Anselmus Sebuah Pembuktian Eksistensi Tuhan

(Oleh: Koko Istya Temorubun, SS)

Pendahuluan

Anselmus adalah seorang pemikir Kristen yang dalam refleksinya tentang Tuhan, memberikan pendasaran filosofis yang menakjukan terhadap apa yang ia percayai itu. Makalah in menyajikan pemikiran Anselmus yang tertuang dalam bukunya Proslogion. Lewat buku ini ia mencoba untuk menelusuri eksistensi Tuhan dengan mengikuti prosedur a priori. Argumennya disebut sebagai argumen ontologis.

A. Pengertian Tentang Tuhan.

Pembuktian Anselmus berdasarkan prosedur a priori ini berawal dari pemahamannya tentang Tuhan. Menurut Anselmus Tuhan adalah  “Yang TentangNya tak dapat dipikirkan kembali sesuatu yang lebih besar (Deus est id quod maius cogitari nequit; secara singkat definisi ini biasanya disingkat IQM)”[1] Definisi ini berangkat dari pemikiran Anselmus sendiri, ia menemukan bahwa dalam intelek tidak ada sesuatu yang lebih besar yang dapat dipikirkan, sesuatu itulah yang disebutnya Tuhan.

Dalam dirinya, Anselmus mengharapkan suatu pengertian tentang Tuhan, namun segala pengertian yang ia peroleh tidak dapat menggambarkan atau memberikan suatu pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Oleh karena itu, dalam pencariannya ini akhirnya ia mengerti bahwa untuk mengetahui sesuatu tentang  Tuhan, ia membutuhkan suatu penerangan ilahi. Dalam Proslogion ia mengungkapkan:

Jadikanlah aku melihat cahayaMu bahkan dari kejauhan, bahkan dari kedalaman. Ajari aku untuk menemukanMu, singkapkanlah dirimu ketika aku menemukanMu, sebab saya tidak bisa menemukan, kecuali engkau mengajarkan, kecuali engkau menyingkapkan diriMu[2].

Kesadaran akan ketidakmampuan intelek untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang Tuhan menghantar Anselmus pada sebuah argumen filosofis yang memperkuat ajaran iman Kristiani. Ia melanjutkan:

Saya tidak berusaha ya Tuhan untuk mencoba menerobos keagunganMu, kerena ketidak bijaksanaanku untuk membandingkan pengertianku dengannya: namun saya lama menjadi mengerti dalam derajat tertentu kebenaranMu, yang hatiku percaya dan cintai. Oleh karena itu saya tidak menemukan pengertian yang harrus saya percayai, tapi saya percaya untuk mengerti. Oleh karena itu saya percaya – kecuali saya tidak percaya saya seharusnya mengerti[3]

Pemahaman yang diperoleh  Aselmus ini sejalan dengan pemahaman yang diperoleh oleh Augustinus dalam teori iluminasi, bahwa utunk mencapai suatu pengertian yang benar tentang Tuhan diperlukan suatu penerangan ilahi, yang membawa intelek manusia pada pengertian yang benar tentang Tuhan.  Anselmus menyadari bahwa untuk mencapai suatu pengertian yang benar tentang Tuhan diperlukan penerangan dari yang ilahi, hal itu juga menjadi mungkin bila disertai dengan iman. Ia menanyadari bahwa iman haruslah mendahului pengetahuan (fides qurens intelectum), atau secara personal dapat katakan bahwa dengan aku percaya maka saya akan menjadi mengerti (Credo ut inteligam).

B. Pembuktian Eksistensi Tuhan.

Pencapaian pengertian Tentang Tuhan dilanjutkan dengan sebuah penegasan tentang eksistensi Tuhan. Anselmus menyadari bahwa suatu pencapaian pengertian tentang Tuhan membuktikan bahwa Tuhan itu memiliki eksistensi. Pernyataan tentang IQM haruslah disertai dengan  pernyataan bahwa Tuhan itu  ada. Sebab sesuatu akan menjadi sempurna jika ia mamiliki eksistensi.

Pencapaian pemikiran tentang Tuhan membuktikan bahwa Tuhan memiliki eksistensi, dengan memiliki ide IQM dalam pikiran, sebagai ada yang paling sempurna, menunjukan sebuah kemungkinan dari eksistensinNya. Bahwa kita bisa berpikir tentang Tuhan menunjukna bahwa Tuhan itu ada.[4]

Bagi Anselmus menyatakan bahwa sesuatu tidak memiliki eksistensi  menunjukan sebuah kontradiksi (contradictio interminis). Dalam hal ini dengan mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada menunjukan bahwa sesuatu itu telah bereksistensi dalam intelek. Oleh karena itu tidak dapat dikatakan bahwa IQM tidak memiliki eksistensi.[5] Seseorang bisa saja mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun sebenarnya dengan perkataannya ini ia telah mengakui eksistensi Tuhan dalam pikirannnya. Ia bisa saja menolaknya dengan perkataan bibirnya, namun ia tidak bisa menolak objektifitas ide tentang Tuhan.[6] Hal ini jelas  dalam gambaran Anselmus tentang si bebal yang  mengatakan didalam hatinya bahwa Tuhan itu tidak ada.

Argumen Anselmus ini mendapat penolakan dari Gaunilo, seorang rahib Benediktin. Menurutnya konsep didalam pikiran tidak secara mutlak menunjukan eksistensi objektif dari konsep tersebut.[7] Ia menunjukan dengan analogi ide tentang pulau yang sempurna, namun sebenarnya pulau tersebut tidak memiliki eksistensi mutlak.

Argumen ini ditanggapi  oleh Anselmus dengan mengatakan bahwa ide tentang Pulau dan ide tentang Tuhan adalah dua hal yang berseberangan, dalam hal ini Anselmus hendak mengatakan bahwa ide Tuhan tidaklah sama dengan ide-ide yang lain, sebab ide Tuhan adalah ide yang paling sempurna.[8] Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa ketika kita berpikir tentang IQM, atau mengatakan sesuatu tentang IQM, otomatis ide tentang IQM telah ada dalam intelek. Jelaslah bahwa Anselmus hendak menunjukan bahwa eksistensi Tuhan bukanlah eksistensi dalam ruang dan waktu.[9]

C. Pemutup

Pembuktian realitas Tuhan yang adalah IQM, oleh Anselmus menunjukan kebesaran iman dari sang santo. Ia membuktikan bahwa eksistensi Tuhan tidak bersifat ada di dunia fisik atau mental semata. Pembuktian ini menunjukan bahwa eksistensi Tuhan melebihi eksistensi di dunia mental, eksistensi Tuhan bersifat  ekstramental. Dapat disimpulkan bahawa ia hendak menunjukan bahwa tidaklah mungkin Tuhan yang adalah IQM yang melebihi segala kesempurnaan tidak memiliki eksistensi riil sebagai syarat kesempurnaan dari setiap ada. Memang dalam perkembangan selanjutnya pendapat ini tidak hanya mendapat tanggapan dari Gaunilo, tetapi memunculkan suatu perdebatan. Maksudnya bahwa dalam pemikiran para filsuf sesudahnya muncul reaksi pro dan kontra. Namun yang pasti bahwa, pembuktian Anselmus ini menunjukan suatu pembenaran iman, yang dapat diterima sebagai suatu pemikiran filosofis maupun teologis.

Daftar Pustaka

Ohoitimur,J. “Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan” Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004.

Anselm. “Proslogium” Terkutip dalam Batista Mondin. A History of Medieval Philosoph. Translated by M. A. Cizdyn. Corected and revised by L. M Cizdyn. Banglore: Theological publication, 1991.

Glenn,P. J. The History of Philosophy: A Text For Undergraduates. 2nd  printed. USA: B Werder Book Co, 1958.

Copleston, F. History of Philosophy: Medieval Philosophy from Augustine to Bonaventura. Vol II. Part I. New York: Image Book, 1962.

Mayer, F. A History of Ancient and Medieval Philosophy. USA: American Book Company, 1950.

Anselmus

Sebuah Pembuktian Eksistensi Tuhan

Anselmus adalah seorang pemikir Kristen yang dalam refleksinya tentang Tuhan, memberikan pendasaran filosofis yang menakjukan terhadap apa yang ia percayai itu. Makalah in menyajikan pemikiran Anselmus yang tertuang dalam bukunya Proslogion. Lewat buku ini ia mencoba untuk menelusuri eksistensi Tuhan dengan mengikuti prosedur a priori. Argumennya disebut sebagai argumen ontologis.

D. Pengertian Tentang Tuhan.

Pembuktian Anselmus berdasarkan prosedur a priori ini berawal dari pemahamannya tentang Tuhan. Menurut Anselmus Tuhan adalah  “Yang TentangNya tak dapat dipikirkan kembali sesuatu yang lebih besar (Deus est id quod maius cogitari nequit; secara singkat definisi ini biasanya disingkat IQM)”[10] Definisi ini berangkat dari pemikiran Anselmus sendiri, ia menemukan bahwa dalam intelek tidak ada sesuatu yang lebih besar yang dapat dipikirkan, sesuatu itulah yang disebutnya Tuhan.

Dalam dirinya, Anselmus mengharapkan suatu pengertian tentang Tuhan, namun segala pengertian yang ia peroleh tidak dapat menggambarkan atau memberikan suatu pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Oleh karena itu, dalam pencariannya ini akhirnya ia mengerti bahwa untuk mengetahui sesuatu tentang  Tuhan, ia membutuhkan suatu penerangan ilahi. Dalam Proslogion ia mengungkapkan:

Jadikanlah aku melihat cahayaMu bahkan dari kejauhan, bahkan dari kedalaman. Ajari aku untuk menemukanMu, singkapkanlah dirimu ketika aku menemukanMu, sebab saya tidak bisa menemukan, kecuali engkau mengajarkan, kecuali engkau menyingkapkan diriMu[11].

Kesadaran akan ketidakmampuan intelek untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang Tuhan menghantar Anselmus pada sebuah argumen filosofis yang memperkuat ajaran iman Kristiani. Ia melanjutkan:

Saya tidak berusaha ya Tuhan untuk mencoba menerobos keagunganMu, kerena ketidak bijaksanaanku untuk membandingkan pengertianku dengannya: namun saya lama menjadi mengerti dalam derajat tertentu kebenaranMu, yang hatiku percaya dan cintai. Oleh karena itu saya tidak menemukan pengertian yang harrus saya percayai, tapi saya percaya untuk mengerti. Oleh karena itu saya percaya – kecuali saya tidak percaya saya seharusnya mengerti[12]

Pemahaman yang diperoleh  Aselmus ini sejalan dengan pemahaman yang diperoleh oleh Augustinus dalam teori iluminasi, bahwa utunk mencapai suatu pengertian yang benar tentang Tuhan diperlukan suatu penerangan ilahi, yang membawa intelek manusia pada pengertian yang benar tentang Tuhan.  Anselmus menyadari bahwa untuk mencapai suatu pengertian yang benar tentang Tuhan diperlukan penerangan dari yang ilahi, hal itu juga menjadi mungkin bila disertai dengan iman. Ia menanyadari bahwa iman haruslah mendahului pengetahuan (fides qurens intelectum), atau secara personal dapat katakan bahwa dengan aku percaya maka saya akan menjadi mengerti (Credo ut inteligam).

E. Pembuktian Eksistensi Tuhan.

Pencapaian pengertian Tentang Tuhan dilanjutkan dengan sebuah penegasan tentang eksistensi Tuhan. Anselmus menyadari bahwa suatu pencapaian pengertian tentang Tuhan membuktikan bahwa Tuhan itu memiliki eksistensi. Pernyataan tentang IQM haruslah disertai dengan  pernyataan bahwa Tuhan itu  ada. Sebab sesuatu akan menjadi sempurna jika ia mamiliki eksistensi.

Pencapaian pemikiran tentang Tuhan membuktikan bahwa Tuhan memiliki eksistensi, dengan memiliki ide IQM dalam pikiran, sebagai ada yang paling sempurna, menunjukan sebuah kemungkinan dari eksistensinNya. Bahwa kita bisa berpikir tentang Tuhan menunjukna bahwa Tuhan itu ada.[13]

Bagi Anselmus menyatakan bahwa sesuatu tidak memiliki eksistensi  menunjukan sebuah kontradiksi (contradictio interminis). Dalam hal ini dengan mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada menunjukan bahwa sesuatu itu telah bereksistensi dalam intelek. Oleh karena itu tidak dapat dikatakan bahwa IQM tidak memiliki eksistensi.[14] Seseorang bisa saja mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun sebenarnya dengan perkataannya ini ia telah mengakui eksistensi Tuhan dalam pikirannnya. Ia bisa saja menolaknya dengan perkataan bibirnya, namun ia tidak bisa menolak objektifitas ide tentang Tuhan.[15] Hal ini jelas  dalam gambaran Anselmus tentang si bebal yang  mengatakan didalam hatinya bahwa Tuhan itu tidak ada.

Argumen Anselmus ini mendapat penolakan dari Gaunilo, seorang rahib Benediktin. Menurutnya konsep didalam pikiran tidak secara mutlak menunjukan eksistensi objektif dari konsep tersebut.[16] Ia menunjukan dengan analogi ide tentang pulau yang sempurna, namun sebenarnya pulau tersebut tidak memiliki eksistensi mutlak.

Argumen ini ditanggapi  oleh Anselmus dengan mengatakan bahwa ide tentang Pulau dan ide tentang Tuhan adalah dua hal yang berseberangan, dalam hal ini Anselmus hendak mengatakan bahwa ide Tuhan tidaklah sama dengan ide-ide yang lain, sebab ide Tuhan adalah ide yang paling sempurna.[17] Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa ketika kita berpikir tentang IQM, atau mengatakan sesuatu tentang IQM, otomatis ide tentang IQM telah ada dalam intelek. Jelaslah bahwa Anselmus hendak menunjukan bahwa eksistensi Tuhan bukanlah eksistensi dalam ruang dan waktu.[18]

  1. F. Pemutup

Pembuktian realitas Tuhan yang adalah IQM, oleh Anselmus menunjukan kebesaran iman dari sang santo. Ia membuktikan bahwa eksistensi Tuhan tidak bersifat ada di dunia fisik atau mental semata. Pembuktian ini menunjukan bahwa eksistensi Tuhan melebihi eksistensi di dunia mental, eksistensi Tuhan bersifat  ekstramental. Dapat disimpulkan bahawa ia hendak menunjukan bahwa tidaklah mungkin Tuhan yang adalah IQM yang melebihi segala kesempurnaan tidak memiliki eksistensi riil sebagai syarat kesempurnaan dari setiap ada. Memang dalam perkembangan selanjutnya pendapat ini tidak hanya mendapat tanggapan dari Gaunilo, tetapi memunculkan suatu perdebatan. Maksudnya bahwa dalam pemikiran para filsuf sesudahnya muncul reaksi pro dan kontra. Namun yang pasti bahwa, pembuktian Anselmus ini menunjukan suatu pembenaran iman, yang dapat diterima sebagai suatu pemikiran filosofis maupun teologis.

Daftar Pustaka

Ohoitimur,J. “Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan” Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004.

Anselm. “Proslogium” Terkutip dalam Batista Mondin. A History of Medieval Philosoph. Translated by M. A. Cizdyn. Corected and revised by L. M Cizdyn. Banglore: Theological publication, 1991.

Glenn,P. J. The History of Philosophy: A Text For Undergraduates. 2nd  printed. USA: B Werder Book Co, 1958.

Copleston, F. History of Philosophy: Medieval Philosophy from Augustine to Bonaventura. Vol II. Part I. New York: Image Book, 1962.

Mayer, F. A History of Ancient and Medieval Philosophy. USA: American Book Company, 1950.

Anselmus

Sebuah Pembuktian Eksistensi Tuhan

Anselmus adalah seorang pemikir Kristen yang dalam refleksinya tentang Tuhan, memberikan pendasaran filosofis yang menakjukan terhadap apa yang ia percayai itu. Makalah in menyajikan pemikiran Anselmus yang tertuang dalam bukunya Proslogion. Lewat buku ini ia mencoba untuk menelusuri eksistensi Tuhan dengan mengikuti prosedur a priori. Argumennya disebut sebagai argumen ontologis.

G. Pengertian Tentang Tuhan.

Pembuktian Anselmus berdasarkan prosedur a priori ini berawal dari pemahamannya tentang Tuhan. Menurut Anselmus Tuhan adalah  “Yang TentangNya tak dapat dipikirkan kembali sesuatu yang lebih besar (Deus est id quod maius cogitari nequit; secara singkat definisi ini biasanya disingkat IQM)”[19] Definisi ini berangkat dari pemikiran Anselmus sendiri, ia menemukan bahwa dalam intelek tidak ada sesuatu yang lebih besar yang dapat dipikirkan, sesuatu itulah yang disebutnya Tuhan.

Dalam dirinya, Anselmus mengharapkan suatu pengertian tentang Tuhan, namun segala pengertian yang ia peroleh tidak dapat menggambarkan atau memberikan suatu pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Oleh karena itu, dalam pencariannya ini akhirnya ia mengerti bahwa untuk mengetahui sesuatu tentang  Tuhan, ia membutuhkan suatu penerangan ilahi. Dalam Proslogion ia mengungkapkan:

Jadikanlah aku melihat cahayaMu bahkan dari kejauhan, bahkan dari kedalaman. Ajari aku untuk menemukanMu, singkapkanlah dirimu ketika aku menemukanMu, sebab saya tidak bisa menemukan, kecuali engkau mengajarkan, kecuali engkau menyingkapkan diriMu[20].

Kesadaran akan ketidakmampuan intelek untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang Tuhan menghantar Anselmus pada sebuah argumen filosofis yang memperkuat ajaran iman Kristiani. Ia melanjutkan:

Saya tidak berusaha ya Tuhan untuk mencoba menerobos keagunganMu, kerena ketidak bijaksanaanku untuk membandingkan pengertianku dengannya: namun saya lama menjadi mengerti dalam derajat tertentu kebenaranMu, yang hatiku percaya dan cintai. Oleh karena itu saya tidak menemukan pengertian yang harrus saya percayai, tapi saya percaya untuk mengerti. Oleh karena itu saya percaya – kecuali saya tidak percaya saya seharusnya mengerti[21]

Pemahaman yang diperoleh  Aselmus ini sejalan dengan pemahaman yang diperoleh oleh Augustinus dalam teori iluminasi, bahwa utunk mencapai suatu pengertian yang benar tentang Tuhan diperlukan suatu penerangan ilahi, yang membawa intelek manusia pada pengertian yang benar tentang Tuhan.  Anselmus menyadari bahwa untuk mencapai suatu pengertian yang benar tentang Tuhan diperlukan penerangan dari yang ilahi, hal itu juga menjadi mungkin bila disertai dengan iman. Ia menanyadari bahwa iman haruslah mendahului pengetahuan (fides qurens intelectum), atau secara personal dapat katakan bahwa dengan aku percaya maka saya akan menjadi mengerti (Credo ut inteligam).

H. Pembuktian Eksistensi Tuhan.

Pencapaian pengertian Tentang Tuhan dilanjutkan dengan sebuah penegasan tentang eksistensi Tuhan. Anselmus menyadari bahwa suatu pencapaian pengertian tentang Tuhan membuktikan bahwa Tuhan itu memiliki eksistensi. Pernyataan tentang IQM haruslah disertai dengan  pernyataan bahwa Tuhan itu  ada. Sebab sesuatu akan menjadi sempurna jika ia mamiliki eksistensi.

Pencapaian pemikiran tentang Tuhan membuktikan bahwa Tuhan memiliki eksistensi, dengan memiliki ide IQM dalam pikiran, sebagai ada yang paling sempurna, menunjukan sebuah kemungkinan dari eksistensinNya. Bahwa kita bisa berpikir tentang Tuhan menunjukna bahwa Tuhan itu ada.[22]

Bagi Anselmus menyatakan bahwa sesuatu tidak memiliki eksistensi  menunjukan sebuah kontradiksi (contradictio interminis). Dalam hal ini dengan mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada menunjukan bahwa sesuatu itu telah bereksistensi dalam intelek. Oleh karena itu tidak dapat dikatakan bahwa IQM tidak memiliki eksistensi.[23] Seseorang bisa saja mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun sebenarnya dengan perkataannya ini ia telah mengakui eksistensi Tuhan dalam pikirannnya. Ia bisa saja menolaknya dengan perkataan bibirnya, namun ia tidak bisa menolak objektifitas ide tentang Tuhan.[24] Hal ini jelas  dalam gambaran Anselmus tentang si bebal yang  mengatakan didalam hatinya bahwa Tuhan itu tidak ada.

Argumen Anselmus ini mendapat penolakan dari Gaunilo, seorang rahib Benediktin. Menurutnya konsep didalam pikiran tidak secara mutlak menunjukan eksistensi objektif dari konsep tersebut.[25] Ia menunjukan dengan analogi ide tentang pulau yang sempurna, namun sebenarnya pulau tersebut tidak memiliki eksistensi mutlak.

Argumen ini ditanggapi  oleh Anselmus dengan mengatakan bahwa ide tentang Pulau dan ide tentang Tuhan adalah dua hal yang berseberangan, dalam hal ini Anselmus hendak mengatakan bahwa ide Tuhan tidaklah sama dengan ide-ide yang lain, sebab ide Tuhan adalah ide yang paling sempurna.[26] Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa ketika kita berpikir tentang IQM, atau mengatakan sesuatu tentang IQM, otomatis ide tentang IQM telah ada dalam intelek. Jelaslah bahwa Anselmus hendak menunjukan bahwa eksistensi Tuhan bukanlah eksistensi dalam ruang dan waktu.[27]

  1. I. Pemutup

Pembuktian realitas Tuhan yang adalah IQM, oleh Anselmus menunjukan kebesaran iman dari sang santo. Ia membuktikan bahwa eksistensi Tuhan tidak bersifat ada di dunia fisik atau mental semata. Pembuktian ini menunjukan bahwa eksistensi Tuhan melebihi eksistensi di dunia mental, eksistensi Tuhan bersifat  ekstramental. Dapat disimpulkan bahawa ia hendak menunjukan bahwa tidaklah mungkin Tuhan yang adalah IQM yang melebihi segala kesempurnaan tidak memiliki eksistensi riil sebagai syarat kesempurnaan dari setiap ada. Memang dalam perkembangan selanjutnya pendapat ini tidak hanya mendapat tanggapan dari Gaunilo, tetapi memunculkan suatu perdebatan. Maksudnya bahwa dalam pemikiran para filsuf sesudahnya muncul reaksi pro dan kontra. Namun yang pasti bahwa, pembuktian Anselmus ini menunjukan suatu pembenaran iman, yang dapat diterima sebagai suatu pemikiran filosofis maupun teologis.

Daftar Pustaka

Ohoitimur,J. “Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan” Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004.

Anselm. “Proslogium” Terkutip dalam Batista Mondin. A History of Medieval Philosoph. Translated by M. A. Cizdyn. Corected and revised by L. M Cizdyn. Banglore: Theological publication, 1991.

Glenn,P. J. The History of Philosophy: A Text For Undergraduates. 2nd  printed. USA: B Werder Book Co, 1958.

Copleston, F. History of Philosophy: Medieval Philosophy from Augustine to Bonaventura. Vol II. Part I. New York: Image Book, 1962.

Mayer, F. A History of Ancient and Medieval Philosophy. USA: American Book Company, 1950.

EKSISTENSI TUHAN MENURUT ANSELMUS

I. Pendahuluan

Berbicara tentang Anselmus dan ajaran-ajarannya, terutama ajarannya tentang eksistensi Tuhan mengingatkan kita akan hidup dan kehidupnan kita sebagai umat beriman di zaman modern ini. Hal ini disebabkan karena manusia mulai semakin berpikir secara rasional dan kritis, sehingga tak dapat dipungkiri lagi orang mulai meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya sendiri (Cogito Ergo Sum).[28] Dengan bisa meragukan segala sesuatu orang kemudian mulai mempertanyakan Tuhan dan eksistensi-Nya. Usaha ini didasarkan pada pengertian dan pengetahuan serta pengalama manusia akan kenyataan-kenyataan yang terjadi di dunia dewasa ini. Misalnya saja, pembantaian umat Kristen di desa Hilla dan Hittu (Maluku Tengah).[29] Hal ini kemudian membuat orang mulai berteriak dan bertanya, Tuhan di manakah Engkau?

Fakta di atas ini dengan secara jelas mengungkapkan bahwa dewasa ini masyarakat mulai berpikir secara rasional, sehingga eksistensi Tuhan-pun mereka pertanyakan. Barkaitan dengan hal ini, maka penulis merasa perlu untuk membahas pandangan Anselmus tentang eksistensi Tuhan, guna membantu umat beriman untuk memahami tentang Tuhan dan eksistensi-Nya.

II. Eksistensi Tuhan Menurut Anselmus

Anselmus dalam usahanya untuk membuktikan eksistensi Tuhan pertama-tama sadari bahwa, yang ia lakukan ini bukanlah ia lakukan untuk mengetahui apakah Tuhan itu ada atau tidak. Akan tetapi apa yang ia lakukan ini hanyalah semata-mata untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang Tuhan yang telah ia imani, sehingga ia juga bisa memahami tentang manusia dan dunia.[30] Oleh karena itulah Anselmus mengatakan demikian,

“Oh Tuhan, saya tidak berusaha menembusi kedalaman misteri-Mu, karena saya tahu keterbatasan akal budiku; tetapi saya ingin mengerti dalam tentang Engkau seperti yang diimani dan dicintai oleh hatiku.”[31]

Kata-kata yang diucapkan oleh Anselmus ini dengan sangat jelas telah menunjukan bahwa ia sudah memiliki iman kepercayaan akan Tuhan dan usahanya untuk mencari eksistensi Tuhan ia lakukan hanya untuk menambah iman kepercayaannya akan Tuhan. Hal ini terbukti dengan ucapanya iman mendahului pengertian atau dalam istilah Latin disebut Credo Ut Inteligam.[32]

Hal pertama yang Anselmus lakukan dalam membuktikan eksistensi Tuhan ialah dengan mengemukakan argumen derajat kesempurnaan yang ia temukan dalam pelbagai mahkluk. Oleh karena itulah Anselmus kemudian menggunakan kata kebaikan sebagai argumen yang pertama untuk membuat perbandingan, setelah itu ia mengemukakan argumen derajat yang sebenarnya ingin mengungkapkan bahwa, ada derajat tertentu yang menjadi standar dari seluruh kesempurnaan yang tampak dalam realitas itu dan hal itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. Anselmus mengambil contoh tentang bagaimana segala sesuatu berpartisipasi dalam suatu kebaikan yang absolut.[33] Berdasarkan hal ini, maka kita bisa melihat bahwa arguumen yang digunakan oleh Anselmus dalam usaha untuk membuktikan eksistensi Tuhan adalah argumen Kebaikan. Hal ini disebabkan karena, bagi Anselmus kebaikan itu bersifat obyektif dan merupakan kebaikan tertinggi yang merujuk pada realitas Tuhan sebagai yang Mahabaik. Setelah argumen yang pertama, Anselmus kemudian menggunakan argumen Derajat sebagai argumen-nya yang kedua untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Hal ini disebabkan karena, bagi Anselmus argumen ini mau menunjukan adanya suatu hirarki yang jelas antara mahkluk hidup yang lain dengan Tuhan sebagai yang utama.[34] Setelah dua argumen ini Anselmus masih meras belum cukup, oleh karena itulah ia kemudian mengemukakan argumen-nya yang ketiga yaitu, argumen Eksistensi. Dalam argumennya ini Anselmus mengatakan bahwa, “Segala sesuatu yang ada, ada melalui sesuatu.”[35] Ini karena bagi Anselmus yang tidak ada itu tidaklah dapat bereksitensi. Sebab yang dapat bereksistensi hanyalah yang ada. Oleh karena itulah yang ada itu ada dan melampaui segala sesuatu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tuhan itu ada dan keberadaanNya tidak dapat diragukan. Hal ini disebabkan karena jika kita meragukan eksistensi Tuhan, kita juga meragukan eksistensi kita sendiri yang adalah ciptaan Tuhan. Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa, kita ada melampaui segala sesuatu, kecuali Tuhan yang adalah realitas dari eksistensi yang sebenarnya.

III. Komentar Penulis: Aplikasi Ajaran Anselmus Dalam Kehidupan Umat Beriman

Sebagaimana yang telah penulis paparkan pada bagian pendahuluan bahwa, manusia sudah mulai berpikir secara rasional tentang segala hal bahkan sampai apa yang ia imani, sahingga ia kemudian bisa saja percaya dan tidak akan apa yang ia imani tesebut.

Berkaitan dengan hal ini penulis dapat mengatakan bahwa, memang usaha kita untuk membuktikan eksistensi Tuhan adalah wajar, sebab usaha kita tersebut akan mencerminkan suatu proses yang sedang berlangsung dalam hati kita disaat kita berpikir tentang Tuhan dan eksistensi-Nya. Akan tetapi, apa yang kita lakukan untuk membuktikan eksistensi Tuhan sebenarnya telah menyimpang dari apa yang sebenarnya harus kita lakukan. Hal ini disebabkan karena, dalam usaha untuk membuktikan eksistensi Tuhan kita selalu menggunakan rasio kita tanpa diimbangi dengan iman. Memang rasio itu perlu akan tetapi rasio tanpa iman adalah sia-sia. Hal ini berbeda jauh dengan usaha Anselmus untuk membuktikan eksistensi Tuhan, di mana Anselmus pertama-tama percaya dan mengerti akan Tuhan yang ia imani tersebut, sehingga dalam usahanya untuk membuktikan eksistensi Tuhan ia bisa memahami dengan lebih jelas akan apa yang ia imani dan meskipun ia tidak dapat membuktikan eksistensi Tuhan ia tetap percaya akan Tuhan.

Daftar Pustaka

Allen, R.E. dan Eugine R. Fairweather. “Anselm, St.” Dalam The Encyclopedia of Philosophy. Edited by Paul Edwards. New York: The New Macmillan Company and The Free Press, 1996.

Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Cetakan Ke-10. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Copleston, Frederick. A History of Mediaeval Philosophy: From Augustine to Bonaventure. Volume II. Part I. New York: Image Books, A Division of Doubleday and Company, 1962.

Mayer,Frederick. A History of Ancient an Mediaeval Philosohy. New York: American Book Company, 1950.


[1] J. Ohoitimur, “Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan” (Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004), hlm, 126.

[2] “Be it  mine to look up thy light even from a far, even fro the depths. Teach me to seek thee, and reveal thy self to me, when I seek thee, except thou teach me, nor find thee, except thou reveal thy self.” Anselm, “Proslogium,” terkutip dalam Batista Mondin, A History of Medieval Philosophy, translated by M. A. Cizdyn, corected and revised by L. M Cizdyn ( Banglore: Theological publication, 1991.), hlm.384.

[3] “….I do not endeavor, O Lord, to penetrate thy sublimity, for in no wise do I compare my understanding with that; but I long to understand in some degree thy truth, which my heart believes and loves, but I believe to understand. For this also I believe – that unless I believe, I should understand.” Ibid., hlm. 384-385.

[4] P. J. Glenn, The History of Philosophy: A Text For Undergraduates, 2nd  printed (USA: B Werder Book Co, 1958), hlm.195.

[5] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 383.

[6] F. Copleston, History of Philosophy: Medieval Philosophy from Augustine to Bonaventura, vol II, part I, (New York: Image Book, 1962), hlm 183.

[7] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 383.

[8] F. Mayer, A History of Ancient  and Medieval Philosophy (USA: American Book Company, 1950), hlm. 249.

[9] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 387.

[10] J. Ohoitimur, “Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan” (Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004), hlm, 126.

[11] “Be it  mine to look up thy light even from a far, even fro the depths. Teach me to seek thee, and reveal thy self to me, when I seek thee, except thou teach me, nor find thee, except thou reveal thy self.” Anselm, “Proslogium,” terkutip dalam Batista Mondin, A History of Medieval Philosophy, translated by M. A. Cizdyn, corected and revised by L. M Cizdyn ( Banglore: Theological publication, 1991.), hlm.384.

[12] “….I do not endeavor, O Lord, to penetrate thy sublimity, for in no wise do I compare my understanding with that; but I long to understand in some degree thy truth, which my heart believes and loves, but I believe to understand. For this also I believe – that unless I believe, I should understand.” Ibid., hlm. 384-385.

[13] P. J. Glenn, The History of Philosophy: A Text For Undergraduates, 2nd  printed (USA: B Werder Book Co, 1958), hlm.195.

[14] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 383.

[15] F. Copleston, History of Philosophy: Medieval Philosophy from Augustine to Bonaventura, vol II, part I, (New York: Image Book, 1962), hlm 183.

[16] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 383.

[17] F. Mayer, A History of Ancient  and Medieval Philosophy (USA: American Book Company, 1950), hlm. 249.

[18] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 387.

[19] J. Ohoitimur, “Pokok-pokok Sejarah Filsafat: Masa Yunanai Kuno dan Abad Pertengahan” (Traktat Kuliah STF-SP, 2003/2004), hlm, 126.

[20] “Be it  mine to look up thy light even from a far, even fro the depths. Teach me to seek thee, and reveal thy self to me, when I seek thee, except thou teach me, nor find thee, except thou reveal thy self.” Anselm, “Proslogium,” terkutip dalam Batista Mondin, A History of Medieval Philosophy, translated by M. A. Cizdyn, corected and revised by L. M Cizdyn ( Banglore: Theological publication, 1991.), hlm.384.

[21] “….I do not endeavor, O Lord, to penetrate thy sublimity, for in no wise do I compare my understanding with that; but I long to understand in some degree thy truth, which my heart believes and loves, but I believe to understand. For this also I believe – that unless I believe, I should understand.” Ibid., hlm. 384-385.

[22] P. J. Glenn, The History of Philosophy: A Text For Undergraduates, 2nd  printed (USA: B Werder Book Co, 1958), hlm.195.

[23] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 383.

[24] F. Copleston, History of Philosophy: Medieval Philosophy from Augustine to Bonaventura, vol II, part I, (New York: Image Book, 1962), hlm 183.

[25] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 383.

[26] F. Mayer, A History of Ancient  and Medieval Philosophy (USA: American Book Company, 1950), hlm. 249.

[27] Batista Mondin, A History of Medieval Philosoph, hlm. 387.

[28]Kalimat ini dipopulerkan oleh Rene Descartes dan penulis meminjam kata-kata Descartes ini untuk melukiskan kenyataan yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini. K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, cetakan ke-10 (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 43.

[29]Ini merupakan fakta yang terjadi di Maluku Tengah pada kerusuhan pertama tanggal 19 January 1998. Di mana hampir semua masyarakat Kristen yang ada di kedua desa tersebut dibantai secara tragis.

[30]Bdk. K. Bertens, Rinkasan Sejarah Filsafat. hlm. 25.

[31]J. Ohoitimur, “Pokok-Pokok Sejarah Filsafat Masa Yunani Kuno dan Abad Pertengahan” (Catatan Kuliah Untuk Mahasiswa Semester IV Jurusan Filsafat Agama dan Filsafat Kateketik, Pineleng, January 2004), hlm. 122.

[32]Bdk. Frederick Mayer, A History of Ancient and Mediaeval Philosohy (New York: American Book Company, 1950), hlm. 382.

[33]“…, I develops the prove of existence from the degrees of perfection which are found ini creatures. In the first he applies the argumen to goodness and greatness mening, as he tells us, not quantitative greatness, but qualitative size does not prove qualitative superiority. Such qualities are found in varying degress in the objects of experience, so the agrumen proceeds from the empirical observation of degress of. For example, goodness and is therefore an  posteriori argumen.” Bdk. Frederick Copleston, A History of Mediaeval Philosophy: From Augustine to Bonaventure, Vol. II, Part I (New York: Image Books, A Division of Doubleday and Company, 1962), hlm. 180.

[34]Bdk. J. Ohoitimur, “Pokok-Pokok Sejarah Filsafat Masa Yunani Kuno dan Abad Pertengahan.” Hlm. 125.

[35]“Everytyhing that exists, exists through something.” R.E. Allen and Eugene R. Fairweather, “Anselm, St.” dalam The Encyclopedia of Philosophy, edited by Paul Edwards (New York: The New Macmillan Company and The Free Press, 1996)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: