PROBLEM DEMARKASI DAN PEMECAHANNYA DALAM PERSPEKTIF POPPER

(Paulinus Kalkoy, Filsafat Agama, Minor III)

Pendahuluan

Dalam melancarkan kritiknya terhadap teori induktivisme yang diangap sebagai teori ilmiah paling baik, Karl Popper memunculkan teorinya sendiri yang lebih dikenal dengan teori falsifikasionisme. Kritik utamanya ditujukan kepada Lingkungan Wina, yang sangat dekat dengan pemikirannya. Ia melihat bahwa salah satu hal yang merepotkan para anggota Lingkungan Wina ialah percobaan untuk merumuskan apa yang disebutnya “prinsip verifikasi” (the principle of verification), artinya prinsip yang memungkinkan untuk membedakan antara ilmu pengetahuan empiris dan metafisika.[1] Menurut Popper, usaha Lingkungan Wina tersebut masih bertautan erat dengan konsepsi tentang ilmu pengetahuan empiris dan metafisika. Dari sinilah beberapa kritik utama Popper dikemukakan dan salah satunya adalah apa yang disebutnya demarkasi.

 

Beberapa Kritik Utama Popper[2]

Dalam melancarkan kritiknya, pertama-tama Popper menekankan bahwa dengan digunakannya prinsip verifikasi, tidak pernah mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum yang tidak pernah dapat diverifikasikan. Akan tetapi, harus juga diakui bahwa seluruh ilmu pengetahuan alam yang sebagian besar terdiri dari hukum-hukum umum, tidaklah bermakna. Pokok kritik kedua Popper didasarkan pada prinsip verifikasi metafisika yang tidak bermakna.[3] Dalam sejarah acap kali ilmu pengetahuan lahir dari pandangan-pandangan metafisis atau mistis tentang dunia. Suatu ucapan metafisis bukan saja tidak bermakna, tetapi dapat benar juga, biarpun baru menjadi ilmiah kalau sudah diuji. Kritik ketiganya yakni bahwa untuk menyelidiki apakah suatu teori bermakna (meaningful) atau tidak bermaknanya atau “nonsense” teori (meaningless) tersebut, harus terlebih dahulu kita mengerti teori itu.[4] Tetapi bagaimana kita dapat mengerti jika tidak mengandung makna? Karena alasan yang sama, Popper menolak usaha neopositivisme untuk menetapkan suatu prinsip verifikasi.

 

Problem Demarkasi Popper

Berdasarkan kritik yang sudah disampaikan di atas, Popper kemudian mengemukakan teori faksifikasinya yang juga berisikan pandangannya tentang problem demarkasi. Sebetulnya kritik yang disampaikannya tidak bermaksud untuk menggantikan prinsip verifikasi melainkan lebih sebagai koreksi saja. Bagi Popper, problem utama yang ada di antara keduanya adalah apa yang disebutnya problem demarkasi (the problem of demarcation). Apa yang dimaksudkannya dengan demarkasi ini?

Demarkasi adalah apa yang disebutnya untuk menunjuk pada garis batas antara ungkapan ilmiah dan tidak ilmiah. Problem yang juga ditemukannya ketika hendak menentukan batas-batas antara ilmu dan non-ilmu atau pseudo-ilmiah. Problem yang disebutnya juga problem demarkasi.[5] Pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya dasar empiris bagi ungkapan bersangkutan. Ungkapan yang mungkin sekali tidak bersifat ilmiah tetapi amat bermakna, demikian Popper.[6] Pertanyaan utamanya adalah, bagaimana kita dapat menarik garis pemisah antara bidang ilmiah dan non-ilmiah, antara ilmu pengetahuan dan bukan ilmu pengetahuan? Atas pertanyaan itulah ia menjawab bahwa suatu teori atau ucapan bersifat ilmiah bila terdapat kemungkinan prinsipial untuk menyatakan salahnya. Itulah maksudnya “prinsip falsifiabilitas” (the principle of falsifiability).[7]

 

Falsifibialitas Sebagai Kriterium Demarkasi

Untuk menghindari kesalahan kaum positivis seperti yang sudah disebutkan di atas, maka harus dipilih suatu kriterium yang memperbolehkan orang mengakui bahwa pun di daerah ilmu pengetauan empiris ada pernyataan yang tak dapat diverifikasikan. Tentu saja, kata Popper, kita akan mengakui sebuah sistem empiris atau ilmiah hanya bila sistem itu dapat diuji dengan pengalaman. Pertimbangan ini menyarankan bahwa bukan verifiabilitas, melainkan falsifibialitas suatu sistem yang harus dianggap sebagai kriterium demarkasi.[8] Dengan kata lain, tidak perlu dituntut suatu sistem ilmiah bahwa sistem itu akan dapat dipilih sekali untuk selamanya dalam arti positif. Tetapi harus dituntut ialah bahwa bentuk logisnya harus begitu rupa sehingga sistem itu dapat ditentukan dengan tes-tes empiris dalam arti negatid. Sebuah sistem harus mungkin untuk disangkal (refutable) dengan pengalaman.[9]

Usul Popper tentang falsibialitas sebagai kriterium demarkasi itu didasarkan pada suatu asimetri antara verifibilitas dan falsifibialitas. Suatu asimeri sebagai akibat bentuk logis pernyataan-pernyataan universal. Sebab pernyataan universal tak dapat berasal dari pernyataan singular (singular statement), sebaiknya dapat dikontradiksikan oleh pernyataan singular. Jadi, teori Popper tentang falsifibialitas sebagai kriterium demarkasi dan penolakkan atas induksi bersendikan hukum logika, yaitu aturan inferensi yang disebut modus ponens dan modus tollens.[10]

 

Penutup

Problem demarkasi yang dimunculkan oleh Popper dalam teorinya, dimaksudkan untuk menetukan secara jelas batas-batas antara mana yang disebut sebagai ilmiah dan mana yang disebut non-ilmiah. Yang dimaksudkan di sini yakni keilmiahan dan ketidakilmiahan dari suatu teori ataupun ungkapan yang sering muncul dalam pembentukan ilmu pengetahuan baru. Dan prinsip utama yang digunakan untuk menentukan demarkasi ini yakni the principle of falsifiability. Suatu prinsip yang dilaksanakan dengan menguji secara terus menerus teori atau ungkapan yang muncul untuk membuktikan kebenaran dan salahnya teori atau ungkapan tersebut.

Daftar Pustaka

Quinton, Anthony., “Popper, Karl Raimund”. Dalam Encyclopedia of Philosophy New York: Macmilan and Free Press, 1996.

Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia, 1983

Karl, Popper., Conjectures and Refutations: The Grouth of Scientific Knowledge. London: Routledge and Kegan Paul. 1963

Popper, Karl R., The Logic of Scientific. London: Hutchinson & Co. LTD, 1975

Taryadi, Alfons, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1991

Verhaak, C. dan Imam, H., Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1995

 

 


[1] Anthony Quinton, “Popper, Karl Raimund”, dalam Encyclopedia of Philosophy (New York: Macmilan and Free Press, 1996), hlm. 398.

[2] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 74-75.

[3] Bdk. Karl Popper, Conjectures and Refutations: The Grouth of Scientific Knowledge (London: Routledge and Kegan Paul. 1963), hlm. 255.

[4] Bdk. Karl R. Popper, The Logic of Scientific (London: Hutchinson & Co. LTD, 1975), hlm. 29-30.

[5] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 49.

[6] C. Verhaak dan H. Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm.158-159.

[7] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman, hlm. 75.

[8] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper, hlm. 49.

[9] Ibid.

[10] Ibid., hlm. 50.

Satu Tanggapan to “PROBLEM DEMARKASI DAN PEMECAHANNYA DALAM PERSPEKTIF POPPER”

  1. Faiza Anisa Says:

    demarkasi,,ko slit dimengert tw??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: