38. Confucius said, “Do not listen to what contrary to propriety, do not speak to what contrary to propriety and do not make any movement which is contrary to propriety” (Analects, 12.1).

[55] Terkutip dalam: J. Ohoitimur, “Ringkasan Sejarah Filsafat Cina: Dari Konfusius ke Mao Tse-Tung,” hlm. 23.

Satu Tanggapan to “KONSEP JEN MENURUT KONFUSIUS”

  1. メンズ バッグ ショルダー 人気 男性 鞄paul smith http://www.haobct162.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: