PEMUNGUTAN UANG DARI SISWA YANG BARU SAJA LULUS UJIAN: BUDAYA NEGATIF YANG HARUS DIRUBAH

Paulinus Kalkoy

Dalam menjalani masa KKN-Katekese di SMU Negeri I Manado, ada begitu banyak pengalaman yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan sekolah yang saya temukan di sana. Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba mengangkat suatu pengalaman nyata yang terjadi di sekolah tersebut, dan berusaha untuk memahaminya sebagai suatu kebudayaan. Pengalaman yang akan saya angkat itu yakni pengalaman tentang pemungutan uang yang dilakukan kepada para siswa, secara khusus pemungutan yang bagi siswa akan menamatkan pendidikannya di sekolah tersebut. Ketertarikan saya pada tema di atas karena beberapa orang siswa/i Katolik yang bersekolah di SMU Negeri I Manado yang baru saja tamat, datang dan mengeluh kepada saya tentang pemungutan uang kepada mereka. Menurut mereka ini sudah merupakan suatu hal yang keterlaluan karena hampir setiap tahunnya ada saja praktek tersebut. Bahkan bukan saja dilakukan oleh satu atau dua orang guru, tetapi dilakukan oleh banyak orang guru yang mengajar di sana.  Nah, bagaimana praktek ini dimengerti sebagai sebuah kebudayaan?

 

PENGERTIAN BUDAYA

Berbicara tentang sesuatu yang disebut sebagai kebudayaan, berkaitan langsung dengan pembicaraan tentang manusia. Kebudayaan merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia. Kebudayaan merupakan manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang sehingga meliputi segala perbuatan manusia. Dengan demikian manusia adalah makhluk berbudaya. Budaya adalah hasil dari keseluruhan cara hidup dan berpikir manusia untuk menjadikannya lebih baik. Hal ini dimungkinkan oleh kontak yang dilakukan manusia entah dengan alam sekitar maupun dengan sesamanya sendiri. Dalam kontak itu, manusia lalu mulai berkarya, merasakan dan menciptakan segala sesuatu yang diinginkannya. Semuanya diarahkan untuk mencapai kepenuhannya sebagai manusia atau untuk memanusiakan dirinya.

Dalam penilaian standar sebuah budaya, suatu kebudayaan akan dapat dipahami bila apa yang telah diciptakan  itu diperkenalkan sehingga muncullah sikap menghargai dari orang lain setelah menilainya. Apa yang telah diciptakan dan dihargai itu kemudian dialihkan atau diwariskan sehingga dari generasi ke generasi hal itu diketahui.

PEMUNGUTAN UANG DARI PARA SISWA: SUATU BUDAYA?

Sebuah praktek yang biasanya dilakukan dalam kehidupan manusia pasti didahului oleh karya atau ciptaan, entah seseorang ataupun sekelompok orang. Demikian halnya dengan praktek pemungutan uang dari para siswa. Praktek ini sangat tampak dalam kenyataan kelulusan para siswa/i di SMU Negeri I Manado. Entah siapa yang mendahului praktek tersebut, tetapi dari informasi para siswa/i yang baru saja lulus, praktek ini sudah mereka lihat sejak mereka masuk di sekolah tersebut. Mungkin saja sebelum mereka bersekolah di sekolah tersebut, praktek tersebut sudah ada. Tak tahu siapa yang memulainya (menciptakannya), yang jelas setiap kali kelulusan siswa tiba, praktek ini mulai dijalankan. Bisa saja praktek tersebut tidak diciptakan oleh seorang gurupun di sana melainkan di tempat lain, namun kemudian dibawa di sekolah tersebut. Praktek ini kemudian dinilai dan dihargai walaupun bersifat negatif dan selanjutnya dialihkan secara terus menerus. Itulah mengapa kami melihat ini sebagai sebuah kebudayaan. Sebuah kebudayaan yang bersifat negatif.

Kami menyatakan ini sebagai suatu kebudayaan yang bersifat negatif karena praktek tersebut tidak menguntungkan sekaligus kedua belah pihak tetapi hanya menguntungkan salah satu pihak (guru pemungut).  Wujud ini dapat diamati karena merupakan hasil fisik yang tampak .

PEMUNGUTAN BIAYA DARI SISWA: IMPLEMENTASI MANUSIA EKONOMIS?

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak dimensi kehidupan yang melingkupinya. Salah satu dimensi itu adalah dimensi ekonomis; manusia makhluk ekonomis. Secara ekonomis ia berusaha untuk memenuhi salah satu tuntutan eksistensinya itu. Hal ini sangat tampak dalam pelbagai tuntutan hidup yang harus dipenuhi menusia tersebut. ia lalu dengan pelbagai cara berusaha untuk menjawabnya. Demikian dengan praktek pemungutan uang yang dilakukan para guru terhadap para siswa, khususnya pada moment-moment penting yang memudahkan praktek itu, seperti saat kelulusan. Sistim yang diangkat untuk memenuhi kebutuhan itu adalah sistim pendidikan di mana para guru itulah memegang peranan di dalamnya. Sistim inilah yang menentukan mana nilai yang mau diangkat agar dengan mudah mendapatkan uang tersebut. Dengan pelbagai strategi yang diterapkannya, ia lalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomisnya itu. Beberapa alasan yang sering diungkapkan agar dengan mudah mendapatkan uang dari para siswa yakni: pertama agar nilai ujiannya baik. Alasan ini sebetulnya tidak menjadi suatu alasan yang logis sebab para siswa sendirilah yang harus menentukan sendiri nilainya lewat usaha yang dilakukannya. Memang benar bahwa tidak semua siswa itu pandai, karena itu dengan sedikit uang (sogok?) yang diberikan kepada para guru, ia akan memiliki nilai yang baik. Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi seandainya para guru tidak memberikan peluang sedikitpun. Dalam kenyataanya para gurulah yang membuka kemungkinan untuk itu sehingga jadilah demikian. Kedua, sumbangan sukarela kepada sekolah. Pertanyaannya, benarkah demikian? Apa maksud dari sumbangan itu? Untuk apa sumbangan itu dikumpulkan? Apakah untuk keberlangsungan pendidikan? Kalau begitu di mana uang subsidi pemerintah untuk pendidikan? Di mana uang sekolah yang dibayar setiap bulannya? Ketiga, demi kelancaran administrasi, para siswa lalu dipungut biaya. Sebetulnya mereka tahu bahwa itu tidak pantas, tetapi mereka hanya manggut saja dengan dalih bahwa para guru sudah mendidik mereka selama ini sehingga dengan suka rela mereka memberikannya juga.

KEMAUAN UNTUK MENGUBAHNYA

Sudah dikatakan di atas bahwa praktek pemungutan uang dari  para siswa yang baru saja menamatkan pendidikannya oleh para guru adalah merupakan sebuah budaya yang bersifat negatif. Oleh karena itu budaya ini mestinya dirubah. Perubahannya mencakup semua elemen yang terkait, baik para guru maupun para siswa sendiri. Bagaiman strategi yang harus dibuat untuk mengejewantahkannya?

Seluruh kebudayaan merupakan suatu proses belajar. Demikian dalam kehidupan sehari-hari kita melihat adanya perubahan-perubahan. Perubahan yang disebabkan oleh kegiatan belajar manusia untuk menemukan hal baru dari hal yang sebelumnya sudah diciptakan. Dalam konteks pemungutan uang dari para siswa di atas, kita pun belajar dari padanya dan berusaha untuk menciptakan sebuah kebudayaan yang baru. Belajar tidak hanya mengetahui sesuatu. Menemukan pemecahan bagi masalah sosial dapat merupakan bagian dari proses belajar. Kebudayaan juga menghasilkan kaidah kelakuan yang baru, memberi sebuah arti dan makna baru kepada segala-galanya. Hal ini disebabkan karena tidak semua kebudayaan menghasilkan buah-buah yang positif. Kebudayaan sebagai suatu proses tidak menjamin kemajuan dan perbaikan yang sejati. Namun di lain pihak, pembaharuan tidak bersifat radikal, membongkar keadaan sampai akar-akarnya. Perubahan yang dibuat, secara perlahan-lahan diusahakan untuk mencapai kesempurnaanya.

Berdasarkan pemahaman tentang perubahan strategi budaya di atas, maka praktek pemungutan uang dari para siswa yang baru saja menamatkan pendidikannya harus diusahakan secara baru. Maksudnya denganbelajar dari pada praktek yang kurang baik ini, maka hendaknya diusahakan perubahan menuju yang lebih baik. Apa yang harus dibuat? Dari pihak siswa harus berani tegas untuk mempertanyakan keberadaan uang-uang yang diminta itu. Mereka tidak boleh takut, hanya karena mereka hanyalah siswa. Apalagi ketakutan itu disebabkan oleh pengandaian bahwa nilainya tidak akan keluar, surat tanda tamat belajarnya akan ditahan atau lama keluar dan sebagainya. Sebaliknya dari pihak guru, diharapkan agar berani untuk tidak bersikap demikian. Kalaupun tindakan itu demi pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga yang kurang akibat tertahannya gaji mereka, bukankah usaha lain dapat dilakukan, misalnya dengan membuka les bagi para siswa yang membutuhkan? Kalaupun dana yang diminta dengan maksud sebagi sumbangan bagi pihak sekolah, baikah jika dana itu dipergunakan sesuai dengan tujuan permintaanya. Guru diharapkan agar jangan mencorong nama baiknya sendiri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pemungutan uang dari para siswa merupakan indikasi tidak adanya lagi  kesadarab baik guru sebagai orang yang memanusiakan peserta didiknya. Dengan bertingkah demikian, ia tidak mengajarkan kepada para siswanya untuk menjadi manusia yang baik melainkan menanamkan dalam diri mereka kebiasaan untuk “memeras” orang kelak bila mereka telah menjadi “manusia”. Ini hanya akan terjadi bila ada kemauan bai dari para siswa dan terlebih dari para guru sendiri.***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: