EKARISTI UNTUK “MENGUTUK”?

(suatu tinjauan moral)

moral dalam konteks/paul,vic,lexy,decky/mayor I/2007

 

Sebagian kecil umat Katolik akan mengatakan biasa jika seorang Pastor “mengutuk” umatnya. Akan tetapi, banyak umat lain yang akan menjadi heran dan bertanya-tanya bila mendengar ada pastor yang “mengutuk” umat. Bagi mereka ini adalah sebuah tindakan yang langka dan sungguh menggelisahkan. Lebih rumit lagi, bila media yang dipakai untuk tindakan tersebut adalah ekaristi kudus. Nah, kegelisahan inilah yang hendak kami bahas dalam paper kami ini untuk kita diskusikan bersama. Pertanyaan pokok yang kami hadapi adalah “apakah layak dan tepat seorang pastor mengutuk umat dengan menggunakan dan dalam ekaristi?”. Berdasarkan pertanyaan pokok ini maka, fokus pembahasan kami adalah tentang ekaristi (berusaha menemukan arti dan memahaminya). Fokus ini kami kaitkan dengan bagaimana identitas seorang imam yang sesungguhnya sehingga kita dapat menemukan kesimpulan layak atau tidaknya “kutuk” dalam perayaan ekaristi

 

I. DESKRIPSI MASALAH

Bulan Nopember 2006 mungkin menjadi bulan yang akan menjadi salah satu bagian dari pengalaman iman kekatolikkan umat Paroki Rumat di wilayah pelayanan Kei Kecil yang tidak akan terlupakan. Mengapa? Karena selama bulan ini, ada pengalaman yang entah indah atau tidak telah terukir dalam sejarah perjalanan iman mereka. Pengalaman tersebut adalah pengalaman perayaan Ekaristi Kudus (Misa) yang kami sendiri belum berani menyimpulkan sebagai “kutuk” atau “bukan kutuk”. Hal ini kami katakan karena meskipun dibuat dalam perayaan Misa, tetapi caranya sedikit berbeda dari biasanya. Yang lebih mengherankan, Misa tersebut dilaksanakan dengan menggunakan sebuah peti jenazah yang kosong yang kemudian diarak dari rumah ke rumah dan ada dalam kerangka misa tersebut. Karena itu, pembahasan ini lebih dibatasi pada tepat tidaknya memasukkan kegiatan “peti mati” itu dalam perayaan Ekaristi. Berikut ini kronologis kegiatan yang kami maksudkan itu diuraikan secara terperinci kepada kita untuk menentukan sikap yang benar sehubungan dengan hal dimaksud.

 

  1. a. Persiapan

Entah mendapatkan ide dari mana, Pastor Paroki Rumat memutuskan bahwa di setiap stasi dari paroki yang dipimpinnya tersebut akan melaksanakan misa dengan cara yang akan diuraikan di bawah. Sejauh ingatan kami, misa ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberantas kanakalan-kenakalan umat seperti perkelahian rumah tangga, perkelahian antar kampung (khususnya anak-anak muda), mabuk-mabukkan, perjudian, black magic, kemalasan masuk gereja dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa misa tersebut bertujuan untuk mengembalikan umat dari situasi yang tidak diharapkan kepada sebuah situasi yang lebih baik. Dengan dikomunikasikan kepada setiap Dewan Pastoral Stasi, kegiatan inipun siap untuk dilaksanakan.

Demi kelancarannya, maka setiap stasi diwajibkan untuk menyiapkan sebuah peti jenazah kosong dilengkapi dengan sebuah salibnya. Ukuran dari peti tersebut tidak menjadi sebuah ketentuan karena itu bervariasi untuk setiap stasi. Umumnya ukuran peti seorang dewasa. Demikian juga dengan salibnya, tidak ditetapkan ukuran yang pasti sehingga ada yang besar sekali, ada yang sedang dan ada yang kecil saja.

 

  1. b. Pelaksanaan

Seperti yang telah dinyatakan di atas, kegiatan Misa ini dilaksanakan selama bulan Nopember dalam tahun 2005. Secara singkat prosesi pelaksanaan Misa yang menggunakan peti jenasah tersebut dipaparkan.[1] Misa dimulai biasanya pada pukul 15.00 Wit (jam tiga sore). Perayaan dilangsungkan seperti biasa hanya dengan tema yang berbeda dengan peti mayat kosong ada di tengah-tengah. Setelah menerima komuni kudus, misa dilanjutkan dengan mengarak peti tersebut oleh Dewan Pastoral Stasi (DPS) bersama umat keliling kampung, sambil masuk ke luar rumah. Di rumah tersebut, setelah peti diletakkan dalam rumah, pastor memberikan kesempatan kepada seluruh penghuninya untuk menyampaikan derma mereka di dalamnya dengan semua niat-niat pertobatan. Peti kemudian diarak keluar, ke rumah yang lainnya dengan sebelumnya menggariskan tanda salib di depan pintu rumah yang ditinggalkan. Salib yang dibuat itu berasal dari campuran tanah yang diambil dari kuburan dengan garam dan air berkat.[2] Demikian berjalan terus dari rumah ke rumah dalam seluruh paroki.

Setelah mengarak peti dari rumah ke rumah, pastor bersama umat kemudian mengarak peti tersebut ke kuburan umum yang terdapat di stasi tempat pelaksanaan. Peti tersebut dikuburkan layaknya ritus pemakaman orang mati. Kuburannya selalu di bagian paling depan sehingga menjadi kuburan “kosong” pertama yang ditemukan. Karena pelaksanaannya ada dalam konteks sebuah perayaan ekaristi, maka doa dan berkat penutup dilakukan di kuburan tersebut. Mengingat sering memakan waktu yang sangat lama, maka biasanya perayaan tersebut berakhir pada malam hari bahkan sudah menjelang tengah malam.

 

II. ANALISIS MASALAH

Tujuan dari pelaksanaan misa dengan menggunakan peti mati adalah untuk mengurangi dan memberantas kanakalan-kenakalan umat seperti perkelahian rumah tangga, perkelahian antar kampung khususnya anak-anak muda, mabuk-mabukkan, perjudian, black magic, kemalasan masuk gereja dan lain sebagainya. Sebetulanya pengutukan atas umat bagi banyak umat bukanlah hal yang baru untuk didengar karena beberapa peristiwa “pengutukan” atas umat juga pernah dilakukan. Akan tetapi ini menjadi hal yang baru karena dengan menggunakan peti mati kosong dan dilangsungkan dalam sebuah perayaan Ekaristi. Berkaitan dengan hal ini, pertanyaan yang tertinggal bagi kita adalah apakah tepat harus memberantas kelemahan manusiawi umat dengan menggunakan moment sebuah perayaan Ekaristi yang kudus? Lantas, tindakan pelaksanaan kegiatan ini mengindikasisikan apa bagi kita? Beberapa indikasi yang dapat kami kemukakan berdasarkan deskripsi masalah di atas adalah:

ü  Nilai Perayaan Ekaristi masih belum dipahami baik oleh imam

ü  Adanya manipulasi jabatan imamat

ü  Secara psikologi: pendekatan masalah dengan menekankan rasa takut

ü  Secara Pastoral: ekspresi ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah

 

III. BEBERAPA ACUAN TEORETIS

Berdasarkan deskripsi masalah dan indikasi yang dapat ditemukan di atas, kami akan mencoba memaparkan beberapa teori yang berkaitan sehingga kita mulai melihat kejelasan mana yang seharusnya dibuat. Teori-teori inilah yang juga akan mendasari beberapa argumen usulan yang akan kelompok kemukakan kemudian.

  1. a. Ekaristi sebagai sakramen penyelamatan

Ekaristi merupakan perayaan liturgis gereja yang resmi yang menjadi pusat dan puncak hidup Gereja serta di dalamnya berurat berakar sejarah keselamatan.[3] Ini disebabkan karena Kristus hadir secara nyata di dalamnya untuk mempersatukan umat dengan-Nya sendiri. Dalam Ekaristi, umat secara khusus mengambil bagian dalam penyerahan Kritus kepada Bapa, sekaligus dipersatukan satu sama lain oleh Kristus.

  • Ekaristi dalam Perspektif Kitab Suci

Dalam Perjanjian Lama, sebuah perjamuan belumlah dapat disebut sebagai ekaristi karena Kristus belum dilibatkan langsung di dalamnya. Ekaristi sungguh-sungguh menjadi sebuah sakramen karena Kristus hadir di dalamnya dan menjadi sumber perayaannya.[4] Perjamuan dalam PL yang dikenal dengan perjamuan Yahudi memiliki tiga unsur pokok[5] yaitu memperingati dan mengucap syukur, meghadirkan dan mengaktualisir karya penyelamatan Allah serta menantikan kedatangan Al-masih. Dalam perjamuan Yahudi ini, terdapat doa sebelum dan sesudah makan. Sampai abad kedua, Gereja perdana masih merayakan Ekaristi tepat sama dengan orang Yahudi[6]. Akan tetapi kemudian berubah, khususnya dalam konteks doa yang menjadi doa syukur (syukur agung) dengan unsur khasnya Gereja bersyukur kepada Kristus.

Dalam perjanjian baru, ekaristi dilihat dalam rupa-rupa cara. Yesus sendiri menyatakan bahwa ekaristi adalah sarana utama persatuan dengan-Nya dan Bapa serta sekaligus sebagai sumber kehidupan di mana Dialah sumbernya (Yoh 6:51.54.56). Ekaristi juga merupakan ungkapan syukur kepada Allah (Luk 22:19; Mat 26:26; Mrk 14:22; 1Kor 11:24), perjamuan Tuhan (1Kor 11:20) dan antisipasi perjamuan Anak Domba dalam Yerusalem surgawi (Why 19:9), disatukan dengan Yesus yang membagi-bagi diri-Nya (Mat 14:19; 15:36; 26:26; Mrk 8:6.19; Luk 24:13-35; Kis 2:42.46; 20:7.11; 1Kor 10:16-17), pertemuan kaum beriman sebagai ungkapan Gereja yang kelihatan (1Kor 11:17-34) serta menghadirkan kurban Kristus, Penebus kita, dan mengandung kurban Gereja sebagai kurban syukur (Ibr 13:15) serta kurban rohani (1Ptr 2:5) yang suci dan kudus karena semua kurban Perjanjian pertama diselesaikan dan di atasnya.

  • Ekaristi dalam Perspektif Bapa-Bapa Gereja

Ignatius dari Antiokhia (meninggal sekitar tahun 117).

Setiap kali ekaristi dirayakan, “terlaksanalah karya penebusan kita” dan kita memecahkan “satu roti…, obat kebakaan, penangkal racun, sehingga orang tidak mati, tetapi hidup selama-lamanya dalam Yesus Kristus”.[7]

Ambrosius, Uskup Milan (meninggal dalam tahun 397)

“Setiap kali kita menerima-Nya dalam ekaristi, kita menyatakan kematian Tuhan. Kalau kita menyatakan kematian Tuhan, kita menyatakan pengampunan dosa. Andaikata setiap kali bila darah-Nya dicurahkan, itu dicurahkan demi pengampunan dosa, aku harus selalu menerima-Nya supaya Ia selalu menyembuhkan dosa-dosaku. Aku yang selalu berbuat dosa harus selalu mempunyai sarana penyembuhan”.

Agustinus (354-430).

Dalam konteks ekaristi dan kesatuan umat beriman, Agustinus yang mengagumi misteri ini mangatakan bahwa ekaristi adalah “sakramen kasih sayang, tanda kesatuan, ikatan cinta kasih.[8]

Yohanes Kristomus (meninggal dalam tahun 407).

Ekaristi menjadi tempat perjumpaan antara Allah yang Mahakuasa dan Maharahim dengan manusia yang ditebusnya.[9]

  • Ekaristi dalam Perspektif Konsili

Sacrosanctum Concilium (SC) 47

“Dalam perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan kurban ekaristi tubuh dan darah-Nya, untuk melangsungkan korban salib selama peredran abad sampai Ia datang kembali. Dengan demikian Ia mempercayakan kepada Gereja mempelai-Nya yang tercinta pengenangan (memoriale) akan wafat dan kebangkitan-Nya, sakramen kasih sayang, tnda kesatuanm ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah, di mana Kristus disantap, jiwa dipenuhi rahmat dan diberikan jaminan kemuliaan kelak”

Lumen Gentium: Konstitusi dogmatis tentang Gereja (LG. 11)

“Dengan ikut serta dalam korban ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah.”

Kitab Hukum Kanonik no 899, §3.

“Perayaan ekaristi hendaknya diatur sedemikian rupa agar semua yang ikut serta memetik hasil yang berlimpah; untuk memperoleh itulah Kristus Tuhan mengadakan kurban ekaristi.”

Katekismus Gereja Katolik no 1414.

“Sebagai kurban, ekaristi itu dipersembahkan juga untuk pengampunan dosa orang-orang hidup dan mati dan untuk memperoleh karunia rohani dan jasmani dari Tuhan.”

Katekismus Gereja Katolik no 1416.

“Penerimaan tubuh dan darah Kristus yang kudus mempererat hubungan antara yang menerima komuni dengan Tuhan, mengampuni dosa-dosanya yang ringan dan melindunginya dari dosa-dosa berat. Oleh karena ikatan cinta antara yang menerima komuni denga Kristus diperkuat, maka penerimaan sakramen ini meneguhkan kesatuan gereja, tubuh mistik Kristus.”

  1. b. Imamat imam sebagai bagian dari Imamat Kristus

Dalam pelbagai dokumen gereja telah diungkapkan bahwa rahmat imamat yang diterimakan kepada seorang manusia biasa menjadi imam adalah bentuk keterlibatannya dalam imamat Kristus. Dalam konteks ekaristi, Yohanes Kristotomus mengatakan bahwa “bukanlah manusia yang membuat persembahan itu menjadi tubuh dan darah Kristus melainkan Tuhan sendiri. Si imam, wakil Kristus, mengucapkan kata-kata, tetapi daya kekuatannya yang penuh rahmat itu berasal dari Allah. ‘Inilah tubuh-Ku’, sabda-Nya. Sabda ini mentransformasi persembahan.”[10] Selain itu, dalam pelbagai dokumen yang dimaksudkan juga terungkap hal yang sama.

  • Prebyterorum Ordinis: Dekrit tentang pelayanan dan kehidupan para imam (No 2)

Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (Presbiterorum Ordinis), no. 2 berbicara tentang hakekat Imamat. Di ditegaskan antara lain tentang Imam itu sendiri. Bahwa Imam dipilih dari tengah-tengah umat beriman untuk menjadi pelayan yang karena kuasa tahbisan suci mempersembahkan kurban dan mengampuni dosa, dan yang demi nama Kristus secara resmi menunaikan tugas Imamat bagi orang-orang. Para Imam melaksanakan misi kerasulan yang mereka terima dari Kristus.[11]

  • Prebyterorum Ordinis: Dekrit tentang pelayanan dan kehidupan para imam (No 5)

“…. perayaan ekarsiti adalah pusat pertemuan umat beriman, yang diketuai imam. Maka hendaknya para imam mengajar umat untuk mempersembahkan kurban ilahi kepada Allah Bapa di dalam kurban misa, dan bersama dengannya mempersembahkan kurban hidupnya sendiri.”[12]

  • Sacrosantum consilium: Konstitusi tentang liturgi kudus (No. 7)

“Untuk melaksanakan karya yang sekian mulia, Kristus selalu mendampingi Gerejanya, terutama dalam kegiatan liturgi. Ia hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, ‘karena Ia, yang ketika itu mengurbankan diri-Nya di salib, sekarang sendiri membawakan persembahan lewat pelayanan para imam’ maupun terutama dalam rupa ekaristi.”[13]

  • Lumen Gentium: Konstitusi dogmatis tentang Gereja (LG. 21)

Dalam Lumen Gentium no. 21 diungkapkan bagaimana kehadiran Yesus semasa hidupNya dibantu oleh pelayan-pelayan untuk menuju pada kebahagiaan  kekal. Para gembala yang dipilih untuk menggembalakan kawanan Tuhan itu adalah para pelayan Kristus dan pembagi rahasia-rahasia Allah (1 Kor 4:1). Kepada mereka dipercayakan kesaksian akan Injil tentang rahmat Allah (Rm 15:16; Kis 20:24) serta pelayanan Roh dan kebenaran dalam kemuliaan.[14]

 

 

  1. c. Psikologi: memanfaatkan rasa takut tidak menyelesaikan masalah

Dalam kehidupan berpastoral dari segi psikologi, terdapat banyak pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah sosial umat. Di antara banyak subdisiplin teologi praksis (seperti homelitik, liturgik, diakonik, evangelistik dan pembangunan jemaat), van Hooidonk menyebut “poimenik” adalah salah satu praksis gereja yang dapat diartikan sebagai keprihatinan terhadap seseorang (pendampingan pribadi) maupun kelompok (pendampingan kelompok).[15] Hal ini dapat diaplikasikan dalam tindakan penggembalaan (pastoral care), konseling pastoral dan psikoterapi pastoral. Penggembalaan sering dikenal sebagai bimbingan rohani dengan fokus pada masalah etis, moral dan religius. Konseling pastoral terjadi seorang atau sekelompok orang membutuhkan bahkan atas inisiatif sendiri mohon untuk mendapat perhatian dan pendampingan beserta pemahaman yang lebih intensif dengan pastor sebagai konselor lewat perjumpaan dan pertemuan yang terstruktur. Fokusnya adalah masalah konflik, keraguan, stres dan depresi. Juga ada kaitannya dengan kebingungan akan nilai dan pilihan hidup. Sedangkan psikoterapi pastoral menuntut keahlian khusus dan memutuhkan kesepakatan dan kontrak teratur dan terstruktur. Karena itu harus dilakukan oleh seorang pastor yang memiliki latar belakang pendidikan dokter dan psikolog.

Selain itu, dikatakan juga dalam ilmu psikologi bahwa pendektan masalah dengan hanya memanfaatkan rasa takut dari yang didekati, dapat menyelesaikan masalah penyimpangannya, tetapi tidaklah dapat bertahan lama.[16] Dalam jenjang waktu tertentu, apalagi ketika yang didekati merasa tidak diperhatikan lagi atau mengalami kebebasan, sikap aslinya akan muncul kembali. Bahkan selama dalam pendampingan, yang terjadi adalah bahwa yang didekati berada dalam keadaan munafik. Sikap asli hendak ditunjukkan tetapi takut “dihukum” sehingga berada dalam kepribadian yang tertekan.

  1. d. Pastoral: mengutuk dan menghukum umat adalah ekspresi dari ketidakberdayaan pastor mengatasi masalah.

Sebagai alter Kristus, seorang pastor memiliki tugas utama yakni mewartakan karya penyelamatan dari Allah yang dinyatakan dalam perayaan ekaristi. Keselamatan yang diwartakan berasal dari Allah sendiri dan bukan dari kehendak sang Pastor. Karena keselamatan yang dibawa Yesus itu terutama ada dalam Ekaristi, maka melalui Ekaristilah, pastor mengekspresikan tugasnya itu. Gaudium et Spes No. 10 mengatakan bahwa “…tokoh utama dalam pastoral adalah Tuhan, karena Dialah Gembala Utama, yang menyelematkan manusia. Pastor manusiawi hanyalah pewarta dan saksi tentang karya itu. Maka pusat perhatian diarahkan pada: membantu semua untuk menyadari karya penyelamatan Allah dan bersedia melangkah dalam hidup selaras dengan itu.”[17]

Hal ini hendak mengungkapkan bahwa menjadi tidak benarlah bila dalam perayaan keselamatan itu (ekaristi) seorang pastor mengubah makna dan tujuan perayaan menjadi “liturgi pengutukan”. Mengutuk berarti menghendaki bencana dan malapetaka terjadi pada seseorang/sekelompok orang tertentu. Sebab itu dalam “liturgi pengutukan” ini pastor memohon kepada Tuhan agar merestui apa yang dipikirkannya (bencara dan malapetaka) terjadi atas umatnya sendiri.

Apa yang dikatakan di atas, menegaskan kepada kita bahwa dengan “mengutuk” umat, pastor tidak mampu menyatakan dirinya sebagai seorang wakil Kristus yang benar. Menghukum umat hanyalah ungkapan ketidakmampuan seorang pastor untuk mengatasi masalah yang sedang hidup dan berkembang di tengah-tengah umat. Apalagi bila “kutukan” itu dibuat dalam konteks perayaan ekaristi. Yang seharusnya adalah bahwa dengan pendekatan pastoral yang bijaksana dalam kerjasama dengan pelbagai unsur yang membentuk dan memimpin paroki, sebuah permasalahan umat harus diselesaikan dengan tepat.

 

IV. BEBERAPA USULAN STRETEGIS

  1. a. Pengenalan lebih dalam mengenai makna ekaristi dalam hubungan dengan jabatan imamat bagi seorang  imam dan calon imam.

Tugas utama seorang imam adalah memimpin perayaan ekaristi. Karena itu maka ekaristi yang adalah perayaan keselamatan ini harus dipahami dan dihayati dengan benar. Persiapan yang baik sejak menjadi calon imam (antara lain dengan rajin menghadiri perayaan ekaristi!) sangatlah penting. Spiritualitas ekarsiti patut dibina karena fungsinya sebagai “pusat dan akar seluruh hidup imam” (PO, 14). Juga berdasarkan kebenaran bahwa “dalam ekaristi terkandung seluruh harta rohani gereja dan … Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh perjanjian” (PO 15). Pentingnya kesalehan dan spiritualitas ekaristi bagi para imam dan calon sebab dari seluruh warisan onotologis dan hakekat pengamalan sakramen imamat, perayaan ekaristi adalah benar-benar pusat seluruh hidup kristen baik untuk seluruh gereja universal maupun jemaat-jemaat setempat dari gereja.[18]

Dari sebab itu, seorang imam dan calon imam hendaknya berupaya menimba sebesar-besarnya cinta dan semangat Roh Kritus dari misteri ekaristi, dengan berupaya menghayati perayaan ekaristi sehingga “yang terjadi di meja kurban, hendaknya diresapkan oleh jiwanya” (PO 14). Perayaan ekaristi adalah saat yang paling berharga dan efektif bagi pembangunan hidup kudus seorang imam dan calon imam.[19]

  1. b. Latihan emosional[20]

Banyak kali terjadi bahwa orang yang mengedepankan emosi yang tidak terkontrol memutuskan sesuatu juga tanpa pertimbangan yang matang. Hal ini disebabkan karena kepribadiannya tidak stabil dan sangat nampak dalam sikap yang emosional dan mau menang sendiri. Bahkan lebih dari itu, ia selalu ingin untuk dihargai dan dihormati. Dampaknya adalah apa yang dikehendakinya harus dituruti dan tidak ada ruang untuk melawan. Model kepribadian ini tidak tepat untuk melaksanakan tugas pelayanan di tengah-tengah umat karena seorang pemimpin gereja adalah pemimpin yang melayani, yang bersedia untuk mendengarkan keluhan umatnya dan mampu bekerjasama.

Kematangan emosional kristiani sebagai dimensi pribadi, hendaklah dipupuk dengan tekun dan teliti. Manusia terdiri atas budi dan hati. Terutama lewat nalar budinya, pengertian keutuhan pribadi diterima sebagai keseimbangan individu dan dimensi komuniternya. Lewat emosi ia sanggup terlibat secara mendalam pada situasi sekitarnya, keprihatinan maupun kegembiraan, di dalam dan di luar dirinya. Memanfaatkan emosi secara dinamis dan luhur, seorang pribadi yang utuh dan terpercaya akan berpredikat: hangat dalam pergaulan, mantap dalam kemandirian, peka terhadap alam sekitar, tanggap terhadap perkembangan dan kemajuan, trampil dalam beradaptasi.

Untuk mencapai mutu pengalamannya secara optimal, pentinglah keterbukaan diri, rela menerima orang lain seperti apa adanya, dewasa menerima pengarahan dan correctio fraterna, tergar dalam semangat optimisme ceria dalam semangat injili. Semua ini dicoba diarahkan pada peningkatan mutu persaudaraan imamat dan pengembangan jemaat kristiani. Dilengkapi dengan pendidikan moral, kematangan manusia dan terutama kematangan afektif, menuntut menuntut suatu latihan kebebasan yang kuat. Kebebasan menuntut seseorang sungguh menjadi tuan atas dirinya sendiri, siap berjuang dan menaklukan berbagai bentuk egoisme dan individualisme yang mengancap hidup masing-masing, siap sedia membuka diri bagi jalan lain, rela berbakti dan melayani sesama. Itu sebabnya disiplin sebagai ajang latihan kebebasan yang bertanggungjawab dimana kita diakui sebagai subyek yang aktif diakui sebagai faktor yang perlu dan demi perkembangan pribadi yang tepat.

  1. c. Menghayati kepemimpin pastoral sebagai pelayanan

Pemimpin yang memimpin demikian rupa hingga kehidupan para pengikut dan kehiduan dirinya sendiri secara rohani meningkat, merupakan seorang pemimpin yang khusus, yang disebut gembala pencinta.[21] Tugas kepemimpinan adalah tugas  pengabdian. Ia dipanggil demi tujuan dan cita-cita bersama. Seorang pemimpin berusaha mempengaruhi, mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan banyak orang untuk bersama-sama bekerja mencapai tujuan dan cita-cita itu.

Para pemuka Gereja menjalankan karya pastoral dengan pengarahan dan penataan hidup bersama agar persekutuan jemaah benar-benar menjadi komunikasi iman. Kepemimpinan kristiani selalu berarti melayani. Kita menyangkal bahwa dimensi kekuasaan ada dalam setiap corak kepemimpinan yang dijalankan. Dengan demikian, seorang pemimpin yakin akan dirinya sendiri, sadar akan apa yang disajikan dan sadar akan apa yang akan dilaksanakan. Dengan kata lain, ia mengakui kemampuannya, panggilannya dan pelayanannya.[22] Sehingga, imam dan semua pelayan umat bertugas untuk meningkatkan pertumbuhan rohani setiap orang beriman dan berusaha mengembangkan umat bukan sebaliknya meninggalkan keresahan dan menciptakan ketakutan dalam diri umatnya.[23]

  1. d. Melihat relasi bersama umat sebagai relasi “kita”

Relasi ini terjalin karena ada hubungan antara seorang gembala dan umat. Imam atau gembala, akan memandang umatnya sebagai teman dalam kebersamaan yang kita sebut “kita”. Itu berarti, menempatkan umat dalam satu taraf yang sama dengan kita sebagai gembala, meskipun dalam fungsi dan tugas ada perbedaan di sana. Sehingga akan nampak fungsi kepemimpinan pelayanan dan kepemimpinan penggembalaan. Hal ini dimaksudkan karena perlu diingat bahwa gembala utama dalam pastoral adalah Tuhan, karena Dialah Gembala Utama, yang menyelamatkan manusia. Pastor manusiawi hanyalah pewarta dan saksi tentang karya itu.[24] Dengan demikian, Allah menjadi pusat karya pastoral, pusat karya penyelamatan, pusat hidup umat beriman.[25]

  1. e. Jangan sekadar menghukum atau “mengutuk” melainkan mengadakan Pendekatan Personal dan Kunjungan Keluarga.

Tindakan mengutuk adalah tindakan yang menggunakan kekuasaan karena status yang melekat pada diri imam karena meterai tahbisan. Dalam konteks masyarakat berbudaya Kei, hal ini diperkuat dengan pemahaman umat akan figur seorang pastor sebagai wakil Tuhan yang datang membawa hukuman. Karena itu, telah tertanam dalam diri umat sikap hormat dan takut melawan apa yang dikatakan oleh Pastor. Dipahamai bahwa ketakutan adalah masalah psikologis yang dirasakan dan dimiliki oleh setiap manusia. Dalam pembahasan di atas telah dikatakan bahwa secara takut dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah dan bukan menyembuhkan. Rasa takut hanya menyelesaikan masalah yang sifatnya sesaat saja. Dalam konteks umat pemahaman umat Kei, Tuhan adalah “yang menghukum” (Duad Hukum). Sehingga umat Kei sangat takut kepada Tuhan. Hal ini dapat dimengerti karena umat Kei melihat bahwa segala bencana, penyakit bahkan kematian adalah akibat dari hukuman Tuhan. Wakil Tuhan yang paling jelas adalah Pastor (Imam). Dan sangat dihormati bahkan lebih daripada itu sangat ditakuti oleh umat. Karena itu, umat memahami bahwa apa yang disampaikan pastor adalah sungguh-sungguh merupakan kata-kata Tuhan. Sehingga umat Kei sangat takut bila pastor marah-marah bahkan akan menyampaikan kata-kata kutukan. Rupanya, pemahaman umat sedemikian dimanfaatkan pastor untuk menakut-nakuti bahkan mengutuk umat, bila umat berbuat kesalahan yang sangat besar. Pastor akan dengan sangat gampang menghukum dan bahkan mengutuk umat yang berbuat salah. Pertanyaannya adalah apakah tidak ada cara lain yang hendak mengubah kebiasaan “jahat” umat, kecuali hanya dengan satu-satunya mengutuk umat?

Sebenarnya, dengan figur sebagai imam, seorang pastor memiliki banyak peluang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi umat. Salah satu caranya dengan mengadakan pendekatan personal dan lain sebagainya. Mengingat masalah-masalah yang timbul dalam umat berhubungan dengan pribadi maupun kelompok orang tertentu, maka adalah baik bahwa dalam menyelesaikan masalah yang ditimbulkan, hendaknya ditempuh dengan pendekatan personal maupun kelompok. Pendampingan yang berkelanjutan jauh lebih bermanfaat, menyembuhkan dan bertahan lama sehingga dapat menemukan perubahan. Hal ini jauh lebih bermanfaat daripada pendekatan kekuasaan dengan menghukum atau bahkan “mengutuk”. Sudah dikatakan di atas bahwa ini dapat menciptakan perubahan, tetapi tidak akan berlangsung lama dan hanya meninggalkan kemunafikan dalam diri personal maupun secara kelompok. Karena itu, pendampingan tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan kunjungan-kunjungan umat kepada keluarga-keluarga, khususnya mereka yang bermasalah.

 

 

PENUTUP

Ekaristi adalah sakramen keselamatan di mana imam sebagai alter Kristus, in persona Chrisrti, hendaknya menghantar umat pada perjumpaan dengan Allah Bapa dan Putera-Nya. Dengan demikian, dalam ekaristi umat bersama imam menimba kekuatan sekaligus menerima pengampunan yang berasal dari Allah sendiri. Dalam konteks ini, maka sangatlah tidak tepat bahwa ekaristi dimanfaatkan sebagai sarana untuk “memohon kutuk” atas umat, apapun bentuknya. Tindakan ini hanya mengurangi nilai luhur dari ekaristi dan hanya menanamkan pengalaman yang tidak benar dalam diri umat tentang keluhuran ekaristi itu.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dewan, W.F. “Eucharist (as Sacrament)” dalam New Catholic Encylopedia, Vol. V. Washington DC: The Catholic University of America, 1967.

Hall, Brian P. Panggilan Akan Pelayanan: Citra Pemimpin Jemaat. Yogyakarta, Kanisius: 1992.

Jacob, Tom. Misteri Perayaan Ekaristi. Yogyakarta, Kanisius: 1996.

KWI. Dokumen Konsili Vatikan II: Tonggak Sejarah Pedoman Arah. Jakarta: Obor, 1991.

KWI. Katekismus Gereja Katolik. Arnoldus: Ende, 1995.

Mardiatmadja, B.S. Beriman dengan Tanggap. Yogyakarta, Kanisius: 1985.

Renwarin, Inno. Bimbingan dan Penyuluhan Pastoral. Pineleng: Traktat Kuliah, 2003.

Sinaga, Anicetus B.  Imam Triniter: Pedoman Hidup Imam. Jakarta: Obor, 1996.

Susabda, Yakuba B. Pastoral Konseling: buku pegangan untuk pemimpin gereja dan koselor kristen. Malang: Gandum Mas, 1983.

Syukur Dister, Niko. Teologi Sistematika 2, Ekonomi Keselamatan. Yogyakarta, Kanisius: 2004.

van Bilsen, P.  Pewartaan Iman Katolik 2. Yogyakarta, Kanisius: 1969.

 

 

 

*******

 


[1]Kami sendiri sebetulnya tidak mengikuti satupun dari kegiatan misa tersebut sehingga prosesinya hanya berdasarkan umat yang mengikuti. Akan tetapi keseluruhan prosesi yang mau diungkapkan ini dijamin kebenarannya karena sama untuk semua stasi dan didengarkan bukan saja dari satu stasi tetapi di semua stasi.

[2]Kami sendiri tidak memahami maksud apa di balik campuran-campuran tersbut.

[3] Bdk. Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, Ekonomi Keselamatan (Yogyakarta, Kanisius: 2004), hlm. 387-389. Bdk juga, Tom Jacob, Misteri Perayaan Ekaristi (Yogyakarta, Kanisius: 1996), hlm. 27-29.

[4] Bdk. W.F. Dewan, “Eucharist (as Sacrament)” dalam New Catholic Encylopedia, Vol. V (Washington DC: The Catholic University of America, 1967), hlm. 599.

[5] P. van Bilsen, Pewartaan Iman Katolik 2 (Yogyakarta, Kanisius: 1969), hlm. 94.

[6] Tom Jacob, Misteri Perayaan Ekaristi, hlm. 55-56.

[7] Ignatius dari Antiokhia, Epistula ad Ephesios, 20,2 seperti terkutip dalam Katekismus Gereja Katolik no 1405, hlm. 385;  lihat juga Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, Ekonomi Keselamatan, hlm. 330.

[8] Terdapat dalam Katekismus Gereja Katolik no 1398 (Arnoldus: Ende, 1995), hlm. 384. Bdk juga SC. 47; CIC. 844 §3, §4.

[9] Bdk. Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika 2, Ekonomi Keselamatan, hlm. 337.

[10] Yohanes Krisostomus, Tentang Pengkhianatan Yudas, 1, 6 serperti dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik no 1375 (Arnoldus: Ende, 1995), hlm. 377.

[11] Bdk. Konsili Vatikan II, PO., no. 2.

[12] KWI, Dokumen Konsili Vatikan II: Tonggak Sejarah Pedoman Arah (Jakarta: Obor, 1991), hlm. 435.

[13] KWI, Dokumen Konsili Vatikan II, hlm. 45.

[14] KWI, Dokumen Konsili Vatikan II, hlm. 94.

[15] Inno Renwarin, Bimbingan dan Penyuluhan Pastoral (Pineleng: Traktat Kuliah, 2003), hlm. 11-12).

[16] Yakuba B. Susabda, Pastoral Konseling: buku pegangan untuk pemimpin gereja dan koselor kristen (Malang: Gandum Mas, 1983), hlm 17.

[17] B.S. Mardiatmadja, Beriman dengan Tanggap (Yogyakarta, Kanisius: 1985), hlm. 26.

[18] Anicetus B. Sinaga, Imam Triniter: Pedoman Hidup Imam (Jakarta: Obor, 1996), hlm. 256.

[19] Ibid., hlm. 257.

[20] Anicetus B. Sinaga, Imam Triniter: Pedoman Hidup Imam, hlm. 262-264.

[21] Brian P. Hall, Panggilan Akan Pelayanan: Citra Pemimpin Jemaat (Yogyakarta, Kanisius: 1992), hlm. 10.

[22] Ibid., hlm. 12.

[23] Ibid., hlm. 18.

[24] B. S. Mardiatmadja, Beriman dengan Tanggap, hlm. 26.

[25] Lih. Gaudium Et Spes Artikel 10.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: