YERUSALEM BARU DALAM KITAB WAHYU

YERUSALEM BARU DALAM KITAB WAHYU

PAUL KALKOY

Pendahuluan

Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru.[1] Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi.[2] Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebenarnya dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.[3] Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial (berbahaya).[4] Salah satu tema yang menarik didiskusikan selain “ Kota Babel” [Why. 14-18] adalah tema tentang “Yerusalem baru [Why. 21: 2-22: 5]”. Kota Yerusalem Baru ini merupakan sebuah tema yang menarik bukan pertama-tama karena ditempatkan sebagai salah satu kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu dan juga bukan karena sebagai kota terakhir yang disebutkan dalam bab-bab terakhir Kitab Wahyu; [Why. 21:2-22:5] tetapi bahwa kota ini dipersaksikan sebagai “kota kudus, yang turun dari surga, dan penuh dengan kemuliaan Allah.”[5]

“Yerusalem Baru” [Why. 21:2-22:5] merupakan salah satu nama kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu selain: Efesus [2: 1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13], Laodokia [3:14-22], Mesir [11:8], Sodom [11:8].[6] Berbeda dengan Babel yang dalam Kitab Wahyu disebut sebagai kota yang “dihakimi” [17:1-18] dan “dirubuhkan” [18: 1-20; 19:1-5], “Yerusalem” dalam Kitab Wahyu memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota-kota lain tersebut di mana Yerusalem disebut sebagai “kota yang kudus”, “Yerusalem yang baru”, “”turun dari surga, “dari Allah“, “yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” [21:2].[7]

Studi terhadap “Yerusalem baru” dalam Kitab Wahyu akan melalui tahapan-tahapan berikut ini: 1] pembatasan [atau delimitasi] teks, 2]  Kritik teks, 3] Konteks Teks, 4] Struktur atau Devisi Teks, 5] Analisa filologis, 6] penemuan pesan teologis. Dalam arti itu, studi ini meliputi dua pendekatan sekaligus yakni: pendekatan diakronis dan pendekatan sinkronis. Pendekatan diakronis menunjuk pada pendekatan yang berusaha untuk menjelaskan teks dengan membuat penelusuran terhadap asal-usul dan perkembangan teks hingga pada bentuk terakhirnya. Pendekatan ini mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1] Kritik Teks; yakni usaha untuk menentukan teks alkitab sedekat mungkin dengan aslinya dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu. 2] Kritik Literer; merupakan usaha untuk menemukan jenis sastra, lingkungan sosial dan mengangkat sifat-sifat khasnya serta sejarah perkembangannya. 3] Kritik Tradisi; merupakan usaha untuk menempatkan teks dalam arus tradisi dan berusaha menggambarkan perkembangan tradisi ini dalam perjalanan zaman; 4] Kritik redaksi; merupakan usaha untuk mengkhaji perubahan-perubahan yang dialami oleh teks sebelum terbakukanb dalam bentuk finalnya; mengidentifikasi sejauh mungkin kecenderungan yang secara khusus merupakan ciri dan proses terakhir ini.[8] Pendekatan Sinkronis menunjuk pada pendekatan yang berusaha menjelaskan teks sebagaimana adanya sekarang berdasarkan hubungan timbal-balik pelbagai unsurnya dan dengan memperhatikan ciri khasnya sebagai pesan yang hendak dikomunikasikan oleh pengarang kepada orang-orang sezamannya. Dalam arti itu, diharuskan untuk memperhatikan pelbagai tuntutan teks dari sudut pandang tindakan dan kehidupan (function pragmatique).[9]

1. Delimitasi Teks

Penyebutan “Yerusalem yang baru” dalam Kitab Wahyu secara eksplisit dan pertama kalinya terdapat dalam Why. 21:2. “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, …” dan terakhir disebutkan dalam Why. 22:19:”….Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari dalam kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus…..[10]

Secara implisit, pembahasan tentang “Yerusalem yang baru” dalam Kitab Wahyu lebih luas dari batasan ekplisit tersebut [ 21: 2-22:19] di atas karena penyebutan “Yerusalem Baru” menunjuk pada satu pokok yang terkait secara berkesinambungan dengan perikop yang telah dibahas sebelumnya [21:1] atau suatu pokok yang diteruskan sesudahnya [22: 20-21].[11] Meskipun demikian, “batasan ekplisit” ini berguna untuk membantu kita menemukan “batasan implisit yang merupakan batasan sebenarnya dari teks tentang “Yerusalem Baru” ini. Akan dibuat pembatasan teks [delimitasi teks] tentang Yerusalem Baru dengan melihat struktur Kitab Wahyu dan “batasan ekplisit” tersebut akan dipakai sebagai sarana bantu untuk meletakkan teks atau perikop tentang Yerusalem baru dalam struktur Kitab Wahyu.

Akan dipilih dan digunakan contoh struktur yang digunakan atau dibuat oleh I. Suharyo dalam bukunya Kitab Wahyu; Paham dan Maknanya bagi Hidup Kristen, [Lembaga Biblika Indonesia, [(Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 31] dan LBI, Kitab Wahyu, Tafsir Perjanjian Baru 10, [(Jakarta: Yayasan Kanisius, 1983), hlm. 21]. Dalam Kitab Suci, perikop tentang “Yerusalem Baru” dibatasi hanya dalam Why. 22:9-22:5.[12] Dalam kedua buku tafsir yang dipilih di atas, perikop “Yerusalem baru” [21:9-22:5] ditempatkan dalam satu kesatuan pokok yang sama yakni: “Kesudahan-Kota Suci Yerusalem” [21:1-22:5].[13] Strukturnya sebagai berikut:

Bagian

Isi

Bab-Ayat

1. Pendahuluan 1:1-18
2. Tujuh Surat 1:9-3:22
3. Tujuh meterai 4:1-8:1
4. Tujuh Sangkakala 8:2-11:18
5. Tujuh Tanda 11:19-15:4
6. Tujuh Cawan 15:5-16:21
7. Tujuh Penglihatan 17:1-20:15
8. Kesudahan-Kota Suci Yerusalem 21:1-22:5
9. Kesaksian Akhir 22:6-20
10. Penutup 22:21

 

Dari struktur tersebut, dapat diketahui bahwa menurut Kitab Suci pada umumnya dan penafsiran pada umumnya, batasan eksplisit Why. 21:9-22:5 berada dalam tema tentang “Kesudahan-Kota Suci Yerusalem [Why.21:9-22:5]” yang diapiti oleh tema tentang “Tujuh Penglihatan” (17:1-20:15 = perikop yang mendahului] dan “Kesaksian Penutup/Akhir”(22:6-20 = perikop yang mengikutinya]. Dari struktur tersebut, perikop “Yerusalem baru” [21:2-22:5] terdapat dalam bingkai “Kesudahan-Kota Suci Yerusalem” [21:1-22:5].[14]

Meskipun menurut struktur I. Suharyo dan LBI tersebut Why. 21:9-22:5 terdapat dalam bagian “Kesudahan-Kota Suci Yerusalem” (21:9-22:5), dalam penelitian saya, saya menemukan bahwa tema tentang “Kesudahan-Kota Suci Yerusalem” terbentang dari Why. 21:2 hingga 22:15. Why. 21:2 sudah berbicara: “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, …” dan terakhir disebutkan dalam Why. 22:19:”…Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari dalam kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus…..[15]. Dengan demikian, menurut hasil penelitian saya, tema tentang “Yerusalem baru” terdapat dalam dua bagian tema [versi LBI dan I Suharyo] yakni: Kesudahan-Kota Yerusalem baru [21:1-22:5] dan Kesaksian penutup [Why. 21:6-17]. Bagannya dapat dilihat sebagai berikut:

 

Bagian

Isi

Bab-Ayat

1. Pendahuluan 1:1-18
2. Tujuh Surat 1:9-3:22
3. Tujuh meterai 4:1-8:1
4. Tujuh Sangkakala 8:2-11:18
5. Tujuh Tanda 11:19-15:4
6. Tujuh Cawan 15:5-16:21
7. Tujuh Penglihatan 17:1-20:15
8. Kesudahan-Kota Suci Yerusalem 21:1-22:5
9. Kesaksian Akhir/Penutup 22:6-21

 

Batas Awal Teks

Struktur isi dari bagian ini oleh I. Suharyo dan LBI [Lembaga Biblika Indonesia] dapat dirinci lagi sebagai berikut:

 

Kesudahan-Kota Suci Yerusalem [21:1-22:5]

Bagian Isi Bab- ayat
1. [Suara dari tahta] Langit & Bumi yang baru 21:1-8
2. Yerusalem surgawi/baru 21:9-22:5
3. Kedatangan Tuhan Yesus 22:6-17
4. Penutup 22:18-21

 

Dari struktur rinci tersebut, batas ekplisit bagian awal Why. 21:2-22:5 terdapat dalam bagian tentang “Suara dari tahta” (21:1-8). Menurut Kitab Suci, bagian ini termasuk dalam perikop yang berbicara tentang “Langit dan bumi yang baru” [21:1-8]  yang diawali dengan kata “Lalu”. Kata “Lalu” bisa berarti dua hal: 1] kata “Lalu” dimaksudkan untuk menghubungkan perikop ini dengan perikop sebelumnya [“Hukuman yang terakhir”(Why. 20:11-15)] namun juga bisa berarti 2] memisahkan dua perikop tersebut sebagai dua perikop yang berbeda [20: 11-15 berbeda dengan 21: 1-8].

Menurut saya, kata “lalu” tersebut lebih mengarah pada arti yang kedua, sebab jika kita meneliti dan mencermati kedua perikop ini, maka 1] isi kedua perikop ini berbeda satu dengan yang lainnya. Perikop sebelumnya [Why. 20:11-15] berbicara tentang sesuatu yang sangat negatif, penuh dengan “penghukuman”, “kehancuran”, misalnya: (“lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya”…[ay.11], “orang-orang mati” [ay. 12], “orang mati dihakimi” [ay. 13], “maut dilemparkan ke dalam lautan api” [ay.14], orang yang tidak ada namanya dilemparkan ke dalam lautan api tersebut “ [ay. 15]).

Menjadi sesuatu yang tidak hanya sangat berbeda tetapi bertolak belakang jika kita mengamati perikop 21: 1-8. Perikop ini berisi tentang hal-hal yang sangat positif; hal itu dapat ditemukan dalam kata-kata seperti:  “yang baru dan kudus, “dari Allah”, yang penuh dengan kemuliaan dan kemegahan”, “surgawi”. Dalam teks, hal-hal itu dapat dilihat; misalnya: “langit dan bumi yang baru” [ay. 1], “kota yang kudus,” yang baru”, “berhias dan berdandan” [ay. 2], “suara nyaring dari tahta” [ay. 3], “Allah ada di tengah manusia, “Allah akan menjadi Allah mereka (umat) dan mereka (umat) akan menjadi umat-Nya” “maut, dukacita, ratap tangis, air mata (kesedihan) tidak ada lagi], “yang lama telah berlalu.” [ay. 4. “Aku menjadikan segala sesuatu baru.”, “segala perkataan ini adalah tepat dan benar”, “semuanya telah terjadi, “Allah adalah Alfa dan Omega”, “yang haus akan diberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan” [ay. 5-8].

Alasan 2] adalah bahwa kata “lalu” dalam awal perikop “Langit dan bumi yang baru” [21:2] menunjukkan “peralihan” dari tema sebelumnya [20:11-15: negatif=penghukuman] menuju tema berikutnya [Why. 21:1-22:21=positif/kemuliaan].

Berdasarkan analisa tersebut, maka kata “Yerusalem baru” dalam Why. 21:2 berada dalam bingkai perikop yang berisi tentang “Langit dan bumi yang baru” [21:1-8] bertolak belakang [yang dalam arti tertentu tidak memiliki kaitan atau hubungan] dengan perikop yang mendahuluinya yakni “Hukuman yang terakhir [20:11-15] karena ketidaksinambungan tema-tema esensialnya; [20:11-15 =hukuman, kematian, kehancuran, penghakiman, kebinasaan, kematian] bertolak belakang dengan [21:1-8 =langit dan bumi yang baru, kota yang kudus, turun dari surga, tidak ada lagi dukacita dan ratap tangis, dst.]

Perikop 21: 1-8 yang berisi tentang “Langit dan bumi yang baru” jika diuraikan atau dianalisa lebih lanjut maka akan terdapat empat bagian penting: 1] Penglihatan akan Langit dan bumi yang baru (ay.1) 2] Penglihatan akan Yerusalem yang baru (ay.2),  3] Pemberitahuan oleh malaikat (Suara dari tahta) [ay. 3-4], 4] Suara Allah dari tahta [ay. 5-8]. Keempat bagian ini terikat satu dengan yang lainnya dengan penggunaan kata “lalu” [ay. 1,3], ”dan” [ay. 2,4,5] serta kata “lagi” [ay. 6,7,8]. Dengan itu, dapat dikatakan bahwa, “Yerusalem baru” merupakan bagian integral perikop Why. 21:1-8. Jadi, “Yerusalem baru” dalam Kitab Wahyu mula-mula ditemukan dalam bagian awal perikop ini [Why. 21:1-18 “Langit dan bumi yang baru”] yakni 21:2. Namun, tema tentang “Yerusalem yang baru” ini menghilang dalam ayat-ayat selanjutnya [ay. 3-8], yang diawali dan dipakai kata “dan’ atau “lalu.”[16]

Frase “Yerusalem baru” muncul lagi dalam Why. 21:10 “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. Dan ayat ini berada dalam bagian “penglihatan Yerusalem surgawi.” [21:9-22:5]. Meskipun demikian, uraian eksplisit tentang “Yerusalem baru” ini baru dimulai dalam Why. 21:10.  Mulai dari Why. 21:10 ini hingga 21:22: 5 berbicara secara mendetail tentang realitas fisik “kota surgawi” tersebut yang penuh dengan kemuliaan dan kebesarannya.

1.2. Batas Akhir Teks

Kisah tentang Yerusalem baru ini nampak berakhir pada Why. 22:19 ”….Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari dalam kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus…..[17] Perikop 22: 20 dan seterusnya sudah berisi tentang tema yang lain.[18]

Alasan yang dapat dibuat untuk mempertanggungjawabkan “keberbedaan” antara perikop 21:2-22:19 dan 22:20 dapat diuraikan sebagai berikut: Perikop 21:9-22:5 secara eksplisit menguraikan tentang Yerusalem baru dan pelbagai hal yang berhubungan dengan realitas fisik kota surgawi tersebut; misalnya, disebut “kota kudus” [ay. 10], “penuh dengan kemuliaan Allah [ay. 11]”, kondisi fisiknya [21:12-22:5] dan 22: 6-17 berisi tentang kesaksian pelihat [Yohanes] tentang 1] “kebenaran-kebenaran perkataan Tuhan yang diterimakan kepada-Nya” [ay. 6-7], 2] kesaksian Yohanes tentang “dirinya sebagai pelihat dan pendengar” [ay. 8], dst. Why. 22:6-17 ini, meskipun berkisah tentang kesaksian Yohanes tetapi kesaksian Yohanes tersebut justru mengenai “apa yang dilihat dan apa yang didengarnya”. Kesaksian ini sebenarnya mempertegas, meneguhkan atau menguatkan “pengelihatannya mengenai kota Yerusalem baru” dan “pendengarannya mengenai pelbagai hal yang berhubungan dengan kota tersebut.”[19] Dengan kata lain, meskipun perikop ini telah diberi judul “Kedatangan Tuhan Yesus” tetapi isinya tentang “kesaksian Yohanes berkaitan dengan penglihatan dan pendengarannya mengenai Kota kudus, Yerusalem surgawi tersebut.” Hal ini muncul secara ekplisit dalam ayat 14-15: “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu. Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir …., tinggal di luar.[20]

Selanjutnya, kesaksian Yohanes dalam rangka mempertegas tersebut terlihat lagi dalam ayat 19: ”….Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari  kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus….[21] Batas eksplisit perikop tentang “Yerusalem Surgawi” berakhir di sini.

Perikop yang sebelumnya/yang mendahuluinya [21:9-22:5 dan 22:19] berbeda dengan perikop yang mengikutinya/yang sesudahnya [22:20-21]. Perbedaan ini terletak pada tema perikop. Perikop-perikop 21:2, 21: 9-22:5, 22:14-15, 22:9 berbeda secara sangat mendasar dengan perikop yang mengikutinya; 22:20-21. Perikop sebelumnya [21:2, 21: 9-22:5, 22:14-15, 22:9] berbicara tentang “Yerusalem baru dan kesaksian Yohanes tentang segala perkataan, apa yang dilihat dan yang didengarnya yang berkaitan dengan Kota Suci-Yerusalem baru” sedangkan perikop sesudahnya [Why. 22:20-21] berbicara tidak lagi tentang “Yerusalem baru” tetapi tentang “kesaksian Yohanes tentang Yesus yang mempersaksikan [memberi kesaksian sendiri] berkaitan dengan kedatangan-Nya di akhir zaman”: ”Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “ya, Aku datang segera! Amin, datanglah Tuhan Yesus.

Perbedaan itu dapat dicermati dalam dua hal: 1] Antara ayat 19 dan 20 tidak dihubungkan dengan kata penghubung “dan” atau “lalu” yang mana kata-kata penghubung ini sebenarnya dapat diandalkan sebagai penunjuk kesinambungan teks [alasan gramatikal], 2] lebih esensial dari itu yakni bahwa terdapat perbedaan tema. Perikop sebelumnya [21:2, 21: 9-22:5, 22:14-15, 22:9] berbicara tentang “Yerusalem baru dan kesaksian Yohanes tentang segala perkataan, apa yang dilihat dan yang didengarnya yang berkaitan dengan Kota Suci-Yerusalem baru”. Perikop sesudahnya [Why. 22:20-21] berbicara tidak lagi tentang “Yerusalem baru” tetapi tentang “kesaksian Yohanes tentang Yesus yang mempersaksikan [memberi kesaksian sendiri] berkaitan dengan kedatangan-Nya di akhir zaman [alasan isi tema].

Perbedaan tema ini tidak hanya menunjukkan bahwa kedua perikop ini berbeda dan tidak berhubungan satu dengan yang lainnya semata tetapi juga menegaskan bahwa perikop Yerusalem baru berakhir dan mendapatkan batas eksplisit pada bagian akhirnya dalam bab 22:19 [“Dan jikalau seorang mengurangkan perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus.”]. Jadi, tema “Yerusalem surgawi yang dibahas dalam paper ini diambil dari Why. 21:2, Why. 21:9-22:5, Why. 22: 14-15 serta Why. 22:19.

2.         Kritik Teks

Setelah membuat delimitasi teks, terdapat beberapa teks yang perlu untuk dicermati [dikritisi]. Beberapa kritik teks yang dapat diangkat dari perikop tentang “Yerusalem baru” dalam Wahyu 21:2 dan 21: 9-22:5, 22:14-15 dan 22:19 sebagai berikut:

2.1. Tentang pengalaman penglihatan akan Kota Suci Yerusalem.

Menurut Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan Pengantar dan Catatan kaki, perikop 21:2 ditulis sebagai berikut: Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Selanjutnya, 21: 10: “Lalu, di dalam roh, ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang tinggi dan menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem turun dari surga.[22]

Menurut terjemahan New International Version, ayat 21:2: “I saw the Holy City, the new Jerusalem, coming down out of heaven from God, prepared as a bride beautifully dressed for her husband. Ayat 22:10; “And he carried me away in the spirit to a mountain, great and high showed me the Holy City,Jerusalem, coming down out of heaven from God.[23] Menurut King James, 21:2: “And I, John, saw the Holy City, the new Jerusalem, coming down out of heaven from God, prepared as a bride adorned for her husband. Ayat 21:10 And he carried me away in the spirit to a great and the high mountain, and shewed me the great City, the Holy Jerusalem, descending out of heaven form God.[24]

Menurut versi Good News, ayat 21:2: And I saw the Holy City, the new Jerusalem, coming down out of heaven from God, prepared and ready, like a bride dressed to meet her husband. Selanjutnya perikop 21:10: “ The spirit took control of me, and the angel carried me to the top of a very high mountain. He showed me Jerusalem, the Holy City, coming down out of heaven from God and shining with glory of God.[25]

Menurut Kabar Baik [Alkitab Sehari-hari], 21:2: “Maka saya melihat kota suci itu, yaitu Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah. Kota itu sudah disiapkan seperti seorang pengantin perempuan yang didandani untuk menemui pengantin laki-laki. Selanjutnya, 21:10: “Maka Roh Allah menguasai saya, dan malaikat itu membawa saya ke puncak gunung yang tinggi. Ia menunjukkan kepada saya Jerusalem, kota suci itu, kota itu turun dari surga, dari Allah, dengan semarak dan keagungan Allah.[26]

Menurut Alkitab Elektronik, 21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Dan, 21:10 “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.[27]

Dari semua kutipan tersebut, ada beberapa hal yang dapat dikemukakan berkaitan dengan ini: 1] Dari semua kutipan, ditemukan bahwa kedua bab ini berbicara tentang “pengalaman penglihatan akan kota suci Yerusalem” oleh Yohanes tetapi dalam “kenyataan pengalaman yang berbeda.” Dari semua versi kutipan, ditemukan kesamaan “terjemahan”baik bab 21:2 dan bab 21: 10. Namun, ”pengalaman penglihatan tersebut” terjadi secara berbeda dalam dua kutipan [bab 21:2 dan 10].  Untuk bab 21:2, semua versi Kitab Suci lebih melukiskan ”realitas Yerusalem surgawi tersebut”: Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya tetapi dalam bab 21:10 tidak hanya dilukiskan tentang ”realitas Yerusalem surgawi” tetapi dilukiskan juga tentang ”pengalaman rohani Yohanes sebelum penglihatan” itu sendiri. Dikatakan sebagai berikut:  “Lalu, di dalam roh, ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang tinggi dan menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem turun dari surga.[28] Terjadi perkembangan penekanan berkaitan dengan pengalaman penglihatan ini. Bab 22:10 tidak hanya melukiskan realitas kota suci tersebut tetapi juga menggarisbawahi ”pengalaman rohani” pelihat: Yohanes. Dalam analisis saya, saya berkesimpulan bahwa perkembangan atau perluasan penekanan ini sebenarnya mau menunjukkan bahwa Yohanes dan atau penulis Kitab Wahyu menekankan ”aspek kuasa Roh Allah” dalam pengalaman iman tersebut. Penulis hendak menegaskan bahwa ”pengalaman akan Yerusalem surgawi tersebut bukan sebuah penglihatan manusiawi tetapi sebuah ”penga-laman akan Allah dimana Roh Allah tidak hanya menguasai pelihat tetapi mewahyukan kemuliaan-Nya.”

2] Hal spesifik kedua yang hanya ditemukan dalam bab 21:2 dan tidak ditemukan da-lam 21:10 yakni: tambahan ”….yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Dari tambahan tersebut sebenarnya mau dikatakan bahwa ”Yerusalem Surgawi” adalah ”ibarat” atau ”bagaikan” pengantin wanita yang berdandan untuk suaminya: sebuah pengumpamaan, pengibaratan kemegahan Yerusalem dengan kecantikan seorang mempelai wanita. Namun, menjadi lain jika kita mencermati bab 21:9: ….lalu, ia berkata kepadaku, katanya: marilah ke sini aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.” Selanjutnya, ayat ini disusul ayat 10 yang berisi tentang ”pengalaman penglihatan Yohanes akan kota Yerusalem surgawi”; “Lalu, di dalam roh, ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang tinggi dan menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem turun dari surga. Itu berarti, pengantin perempuan[29] itu tidak lain Yerusalem surgawi itu sendiri. Terdapat tidak hanya lompatan tetapi gerak progresif dalam pelukisan.

Dari bab 21:9 kita menemukan bahwa oleh malaikat, sudah secara eksplisit disebutkan bahwa ”Yerusalem bukan lagi ibarat atau seperti pengantin wanita” tetapi merupakan ”pengantin wanita itu sendiri”.

2.2.      Berkaitan dengan ”Yerusalem dan Mempelai Anak Domba”

Dari semua versi terjemahan  dikatakan bahwa Kota Yerusalem nampak dalam kemegahannya ibarat pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” [21:2].Di sini tidak Yerusalem tidak hanya dikagumi karena kemuliaannya tetapi juga diumpamakan dirinya seperti seorang wanita yang sedang menunggu suaminya. Namun, menjadi lain tatkala kita mencermati perikop 22:9: “…Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba. Ternyata dalam perikop ini, Yerusalem secara mendadak “sudah menjadi mempelai wanita/perempuan dalam arti yang sesungguhnya” tidak lagi sebagai sebuah “pengumpamaan atau pengibaratan”. Bahkan, “kemempelai wanitaannya” dipersandingkan dengan “Mempelai Anak Domba.”[30] Dengan itu, dapat dikatakan bahwa terdapat loncatan yang serius dalam hal “status esensial kota Yerusalem surgawi.” Terjadi sebuah ”lompatan” yakni dari ”hanya sekedar pengumpamaan atau pengibaratan menuju suatu pernyataan ekplisit”. Ini problem tekstual yang kedua yang dicermati dalam studi atau kritik teks ini. Tetapi menurut analisa saya, saya menemukan bahwa penulis sebenarnya hendak menegaskan tentang ”Yerusalem yang baru” adalah ”umat baru/ jemaat baru/gereja baru yang mengalami penebusan oleh Kristus yang bangkit.” Hal ini sejalan dengan teologi kristiani yang memandang Gereja sebagai mempelai Kristus.

3. Konteks Perikop

Konteks perikop dalam artian ini dimengerti sebagai “perikop yang mendahului dan perikop yang mengikuti.” Konteks perikop “Yerusalem baru” dalam [Why. 21:2 dan 21:9-22:5, 22:14-15, 22:19] adalah perikop tentang “Hukuman yang terakhir [Why. 20:11-15] sebagai teks atau perikop yang mendahului dan perikop tentang “Penutup Kitab Wahyu” [Why. 22: 18-21]. Meskipun demikian, teks yang mengikuti dalam perspektif studi ini adalah “[22:20-21: dua ayat terakhir dalam bagian penutup yang berisi tentang: Kesaksian Yohanes tentang Kedatangan Anak Manusia [Why. 22:20-21] sebagai perikop yang mengikuti atau perikop yang menyusulinya. Tetapi untuk lebih jelasnya, hal itu dapat dilihat dalam tabel ini:

 

Cakupan Teks tentang

Yerusalem baru

Teks yang mendahului,

Teks yang mengikuti

 

Hukuman yang Terakhir [20:11-15] –Teks yang mendahului

 

Langit dan bumi yang baru [21:1]
Langit dan bumi yang baru [21:2]

 

Langit dan bumi yang baru [21:3-8]= Perikop Antara
Yerusalem yang baru  [21:9-22:5]

 

Kedatangan Tuhan Yesus [22:6-13] =Perikop Antara
Kedatangan Tuhan Yesus [22:14-15]

 

Kedatangan Tuhan Yesus [22:16-17]=Perikop Antara
Penutup [22:18]]=Perikop Antara
Penutup [22:19]

 

 

Penutup [22:20-21]=Perikop yang mengikuti

Dari tabel tersebut, dalam kaitannya dengan “konteks perikop” Yerusalem baru dapat dianalisa sebagai berikut: 1] Semua teks tentang Yerusalem di atas [Lih. Cakupan Teks tentang Yerusalem Baru] diapit oleh perikop tentang “Langit dan bumi yang baru” (di dahului perikop 21:1). Meskipun demikian, teks “Yerusalem baru” jauh sebelumnya didahului oleh perikop tentang “Hukuman yang terakhir” [20:11-15]. dan ditutup dengan perikop tentang Penutup Kitab Wahyu [Why. 22:3-18-21] yang berisi tentang kesaksian Yohanes tentang kesaksian Yesus berkaitan dengan ke”segeradatang”an-Nya [ay. 20-21]. Perikop-perikop yang berada dalam apitan dua perikop tersebut, baik perikop yang berisi tentang Yerusalem baru maupun tidak, berbicara tentang “langit dan bumi yang baru [21:1, 3-8] dan Kedatangan Tuhan Yesus Yesus Kristus [22:6-13, 16-18]. Perikop 22:18-21 yang secara eksplisit ditulis sebagai “Penutup Kitab Wahyu” namun justru secara esensial berbicara tentang “Kedatangan Tuhan Yesus Kristus.” Penutup justru baru terlihat dalam 22:20-21.

2] Perikop yang mendahului Why. 21:2, 21:9-22:5, 22:14-15, 22:19 adalah perikop 21:1 [satu ayat pendahuluan] yang berisi tentang “penglihatan Yohanes berkaitan dengan langit dan bumi yang baru”. Tetapi untuk memahami keberadaan perikop [yang hanya terdiri dari satu ayat dan juga hanya semacam pendahuluan] ini kita sebaiknya memahami perikop ini dalam hubungannya dengan perikop yang jauh sebelumnya, yakni: Why. 20: 11-15. Perikop yang mendahului ini berbicara tentang “hukuman yang terakhir (Why. 20: 11-15)”. Hukuman yang terakhir ini tidak lain sebenarnya berbicara tentang “penghakiman dan penghancuran yang terakhir” sebelum kedatangan dan terbentuknya “langit dan bumi yang baru” [Why. 21:1] dan yang kemudian secara lebih spesifik nampak dalam “kedatangan kota Yerusalem yang baru, [21:2 dan 21:9-22:5].[31]

Bahwa inti perikop ini [21:11-15] ini adalah pelbagai bentuk penghakiman dan kehancuran terakhir, hal tersebut dapat terlihat dari semua ayat dalam perikop ini: “Lalu aku melihat suatu tahta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya, lenyaplah bumi dan langit dan tidak lagi ditemukan tempatnya [ay.11]. Selanjutnya, ….dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis dalam kitab-kitab itu” [ay.12]. Juga, “Maka laut menyerahkan orang-orang mati ….dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatan mereka” [ay.13]. Selanjutnya, “lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api, itulah kematian yang kedua: lautan api [ay.14]. Lalu,”Dan setiap orang yang ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu [ay.15]. Semua ayat yang digarisbawahi tersebut sebenarnya secara mendetail menunjuk pada pelbagai bentuk penghakiman, hukuman, penghancuran dan yang dialami sebelum kedatangan langit dan bumi yang baru. Pelbagai hukuman tersebut berasal dari Allah sendiri: “Lalu aku melihat suatu tahta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya, lenyaplah bumi dan langit dan tidak lagi ditemukan tempatnya [ay.11],  “dan aku melihat orangg-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan tahta itu, ….dan orang-orang mati dihakimi[32] menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis dalam kitab-kitab itu”[ay.12]. Dan, selanjutnya ayat 13,14,15 merupakan “kelanjutan dari perbuatan-perbuatan penghakiman yang dibuat oleh Allah sendiri.”

Perikop “Penutup” [Why. 22:20-21] meskipun umumnya dikategorikan sebagai “penutup surat Wahyu” tetapi secara esensial berbicara tentang kesegeraan kedatangan Tuhan Yesus. “….Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah Tuhan Yesus!. Inilah kesaksian Yohanes di bagian akhir Kitab Wahyu yang sebenarnya berisi tentang “kesaksian Yohanes tentang Yesus yang mempersaksikan diri-Nya sendiri [ke“segera”an kedatangan-Nya].

Jadi, dapat dikatakan bahwa “kedatangan Tuhan Yesus” sebagaimana yang “dipersaksikan” oleh Yesus sendiri kepada Yohanes merupakan “puncak” dari “kedatangan langit dan bumi yang baru” dalam Why. 21:1. Bahwasannya, “hukuman yang terakhir” dalam Why. 20:11-15 merupakan kesengsaraan dan penderitaan yang terakhir yang “segera dan secara radikal” diganti dengan kedatangan “langit dan bumi yang baru” dalam [Why. 21:1] dan “disusul dengan kedatangan Yerusalem yang baru” dalam [Why. 21:2, 21:9-22:5, 22:14-15, 22:19] dan pada kesudahannya dipuncaki, dipenuhi atau dimahkotai dengan “Kedatangan Tuhan Yesus” dalam [Why. 22:20-21]. Dengan penemuan ini, dapat disimpulkan bahwa baik perikop yang mendahului [Why. 20:11-15 dan 21:1] dan perikop yang mengikuti perikop-perikop Yerusalem baru [Why. 22:21-22)] menegaskan dua hal: a] keterkaitan satu dengan yang lainnya, juga b] peralihan dari kehancuran dan dunia lama [perikop yang mendahului yang berisi tentang rupa-rupa kehancuran dan malapetaka] menuju suatu sejarah baru hidup manusia [”langit dan bumi yang baru, kota suci-Yerusalem baru turun dari surga serta segala pernak-pernik kemegahan dan kemuliaannya] dan pada kesudahannya berpuncak pada ”kedatangan Kristus Tuhan di akhir zaman sebagai puncak dari segala sesuatu yang baru.” Jadi dari perikop yang mendahului hingga perikop yang menyusulinya terdapat ”alur menaik” atau ”gerak menanjak” menuju kemuliaan. Puncak itu adalah ”kedatangan Tuhan Yesus” [Why. 22:20-21].

Analisa berikutnya, 3] seperti yang sudah sedikit diungkapkan pada poin analisa 1 dan 2, perikop pendahulu [maksudnya perikop yang mendahuluinya] yakni 20:11-15 yang berisi tentang Hukuman yang terakhir sebenarnya hendak menggambarkan “realitas kontras” dengan perikop yang mengikutinya [21:2] yang berisi tentang munculnya Yerusalem yang baru dengan segala kemegahannya. Realitas tersebut adalah “kontras antara kehancuran [20:11-25] dan kebaruan, kekudusan, turun dari surga dengan kemuliaan [21:1-2]. Kontras tersebut sebenarnya menunjukkan “peralihan dan atau penggantian” yang tidak lain merupakan sebuah pintu masuk menuju ekplisitasi tentang “Yerusalem baru.” [Bdk. 21:1].

Keempat, 4] Pada perikop tentang “Langit dan bumi yang baru” [21:1-8], yang di dalamnya terdapat perikop tentang Yerusalem yang baru [21:2] dan [21: 9-22:5] secara sangat jelas terdapat keterkaitan di dalamnya [21:2=21:10]: perikop 21:2, berbunyi: Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya dalam perikop 21:10 hal tersebut diungkapkan lagi:  “Lalu, di dalam roh, ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang tinggi dan menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem turun dari surga.[33] Ayat-ayat selanjutnya menegaskan pula keterkaitan tersebut: “dari kota kudus itu [22:19], “ Kota itu…[21:11], “dan temboknya” [ay. 12], “dan tembok kota itu [ay. 14]. Meskipun demikian, perikop-perikop antara [Lih. tabel tentang teks yang mendahului dan yang mengikuti] seperti Langit dan bumi yang baru [21:3-8], Kedatangan Tuhan Yesus [22:6-13=bagian I], Kedatangan Tuhan Yesus [22:16-17=bagian II],  Penutup [22:18] memiliki keterkaitan dengan perikop yang berisi tentang Yerusalem baru yang mengapitinya. Hal ini dapat dilihat misalnya: a] antara perikop 21:2 tentang Yerusalem baru [turun dari surga, dari Allah, yang berhias] berhubungan dengan 21:3-8 yang berbicara tentang “kemah Allah ada di tengah-tengah mereka dan ia akan tinggal di tengah-tengah mereka [ay. 3], ia akan menghapus air mata mereka, maut tidak lagi ada [ay. 4], Aku menjadikan segala sesuatu baru [ay.5], yang haus akan diberi minum air kehidupan secara cuma-cuma [ay. 6-8]. “Allah” dan “pelbagai hal yang positif ini” menjelaskan keterkaitan yang sangat mendasar antara “teks-teks antara” dengan perikop Yerusalem baru baik 21:2 maupun 21:9-22:5. b] Antara perikop 21:2, 22:9-22:5, 22:14-15 dengan 22:6-13 dan 22:16-17. Keterkaitan itu dapat dilihat dalam : “Lalu Ia berkata kepadaku, perkataan-perkataan ini adalah tepat dan benar” [22:6: Kedatangan Tuhan Yesus] dimana ayat ini terdapat juga dalam 21: 5 [Langit dan bumi yang baru], atau “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir [22:13: Kedatangan Tuhan Yesus] dimana ayat ini juga sudah terdapat dalam [21: 6: Langit dan Bumi yang baru], atau juga “Roh dan pegantin perempuan itu berkata: “Marilah!” dan barangsiapa mendengarnya, hendaklah ia berkata “Marilah” dan barang siapa haus, hendaklah ia datang …hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma [22:17: Kedatangan Tuhan Yesus] yang mana teks tersebut sudah terdapat dalam [21:6, 22:1 tentang air kehidupan] dan kata “pengantin perempuan” dan kata “Marilah” sudah terdapat dalam 21:9: tentang Yerusalem baru]. c] Keterkaitan lain misalnya: antara 21:2, 22:9-22:5, 22:14-15, 22: 19 dengan 22:18: “setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, [22:18] berhubungan secara erat dengan perikop 22:19 [teks delimitasi] dimana juga dikatakan secara ekplisit tentang “perkataan-perkataan dari nubuat ini…”. Di samping itu, perkataan-perkataan dari nubuat ini”juga sudah terdapat dalam [22:7, 21:5]. Lalu, lanjutannya:….dari pohon kehidupan”[22:19] secara ekplisit mengaitkan secara erat teks ini dengan 22:2. Dengan itu, dapat disimpulkan bahwa “secara internal”, perikop-perikop antara [dalam tabel] memiliki tidak hanya keterkaitan dengan perikop-perikop yang didelimitir [atau didelimitasi] tetapi juga menegaskan, meneguhkan dan bahkan mempertegas ikatan teks-teks yang didelimitir dalam satu ikatan tema.

 

4.         Struktur Perikop[34]

Dalam bagian Konteks perikop sudah dilihat “keterhubungan atau keterkaitan” antara perikop-perikop yang didelimitasi: 21:2, 22:9-22:5, 22:14-15 dan 22: 19. Berikut ini akan dikaji struktur internal dari teks atau perikop-perikop tersebut:

 

4.1.             Why. 21:2 : Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya”

 

 

Struktur perikop Why. 21:2, dapat kita lihat dalam struktur di bawah ini:

 

 

 

Bagian Struktur
1] Dan, aku melihat  = [Penglihatan Yohanes]
2] Kota yang kudus  = [ Pelukisan I]
3] Yerusalem yang baru =[Pelukisan II]
4] Turun dari surga = [Pelukisan III]
5] Dari Allah = [Pelukisan IV]
6] Yang berhias bagaikan pengantin perempuan = [Pelukisan V]
7] Yang berdandan untuk suaminya = [Pelukisan VI]

 

Dari struktur ini dapat diketahui bahwa, bagian (1) dengan sendirinya berbeda dengan bagian-bagian yang mengikutinya karena bagian pertama berbicara tentang ”pengalaman penglihatan Yohanes” [”Dan, aku melihat]. Bagian-bagian selanjutnya berbicara tentang ”pelbagai pelukisan” yang tidak lain adalah ”struktur isi penglihatan itu sendiri.” Struktur isi penglihatan itu sendiri secara eksplisit berpusat pada bagian 3 [Pelukisan II] yang berbicara eksplisit tentang Yerusalem Baru. Bagian-bagian lain ”menegaskan eksistensi Yerusalem baru itu” dengan kata keterangan: bagian 1 [pengalaman Yohanes:melihat], bagian 2 [menyebutnya dengan ”kota yang kudus”], bagian 3 [”yang baru”], bagian 4 [”dari Allah”], bagian 5 [”yang berhias bagaikan pengantin perempuan”], bagian 7 [”yang berdandan untuk suaminya”].

Dari struktur ini pula, sebenarnya hendak ditegaskan dua hal yakni: perihal ”esensi” dan ”atribut”. Pertama, esensi: Esensi dari dari pelbagai pelukisan dalam perikop ini: Yerusalem dari Allah adalah esensi perikop ini [Bagian 5/pelukisan IV]. Kedua, yang berhubungan dengan esensi tersebut adalah atribut. Karena berasal dari Allah, dilukiskan rupa-rupa hal: ”kota kudus” [Pelukisan I], ”yang baru” [Pelukisan II], ”turun dari surga” [Pelukisan III], ”berhias bagaikan pengantin perempuan” [Pelukisan V], ”berdandan untuk suaminya” [Pelukisan VI].

4.2. Why. 21:9-22:5

Struktur perikop ini dapat dilihat dalam pembagian di bawah ini: 1] Pendahuluan [ay. 9], 2] Realitas Fisik Kota Yerusalem surgawi I [ay.10-21], 3] Bait Suci [ay. 22], 4], Realitas Fisik Kota Yerusalem II [ay. 23-27], 5] Air kehidupan [bab 22:1], 6] Realitas Fisik Kota Yerusalem surgawi III [ay. 2-5]. Struktur ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

 

Bab Ayat Isi Tema
21 9 Pendahuluan: Malaikat dan Yohanes
10-21 Realitas Fisik Kota Yerusalem (I )
22 Bait Suci
23-27 Realitas Fisik Kota Yerusalem (II)
22 1 Air kehidupan

 

2-5 Realitas Fisik Kota Yerusalem (III)

 

Struktur perikop ini dimulai dengan pengalaman “Malaikat dan Yohanes”; Malaikat mengajak Yohanes [Marilah ke sini....(ay.9)]. Ajakan ini serta merta menghubungkan perikop pendahulu ini dengan isi perikop berikutnya: “Realitas Fisik Kota Yerusalem [ay. 10-12]”. Di sebut realitas fisik karena secara ekplisit, pelihat melukiskan tidak hanya pengalaman “melihat Yerusalem” tetapi “ia melihat segala hal fisik berkaitan dengan Yerusalem: “temboknya, tiang-tiangnya, pintu-pintu, dasarnya, dst. Disebut “realitas fisik kota Yerusalem I” karena pelukisan pertama ini diselingi dengan “munculnya Bait Suci [ay.22]: “Dan, aku melihat Bait Suci di dalamnya. Tetapi eksistensi Bait Suci ini tidak mengakhiri penglihatan tersebut tetapi menegaskan keterhubungannya dengan perikop sebelumnya melalui kata penunjuk: “di dalamnya.

Ayat-ayat berikutnya menjelaskan keterhubungan tersebut dengan menggunakan keterangan “lalu”[35] yang menegaskan kesinambungan pelukisan meskipun secara tiba-tiba pelihat melukiskan “air kehidupan.” Ayat berikutnya [22:2]: “Di tengah-tengah jalan kota itu” dengan jelas melukiskan keterkaitan dengan perikop sebelumnya. Dan, terakhir dalam ayat 5 dikatakan”dan malam takkan ada lagi disana.” Penggalan kalimat ini menunjukkan dengan jelas keterkaitan tersebut.

Meskipun demikian, ketiga kelompok “realitas fisik Kota Yerusalem” tersebut dapat dianalisa masing-masing berkaitan dengan struktur internalnya, sebagai berikut:

4.2.1              Struktur Realitas Fisik Kota Yerusalem Baru (I): Why. 21: 10-21: Tembok dan Pintu

Strukturnya dapat dilihat sebagai berikut: 1], Pengalaman Penglihatan oleh Yohanes [ay.10-11], 2] Realitas “Tembok dan Pintu” [ay. 12-14], 3], Bentuk dan Ukuran [ay. 15-17], 4], Bahan Pembuatan Tembok dan Pintu Kota [ay. 18-21]. Tetapi untuk “yang keempat ini” dapat diuraikan lagi sebagai berikut: 4.1]: (ay. 18)=Tembok terbuat dari permata yaspis, 4.2]: (ay. 19)=hiasan untuk dasar-dasar tembok: [Dasar I: batu yaspis, Dasar II: nilam, Dasar III: Batu mirah, Dasar IV: batu zamrud, Dasar V: batu unam, Dasar VI: Batu Sardis, Dasar VII: Batu Ratna Cempaka, Dasar VIII: batu beril, Dasar IX: krisolit, Dasar X: batu krisopras, Dasar XI: Batu Lazuardi, Dasar XII: batu kecubung], 4.3] Hiasan untuk keduabelas Pintu [ay. 21]. Secara lebih terperinci dapat dilihat dalam tabel:

Bab/Ayat Isi Tema Bagian Khusus Isi tema
10-11 Penglihatan Yohanes

 

12-14 Tembok dan Pintu

 

15-17 Bentuk dan Ukuran

 

18-21 Bahan pembuatan tembok dan pintu:

 

18

 

Yaspis sebagai Bahan dasar
19-20

 

Hiasan untuk dasar tembok
21

 

Hiasan untuk keduabelas pintu

4.2.2. Struktur Realitas Fisik Kota Yerusalem Baru (II): Why. 21: 23-27

Struktur realitas Fisik Kota Yerusalam (II) dapat diuraikan sebagai berikut: 1] ”Kemuliaan Allah sebagai ganti matahari dan bulan” [ay. 23-24], 2] ”pintu gerbang tidak akan ditutup” [ay. 25-26], 3] ”yang masuk dan tidak masuk dalam kota tersebut” [ay. 27]. Dapat dilihat lebih lanjut dalam tabel berikut ini:

Ayat Isi Ayat
23-24 Kemuliaan Allah sebagai ganti matahari dan bulan
25-26 Pintu gerbang tidak akan ditutup
27 Yang berhak masuk dan tidak masuk dalam kota tersebut

4.2.3.   Struktur Realitas Fisik Kota Yerusalem Baru (III): Why. 22: 2-5

Struktur realitas Fisik Kota Yerusalam (II) dapat diuraikan sebagai berikut: 1] “pohon-pohon kehidupan di tengah jalan kota [ay. 2], 2] Tahta Allah dan tahta Anak Domba ada di dalamnya [ay. 3-4], 3] Kemuliaan Tuhan sebagai pengganti cahaya apapun di sana [ay.5]. Dapat dilihat lebih lanjut dalam tabel berikut ini:

Ayat-ayat dalam  [22:2-5] Isi perikop
Ayat 2 Pohon-pohon kehidupan di tengah jalan kota
Ayat 3-4 Tahta Allah dan Anak Domba ada di dalamnya
Ayat 5 Kemuliaan Tuhan sebagai pengganti cahaya apapun

4.3. Why. 22:14-15

Struktur teks Why. 22:14-15 terdiri dari: 1] ”Yang membasuh jubahnya akan masuk ke dalam kota itu” [ay. 14], 2] ”anjing-anjing, orang sundal, tukang sihir, penyembah berhala, pendusta, tinggal di luar” [ay.15].

4.4. Why. 22: 19: Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti tertulis dalam kitab ini.

Perikop terakhir ini terdiri  beberapa bagian yakni: 1] “Jika seorang mengurangkan perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini” [Unsur I], 2] Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan, [Unsur II], 3] dari kota kudus, 4] ”seperti tertulis dalam kitab ini

Bagian teks Isi teks
1 Jika seorang mengurangkan perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini
2 Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan,
3 Allah akan mengambil bagiannya dari kota kudus
4 seperti tertulis dalam kitab ini

Perikop ini terdiri dari beberapa unsur yang memuat hubungan ekplisit satu dengan yang lainnya. Bagian pertama frase ”kitab nubuat ini” di satu pihak menjelaskan hubungan dengan perikop sebelumnya tetapi di lain pihak menjlaskan hubungannya dengan bagian ke empat ”kitab ini”. Bagian kedua dan ketiga secara sangat jelas terikat oleh frase ”Allah akan mengambil bagiannya dari…”.

5.         Analisa Filologis

Setelah menganalisis struktur perikop-perikop yang secara eksplisit berbicara tentang “Yerusalem baru”, pada bagian ini akan dibuat studi filologis berkaitan dengan perikop-perikop tersebut. Berikut ini adalah uraian dalam rangka studi tersebut:

1]         Ayat 21: 2: “Aku melihat”, “Kota yang Kudus”, Yerusalem yang baru”, “Turun dari Sorga, “Pengantin Perempuan”

1.1.            “Aku Melihat”

Umumnya diterima bahwa “Aku” [Kata Ganti orang pertama], yang dipakai dalam Kitab Wahyu menunjuk pada Yohanes; si pelihat itu sendiri.[36] Yohanes menyebutkan dirinya secara eksplisit sebagai “yang melihat, menyaksikan, mendengar dan mengalami semuanya itu,” [21:1, 2, 3, 10, 15, dst.].[37] Penyebutan diri secara eksplisit ini membedakan sastra apokaliptik Kitab Wahyu dan kitab-kitab apokaliptik Yahudi pada umumnya. [38] Penggunaan kata “Aku” ini sebenarnya hendak menegaskan “sebuah pengalaman langsung” sang pelihat.

Tentang kata “melihat” disebutkan secara ekplisit dalam 21:1: “Lalu aku melihat langit dan bumi yang baru..” dan 21: 2: “Lalu, aku melihat kota yang kudus…” Kata “melihat” sebenarnya berhubungan dengan kata “mendengar” [21:3]: “Lalu, aku mendengar suara yang nyaring. Kata melihat dalam dua perikop ini berkaitan dengan pengalaman akan ”Yerusalem baru” tetapi menjadi lain jika kita mencermati perikop 21:10 yang juga berbicara tentang “Yerusalem baru.” Dalam perikop ini, tidak dikatakan pengalaman “melihat” tetapi justru Yohanes melukiskan sebagai berikut: “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu…” Perikop ini justru berbicara tentang pengalaman “tuntunan oleh Roh”; bahwa “pengaruh atau daya kuasa Roh Allah”lah yang memungkinkan semua pengalaman tersebut. Dalam arti ini, “pengalaman melihat” yang dialami oleh Yohanes justru menunjuk pada “pengalaman akan Allah.” Yohanes bergerak maju dalam menjelaskan tentang pengalaman “melihat” dengan menekankan “kuasa Roh Allah.” Dengan itu, “Aku melihat” dalam awal perikop 21:2 sebenarnya menunjuk pada kuasa Roh Allah yang menuntun kesadaran pelihat.. J. Collins bahkan menulis bahwa apokaliptik sebenarnya adalah “pewahyuan” dimana seseorang dikuasai oleh “realitas supernatural”.[39] Dalam arti itu, pengalaman “melihat” dalam arti ini tidak menunjuk pada pengalaman “melihat” yang manusiawi tetapi lebih dalam dari itu “pengalaman kesadaran yang dituntun oleh Allah.”

 

1.2.            Kota yang Kudus[40]

Dalam Bahasa Yunani, kota diterjemahkan dengan kata polis yang secara esensial menunjuk pada warga atau penduduknya. Polis juga menunjuk pada persekutuan.[41] Dalam ayat 2, Yohanes melihat di bumi yang baru itu Yerusalem yang baru. Para nabi Perjanjian Lama biasanya berbicara tentang bumi yang baru dan selalu menghubungkannya dengan Yerusalem baru [Yes. 65:17 dan 18]. Pada zaman dahulu, kota-kota di Palestina biasanya dikelilingi tembok yang sebenarnya menyimbolkan keamanan tetapi juga persekutuan.[42] I. Suharyo menambahkan bahwa “kota” melambangkan pula keseluruhan manusia.[43]

Penyebutan “kota yang kudus” sebenarnya menunjuk pada Kota yang berasal dari Allah karena kekudusan dalam Perjanjian Lama maupun baru selalu dihubungkan dengan Allah. Kekudusan dalam arti ini juga dapat dihubungkan dengan kesempurnaan.[44] Hal ini dapat dilihat dari kelanjutan dari perikop ini: Lalu, aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru. Kota yang kudus [21;2]; dalam Kitab Wahyu kota suci atau kudus adalah kota yang ideal. Di situ orang-orang yang percaya kepada Allah tinggal. Dalam sejarah keselamatan, keadaan tempat seperti itu berubah-ubah [Why. 11]. Namun, pada akhirnya kota itu tidak hanya akan dibebaskan dari ancaman dan hambatan, tetapi akan diperbaharui secara menyeluruh dan mulia. Gambaran yang ada dalam 21:2 dikembangkan dalam Why. 21:9-22:5.[45]

1.3.      Yerusalem yang baru[46]

“Baru” adalah terjemahan dari kata Bahasa Yunani: kainos yang berarti ”sesuatu yang baru.” Kata ini secara biblis juga dihubungan dengan frase “dilahirkan kembali” [Yoh. 3:3-8]. “Dilahirkan kembali” dalam arti ini tidak berarti “sesuatu yang secara total lain dari pada yang sebelumnya tetapi sesuatu yang diperbaharui.[47] “Yerusalem Baru” [Why. 21:2-22:5] merupakan salah satu nama kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu selain: Efesus [2: 1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13], Laodokia [3:14-22], Mesir [11:8], Sodom [11:8].[48] Berbeda dengan Babel yang dalam Kitab Wahyu disebut sebagai kota yang “dihakimi” [17:1-18] dan “dirubuhkan” [18: 1-20; 19:1-5], “Yerusalem” dalam Kitab Wahyu memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota-kota lain tersebut di mana Yerusalem disebut sebagai “kota yang kudus”, “Yerusalem yang baru”, ”turun dari surga, “dari Allah“, “yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” [21:2][49]

Yerusalem berasal dari kata Bahasa Ibrani: Yerusalaim.[50] Nama “Yerusalem” muncul pertama dalam “Egyptian Execration Texts” dalam abad 18 dan 19 SM. Pada abad keempat belas Surat-surat Amarna ditulis Urusalim. Teks-teks Assyria menyebutnya Urusalimu. Teks Masoret Perjanjian Lama berbahasa Ibrani yerusalayim. Teks Bahasa Aramnya adalah Yerusalem. LXX tetap memakai istilah Aram ini.[51] Kota Yerusalem juga seringkali disebut Kota Zion. Kota ini dalam Perjanjian Baru disebutkan sebanyak tujuh kali dan dalam Perjanjian Lama ditemukan sebanyak lima kali [Mat. 21:5=Yes. 62:11, Zak. 9:9, Yoh. 12:15=Yes. 40:9, Zak. 9:9). Yerusalem seringkali disebut dalam Injil dan Kisah Para Rasul, Ibrani dan Wahyu tetapi tidak pernah muncul dalam Surat-surat Katolik. Istilah-istilah untuk Yerusalem yang mana diambil dari penggunaannya dalam lingkungan Yahudi biasanya digunakan untuk Yerusalem. Yerusalem merupakan kota di atas bukit [Mat. 5:14, 4:5, 27:53, Why. 11:2]. Disebut sebagai “kota yang dikasihi [Why. 20:9], Kota raja agung [Mat. 5:35], dst.[52]

Penyebutan Yerusalem baru sebenarnya menunjuk pada kota Yerusalem yang telah diperbaharui. Yerusalem ini bahkan dalam kaitannya dengan penyebutan tersebut dihubungkan sebagai “yang berasal dari Allah, turun dari surga, kota yang kudus.”

1.4.      Turun dari Surga

‘Turun dari Surga” sebenarnya berarti “berasal dari Allah”. Keberasalannya dari Allah sehingga Yerusalem yang baru ini juga di sebut “Kota yang kudus”. Di sebut kota yang kudus karena “berasal dari Allah”: Allahlah yang berkuasa atau berprakarsa dan menjadi penyebab tata laksana baru.”[53] Daalen mengatakan bahwa teks Yunani memberikan kesan bahwa bukannya Yohanes melihat kota itu “turun” melainkan bahwa ia melihat sebuah kota yang sifatnya terus menerus turun.[54]

Yerusalem lama yang ada di dunia adalah negeri yang tidak lagi kudus, yang membunuh semua nabi dan menggantung Kristus di kayu salib. Hanya Yerusalem yang sungguh kudus, diperbaharui sama sekali dapat turun dari surga.[55] Yerusalem surgawi digambarkan dengan sebuah pendahuluan yang meriah [21:9-10°]. Dengan acuan kitab Nabi Hosea [2:19-21], Yesaya [44:6; 54, dst; 61:10], Yehezkiel [16], sedikit demi sedikit dikembangkan gambar Yerusalem baru sebagai mempelai dengan berbagai lambang. Lambang dasar adalah kota. Lambang ini kemudian dikembangkan dalam tiga arah yang masih berhubungan dengan kota: kemuliaan Allah menerangi kota dan melingkunginya [21:10b-11]; tembok yang besar dan tinggi [21:12a] mengelilingi kota itu; lalu ada dua belas pintu gerbang di sepanjang tembok kota [21:12b] yang dapat dilalui oleh seluruh dunia untuk masuk ke dalam kota itu. Kecuali itu, masih ada lambang-lambang lain: pengukuran oleh malaikat [21:15-17], gemerlapnya batu-batu mulia dengan emas [ay. 18-21], tidak adanya lagi Bait Suci [ay.22-27], sungai yang mengalirkan air kehidupan [22:1], pohon-pohon kehidupan [ay.2]. Takhta Allah dan Tahta Anak Domba yang berada dalam kota itu menutup penggambaran karya penyelamatan Allah yang sudah berhasil dengan sempurna [ay. 3-5].[56]

1.5.      Pengantin Perempuan[57]

Untuk memahami “Pengantin Perempuan” dalam Wahyu, mungkin baik bila kota memahami arti “Kota” menurut Yohanes. Yohanes memaksudkan kota sebagai “Umat Allah.” Dalam Why. 21:2 Yohanes menyebut Yerusalem sebagai kota yang kudus yang berdandan ibarat pengantin perempuan yang sedang berdandan untuk suaminya. Dengan itu, Yerusalem baru sebenarnya menunjuk pada persekutuan orang-orang kudus.[58] Pengantin perempuan dalam perikop ini sebenarnya menunjuk pada umat baru pilihan Allah yang diikat oleh Mempelai Anak Domba yakni Kristus sendiri.[59]

 

2.]        Ayat 22: 10: ‘Di dalam Roh”, “membawa”, Gunung yang besar lagi tinggi”

2.1       Di dalam Roh

“Di dalam Roh” sebenarnya menunjukkan bahwa “pelihat dikuasai oleh Roh Allah.” Dalam pengalaman Yohanes, ia dikuasai oleh Roh Allah dan dibantu oleh malaikat untuk mengalami pengelihatan tersebut.[60]

2.2.            Membawa

Kata “membawa” sebenarnya menunjuk pada pengalaman kesadaran Yohanes yang “dituntun dan diarahkan oleh Roh Allah sendiri” dalam mengalami semua pengelihatan tersebut.

2.3              Gunung yang besar lagi tinggi

Sebuah “gunung yang tinggi” adalah cara tradisional untuk melukiskan tempat tinggal Allah. Dalam agama Kanaan orang percaya bahwa dewa-dewa benar-benar hidup di puncak gunung seperti halnya kepercayaan orang dalam agama sekarang ini. Bangsa Israel sebenarnya tidak percaya bahwa Allah tinggal di gunung namun mereka masih menggunakan “gunung-gunung” sebagai lambang tempat tinggal Allah. Dalam sejumlah perikop Perjanjian Lama “gunung Allah” adalah tempat yang tidak dapat ditemukan pada peta manapun, tetapi dalam perikop yang lain, itu berarti gunung tempat Bait Allah di yerusalem dibangun [Mzm. 48:1; 74:2; Yes. 2:2; I Raj. 8:27].[61]

3. [Ayat 21:11]: “penuh dengan kemuliaan Allah”,

Kemuliaan Allah memenuhi Bait Allah (I Raj. 8;11; Mzm. 24) tetapi kota Allah itu seluruhnya terdiri dari Bait Allah [ay. 22]. Kemuliaan Allah [21:11] maksudnya adalah bahwa sama dengan Allah yang menyatakan diri dengan campur tangan dalam sejarah bagi keselamatan manusia. Pernyataan diri Allah dan karya-Nya bagi keselamatan manusia ini tidak dapat dirumuskan secara memadai dengan bahasa manusia. Maka penulis Kitab wahyu menggambarkannya dengan lambang-lambang gemerlapnya batu-batu mulia seperti terdapat juga dalam [Why. 4:3].[62]

4. Ayat 12-14: “Dua belas Pintu gerbang”, “Kedua belas rasul Anak Domba”

4.1.      Dua belas pintu gerbang [21:12-13]

Seperti yang dimengerti oleh Yehezkiel, Dua belas pintu gerbang kota melambangkan dua belas suku Israel sedangkan Kitab Wahyu menggunakan angka itu untuk menunjuk para rasul sebagai dasar Israel baru.[63] Tembok melambangkan sebuah persekutuan tertutup, memisahkan “yang didalam” dengan “yang di luar”[21:27 dan 22:15]. Empat arah mata angin melambangkan jumlah kosmos, tiga pintu gerbang menyimbolkan tingkatan kekudusan.[64] Angka “dua belas” melambangkan kepenuhan sejarah keselamatan. Dua belas pintu gerbang menunjukkan hal itu. Di atasnya juga dikatakan terdapat dua belas malaikat.[65] Tembok kota tidak lagi dimaksudkan untuk melindungi penduduk dari para musuh tetapi Yerusalem yang baru adalah kota yang memiliki gerbang terbuka [21:25]; mereka mengundang setiap orang masuk dalam kemuliaan Allah dan menikmati berkat yang dijanjikan oleh Allah.[66]

Melalui pintu itu orang dapat masuk ke dalam kota suci. Pintu gerbang itu diarahkan pada empat arah mata angin seperti dikatakan dalam Kitab Yehezkiel [48:30-35]. Dengan cara ini dinyatakan bahwa umat Allah meliputi seluruh umat manusia.[67]

4.2.      Kedua belas rasul Anak Domba [21:14]

Kedua belas rasul anak domba adalah para rasul Yesus. Mereka adalah dasar umat Allah [Ef. 2:19-20]. Kedua belas suku Israel dan dua belas rasul adalah unsur hakiki bagi umat Allah, juga pada waktu umat Allah telah mencapai kemuliaan.[68]

4.3.      Dua belas batu dasar [21:14]

Batu dasar sebenarnya menunjuk pada bagian bawah tembok antara kedua belas pintu gerbang itu. Terdapat analisis bahwa dua belas batu dasar ini juga menunjuk pada “kedua belas rasul” Yesus.

5.          Ayat 15-17: “tongkat pengukur dari emas”, “bentuknya empat persegi”, “dua belas ribu mil;panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama”, “seratus empat puluh empat hasta”,

Dalam bagian ini dilukiskan lebih mendetail tentang kota Allah, Yerusalem baru itu. Sang malaikat memperlihatkan kota itu kepada Yohanes

5.1.       “Tongkat pengukur dari emas” [ay. 15]

Kisah ini tepat seperti ketika malaikat memperlihatkan Yerusalem kepada Nabi Yehezkiel [Yeh. 40:5]. Mengukur memiliki dua arti: 1] menyatakan bahwa Allah mempunyai hak milik atas kota tersebut dan 2] mau mencatat kehebatan besarnya kota tersebut.[69] Menurut Daalen, pengukuran juga berarti bahwa Kota Allah dilestarikan. Secara teologis dapat dikatakan bahwa Gereja dalam dunia akan selalu dilindungi oleh Allah.[70

5.2              ”Bentuknya empat persegi” [ay. 15]

Kota itu berbentuk empat persegi maksudnya antara panjang dan lebar kota itu sama. Pengaturan sepeti ini merujuk pada pengorganisasian suku-suku Israel dalam Kitab Bilangan [Bil. 3] dan dalam pegelihatan Yehezkiel mengenai Kota Allah [Yeh. 41:13; 48:20].[71] Suharyo menambahkan bahwa bentuk ini menggambarkan kesempurnaan. Angka-angka yang dipakai juga menggambarkan kesempurnaan. Gambaran-gambaran yang dipakai pada ayat-ayat berikutnya [ay. 18-21] menunjukkan ciri ilahi atau pengaruh ilahi yang melingkupi kota itu. Landasan, pintu, tembok diresapi keilahian.[72]

5.3.            ”Dua belas ribu mil: panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.” [ay. 16]

Suharyo menegaskan bahwa angka-angka ini menunjukkan kepenuhannya atau kesempurnaan.[73] Daalen menambahkan bahwa antara ”panjang, lebar dan tinggi” kota itu sama merujuk kepada tempat kudus dalam Bait Salomo [I Raj. 6:20]. Bentuknya adalah kubus. Yerusalem adalah tempat kudus yang baru. Kota dengan ukuran mirip kubus melam-bangkan keteraturan dan kesempurnaan.[74]

Dua belas ribu mil menurut Yohanes diperkirakan sama dengan lima belas ribu mil ukuran sebenarnya. Tetapi sebenarnya Yohanes dengan angka tersebut mau menegaskan tentang kesempurnaan kota suci tersebut.[75]

5.4.            “Seratus empat puluh empat hasta” [ay. 17]

Seratus empat puluh empat adalah hasil dari perkalian dua belas kali dua belas [12X12]. Maksudnya adalah bahwa kota suci tersebut tidak terhingga ukurannya. Dunia baru itu tidak dibatasi dalam ukuran manusiawi. Kiranya angka ini juga menujukkan kesempurnaan.

6.]        Ayat 18-21 : ”Permata Yaspis”, ”emas tulen bagaikan kaca murni”, ”Segala jenis permata”, ”dua belas mutiara”

6.1.      ”Permata Yaspis” [ay. 18]

Menurut Daalen, permata Yaspis mungkin dimaksudkan oleh Yohanes dengan intan.[76]

6.2.            ”Emas tulen bagaikan kaca murni” [ay.18].

Menurut Daalen juga, bahwa ”bagaikan kaca murni” merupakan ungkapan yang dimaksudkan untuk menyoroti kemurnian emas tersebut.[77]

6.3.            ”Segala jenis permata.” [ay. 18]

Maksudnya setiap permata seperti yang dikenakan oleh seorang pengantin perempuan untuk suaminya. Nama-nama kedua belas permata itu telah dikaitkan dengan berbagai batu permata pada penutup dada Imam Agung [Kel. 28:16-21], tetapi nama-nama yang diberikan pada permata-permata itu berbeda dengan nama-nama yang disebutkan Yohanes atau dengan permata-permata yang dikaitkan dengan kedua belas nama Zodiak. Penyebutan rupa-rupa permata ini sebenarnya menegaskan keindahan yang luar biasa.[78]

6.4.            ”Dua belas mutiara” [ay.21]

Dua belas melambangkan kesempurnaan. Dua belas mutiara menunjukkan kemegahan dan kemuliaan.=

7.         Ayat 22-27: ”Aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya”, ”Anak Domba itulah lampunya”, Malam tidak akan ada lagi di sana”, ”Tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis”,

7.1       ”Aku tidak akan melihat Bait Suci di dalamnya” [ay. 22]

Bait Suci dalam konteks ini tidak lagi menunjuk pada tempat suci tidak lagi bangunan. Yohanes sebenarnya hendak mengatakan kehadiran Allah di mana-mana. Dalam keadaan yang sama sekali baru ini, tidak perlu lagi ada tempat khusus yang suci untuk pertemuan antara manusia dengan Allah. Pertemuan itu di mana mana karena seluruh tempat itu bersifat kudus. Allah dan Anak Domba adal dalam segalanya. Inilah inti pemahaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Bait Suci. Allah sendiri menjadi Bait Suci bagi manusia.[79]

7.2              ”Anak Domba itulah lampunya” [ay. 23]

Ini bisa dibandingkan dengan pembukaan Injil Yohanes: ”Terang sesungguhnya yang menerangi semua orang, sedang datang ke dalam dunia [Yoh. 1:9].”

7.3.            ”Malam tidak akan ada lagi di sana” [ay. 25]

Maksudnya tidak ada lagi kegelapan dalam kota Allah.

7.4.            “Tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis” [21:27]

Maksudnya bahwa di dalam kota tersebut tidak ada sesuatu yang najis.

 

8.         Ayat [22:1-5]: “Sungai air kehidupan”, “Pohon kehidupan”, “Buah”

8.1.      “Sungai air kehidupan” [22:1]

Bandingkan dengan sungai dalam Firdaus [Kej. 2:10]. Yohanes sebenarnya mau melukiskan gambaran tentang air sebagai pemberi kehidupan. I. Suharyo menambahkan lagi bahwa air sungai kehidupan adalah lambang Firdaus yang didambakan.[80]

8.2.            ”Pohon Kehidupan” [22:2]

Menurut Daalen, kata ”pohon” sebenarnya menunjuk pada salib Kristus karena kata yang sama digunakan pula dalam Gal.3:13 dan I Ptr. 2:24. Tetapi rupanya Yohanes lebih mengacu pada Kej. 2:9.

8.3.            ”Buah” [ay.2]

Yohanes sebenarnya mau menggarisbwahi bahwa di kota Allah akan tersedia apapun bagi manusia.[81] Suharyo menambahkan bahwa karunia kehidupan ilahi dijamin oleh buah-buah pohon kehidupan yang berlimpah. Sekarang orang hanya merasakan buah-buahan yang sempurna karya penyelamatan. Tidak ada kejahatan lagi dan hanya ada kepenuhan hidup.[82]

9.         Ayat [14-15]: ”Di luar”

”Di luar” sebenarnya mengacu pada kenyataan ”berada di luar kota yerusalem yang baru. Yohanes sebenarnya mau menyebutkan bahwa mereka yang tidak ”mereka-mereka yang tidak disebutkan namanya akan tidak berada dalam kota surgawi”

 

10.       Ayat [19]: ”Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus”

Seperti diuraikan sebelumnya, pohon kehidupan menunjuk pada Salib Kristus. Dan, kota kudus adalah Kota Yerusalem yang baru. Yohanes hendak menegaskan bahwa jika firman dan perkataan Allah tidak diindahkan maka orang tidak akan masuk dalam kota surgawi; Yerusalem yang baru.

6.  Refleksi Teologis Atas Perikop: 21:2, 21:9-22:5, 22:14-15 dan 22:19

Setelah menganalisa teks [Analisa Filologis] atas perikop, akan dikemukakan beberapa refleksi teologis.

6.1.            Trinitas

Dalam kisah pengelihatan Yohanes hingga pada pewahyuan mengenai Yerusalem baru dan akhirnya berpuncak pada kesaksian mengenai Kristus yang segera datang ke dalam dunia terlihat secara ekplisit karya Allah Tritunggal di dalamnya. Karya Allah Bapa, Allah Putera [Yesus Kristus] dan Allah Roh Kudus tidak telihat secara terpisah-pisah. Karya Allah Bapa nampak eksplisit dalam [21:2-4, 5, 6, 22, 23], [22:1,3, 6,]. Karya dan kesaksian menegani Yesus Kristus terlihat secara sangat eksplisit [21:2,14,22], [22:1, 3, 20]. Karya Roh Kudus dapat dilihat dalam pengalaman Yohanes; si pelihat [21:10]. Keterlibatan Trinitas dalam pengalaman Yohanes sebenarnya menunjukkan tentang keterlibatan Allah dalam seluruh karya keselamatan Allah bagi dunia dan manusia. Ketiga Pribadi Allah berkarya secara ”bersama” dalam melangsungkan proses penyelamatan umat manusia. Allah Bapa hadir sebagai ”pemrakarsa dan pelaksana” tata ciptaan baru, Allah Roh Kudus meresapi dan menuntun manusia menuju perngalaman penglihatan dan perubahan hidup. Kristus, Putera Allah datang sebagai Raja Semesta Alam yang memerintah Yerusalem yang baru.

 

6.2.            Allah Bapa

Pengalaman penglihatan Yohanes terjadi dari Allah melalui malaekat dan sampai kepada Yohanes. Allah adalah pemrakarsa dan pelaksana ”peritiwa” revelasi ini. Allahlah yang mengadakan ”pelbagai penghancuran” dan Dia pulalah yang ”mengganti atau membuat pelbagai peralihan dalam sejarah manusia” seperti ditulis Yohanes dalam 21:1-22:22.

6.3.            Kristologi [Tentang Kristus]

Kisah penglihatan Yohanes tentang Yerusalem baru sebenarnya menunjuk pada inti dari pergantian dunia lama [20:11-15] menuju dunia baru [21:1-8]. Pergantian atau peralihan dari dunia yang lama menuju dunia baru itu berpusat pada Yerusalem baru [21:2, 21:9-22:5, 22:14-15 dan 22:19]. Meskipun demikian, setelah mempelajari dan melakukan penelitian terhadap perikop-perikop yang berbicara tentang Yerusalem baru tersebut sebenarnya berpusat pada ”Tahta Allah dan Tahta Anak Domba” [21:22-23,22:1]. Anak Domba menunjuk pada Kristus sendiri. Kedatangan Anak Domba Allah [22:6-17 dan 22:20] adalah puncak dari teologi Yerusalem baru. Kedatangan Kristus di akhir zaman: Ia yang memberi kesaksian tentangs semuanya ini berfirman: Ya, Aku datang segera. [22:20]. Kristus adalah puncak seluruh sejarah dan kepenuhan hidup manusia.[83]

 

6.4.            Pneumatologi [Tentang Roh Kudus]

Dalam kisah penglihatan yang dialami oleh Yohanes, hanya satu kali diungkapkan secara sangat eksplisit tentang Roh, yakni: 21:10: ”Lalu, dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung….. Roh menunjuk pada Roh Allah sendiri. Setelah mepelajari dan melakukan penyelidikan terhadap perikop-perikop ini disadari bahwa Roh Allah senantiasa menghantar manusia menuju pengalaman akan Allah dan kebesaran-Nya.

6.4.      Eklesiologi

Yerusalem yang baru adalah umat yang baru atau umat yang diperbaharui. Yerusalem yang baru juga menunjukkan secara simbolis ”persekutuan umat Allah yang telah dikuduskan” di akhir zaman. Umat Allah yang baru ini adalah Gereja Akhir Zaman yang menjadi tujuan ziarah umat manusia dalam kehidupan

6.5.            Eskatologi

Dapat dikatakan bahwa seluruh pengalaman penglihatan Yohanes adalah penglihatan yang akan hal-hal eksatologis. Bahwasannya umat beriman yang sedang berziarah ini adalah umat yang sedang berarak menuju Yerusalem yang baru; Yerusalem eskatologis; yang sudah dimulai dan mencapai kepenuhannya dalam kedatangan Kristus di akhir zaman.

6.5              Soteriologi

Seluruh pengalaman penglihatan Yohanes menyangkut realitas eskatologis tetapi sebenarnya berisi tentang sejarah keselamatan umat beriman. Umat yang sedang berziarah ini yang menghidupi perkataan dan Sabda Allah akan mengalami keselamatan akhir.[84]

 

6.6.            Angelogi

Kitab Wahyu, khususnya perikop-perikop yang berbicara tentang ”Yerusalem baru” secara kelihatan berbicara tentang peranan para malaikat. Keberadaaan dan peranan para malaikat ini dapat terlihat dalam: [21:9-10, 15], [22:1, 8,10]. Malaikat dalam kisah pengalaman penglihatan Yohanes bertindak sebagai perantara antara Kristus dan Yohanes.[85]

6.7.      Spritualitas [Teologi Pengharapan][86]

Peristiwa pengelihatan Yohanes dalam bagian terakhir Kitab Wahyu menampakan kenyataan peralihan yang radikal. Why. 20:11-15 mengakhiri pelbagai kehancuran, kutukan, pemusnahan yang dilakukan oleh Allah sendiri berkaitan dengan ”dunia lama” yang pernuh dengan kehancuran dan pelbagai penderitaan. Segera ketika memasuki Why. 21:1-22:21, kisah pengelihatan selalu menampilkan ”kenyataan-kenyataan” yang membahagiakan secara rohani. Kisah penglihatan akan ”Langit dan bumi yang baru [21:1-8], Yerusalem yang baru dengan segala kemuliaan dan pernak-pernik kemewahan adalah lambang kehidupan baru atau dunia baru para beriman [21:2, 21:9-22:21]. Sebagai umat beriman dalam hidup ini kita dipanggil untuk ”selalu berubah dan selalu berharap dalam iman akan pemulihan dan pembebasan dari Allah yang akan mengangkat kita memasuki Yerusalem surgawi. Hanya satu syarat penting yakni ”setia dalam penderitaan karena Kristus.”

Penutup

Kitab Wahyu ternyata memuat kekayaan rohani yang sangat mendalam. Perikop tentang Yerusalem baru merupakan perikop yang berisi tentang ”dunia baru” yang menjadi puncak dan pemenuhan seluruh pengharapan manusia beriman. Berbeda dengan babel yang adalah simbol segala pembangkangan akan Allah, Yerusalem baru adalah tujuan hidup umat yang percaya kepada Allah.

Semoga studi sederhana dan tidak berarti ini memberikan sesuatu yang berharga untuk pengharapan kristiani. Bahwa segala penderitaan, penolakan, tantangan dan cobaan-cobaan yang dialami dalam hidup di dunia sekarang ini merupakan jembatan yang berharga untuk mengambil bagian dalam Yerusalem surgawi dimana Anak Domba menjadi rajanya.[87] Berharaplah dalam imam, tetap percaya dan ”beriman-jangan patah semangat”, tidak meninggalkan Kristus, bertobat adalah ”hal-hal yang mesti harus dibangun dalam pengharapan kristiani” agar umat beriman Kristiani mendapat bagian dalam dunia baru; Yerusalem surgawi tersebut.

 

 

Kepustakaan

Alkitab Elektronik.

Bruce M. Metzger, Michael D. Coogan [Eds.], The Oxford Companion to the Bible, Oxford-New York: Oxford University Press Inc, 1993.

C. Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1984.

 

David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1999.

Dianne Bergant, CSA & Robert J. Karris, OFM, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Lembaga Biblika Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 2002..

Drs. J. J de Heer, Wahyu Yohanes II, Tafsiran Alkitab, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, LBI,

 

Drs. J. J de Heer, Wahyu Yohanes II, Tafsiran Alkitab, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1983

 

Ds. A. Pos, Terj. F. Sitanggang, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1966

 

Eva Maria Rapple, The City of Revelation” dalam The Bible Today, Vol. 34/6 [1996] Minnesota: Order of Saint Benedict., Inc.

 

Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. I. Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

———————-,Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, Vol. VI. Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

 

———————-,Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. III. Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

———————-,Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. IV Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

———————–, Theological Dictionary of The New Testament, Vol. V, Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

———————–,Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. VI, Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

———————–, Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. VII. Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967.

Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Terj. I. Suharyo, Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Goerge Arthur Buttrick [Ed.], The Interpreter’s Dictionary of The Bible: An Illustrated Encyclopedia, Abingdon: Parthenon Press, 1962.

 

I. Suharyo, Kitab Wahyu; Paham dan Maknanya bagi Hidup Kristen, Lembaga Biblika Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 1993

John. J Collins, “The Apocalypse-Revelation and Imagination” dalam The Bible Today, Vol. 19/No. 6, November 1981.

Komisi Kitab Suci, Penafsiran Alkitab dalam Gereja, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 48.

Kitab Suci Kabar Baik untuk Anda; Good News for You (Jakarta: LAI, 1993).

Kitab Suci Kabar Baik: Alkitab dalam Bahasa sehari-hari (Jakarta: LAI, 1985).

 

LBI     Kitab Wahyu, Tafsir Perjanjian Baru 10, Jakarta: Yayasan Kanisius, 1983.

 

Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan Pengantar dan Catatan Kaki, Ende: Arnoldus, 1996/1997.

Lawrence O. Richards, Richard’s Complete Bible Handbook, New York: Word Publishing, 1987.

Robert T. Boyd [Ed.], World’s Bible Handbook, [Michigan-Grand Rapids: World Publishing, 1991.

Raymond E. Brown, Joseph A. Fitzmeyer, Roland Murphy, (Eds.), The New Jerome Biblical Commentary; Student Edition, London: Geoffrey Chapman, 1968

The Bible New International Version, London: Hodder & Stoughton, 1998.

The Holy Bible: Old and New Testament,in the King James Version, New York: Thomas Nelson Inc., 1970.

The Illustrated Bible Dictinary, Part 2: Goliath-Papry, Hodder & Stoughton: Inter-varsity Press, 1980

Schick Eduard, The Revelation of St. John for Spiritual Reading, London: Sheed & Ward, 1983.

Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1990

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Meskipun Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan pada urutan paling terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru [bahkan dalam keseluruhan Alkitab] bukan berarti Kitab ini ditulis paling terakhir. Kitab Wahyu ditulis pada tahun 90/95 dan yang ditulis paling terakhir adalah II Petrus [thn. 125]. Penerimaan kitab ini sebagai salah satu kitab resmi Agama Kristen terjadi pada abad VII di Asia Kecil. Secara historis, umumnya lingkungan Gereja Katolik Barat tidak memiliki halangan yang berarti untuk menerima kitab ini sebagai kitab resmi Perjanjian Baru. Sedangkan dalam lingkungan Gereja Katolik di Timur terjadi perdebatan panjang mengenai kitab ini. Meskipun demikian, pada abad ke-7 kitab ini sudah diterima. Bdk. Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 134-135. Bdk. pula. C. Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 13, 15, 180. Juga, LBI, Kitab Wahyu, Tafsir Perjanjian Baru 10, (Jakarta: Yayasan Kanisius, 1983), hlm. 11.

[2] Kata Apokalipsys [Bahasa Yunani] dibentuk dari kata apo yang berarti jauh dari [sesuatu yang tersembunyi] dan kalypto berarti menyembunyikan “pernyataan” misalnya tentang penghakiman Allah, rahasia pribadi Yesus [Mat. 11: 25, 27 (=Luk. 10: 21-22); 16: 17], [Luk. 17:30], [Yoh. 12: 38], [Rm. 1: 17-18; 2:5; 8: 18-19; 16: 25], [Gal. 1:12], [Ef. 1:17; 3:13], [II Tes. 1:7; 2: 2], karunia adikodrati yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang-orang tertentu [I Kor. 14: 26, 30], [II Kor. 12:1,7], [Ga. 2:2]. Apokalipsis lalu umumnya di artikan sebagai “membuka selubung” atau menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi. Bdk. Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, hlm. 134. Lih. Juga. Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Terj. I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. vii.

[3] Tulisan-tulisan ini berisikan pelbagai adegan ajaib serta suka akan nama-nama samaran. Inilah sejumlah tulisan lain yang termasuk dalam jenis sastra ini: Yes. 24-27, He-nokh, Ezra, Barukh dan rangkaian ucapan-ucapan Yesus yang bernada eskatologis: misalnya, Mat. 24 [= Mrk. 13 = Luk. 21], Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru,hlm. 134.

[4] Misalnya kelompok Adventis, Para Saksi Yehowah. C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 381.

[5] Pelbagai gambaran “positif dan luar biasa” tentang realitas “Yerusalem yang baru” ini dapat dilihat [bahkan dimulai] dalam Why. 21:2 sampai 22:19.

[6] Dalam Kitab Wahyu terdapat sepuluh kota yang disebutkan; antara lain; Efesus [2: 1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13], Laodokia [3:14-22], Mesir [11:8], Sodom [11:8], Yerusalem [ 21:2-22:5]. Kata “Yerusalem” dalam Kitab Wahyu secara eksplisit disebutkan sebanyak 2 kali [21:2] dan [21:10]. Yerusalem seringkali disebut sebagai “Yerusalem baru” dan atau “Yerusalem surgawi”. Beberapa kutipan lain hanya menggunakan “kata keterangan sebagai penunjuk kota tersebut” misalnya: “Kota itu” [21: 10, 11, 14, 15, 16, 19, 21, 23], [22: 2, 14, 19], ”di sana” [22: 5], ”temboknya, bentuknya, gerbangnya, di dalamnya” [21:12,14, 15, 22]. Kata keterangan penunjuk tersebut menunjukkan keterkaitan antar ayat maupun perikop. The city also appears in the metaphor of Babylon [17:1-18:24] and finally in the concluding vision of the heavenly Jerusalem [21:2-22:5]. Eva Maria Rapple, The City of Revelation” dalam The Bible Today, Vol. 34/6 [1996] (Minnesota: Order of Saint Benedict., Inc.), hlm. 359.

[7] Pelbagai gambaran atau pelukisan-pelukisan yang lain berkaitan dengan Yerusalem tersebut misalnya dapat dilihat seterusnya dalam bab dan ayat selanjutnya; seperti: [21:11-21, 23-27], [22: 2-5].

[8] Komisi Kitab Suci, Penafsiran Alkitab dalam Gereja, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 48.

[9] Ibid, hlm. 49.

[10] Kata atau frase “dari kota kudus [ay.19] dalam [Why. 22:19] adalah frase penunjuk tempat atau keterangan tempat yang menunjuk pada “Kota Yerusalem yang baru” tersebut. Ada beberapa kata keterangan penunjuk yang lain lain yang juga dipakai sebagai pengganti kata “Kota Yerusalem yang baru” misalnya: “ Kota itu…[21:11, “dan temboknya” [ay. 12], “dan tembok kota itu….[ay. 14], [bisa dibandingkan dengan catatan kaki nomor 6].

[11] Dalam beberapa sumber yang memuat tentang kerangka Kitab Wahyu, umumnya perikop ini [“Yerusalem Baru” (21:2-225)] ditempatkan pada bagian terakhir Kitab Wahyu. Bdk. C. Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 406. Juga, LBI, Kitab Wahyu, Tafsir Perjanjian Baru 10, (Jakarta: Yayasan Kanisius, 1983), hlm. 21. Juga, I. Suharyo, Kitab Wahyu; Paham dan Maknanya bagi Hidup Kristen, Lembaga Biblika Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 31. Juga, Raymond E. Brown, Joseph A. Fitzmeyer, Roland Murphy, (Eds.), The New Jerome Biblical Commentary; Student Edition, (London: Geoffrey Chapman, 1968), hlm. 999-1000. Meskipun demikian, perikop tentang “Yerusalem baru” disempitkan pembatasannya hanya pada Why. 21:9-22:5. Padahal, apabila diteliti secermat mungkin, tema tentang “Yerusalem baru” telah dimulai sejak Why. 21:2 dan berakhir pada Why. 22: 19. Dan, itu berarti tema tentang Yerusalem baru justru terdapat dalam keseluruhan bagian akhir dari Kitab Wahyu; suatu kenyataan yang sangat berbeda dengan kerangka dari keempat sumber tersebut [maksudnya keempat buku sumber tersebut].

[12] Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan Pengantar dan Catatan Kaki, (Ende: Arnoldus, 1996/1997).

[13] Meskipun keempat sumber [buku tafsir] tersebut menempatkan perikop ini pada bagian akhir tetapi kedua buku ini lebih dipilih karena memiliki kesamaan struktur secara lebih dekat.

[14] Bdk. I Suharyo dan LBI.

[15] Kata atau frase “dari kota kudus [ay.19] dalam [Why. 22:19] adalah frase penunjuk tempat yang menunjuk pada “Kota Yerusalem yang baru” tersebut. Ada beberapa kata keterangan penunjuk lain sebagai pengganti kata “Kota Yerusalem yang baru” misalnya: “ Kota itu…[21:11, “dan temboknya” [ay. 12], “dan tembok kota itu….[ay. 14], dst.

[16] Nampaknya ayat-ayat yang baru berbicara tentang hal-hal yang lainnya. “Yerusalem baru” dalam [21:1-18] seakan-akan diperkenalkan atau disebutkan begitu saja [umum saja] tanpa penjelasan lebih mendetail. Penjelasan yang lebih mendetail tentang “kota kudus” tersebut justru baru dimulai lagi dalam 21: 10.

[17] Kata atau frase “dari kota kudus” [ay.19] dalam [Why. 22:19] adalah frase penunjuk tempat yang menunjuk pada “Kota Yerusalem” tersebut. Ada beberapa kata keterangan penunjuk lain sebagai pengganti kata “Kota Yerusalem yang baru”; misalnya: “Kota itu “[21:11 dst], dan “temboknya” [ay. 12], “dan tembok kota itu….[ay. 14], dst.

[18] Oleh LBI dan I. Suharyo dikatakan bahwa perikop tersebut merupakan“ kesaksian penutup” dalam Kitab Wahyu. [22:6-20].

[19] Ada dua alasan yang dapat dipakai untuk membuktikan argumen ini: 1] penggunaan kata “lalu” pada awal perikop 22: 6-17. Kata “lalu” menunjukkan “kelanjutan dari apa yang terjadi sebelumnya yakni menyangkut Yerusalem baru sekaligus menegaskan “keterkaitan perikop” dan 2] “ketepatan/kebenaran  kesaksiannya/pengelihatannya  [Yohanes]”Perkataan-perkataan ini tepat dan benar… [ay. 6].

[20]  Frase “ke dalam kota itu [ay. 14]” dan “tinggal di luar [ay.15]” menunjuk pada “di luar” kota Yerusalem surgawi tersebut.

[21] Kata atau frase “dari kota kudus [ay.19] dalam [Why. 22:19] adalah frase penunjuk tempat yang menunjuk pada “Kota Yerusalem yang baru” tersebut. Ada beberapa kata keterangan penunjuk lain sebagai pengganti kata “Kota Yerusalem yang baru” misalnya: “ Kota itu…[21:11, “dan temboknya” [ay. 12], “dan tembok kota itu….[ay. 14], dst.

[22] LBI, Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan Pengantar dan Catatan kaki (Ende: Arnoldus, 1996/1997)

[23] The Bible New International Version, (London: Hodder & Stoughton, 1998).

[24] The Holy Bible: Old and New Testament,in the King James Version, (New York: Thomas Nelson Inc., 1970).

[25] Kitab Suci Kabar Baik untuk Anda; Good News for You (Jakarta: LAI, 1993).

[26] Kitab Suci Kabar Baik: Alkitab dalam Bahasa sehari-hari (Jakarta: LAI, 1985).

[27] Alkitab Elektronik.

[28] LBI, Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan Pengantar dan Catatan kaki (Ende: Arnoldus, 1996/1997)

[29] Di sini kami memahami bahwa “pengantin wanita/perempuan” searti dengan “mempelai wanita/perempuan.” Yang menjadi persoalan adalah “penyebutan Mempelai Anak Domba”: pertanyaannya adalah apakah Mempelai Anak Domba adalah “mempelai laki-laki” menurut penulis?

[30] Kami memaksudkan “Mempelai Anak Domba” sebagai Kristus.

[31] Why. 21:1 menjadi semacam “pengantar atau pendahuluan atau jembatan” menuju tema tentang langit dan bumi yang baru yang kemudian secara lebih ekplisit dan mendeteil berbicara tentang kenyataan Yerusalem baru itu sendiri. Pengantar ini juga sebenarnya hendak mengatakan sebuah “peralihan” dari “realitas yang lama=penderitaan dan kehancuran menuju realitas yang baru=kebaruan, kekudusan, kemuliaan dan kebahagiaan.

[32] Frase “di depan tahta” dan kalimat “orang-orang mati dihakimi” menunjuk pada “tahta Allah sendiri” dan “perbuatan Allah sendiri”.

[33] LBI, Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan Pengantar dan Catatan kaki (Ende: Arnoldus, 1996/1997)

[34] Suharyo tidak memberikan struktur khusus tetapi bertolak dari kerangka yang ditawarkannya, penulis mengolah sendiri struktur bagian khusus ini. Ia justru secara sangat singkat menggambarkan struktur itu sebagai berikut: Penggambaran Yerusalem baru dimulai dengan sebuah pendahuluan [21:9-10a], kemudian dikembangkan gambaran mengenai Yerusalem baru dengan berbagai lambang. Lambang dasar adalah kota. Lambang ini dikembangkan dalam tiga arah yang masih berhubungan dengan “kota”: 1] Kemuliaan Allah menerangi kota dan melingkunginya [21:10b-11]; 2] tembok yang besar dan tinggi [21:12a] 3] pintu gerbang sepanjang tembok [21:12b], 4]  pengukuran oleh malaikat [21:15-17], 5] batu mulia dan emas [ay.18-21], 5] tidak ada lagi Bait Suci [ay.22-27], 6] sungai air kehidupan [22:1], 7] pohon kehidupan [ay.2], 8] Takhta Allah dan Anak Domba [ay. 3-5] Bdk. I. Suharyo, hlm. 59.

[35] Kata depan “lalu” di samping menunjukkan tentang beralihnya atau dimulainya sesuatu yang baru tetapi juga sebenarnya menegaskan ketersambungan baik menyangkut peristiwa atau tema tertentu. Dalam konteks ini, kami memahaminya dalam arti kedua-duannya. Artinya, di satu pihak kata itu menegaskan beralihnya “pelukisan pertama” dan dimulainya pelukisan yang baru tetapi masih dalam kesinambungan dengan yang pertama..

[36] Dalam Kitab Wahyu, kata ganti orang pertama ini digunakan sebanyak 190 kali. Namun, kata ganti ini dipakai tidak hanya oleh Yohanes dalam rangka menyebut dirinya sebagai pelihat tetapi juga oleh Yohanes yang berusaha memaparkan perkataan atau kesaksian langsung dari Allah sendiri mengenai: “perkataan-perkataan-Nya sendiri.” Bdk. Alkitab Elektronik.

[37]  “The writer identifies himself simply John. He tells of receiving his vision while “on the island of Patmos because of the word of God and testimony of Jesus [1:9]. The earliest traditions identify this John with the writer of the Gospel and Epistles, that bear his name. This weight of early testimony favors this view” Bdk. Lawrence O. Richards, Richard’s Complete Bible Handbook, (New York: Word Publishing, 1987), hlm. 818.

[38] “The Apocalypse of John differs from Jewish apocalyses in so far as the author apparently used his own name. In the enthusiasm of early Christianity, the added authority of a pseudonym could be dispensed with” Bdk. John. J Collins, “The Apocalypse-Revelation and Imagination” dalam The Bible Today, Vol. 19/No. 6, November 1981, hlm. 362.

[39] The word “apocalypse” means “revelation [….]. The revelation is given in a mysterious form and must be mediated in some way by an angel or supernatural being. Ibid..

[40] Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. VI. (Michigan-Grand Rapids: W.M.B. Eerdemans Publishing Company, 1967), hlm. 530-531..

[41]  Bdk. Drs. J. J de Heer, Wahyu Yohanes II, Tafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1983), hlm. 145.

[42] Bdk. David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1999), hlm. 223.

[43] Bdk. I. Suharyo, Kitab Wahyu, Paham dan Maknanya bagi Hidup Kristen, hlm. 111.

[44] Ibid.

[45] I. Suharyo, hlm. 58.

[46] Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. VI., hlm. 531-533.

[47] David H. van Daalan, hlm. 223. Lih. Juga.Drs. J. J. Heer, hlm. 145.

[48] Dalam Kitab Wahyu terdapat sepuluh kota yang disebutkan; antara lain; Efesus [2: 1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13], Laodokia [3:14-22], Mesir [11:8], Sodom [11:8], Yerusalem [ 21:2-22:5]. Kata “Yerusalem” dalam Kitab Wahyu secara eksplisit disebutkan sebanyak 2 kali [21:2] dan [21:10]. Yerusalem seringkali disebut sebagai “Yerusalem baru” dan atau “Yerusalem surgawi”. Beberapa kutipan lain hanya menggunakan “kata keterangan sebagai penunjuk kota tersebut” misalnya: “Kota itu” [21: 10, 11, 14, 15, 16, 19, 21, 23], [22: 2, 14, 19], ”di sana” [22: 5], ”temboknya, bentuknya, gerbangnya, di dalamnya” [21:12,14, 15, 22]. Kata keterangan penunjuk tersebut menunjukkan keterkaitan antar ayat maupun perikop. The city also appears in the metaphor of Babylon [17:1-18:24] and finally in the concluding vision of the heavenly Jerusalem [21:2-22:5]. Eva Maria Rapple, The City of Revelation” dalam The Bible Today, Vol. 34/6 [1996] (Minnesota: Order of Saint Benedict., Inc.), hlm. 359.

[49] Bdk. Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. III., hlm. 449.

[50] Bdk. Bruce M. Metzger, Michael D. Coogan [Eds.], The Oxford Companion to the Bible, (Oxford-New York: Oxford University Press Inc, 1993), hlm352.

[51] Bdk. Goerge Arthur Buttrick [Ed.], The Interpreter’s Dictionary of The Bible: An Illustrated Encyclopedia, (Abingdon: Parthenon Press, 1962), hlm.843. Lih. Juga. The Illustrated Bible Dictinary, Part 2: Goliath-Papry, (Hodder & Stoughton: Inter-varsity Press, 1980), hlm. 753.

[52] Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. VII., hlm. 327.

[53] Bdk. LBI, Tafsir Wahyu, hlm. 148.

[54] Bdk. Daalen, hlm. 223.

[55] Bdk. Ds. A. Pos, Terj. F. Sitanggang (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1966), hlm. 197.

[56] Bdk. I. Suharyo, hlm. 59.

[57] Bdk. Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. IV, hlm. 1104-1105.

[58] Bdk. Daalen, hlm. 229.

[59]  Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. I., hlm. 327.

[60] Sebagai contoh dalam kasus Daniel, “the revelation is given in a symbolic vision which is then explained by an angel…The revelation isnot given directly by God to the seer. In fact, in the Christian apocalypse the trasmission involved an extra step over and above the Jewish convention-The revelation is given first to Christ, then to an angel, then to John. Bdk. J. J. Collins, “The Apocalypse-Revelation and Imangination”, dalm The Bible Today, hlm. 362.

[61] Bdk. Daalen, hlm. 229.

[62] Bdk. I. Suharyo, hlm. 59.

[63] Bdk. Dianne Bergant, CSA & Robert J. Karris, OFM, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Lembaga Biblika Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 514.

[64] Bdk. Schick Eduard, The Revelation of St. John for Spiritual Reading, (London: Sheed & Ward, 1983), hlm. 218.

[65] Ibid.

[66] Ibid.

[67] I. Suharyo, hlm. 60.

[68] Ibid.

[69] Bdk. Bdk. Drs. J. J de Heer, Wahyu Yohanes II, Tafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1983), hlm. 151-152.

[70] Bdk. Daalen, hlm.230.

[71] Ibid.

[72] I. Suharyo, hlm. 60.

[73] Ibid.

[74] Daalen, hlm. 230.

[75] Ibid, hlm.232.

[76] Ibid, hlm. 230.

[77] Ibid

[78] Ibid, hlm. 230-231.

[79] I. Suharyo, hlm. 60.

[80] Ibid.

[81] Daalen, hlm. 235.

[82] Suharyo, hlm.60.

[83] Bdk. Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. VII., hlm. 770..

 

[84] Direfleksikan dari Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. V., hlm. 532.

[85] “The revelation isnot given directly by God to the seer. [….] The revelation is given first to the Christ, then to an angel, then to John.”Bdk. John J. Collins, “The Apocalypse: Revelation and Imagination” dalam the Bible Today, hlm.362. Lih. Juga, Robert T. Boyd [Ed.], World’s Bible Handbook, [Michigan-Grand Rapids: World Publishing, 1991), hlm.673.

[86] Bdk. Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Trans. Geoffrey W. Bromiley, D. LITT, D.D., Vol. IV, hlm. 1098-1099..

[87] Bdk. Gerard Kittel [Ed.], Theological Dictionary of The New Testament, Vol. V, hlm.770.

 

2 Tanggapan to “YERUSALEM BARU DALAM KITAB WAHYU”

  1. Ignatius Sriyana, SW Says:

    Wah terima kasih Bapa Paul, dengan membaca, meresapi, pokok bahasan ttg Yerusalem Baru ( Kiyab Wahyu), akan menambah pengetahuan, bisa berbagi pengetahuan dengan saudara/i kita. Semoga Berkat Tuhan selalu menyertai Kita. Amin

  2. permisi sebelum nya ..i, pertama saya mengucpkan syalom…dalm tuhan kita yesus kristus,rtrimakasi atas cerita-cerita’nya,
    dari lewat ayat firman ini saya bersyukur karena bisa menambah pengetahuan… God Bles you ..!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: