KRITIK ATAS TEORI FALSIFIKASI POPPER

(Oleh: Koko Istya Temorubun, SS)

Pendahuluan

Saat ini kita bisa melihat bagaimana dominasi Ilmu Pengetahuan dalam kehidupan manusia setiap hari. Dominasi Ilmu pengetahuan nampak melalui para ilmuan sendiri yang memproklamirkan keisitimewaan pengetahuan yang mereka miliki, juga isi dan metode yang mereka gunakan. Karena para ilmuan yakin bahwa kontribusi ilmu pengetahuan sangat bergantung pada metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri. Banyak metode yang sudah diperkenalkan oleh para ahli, untuk meligitimasi hasil penelitian ilmiah, dan membantu manusia untuk mengatahui apakah suatu pernyataan ilmiah itu benar atau salah. Namun, dalam tulisan ini kami hanya akan menguraikan metode Falsifikasi dari Popper, karena ia mengkritik dan mempertanyakan metode induksi yang sudah mapan bahkan ia menolak metode induksi dan mengagggapnya sebagai metode yang tidak sah secara logis. Popper kemudian memperkenalkan metode falsifikasi. Nah, dalam tulisan ini kami akan menguraikan teori falsifikasi dan memberikan kritik atas teori tersebut.

Karl Popper: teori Falsifiksi

Para pendukung teori falsifikasi menolak induktivisme karena menurut pendukung teori Falsifikasi setiap penelitian ilmiah dituntun oleh teori tertentu yang mendahuluinya. Sebagaimana dikatakan oleh Karl Popper,”Perkembangan suatu ilmu pengetahuan dimulai dengan hipotesa dari proposal imajinasi, sesuatu yang berasal dari sebuah pengertian individu dan tak dapat diprediksi…” Karena itu, teori ilmiah yang diperoleh melalui observasi ditolak oleh mereka. Teori sebenarnya merupakan hasil rekaya intelek manusia untuk mengatasi setiap problem dalam kehidupan mereka. Teori-teori ini nanti diuji dengan eksperimen-eksperimen atau observasi, bila ada teori yang tidak bertahan akan dinyatakan gagal dan harus diganti oleh teori spekulatif lainnya. Menurut Popper kemajuan ilmu tidaklah berkaitan dengan kenyataan bahwa dalam perjalanan waktu terkumpul pengalaman-pengalaman pengamatan yang bertambah-tambah.. Juga bukan karena kenyataan bahwa kita memanfaatkan indera kita dengan baik. Dari pengalaman-pengalaman indera yang belum dijamah interpretasi kita tidak memperoleh ilmu pengetahuan, tak peduli betapun rajin kita mengumpulkan dan memilah-milahkannya. Justru ide-ide yang berani, antisipasi-antisipasi yang belum dibenarkan, dan gagasan-gagasan spekulatif- hanya itulah sarana kita untuk menafsirkan alam: hanya itulah instrumen-instrumen kita untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Popper, bahkan tes yang cermat atas ide-ide kita dengan pengalaman pada gilirannya juga diilhami oleh ide-ide. Eksperimen, kata Popper, adalah perbuatan terencana di mana setiap langkah dibimbing oleh teori. Kita harus aktif; kita harus membuat pengalaman kita. Kitalah yang merumuskan pertanyaan untuk diajukan kepada alam. Akhirnya kita pulalah yang memberikan jawaban Menurut teori falsifakasi, ilmu pengetahuan tidak lain dari rangkaian hipotesis-hipotesis yang dikemukakan secara tentatif untuk menjelaskan tingkah laku manusia atau kenyataan dalam alam semesta. Hipotesis itu layak disebut teori atau hukum ilmiah jika memenuhi syarat fundamental berikut: hipotesis itu harus terbuka terhadap kemungkinan falsifikasi. Artinya, ciri khas pengetahuan ilmiah ialah dapat dibuktikan salah. Dengan cara itulah hukum-hukum ilmiah dapat dibangun dan berkembang maju. Bila suatu hipotesis telah dibuktikan salah, maka hipotesis itu ditinggalkan dan diganti oleh hipotesis baru. Kemungkinan lain adalah bahwa hanya salah satu unsur hipotesis yang dibuktikan salah, sedangkan inti hipotesis dapat dipertahankan, maka unsur tadi ditinggalkan dan diganti dengan unsur baru. Dengan demikian, hipotesis tersebut disempurnakan, walaupun tetap terbuka untuk dibuktikan salah. Popper beranggapan bahwa suatu teori baru akan diterima kalau sudah ternyata bahwa ia dapat meruntuhkan teori lama yang ada sebelumnya. Pengujian kedua kekuatan teori itu akan dilakukan melalui suatu tes empiris, yaitu tes yang direncanakan untuk membuktikan salah apa yang diujinya (memfalsifisikasi). Kalau dalam tes tersebut sebuah teori terbukti salah, maka teori tersebut akan dianggap batal, sedangkan teori yang bertahan dan lolos dalam tes tersebut akan diterima sampai ditemukannya cara pengujian yang lebih ketat. Sebaliknya, menurut Popper hipotesa, hukum dan teori falsifikasi yang kalah dalam proses falsifikasi akan ditinggalkan. Dengan demikian kita dapat menyaksikan bahwa tidak ada suatu ungkapan, hipotesa, hukum maupun teori ilmiah yang defenitif. Bagi Popper segala pengetahuan bersifat sementara, maka terbuka untuk dikatakan salah. Karena itu, menurut Popper kita harus meninggalkan usaha untuk mencari kepastian mutlak dalam pengetahuan manusia. Pengetahuan kita selamanya bersifat konjektural, tentatif, dan selalu harus diuji. Ini mempunyai implikasi metodologis, yakni bahwa suatu teori harus dirumuskan sejelas mungkin sehingga terbuka terhadap penyangkalan. Jadi, ilmu pengetahuan dalam pandangan Popper, merupakan suatu sistem yang terbuka dinamis, dan tak pernah final.

Kritik

Para pendukung teori falsifikasi menolak pandangan induktivisme bahwa ilmu pengetahuan selalu berangkat dari observasi-observasi, karena menurut pendukung teori falsifikasi setiap penelitian ilmiah dituntun oleh teori tertentu yang mendahuluinya. Teori ini kemudian diuji dengan eksperimen-eksperimen atau observasi, bila ada teori yang tidak bertahan akan dinyatakan gagal dan harus diganti oleh teori spekulatif lainnya. Namun, apa yang dikritik oleh pendukung teori falsifikasi ini sekaligus menjadi kelemahan mereka. Pertama, karena pernyataan-pernyataan observasi sangat tergantung pada teori dan dapat salah. Dan sering terjadi justru pernyataan-pernyataan observasi yang salah. Karena itu, tidak benar bahwa pernyataan observasi selau benar sedangkan hipotesis atau teori mengandung kemungkinan salah. Bisa jadi bahwa teori yang difalsifikasi bertahan sedangkan pernyataan observasi itu yang salah dan disingkirkan. Kedua, menurut pendukung teori falsifikasi, hipotesis yang tidak bertahan terhadap pernyataan-pernyataan eksperimen dan observasi harus mundur karena tidak lagi penting. Akan tetapi pandangan ini tidak sesuai dengan kenyataan historis, karena ada hipotesis yang dikemukakan dan tidak konsisten sesuai dengan pernyataan observasi, tetapi tidak pernah ditolak. Kuhn juga mengkritik Popper yang berpendapat bahwa aktivitas-aktivitas ilmiah berpusat pada falsifikasi atau menguji teori; kemudian, dengan berpegang pada pernyataan-pernyataan observasi seorang ilmuwan bertugas menguji semua teori atau hipotesis. Kuhn mengkritik karena menurutnya, para ilmuwan yang berkecimpung dalam “normal science” bukan lagi penguji teori tetapi pemecah masalah dan kesulitan hidup. Dalam kemapaman paradigma itu tidak ada lagi pertentangan antara paradigma. Karena paradigma yang telah diterima dipakai sebagai landasan dan pedoman untuk praksis kehidupan. Dengan demikian Kuhn memberikan suatu sumbangan yang besar kepada manusia, bahwa ilmu pengetahuan dan aktivitas-aktivitas ilmiah tidak mempunyai tujuan dalam dirinya sediri, melainkan bertugas melayani manusia. Selain itu Kuhn juga mengkritik Popper yang dianggapnya telah memutarbalikkan kenyataan dengan menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesis disusul upaya falsifikasi. Melawan Popper, Kuhn mendasarkan pada sejarah ilmu, ia berpendapat bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang berarti tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah suatu teori/sistem melainkan berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah . Yang dimaksud dengan revolusi ilmiah,”Segala perkembangan nonkumulatif di mana paradigma yang telebih dahulu ada diganti dengan tak terdamaikan lagi, keseluruhan ataupun sebagian, dengan yang baru.” Bachelard juga turut memberikan kritik baik kepada Popper: bahwa tidak ada suatu norma umum dan transhistoris untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan, kebenaran pengetahuan ilmiah tidak berasal dari suatu pendasaran logis atau filosofis, tetapi bergantung pada duduknya persoalan suatu ilmu pada saat tertentu dalam perkembangan historisnya. Karena itu, usaha untuk menarik garis pemisah antara ucapan-ucapan ilmiah dan non-ilmiah oleh kelompok Wina dan Karl Popper tidak relevan menurut Bachelard.

4 Tanggapan to “KRITIK ATAS TEORI FALSIFIKASI POPPER”

  1. ali butho Says:

    saya melihat blog ini akhirnya menundukkan diri sebagai murid yang tidak harus diakui oleh saudara

  2. leonardoansis Says:

    maksh banyak. itu berarti kita harus menjadi murid yang harus berpikir keras tentang dirinya .

  3. Maaf bung, tapi falsifikasi mengisyaratkan pencarian dan pengujian tidak henti-hentinya pada sebuah teori yg hendak diuji. Dan jika ditemukan satu saja fakta yg tidak bersesuaian maka bru trjadi falsifikasi. Harus ada falsifikasi yg sifatnya berkelanjutan. Thomas Khun memberikan damakrasi yg jelas antara sains normal dg sains revolusiuner, dan tetap tidak bertolak belakang dg falsifikasi. Krna dalam falsifikasi kita berusaha menumbangkan sebuah teori dg hx satu fakta saja sekalipun, tp jika gagal maka teori tersebut mengalami penguatan dan tentu hrus siap dg proses falsifikasi selanjutnya. Tentu jika terfalsifikasi maka lahirlah yg namanya sains revolusioner. Jadi teori popper adalah pondasi teori kuhn secara umum.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: