BAPTISAN YANG TIDAK DIKEHENDAKI (Suatu Telaah Teologi Moral Baptis)

Nama   : Paulinus Kalkoy

Tugas   : Iurisdiksi Moral

Dosen  : DR. A. Sujoko, S.S

 

Pendahuluan

Baptisan yang tidak Dikehendaki adalah judul tulisan yang kami angkat berdasarkan pengalaman konkrit, yang pernah kami jumpai ketika masih bertugas sebagai frater Tahun Orientasi Pastoral. Kasus ini mungkin sudah sering terjadi dan karenanya sudah sering dibahas, namun bagi kami kasus ini sangatlah menarik dan karenanya masih relevan untuk dicermati justru karena baru kali ini kami menemukanya. Tetapi lebih dari itu, menarik bahwa kasus ini ternyata menyentuh nilai-nilai kehidupan yang  paling dalam yang terkandung dalam Sakramen Pembaptisan, sejauh sakramen ini dipandang sebagai sarana pemanusiawian manusia. Dalam arti bahwa melalui baptisan hidup seseorang diangkat pada tingkat yang lebih bernilai di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya.

Sejauh mana kasus tersebut menyangkut problem manusiawi, melalui tulisan ini kami hendak mengangkat beberapa pokok analisis untuk mencermati lebih dalam baptisan yang tidak dikehendaki sambil merujuk pada teori-teori moral yang berkenaan dengan Sakramen Pembaptisan. Maka secara sistimatis tulisan ini kami susun dalam beberapa bagian, yakni: deskripsi kasus, perumusan masalah, landasan teoretis, analisa kasus, dan beberapa usulan prktis.

I. Deskripsi Kasus

Kasus ini terjadi di salah satu Stasi di Paroki Tanawangko dan baru terbongkar 11 tahun kemudian. Begini ceritanya:[1]

Adalah Madona (nama samaran), anak gadis dari pasangan Rahul dan Angelic (juga nama samaran). Mereka menikah secara Katolik setelah Rahul yang Adven menyatakan kesediaannya untuk mengikuti imam Angelic yang Katolik.[2] Setelah menikah keluarga ini kemudian meninggalkan kampung halaman dan pergi merantau ke luar daerah dengan maksud untuk mencari nafkah. Tiga tahun berada di perantauan, keluarga ini sudah merasa mempunyai cukup modal untuk pulang dan membuka usaha di kampung halaman sendiri. Ketika pulang mereka sudah dikaruniai seorang anak yang baru berumur 3 tahun, yakni Madona. Karena alasan sulitnya menghubungi pastor dan petugas pastoral lainnya, dan ditambah lagi dengan kesibukkan mencari nafkah ketika masih berada di perantauan, maka apa boleh buat Madona belum sempat menerima Sakramen Pembaptisan.

Sebulan berada dikampung Rahul-Angelic mengajukan permohonan kepada Pastor Paroki dan pimpinan umat stasi setempat untuk menerimakan Sakramen Permandian bagi Madona. Permohonan dikabulkan. Tapi sayang dua hari sebelum pelaksanaan pembaptisan, Rahul, ayah Madona keburu meninggal dunia akibat serangan jantung. Karena peristiwa kematian ini, akhirnya rencana permandian belum terlaksana.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berlalu, rencana untuk membaptis belum juga kesampaian, seolah terkubur bersama dengan duka akibat kematian Rahul, sang ayah. Sejak kematian suaminya Angelic tidak pernah lagi menampakkan diri dalam ibadah-ibadah pada hari Minggu dan apalagi ibadah-ibadah di Wilayah Rohani. Terakhir terdengar berita bahwa Angelic sudah pergi bekerja di salah satu kota di Kalimantan. Sedangkan Madona, anaknya dititipkan kepada kerabat suaminya yang beragama Adven itu.

Sebelas tahun berlalu, Madona sudah duduk di bangku kelas II SMP. Tidak ada yang memperldulikan siapa Madona, termasuk umat Katolik setempat seolah sudah lupa kalau beliau adalah angota umatnya. Tapi pada suatu hari, entah siapa yang menyuruh atau mungkin memang kemauan sendiri, Madona tiba-tiba datang menemui Ketua Stasi dan menyatakan prihal keinginannya untuk mengikuti ibadah-ibadah Katolik, karena ada orang yang memberitahu kalau dia adalah orang Katolik. Berdasarkan pengetahuan ini, Madona lantas mencari informasi kepada orang-orang lain, terutama kepada orang-orang Katolik mengenai kebenaran berita yang ia dapatkan. Dan dari sejumlah informasi yang berhasil ia peroleh, Madona merasa yakin bahwa ia memang orang Katolik asli. Sejak saat itu ia mulai mengikuti kegiatan-kegiatan Katolik dengan rajin.

“Tiada perjuangan tanpa hamabatan”. Mendengar dan menyaksikan Madona sudah mengikuti ibadah-ibadah Katolik, keluarga (paman-tante) yang menampung Madona sejak berusia kira-kira 4 tahun merasa keberatan dan mengklaim kalau Madona sudah menjadi anggota jemaat Adven. Klaim ini juga diperkuat oleh Gembala Adven setempat yang mengaku telah membaptis Madona. Untuk mencegah agar Madona tidak lagi mengikuti kegiatan-kegiatan Katolik, keluarga ini kemudian menyekolahkannya di Manado. Meskipun demikian, Madona tidak berhenti berjuang menuntut kebenaran dan haknya yang sudah dirampas. Ternyata  pindah ke Manado justru membuka peluang yang lebih besar baginya untuk mengikuti ibadah/misa pada setiap kesempatan. Mencium gelagat yang tidak menguntungkan ini, paman-tante membawa Madona pulang dari Manado dan menyekolahkannya kembali ke kampung halaman.

Segala usaha telah dibuat oleh keluarga untuk mempertahankan Madona, tapi ternyata itu semua hanya sia-sia saja. Karena selang beberapa hari berada di kampung, Madona malah lari dari rumah dan kemudian meminta perlindungan kepada Ketua Stasi. Tindakan nekad ini ternyata menimbulkan kemarahan luar biasa dari kalangan jemaat Adven, dan terutama keluarga yang selama ini menampung Madona. Mereka menuduh bahwa umat Katolik dengan sengaja merampas anggota jemaatnya dengan cara yang tidak benar. Karena persoalan ini semakin besar, pemerintah (Hukum Tua) setempat memanggil semua pihak terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di hadapan pemerintah, masing-masing pihak saling mempersalahkan satu sama lain. Pihak Adven tetap bersikeras kalau Madona telah dibaptis secara Adven justru atas kemauan Madona sendiri. Dan lagipula, menurut mereka, adalah wajar bila paman-tante Madona berhak menentukan hidup Madona mengingat bahwa merekalah yang selama ini menjaga, memelihara dan membesarkannya. Sedangkan pihak Katolik berargumen kalau Madona asli Katolik karena ia adalah anak dari keluarga Katolik. Karena situasi makin panas, pemerintah kemudian dengan arif dan bijaksana memutuskan untuk menanyakan langsung pada Madona apa yang ia kehendaki: masuk Katolik atau tetap Adven? Setelah ditanya, dengan spontan Madona menjawab bahwa ia mau mengikuti iman orang tua kandungnya, yakni Katolik. Madona kemudian bersaksi kalau ia tidak pernah berkeinginan untuk masuk Adven, kecuali karena terpaksa. Bahkan menurutnya bahwa sebelum dibaptis Angelic (ibu kandungnya) sudah pernah datang dengan maksud untuk membawanya, tapi paman-tante balik mengusirnya karena dianggap bukan ibu yang baik. Beberapa kali ibunya mau bertemu dengan Madona tapi hanya satu kali dapat bertemu, karena dihalang-halangi oleh paman-tantenya. Dalam pertemuan tersebut ibunya berjanji akan membawa Madona ke Kalimantan jika ia sudah tamat SD dan akan menyekolahkannya di sekolah Katolik, karena ia memang anak Katolik.

Setelah mendengar jawaban dan sekaligus kesaksian Madona, Hukum tua dengan tegas menganjurkan kepada semua pihak untuk menghormati dan menghargai hak dan keinginan Madona. Hukum Tua bahkan berjanji akan mendukung keinginan Madona serta akan melindunginya jika masih ada pihak-pihak tertentu yang masih  mau menghalangi keinginannya. Demikian oleh pemerintah dan semua pihak yang terkait akhirnya sepakat bahwa masalah Madona telah selesai.

II. Perumusan Masalah

Berdasarkan deskripsi di atas kami menarik beberapa poin penting yang kiranya menjadi permasalahan pokok yang terkandung dalam kasus ini. Pokok-pokok permasalahan tersebut kami rumuskan dalam beberapa pertanyaan, yakni: sejauh manakah batas hak keluarga (paman-tante) atas diri Madona? Siapakah yang berhak menentukan hidup Madona, ibu kandungnya atau keluarga yang telah memelihara dan membesarkannya? Dimanakah letak tanggungjawab keluarga (orang tua) dan umat terhadap salah seorang anggotanya yang belum dibaptis? Pertanyaan-pertanyaan ini dengan lebih tajam lagi kami persempit dengan pertanyaan  (demi konteks makalah ini), yakni: Benarkah tindakan membaptis seseorang di luar kehendak hatinya? Atau apakah tindakan memaksa seseorang untuk dibaptis hanya karena alasan balas jasa dapat dibenarkan secara moral? Manakah elemen-elemen penting yang perlu ada pada seseorang sehingga ia boleh dan dapat menerima Sakramen Pembaptisan?

III. Landasan Teori

III.1. Apa itu Sakramen Pembaptisan?

Sakramen pembaptisan atau sakramen permandian merupakan proses awal menuju kepenuhan hidup Kristiani, yakni proses pengikatan diri secara utuh pada karya dan kehendak Allah melalui Gereja kudusNya. Melalui Sakramen pembaptisan  seseorang dimasukan ke dalam persekutuan Triniter, persekutuan anak-anak Allah, persekutuan Gereja, yaitu kesatuan murid-murid Kristus berkat daya Roh Kudus.[3] Jadi Sakramen Pembaptisan  adalah sakramen untuk menjadi Kristen, dengan mana manusia dibawa pada situasi baru: kesatuan dengan Allah Tritunggal yang menyelamatkan. Dalam pengertian ini, penggabungan diri dalam keanggotaan murid-murid yang disimbolkan dengan wadah Gereja, sakramen ini menunjuk pertama-tama pada karya keselamatan Allah. Lewat pembaptisan manusia dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah yang baru; kita menjadi anggota tubuh Kristus, dimasukan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam perutusanNya.[4] Dengan demikian, Sakramen Pembaptisan  bukan hanya membawa kita ke dalam keanggotaan Gereja, tapi juga serentak mengungkapkan sikap tobat dan iman kepada Allah. Suatu upaya pembalikan diri dari dosa serta memasrahkan diri pada Allah yang menyelamatkan. Demikian Sakramen pembaptisan  itu perlu demi keselamatan kita (Bdk. Yoh 3:5).

III.2. Siapa Yang Dibaptis?

Pada prinsipnya yang dapat dibaptis adalah setiap orang dan hanya orang yang belum dibaptis, serta mempunyai harapan dan iman pada Allah Tritunggal yang bersemayam dalam GerejaNya.[5] Ini berarti siapa saja boleh dan dapat menjadi subjek pembaptisan, asalkan orang yang bersangkutan sungguh-sungguh mempunyai iman dan kepercayaan yang dalam, bahwa melalui pembaptisan itu, ia memperoleh keselamatan. Oleh karena itu subjek yang dimaksud adalah orang-orang dewasa maupun anak-anak yang belum dibaptis, namun sudah mampu menggunakan akal sehatnya. Khusus anak-anak (bayi), diandaikan sudah mempunyai akal budi, tapi karena belum mampu mengekspresikannya maka yang bersangkutan mendapatkan bantuan dari orang tua/wali.[6]

III.3. Syarat-syarat Pembaptisan[7]

  1. Belum pernah dibaptis

Mereka yang dapat dibaptis adalah orang-orang yang belum pernah dibaptis (Kan 864)[8]. Pernyataan ini mengandung pengertian behwa permadian hanya diberikan satu kali saja. Tetapi bila muncul keraguan apakah seseorang sudah dibaptis atau belum, maka diadakan permandian bersyarat (Sub Conditione).[9]

 

  1. Ada Kemauan Untuk Dibaptis

Pembaptisan terjadi karena adanya kebebasan personal yang keluar dari kehendak diri untuk dibaptis, serta ada keyakinan iman dan tobat yang keluar dari batin untuk percaya pada Allah yang menyelamatkan.

  1. Masih Hidup atau Belum Meninggal

Subjek pembaptisan adalah orang yang masih hidup dan bukan orang yang sudah meninggal. Hal ini terkait dengan aktivitas budi dan kehendak bebas bagi si penerima baptisan. Jika ada keraguan apakah masih hidup atau sudah meninggal, maka pembaptisan bersyarat berlaku.

  1. Ada jaminan bahwa si Penerima Baptisan akan setia menjalankan kewajiban Kristiani.

Pembaptisan merupakan suatu keputusan pribadi yang mengandung tuntutan agar orang terus-menerus membangun hidupnya sesuai dengan semangat Kristiani. Jika jaminan ini tidak ada maka pembaptisan tidak bisa dilaksanakan.

  1. Ada Izin Dari Orang Tua[10]

Kanon 868.1 ayat 1 masih menambahkan satu syarat lagi demi halalnya suatu pembaptisan, yaitu perlu adanya izin dari orang tua atau wali.[11] Syarat ini perlu, mengingat bahwa orang tua mempunyai hak untuk mendidik anak-anaknya. Kecuali dalam bahaya mati, pembaptisan dapat dilaksanakan tanpa seizin dari orang tua.

IV. Analisa Kasus

Setelah mencermati kasus yang dialami oleh Madona, serta mendalami paham pembaptisan dari sudut pandang ajaran teologi Gereja mengenai Sakramen Pembaptisan, maka dapat dikatakan bahwa kasus “Pembaptisan Yang Tidak Dikehendaki” ini, merupkan problem Teologi Moral Baptis. Kasus ini terkait dengan problem: pemaksaan kehendak, pelanggaran atas hak dan wewenang orang tua, dan tanggung jawab keluarga dan Gererja (umat).

IV.1. Pemaksaan Kehendak

Bagian terdalam dari personalitas manusia sebagai makhluk bermoral adalah suara hati atau kehendak bebas yang ada dalam dirinya. Karena personalitas mengungkapkan keseluruhan hidup manusia yang tak dapat diselami dan unik adanya, maka tak satupun kuasa atau orang lain yang dapat menggantikannya, kecuali pribadi yang bersangkutan yang memiliki suara hati itu. Suara hati dipahami sebagai tempat atau kemampuan manusia untuk mengambil keputusan, maka setiap orang wajib mentaati keputusan atau norma suara hati tersebut.[12] Dengan demikian, memaksakan kehendak berarti menggangu kehidupan seseorang. Dari perspektif ini maka dapat dikatakan bahwa tindakan dari om-tante membaptis Madona, padahal Madona sendiri tidak menginginkannya, merupakan tindakan immoral. Dengan memaksakan kehendaknya, keluarga ini telah mengganggu hak dan kehendak bebas Madona untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Di sini tuntutan balas jasa jauh lebih kecil daripada otonomitas yang disimbolkan oleh kehendak atau suara hati seseorang. Om-tante dapat membaptis Madona secara Adven, bila Madona mengijinkannya. Demikian suara hati seseorang tidak dapat dilecehkan dengan kekuatan apapun, karena suara hati bukan hanya menunjuk pada identitas seseorang melainkan juga sebagai perwujudan iman.[13]

IV.2. Pelanggaran Atas Hak Orang Tua

Betapapun om-tante telah mengeluarkan begitu banyak energi selama bertahun-tahun memelihara dan membesarkan Madona, tapi kenyataan tersebut belum mampu memberi hak kepemilikan penuh atas diri Madona. Fakta pertama dan terutama yang harus diperhatikan adalah bahwa Madona dari awal hingga akhir hidupnya tetap merupakan anak kandung dari Angelic (ibunya), baik secara de facto maupun de jure. Kemudian fakta kedua adalah bahwa status Madona dalam lingkungan keluarga yang menampungnya hanya sebatas sebagai titipan. Ini berarti bahwa keberadaan Madona di rumah om-tantenya hanya bersifat temporer. Sementara itu ibu kandungnya masih menunjukkan rasa tanggung jawab besar terhadap Madona. Jadi, adalah keliru jika om-tante serta-merta mengambil hak orang tua Madona. Kecuali di antara ibu dan om-tante telah mengadakan kesepakatan untuk menjadikan Madona sebagai anak angkat om-tante terebut. Tapi cara ini pun tidak begitu saja dapat dipertanggungjawabkan secara moral, mengingat ibu kandung Madona masih hidup dan karenanya masih terikat dengan rasa tanggungjawab sebagai orang tua. Dan kalau saja sudah ada kesepakatan, apakah  Madona setuju? Belum tentu, karena kebalikan dari rasa tanggung jawab orang tua terhadap anak, seorang anak juga terikat dengan relasi sosial, psikologis, maupun biologis dengan orang tuanya. Hak dan tanggung jawab yang begitu luas, membuat orang tua mempunyai kewajiban atas hidup anak-anaknya: pendidikan, perkembangan pribadi dan agama.[14]

IV.3. Tanggung Jawab Keluarga dan Gereja

Peristiwa yang dialami oleh Madona, tidak sepenuhnya terjadi karena kesalahan dari om-tantenya, tapi juga karena kesalahan dari orang tua Madona dan umat stasi setempat, terutama pastor paroki dan pimpinan umat stasi. Kesalahan dari orang tua, dalam hal ini ibu dari Madona, adalah meninggalkan begitu saja Madona yang masih kecil dan karenanya masih membutuhkan kasih sayang, tanpa memperhitungkan efek-efek negatif yang akan menimpanya. Adalah wajar bila om-tantenya akan merasa memiliki Madona, karena sejak kecil hingga usia remaja merekalah yang memelihara dan membesarkannya. Kemudian, kalau memang mau meninggalkan Madona untuk sementara waktu karena demi mencari nafkah, mengapa harus dititipkan kepada orang lain yang tidak seiman, walaupun orang itu merupakan kerabat dekat. Hal ini tentu akan berakibat fatal bagi pertumbuhan iman anak. Untunglah Madona masih meyakini kalau dia berasal dari keluarga Katolik. Jika tidak, kenyataan pahit harus dialami oleh orang tua maupun Madona sendiri karena ia berada pada tempat yang bukan tempatnya yang sebenarnya.

Sedangkan kesalahan umat setempat adalah ketidakpedulian mereka terhadap Madona, yang nota bene merupakan bagian dari mereka. Aneh bahwa tak satupun anggota umat merasa bertanggung jawab dan peduli untuk mengusahakan pembaptisan bagi Madona, padahal semua tahu kalau Madona belum dibaptis oleh karena situasi tertentu. Sebagai satu keluarga beriman, umat setempat mestinya turut bertanggungjawab bila salah satu anggota keluarganya mengalami kesusahan. Demikian fakta ini menunjukkan bahwa peristiwa yang dialami oleh Madona, turut dikondisikan juga oleh orang-orang yang sebenarnya diharapkan melindungi dan menjaganya: keluarga dan umat.

V. Usulan Praktis

Adalah baik untuk mencegah dari pada mengatasi kasus Pembaptisan yang tidak Dikehendaki yang sudah terjadi. Karena itu, usulan yang hendak kami kemukakan berikut ini lebih merupakan strategi dan sekaligus sebagai suatu refleksi bagaimana mencegah terjadinya kasus-kasus yang sama.

V.1. Keadilan dalam Kehidupan Keluarga

Salah satu hak yang paling asasi dimiliki oleh orang tua adalah hak untuk memelihara dan membesarkan anak-anak. Hak untuk memelihara dan membesarkan ini menunjuk pada soal tanggungjawab dan peran orang tua untuk mencintai, membina dan mendidik anak. Adalah adil bila orang tua bertanggungjawab membina dan mendidik anak-anaknya dari kecil sampai dewasa. Adapun pendidikan yang diberikan menyangkut pembentukan mental dan spiritual anak. Karena ini merupakan tugas utama dari orang tua, maka tanggungjawab orang tua mencakup juga upaya mendidik dan membina anak sesuai dengan keyakinan mereka.[15] Pembinaan iman anak ini bukan hanya terjadi lewat pengajaran dan kesaksian hidup melainkan juga lewat kesetiaan orang tua untuk mendampingi terus anak-anak mereka. Ini berarti bahwa posisi orang tua adalah tetap mendampingi anaknya dan sebisanya selalu memberi waktu untuk hidup bersama dengan mereka. Keadilan menjadi jelas ketika orang tua tidak mengabaikan tanggungjawabnya untuk mendampingi anak-anaknya. Bilamana orang tua kurang atau bahkan tidak pernah menyisihkan waktu untuk anak-anaknya, maka anak-anak bisa jatuh dalam krisis kehidupan, termasuk ketidakpastian dalam hal keyakinan dan iman. Orang tua yang bertanggungjawab, secara sosial akan mendapat pengakuan dan penghargaan dari lembaga-lembaga serupa yang ada disekitarnya.

V.2. Keadilan dalam Kehidupan Gereja

Keadilan di sini menunjuk pada rasa tanggungjawab dan kepedulian Gereja terhadap anggotanya. Dalam kasus Madona, sangat jelas kelihatan bahwa Gereja tidak bersikap adil. Secara sepihak  Gereja menunjukkan sikap “menunggu” dan “tutup mata” terhadap anggota keluarganya, terutama terhadap mereka yang bermasalah. Dalam kasus-kasus seperti ini tugas Gereja bukan untuk mengobati melainkan untuk mencegah dan menjaga anggotanya. Begitu pula, sebaiknya Gereja berinisiatif untuk datang memberi jalan bagi mereka yang tersesat, dan bukan sebaliknya mereka yang pertama-tama datang mencari bantuan pada Gereja. Setidaknya perhatian Gereja secara seimbang diarahkan baik kepada mereka yang tidak bermasalah maupun kepada mereka yang bermasalah. Mungkin karena Madona dipelihara oleh orang lain atau tidak ada lagi orang tua yang mau bertanggungjawab, sehingga Gereja tidak mau memperhatikannya lagi. Khususnya bagi para pemimpin umat kiranya tetap mempertahankan hak dan kewajibannya untuk membina, mendukung, memelihara serta menjaga segenap anggota umatnya dari latar belakang apa saja, bagaikan seorang bapa terhadap anak-anaknya. Bilamana perhatian semacam itu ada dalam Gereja, maka mustahil akan ada lagi Madona-Madona yang lain dalam lingkup Gereja kita.

Penutup

Sakramen Pembaptisan merupakan tanda dan sarana keselamatan. Tapi sejauh mana martabat sakramen ini menjadi jelas, ukurannya tidak hanya terbatas pada keyakinan akan keampuhannya, melainkan atas cara apa sakramen itu diberikan dan bagaimana menerapkannya. Ternyata martabat Sakramen Pembaptis menyangkut juga promosi martabat manusia. Maka praktek Sakramen Pembaptisan yang dilaksanakan secara wajar dan bermartabat akan membuat sakramen tersebut semakin bermartabat bagi manusia. Jika demikian, maka pada dirinya Sakaremen Pembaptisan sudah merupakan karya keselamatan Allah.

 

 

Daftar Pustaka

 

Bone Maria Fransisca, Kasih Ayah – Ibu Sepanjang Masa (Jakarta: Sinar Harapan, 2000).

Brugmans Darius, Satu Umat, Satu Gereja (Jakarta: Obor, 1995).

Kieser Bernhard, Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan (Yogyakarta: Kanisius, 1987).

Lerebulan A., traktat Mata Kuliah Teologi Moral Baptis, STF-Pineleng, 1998.

Paus Yohanes Paulus II, Kitab Hukum Kanonik, terj. Tim Sekretariat KWI, (Jakarta: Obor 1991).

Propinsi Gerejani Ende, Katekismus Gereja Katolik, terj. Herman Embuiru, (Ende: Arnoldus, 1995).

Sujoko A., traktat Mata Kuliah Teologi Moral Baptis, STF-Pineleng, 2001.

Suseno Magnis Frans, Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1975).

 

 

 


[1] Dieritakan kembali oleh Penulis ketika masih bertahun pastoral di Paroki Tanawangko (periode 2001-2002

[2] Angelic berasal dari Flores-NTT. Ia tidak mempunyai keluarga dekat di Manado. Bertemu dengan Rahul ketika keduanya sama-sama menjadi karyawan di salah satu perusahaan kayu di Maluku Utara.

[3] Bdk. A. Lerebulan, traktat Mata Kuliah Teologi Moral Baptis, STF-Pineleng, 1998, hlm. 2-3.

[4] Propinsi Gerejani Ende, Katekismus Gereja Katolik, terj. Herman Embuiru, (Ende: Arnoldus, 1995), hlm. 341.

[5] Darius Brugmans, Satu Umat, Satu Gereja (Jakarta: Obor, 1995), hlm. 58.

[6] Bdk. A. Lerebulan, hlm. 22.

[7] Ibid., hlm.12-19.

[8] Paus Yohanes Paulus II, Kitab Hukum Kanonik, terj. Tim Sekretariat KWI, (Jakarta: Obor 1991),hlm. 260.

[9] Rumusan Baptis Bersyarat: (Sebut nama)…jika engkau belum dibaptis dengan sah maka aku akan membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.

[10] Bdk. A. Sujoko, traktat Mata Kuliah Teologi Moral Baptis, STF-Pineleng, 2001, hlm. 47.

[11] Kanon 868 1 ayat 1: Agar bayi boleh dibaptis, haruslah: orang tuanya, sekurang-kurangnya satu dari mereka atau yang menggantikan orang tuanya secara legitim, menyetujuinya.

[12] Bdk. Frans Magnis Suseno, Etika Umum: Masalah-Masalah Pokok filsafat Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1975), hlm. 72.

[13] Bernhard Kieser, Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 145.

[14] Maria Fransisca Bone, Kasih Ayah – Ibu Sepanjang Masa (Jakarta: Sinar Harapan, 2000), hlm. 97.

[15] A. Sujoko, hlm. 47.

Satu Tanggapan to “BAPTISAN YANG TIDAK DIKEHENDAKI (Suatu Telaah Teologi Moral Baptis)”

  1. Ricardo Turnip Says:

    Sebaiknya persoalan Gereja mana yang akan membaptis tidaklah menjadi persoalan apalagi kalau sudah pernah dibaptis tak perlu didua kalikan. Biar saja dia menganut menurut dia dimana imannya akan bertumbuh ! Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: