TEORI PENGETAHUAN MENURUT THOMAS AQUINAS

(Oleh: Koko Istya Temorubun, SS)

I. Pendahuluan

Penggunaan filsafat dengan pemikiran kritis yang sangat menekankan rasio manusia itu sungguh tidak mendapatkan tempat dalam abad pertengahan. Sebab bagi bapak-bapak Gereja dunia iman – teologi tidak bisa dimasuki oleh akal budi manusia apalagi dengan penggunaan intelek rasio manusia dalam berfilsafat. Sehingga dunia filsafat tidak mendapatkan tempat. Tetapi bagi Thomas Aquinas rasio atau akal budi dapat membantu manusia untuk menjelaskan ajaran teologi atau iman kepada umat agar umat dapat mengerti tentang wahyu  Tuhan itu sendiri. Dan disinilah penggunaan akal budi itu penting dan menjadi bagian dari dunia teologi/iman. Dan dunia teologi/iman dapat menghantar manusia kepada pengenalan akan sumber kebenaran dan pengetahuan yaitu Allah, melalui pengetahuan yang diperoleh melalui proses kerja akal atau campur tangan manusia dalam menerima tawaran keselamatan yang dari wahyu itu sendiri. Bagaimana Thomas Aquinas dapat memberikan ruang gerak bagi akal dan iman itu sendiri. Dua jalur iman dan reasons ini dapat kita temukan pada penjelasannya  lewat teori pengetahuannya.

II. Teori Pengetahuan Aquinas

Tentang  pengetahuan, Aquinas berpadangan bahwa rasio manusia diyakini dapat memandang pengetahuan tentang obyek-obyek. Terhadap obyek-obyek itu, rasio atau akal budi manusia mendapatkan pengetahuan lewaat hasil tangkapan panca indera, sejauh panca indera dapat melihat dan mengetahuinya. Artinya daya tangkap panca indera terhadap obyek-obyek itu akan menghasilkan sumber pengetahuan. Sebaliknya yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera atau yang tidak dapat diketahui oleh panca indera, dikatakan hal itu disebabkan oleh karena keterbatasan akal budi itu sendiri. Dengan kata lain semua obyek yang tidak dapat diindera tidak akan diketahui secara pasti oleh akal budi.

Menurut Thomas, ada dua cara atau jalan untuk dapat memperoleh pengetahuan. Dua jalan itu adalah; yang pertama reasons (pikir) manusia yang berpuncak pada Allah; dan jalan yang kedua, yaitu iman, yang merupakan penerimaan dari pewahyuan Allah.[1] Dalam arti ini dapat kita katakan bahwa kebenaran ajaran Tuhan harus diterima dengan iman. Dengan iman pengetahuan tentang kebenaran dan sumber pengetahuan memiliki eksistensinya dari sumber kebenaran itu sendiri,  yaitu sejauh ide-ide Tuhan itu memasuki pikiran manusia dengan penerangan ilahi. Yang oleh Thomas Aquinas adalah milik Tuhan.[2] Dikatakan bahwa pengenalan pengetahuan  terhadap dunia material atau dunia obyek-obyek itu sendiri merupakan suatu aspek dari pengetahuan dan pengenalan yang diperoleh atau merupakan hasil daya tangkap akal budi, yang melaluinya sumber pengetahuan itu di dapat. Artinya bahwa pikiran manusia dapat memperoleh pengetahuan lewat pengenalannya dengan obyek-obyek dan fenomen-fenomen yang nampak nyata dalam realitas yang dihadapi atau yang ditemuinya. Sebab dengan sendirinya pikiran dapat mengetahui obyek-obyek atau fenomen-fenomen tersebut melalui obyek-obyek yang sedang bertumbuh dan yang sementara berjalan atau bergerak. Artinya semua hal yang umum itu nampak dan dapat dilihat oleh panca indera melalui fakta-fakta konkrit, yang sungguh-sungguh riil dan nampak dalam hal-hal yang khusus.

Kebenaran iman yang merupakan kebenaran ajaran Tuhan harus diterima dengan iman. Hanya iman yang dapat menerima eksistensi Allah sebagai sumber kebenaran dan sumber puncak pengetahuan itu sendiri. Sebab oleh iman manusia meyakini dan menerima hakekat Allah. Dalam arti yang sama dapat dikatakan bahwa sesuatu yang tidak dapat diteliti dengan akal adalah obyek iman. Sebab pengetahuan yang diterima atas landasan iman tidaklah lebih rendah daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal. Setidaknya, kebenaran yang diperoleh dengan akal tidak akan bertentangan dengan ajaran wahyu. [3]

Menurut Aquinas bahwa kita seharusnya menyeimbangkan akal dan iman; baginya akal membantu membangun dasar-dasar filsafat Kristen. Akan tetapi, harus selalu disadari bahwa hal itu tidak selalu dapat dilakukan karena akal terbatas. Akal tidak dapat memberikan penjelasan tentang kehidupan kembali (resurrection). Sebab keterbatasan akal tidak dapat mampu menemukan sumber pengetahuan itu. Sebab akal itu sendiri tidak akan mampu membuktikan kenyataan esensial tentang keimanan Kristen. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa dogma-dogma Kristen itu tepat sebagaimana yang disebutkan dalam firman-firman Tuhan.

Berdasarkan uraian itu kita dapat mengetahui adanya dua jalan/jalur pengetahuan dalam filsafat Aquinas. Jalur itu adalah jalur akal yang dimulai dari manusia dan berakhir pada Tuhan, dan yang kedua jalur iman yang dimulai dari Tuhan (wahyu), yang didukukung oleh akal.[4] Dengan demikian dalam filsafat Aquinas, filsafat dapat dibedakan dari agama dengan melihat penggunaan akal. Artinya filsafat ditentukan oleh penjelasan sistematis akal, sedangkan agama ditentukan oleh iman. Sekalipun demikian, perbedaan itu tidak begitu jelas karena pengetahuan sebenarnya adalah gabungan dari kedua-duanya.

III. Penutup

Aquinas mampu membagi dan menjelaskan wilayah teologi – iman dengan wilayah filsafatnya, teristimewa kedudukan rasio/ akal budi pikiran manusia dalam menjelaskan kebenaran wahyu Allah. Bahwa akal dapat memasuki wilayah iman dengan mendapatkan penerangan ilahi Tuhan sehingga dapat menjelaskan dunia teologi secara obyektif tentang kebenaran Tuhan dalam Kitab Suci, tanpa harus menghilangkan kebenaran wahyu Tuhan itu. Dengan kata lain dunia akal  dapat menjelaskan  dogma-dogma dan ajaran Kitab suci dengan peggunaan daya terang ilahi untuk membuktikan eksistensi Tuhan itu sendiri. Sehingga Tuhan pada dirinya merupakan sumber kebenaran dan sumber pengetahuan itu sendiri. Sementara pada iman itu sendiri, dunia akal  tidak dapat memasukinya. Oleh karena keterbatasan akal budi manusia; sehingga dunia iman tinggal sebagai suatu dunia yang esensinya tidak dapat di masuki oleh kebenaran lain, selain Tuhan sendiri yang merupakan sumber kebenaran dan sumber pengetahuan itu sendiri, di mana pikiran manusia terbatas yang tidak dapat melampaui pikiran atau dunia wahyu Allah atau pikiran Allah itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Mayer, Frederick. A history of Medieval & Ancient Philosophy. New York: Ameican Book Company, 1950

Mortimer J. Adler, “Faith”. Encyclopaedia Britannica. Edited by Laurence Shapcote, Vol. II. Chicago: Encyclopaedia Britannica, 1990.


[1] Frederick Mayer,  A History of Ancient & Medieval Philosophy (New York: American Book Company, 1950), hlm. 461.

[2] Thomas Aquinas, The Summa Theological, II,  I, 1,  terkutip dalam Mortimer J. Adler, “Faith”, Encyclopaedia Britannica, edited by Laurence Shapcote, Vol. II, (Chicago: Encyclopaedia Britannica, 1990), hlm. 380.

[3] Ibid.

[4] In a sense we have a two – way passage in Aquinas. On the one hand we have reasons, which stars with man and ultimately reaches God. On the other hand we have faith, which starts with the revelations of God and is supported by man’s rational capacities. [4] Frederick Mayer, A History of Ancient & Medieval Philosophy, hlm. 461.

Satu Tanggapan to “TEORI PENGETAHUAN MENURUT THOMAS AQUINAS”

  1. Thanks so much udah posting…
    Salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: