GORESAN PENA SAHABATKU (PAUL KALKOY)

paul kalkoy

MAMAHAMI KITAB WAHYU YOHANE

OLEH: PAUL KALKOY


Pendahuluan

Dari seluruh kitab dalam Alkitab, kitab Wahyu adalah kitab yang paling menarik tetapi juga kitab yang paling jarang dibaca oleh orang Kristen. Sangatlah menarik karena kitab Wahyu menimbulkan rasa keingintahuan manusia terhadap hal yang berhubungan dengan akhir jaman, seperti angka 666, segala jenis binatang yang keluar dari perut bumi, dan lain-lain. Namun untuk dapat mengerti hal tersebut bukanlah hal yang mudah sehingga kita menjadi enggan membaca kitab Wahyu. Ingat, maksud dan tujuan Firman Tuhan ditulis bukan hanya sekedar untuk memuaskan keingintahuan atau kuriositas kita saja. Sebab kalau Firman Tuhan hanya sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu kita maka apa yang kita dapatkan seringkali justru terbalik dengan maksud dan tujuan Tuhan memberikan Firman yang tertulis ini pada kita. Kita mengenal dan mengetahui bahwa Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru.[1] Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi.[2] Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.[3] Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial (berbahaya).[4]

I. MEMAHAMI KITAB WAHYU

Dibandingkan dengan tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang lain, kitab Wahyu harus dikatakan istimewa. Keistimewaan segera dapat dilihat dan dirasakan kalau kita mulai membacanya: gayanya, gambaran-gambaran atau lmbang-lambang yang dipakainya dan jalan pikirannya sulit dimengerti bahkan membingungkan. Maka tidak mengherankan kalau ada begitu banyak ragam tafsiran atas kitab Wahyu,[5] termasuk tafsiran yang harus dikatakan “aneh” dilihat dari sudut ilmu tafsir yang lazim.

1.1. Pengarang

Meski pengarang memperkenalkan dirinya sebagai “Yohanes” (1:9), tidak ada petunjuk Yohanes yang mana yang dimaksudkan. Sudah menjadi anggapan tradisi bahwa pengarangnya adalah rasul Yohanes.[6] Berikut adalah bukti yang mendukung dan yang menentang bahwa rasul Yohanes adalah pengarangnya.

1.1.1. Bukti Eskternal

1.1.1.1. Yang Menolak Kepengarangan Apostolik

a. Dionisius dari Aleksandria (± 264 Mas)

Meski kebanyakan pihak dari zaman mula-mula mendukung bahwa pengarangnya bersifat apostolik (maksudnya pengarangnya adalah Yohanes), ada beberapa yang tidak, khususnya Dionisius dari Aleksandria. Dengan cara membandingkan Injil Yohanes dengan Wahyu, Dionisius berkesimpulan bahwa kedua pengarangnya tidak mungkin adalah orang yang sama.[7] Karena dia yakin bahwa kitab Injil yang keempat itu bersifat apostolik, maka ia harus menolak sifat apostolik dalam kitab Wahyu.[8] Dionisius tidak memberitahu kepada kita motivasi atas penolakan tersebut. Namun seperti yang dikemukakan Walvoord, alasan penolakan kepengarangan apostolik banyak didasarkan pada suasana teologis di abad ketiga. Pada saat itu aliran teologi Aleksandria, termasuk didalamnya Dionisius, menentang doktrin kerajaan milenial yang dengan gamblang diajarkan pada pasal 20 dengan mengacu pada seribu tahun.[9]

Namun apakah Dionisius benar? Guthrie memberi tiga alasan mengapa kesaksian Dionisius perlu dikesampingkan. (1). Kritik Dionisius tidak didasarkan pada kesaksian zaman mula-mula, namun pada penilaian subjektif. Oleh sebab itu, kritik tersebut bukan mewakili kesaksian orang-orang Kristen pada abad ke-tiga, melainkan hanya merupakan penilaian yang berbeda dari kritik abad ke-duapuluh.[10] (2) “Pernyataan Dionisius yang berkaitan dengan bahasa Yunani cenderung salah karena ia kelihatannya tidak melihat citarasa Semitik dibalik bahasa Yunani dalam Injil, dan pendapatnya mengenai Wahyu tidak menjawab penilaian kritis yang modern yang pada umumnya yakin bahwa keanehan tatabahasanya bukan disebabkan oleh karena kebodohan.[11] (3) “Saran alternatif yang diberikan Dionisius tidak meyakinkan, karena padangannya mengenai ‘Yohanes yang kedua’ itu jelas menjadi kesaksian kehidupannya yang ceroboh.[12] Dengan sangat yakin, Guthrie telah terlalu melebih-lebihkan. Kita akan melihat alasan kedua diatas kemudian akan membahas yang pertama dan yang ketiga sekaligus. Akan tetapi perlu diperhatikan disini bahwa Dionisius sebenarnya mendasarkan pendapatnya itu (apapun motivasi yang ia miliki) pada bukti-bukti internal dan eksternal.

Pertama, dalam menilai persoalan linguistik, Guthrie sedang menanggapi pernyataan Dionisius bahwa siapapun yang menulis Wahyu pasti bukan yang menulis Injil, karena bahasa Yunani yang dipakai dalam Wahyu adalah sungguh berbeda, bahkan sebenarnya sungguh jelek (Dionisius menamakannya bahasa “barbar”), sedangkan bahasa Yunani dalam Injil yang keempat menggunakan bahasa Yunani yang lumayan.[13] Guthrie melukiskan satu gambaran yang seragam mengenai pkitangan modern yang sebenarnya sama sekali tidak seragam: bahasa Yunani dalam Injil ke-empat, menurut beberapa sarjana, adalah bahasa Yunani sangat baik dengan hampir tidak memiliki unsur Semitisme,[14] dan bahasa Yunani yang solestik dalam Wahyu kapanpun tidak bisa disebabkan oleh maksud tertentu.[15]

Kedua, meski Dionisius tidak menyatakannya secara langsung, namun ia mendasarkan pkitangannya pada kesimpulan di zaman mula-mula. Maksudnya, nampaknya ia tidak hanya semata-mata mengadopsi sejumlah tulisan mengenai pernyataan terkenal dari Papias tentang “penatua Yohanes,” dalam menyimpulkan bahwa Yohanes adalah orang yang berbeda dari rasul Yohanes. Untuk itu sebaiknya kita melihat komentar Papias, karena ada banyak hal yang bergantung pada komentarnya tersebut.

b. Papias

Meski pernyataan Papias tidak mengatakan apapun mengenai siapa pengarang kitab Wahyu, nampaknya pernyataan Papias berikut memungkinkan adanya dua Yohanes yang tinggal di Efesus yang terkenal itu. Dalam Fragments of Papias 2:3-4 ia berkata demikian:[16]

“Namun saya tidak akan mundur [untuk mengatakan] kepada kita sama seperti dalam banyak hal yang telah saya pelajari dengan baik dari para penatua—dan [sama seperti dalam banyak hal] saya mampu mengingat menyusun dengan sistematis dengan dalam interpretasi, sementara [di saat yang sama] menegaskan kebenaran atasnya. Karena saya tidak senang dengan mereka yang mengemukakan banyak hal (meski hal seperti itu disukai jemaat), kecuali dengan mereka yang mengajarkan kebenaran. Saya juga tidak senang dengan mereka yang mengingat perintah-perintah yang lain, kecuali [hanya] dengan mereka yang [mengingat perintah-perintah] dari Tuhan yang telah diberikan dalam iman dan yang datang darinya dalam kebenaran. Namun kalau di satu tempat seseorang akan datang untuk memperingatkan para penatua, [perlu diketahui bahwa] saya [juga] telah sering menilai perkataan para penatua—[yakni,] apa yang Andreas atau Petrus atau Filipus atau Tomas atau Yakobus atau Yohanes atau Matius atau murid Tuhan lainnya telah katakan, bahkan apa yang Ariston dan penatua Yohanes, yang adalah murid Tuhan, telah kemukakan baru-baru ini. Karena saya tidak tergoda [dalam pkitangan bahwa] perkataan dalam kitab-kitab itu memberi keuntungan pada saya sedikitpun sama seperti kebanyakan dari perkataan yang dari suara yang hidup dan teguh”.

Perkataan yang terkenal diatas, yang dikutip dalam Eusebius, HE 3.38.4, dipakai sebagi bukti kuat bahwa rasul Yohanes itu dan penatua Yohanes itu bukanlah orang yang sama, dan bahwa penatua Yohanes itulah yang menulis Wahyu (cf. HE 3.38.5f.).[17] Meski Guthrie telah sangat melebih-lebihkan pkitangan yang menentang “bukti yang kuat” ini, namun ada beberapa kemungkinan bahwa keduanya memaksudkan Yohanes sebagai orang yang sama. Bukti untuk ini adalah sebagai berikut.

Pertama, perlu dicatat bahwa hanya dua gelar yang dikemukakan disini—yakni penatua dan murid (bukan rasul). Keduanya menyebutkan Yohanes, langsung atau tidak langsung, memiliki gelar tersebut kepada orang tersebut. Jadi, ‘penatua Yohanes’ bukan satu gelar yang lebih rendah, karena disini Papias tidak menyebutkan ‘rasul Petrus,’ dsb.

Kedua, Sebutan kedua terhadap Yohanes adalah satu-satunya sebutan yang diberikan dalam daftar yang memiliki kata skitang definit (oJ presbuvtero” jIwavnnh”). Artikel ini mungkin bersifat anaforis. (Meski orang akan berharap kata skitangnya bersama presbuvtero”, kalau Papias memperkenalkannya sebagai untuk pertama kali maka cara yang paling wajar untuk melakukannya adalah dengan posisi atributif yang ketiga:(jIwavnnh” oJ presbuvtero”). Namun secara jujur, kata skitang tersebut jelas tidak bersifat anaforisdan orang mungkin akan dengan wajar berharap ada sejumlah qualifier jika Papias berkehendak untuk menyatakan dengan jelas Yohanes yang satu dari yang lainnya.

Ketiga. Seperti yang dikemukakan I. T. Beckwith, penatua Yohanes telah cukup dikenal sebagai rasul Yohanes, karena seperti yang terdapat dalam teksnya, disini ia disebut sebagai murid Tuhan, dan tidak ada Yohanes yang lain yang dikenal diantara murid Tuhan dalam Perjanjian Baru, atau yang selain dari kutipan dari Papias, menurut tradisi tiga abad yang pertama (Apocalypse, 363). Tentu saja, tidak ada seorang pun yang bernama Ariston dalam daftar murid Tuhan, kecuali yang disebutkan disini, jadi argumen ini tidak terlalu kuat seperti pada sebelumnya.

Empat. Ada kemungkinan Papias menganggap kelompok yang pertama semuanya sebagai pengarang Injil (meski secara tekhnis hanya Matius dan Yohanes yang termasuk dalam kelompok ini, dan kelompok orang yang kedua sebagai murid Tuhan yang mengenalnya secara pribadi. Ia nampaknya memaksudkan demikian dalam kalimat yang mengikutinya. Jika demikian, maka dalam satu hal Papias tidak hanya sedang membicarakan dua ‘Yohanes’ yang berbeda, melainkan dua macam ‘Yohanes’ yang berbeda— Injil (suara yang ditulis) dan orangnya (suara yang hidup). Jadi ia tidak perlu memperketat kaitannya (meski Injil yang keempat mungkin ditulis oleh ‘suara yang hidup’—apalagi jika ‘suara yang hidup’ itu lebih berarti.[18]

1.1.1.2. Yang Mendukung Kepengarangan Apostolik

Daftar penulis bapak Gereja yang menerima kepengarangan apostolik sungguh mengesankan dan terjadi sejak awal: Justin Martyr, Irenaeus, Tertullian, Clement dari Aleksandria, Origen, Hippolytus. Kalau Origen termasuk dalam daftar itu sangatlah berarti, karena dia sama seperti Dionusius adalah dari aliran Aleksandria. Seperti yang telah dikemukakan Guthrie, “sedikit kitab Perjanjian Baru yang memperoleh penegasan sejak awal.”[19] Namun, perlu disebutkan disini bahwa kitab Wahyu, meski dengan segala dukungannya, mengalami pergumulan pengkanonan lebih lama dari kitab PB manapun. Akan tetapi, kitab Wahyu tidak ditolak terutama mengenai kepengarangannya, melainkan mengenai persoalan perspektif teologis—yakni, berkaitan dengan chiliasme.[20]

1.1.2. Bukti Internal

Secara internal, bukti yang mendukung kepengarangan apostolik[21] tidaklah terlalu kuat. Inilah adalah yang meresahkan banyak sarjana saat ini.

1.1.2.1. Yang Mendukung Kepengarangan Apostolik

Ada tiga argumentasi internal yang mendukung kepengarangan apostolik. Ketiga argumenati itu seperti terdapat di bawah ini.

a. Dari kitab Wahyu.

Pertama, ia dikenal dengan namanya saja oleh ketujuh gereja yang ia tulis. Ini akan lebih bisa dipercaya jika tulisan tersebut memang ditulis oleh rasul Yohanes. Kedua, ia mengharapkan gereja-gereja tersebut memberi respon yang baik dan mentaati tulisannya, karena ia menyampaikannya dengan otoritas (Bdk. Why 1:3; 22:9, 18 dst). Ketiga, meski ia menulis dalam bentuk gendre nubuatan gaya Yahui kuno, ada satu keunikan dalam tulisannya: kalau tulisan nubuatan gaya Yahudi diasalkan pada orang-orang mulia jauh di masa lampau (misalnya, kepada Enoch, Ezra, Baruch), pengarangnya disini dengan jelas menyatakan dirinya sebagai “Yohanes saudara dan sekutumu (Why 1:1.4;22:8).[22]

b. Dari penjelasan Yohanes yang bersifat sinoptis.

Dikenal dengan salah seorang dari “anak-anak guru,” sifatnya bisa dilihat dalam tulisannya ini. Guthrie membicarakan banyak mengenai hal ini, meski hampir tidak pernah memberi komentar bahwa kebanyakan yang terdapat dalam kitab Wahyu itu dikarenakan oleh sifatnya yang bersifat nubuatan.

c. Dari satu perbandingan dengan tulisan Yohanes lainnya.

Ini merupakan argumen yang terkuat yang mendukung kepengarangannya. Secara khusus ada kesamaan kuat antara tulisan ini dengan Injil yang keempat. Keduanya memiliki ide-ide yang sama, motif-motif teologi yang sama, istilah-istilah yang sama. Misalnya, hanya dalam Injil keempat dan dalam kitab Wahyu “logos” digunakan untuk Kristus.[23] Selanjutnya, penggunaan simbol tujuh yang diulang-ulang dalam kitab ini terdapat dalam injil Yohanes sebagai bagian dari argumennya (tujuh tkita, tujuh pernyataan “Akulah..”, dsb seperti di bawah ini).[24]

Tema Yohanes Wahyu
Kristus sebagai Anak Domba Allah 1:29, 36 28 kali dipakai
Nama-Nya adalah Sabda Allah 1:1,14 19:13
Gambaran “mempelai” berarti rumah Allah 3:29 21:2,9;22:17
Kehidupan dilambangkan dengan air seperti misalnya “air hidup” dan “Air kehidupan” 4:10 dst 7:38; 7:17; 21:6; 22:1,17
Zak 12:10 dikutip oleh keduanya 19:37 1:7
Tidak adanya kenisah di Yerusalem baru 4:21 21:22

Memang, orang bisa berkata bahwa Wahyu lebih mendekati Injil keempat dalam pikiran dan gaya dibandingkan dengan kitab lainnya dalam kanon PB.

1.1.2.2. Yang menolak kepengarangan apostolik

Demikian juga ada tiga argumen yang menentang kepengarangan apostolik seperti terdapat di bawah ini.

a. Persoalan sejarah.

Ada laporan bertentangan di zaman dahulu mengenai kematian rasul Yohanes. Selanjutnya, kalau tulisan ini ditanggalkan pada akhir abad pertama—dan meski rasul Yohanes masih hidup pada zaman tersebut—bisakah orang setua itu menulis sejelas itu? Akan tetapi tidak perlu banyak memikirkan hal ini karena tradisi mengenai kematian Yohanes agak lunak, dan karena kita tidak mengetahui berapa usianya saat ia dipanggil sebagai murid (saat itu ia bisa saja baru berumur 20 awal, mungkin lebih muda), kita tidak bisa memberi komentar mengenai kekuatannya pada usia yang ke-90an.

b. Persoalan teologis.

Persoalan teologi[25] lebih kuat dibanding persoalan sejarah. Penekanan para Trinitas sebagai seorang penilik Patmos cukup berbeda dari yang dilakukan oleh Yohanes si penginjil.[26] Allah adalah Pencipta, Kristus adalah Pahlawan, sedangkan Roh Kudus bukan satu melainkan tujuh (1:4). Perbedaan ini tidak terlalu berarti kalau kita menyadari bentuk tulisan dan tujuan kitab ini. Namun ada satu perbedaan teologis yang sangat berarti.

Kalau Injil keempat menekankan eskatologi yang telah nyata, Wahyu menekankan eskatologi futuristik. Kenyatannya akan sulit untuk menemukan doa perspektif eskatologis yang lebih ekstrim dalam kamom. Eskatologi yang ditekankan Yohanes penginjil adalah ‘yang sudah,’ namun yang menulis wahyu bersifat ‘belum terjadi.” Hal ini ditambah dengan argumentasi linguistik saya akui pernah menyakinkan saya selama beberapa waktu. Saya sebelumnya berpikir sungguh tidak mungkin penulis Injil bisa tertarik dengan eskatologi futuristik. Namun setelah yakin bahwa kemungkinan Yohanes penginjil jugalah yang menulis ketiga surat Yohanes, orang bisa melihat bagaimana ia bisa membuat pernyataan-pernyataan eskatologisnya. Sebenarnya, dalam rekonstruksi historis yang kami lakukan, kami menyarankan bahwa Injil Yohanes ditulis tidak lama sebelum perang Yahudi pecah, ketiga surat Yohanes ditulis saat peperangan terjadi, dan kitab Wahyu ditulis sedikit jauh setelah peperangan tersebut. Peperangan yang dialami orang Yahudi sungguh mempengaruhi pkitangan dan cara menulis Yohanes, dan kalau dia menulis Wahyu 30 tahun sesudahnya, ia memiliki waktu untuk merenungi motif teologi yang baru (bagi dirinya). Selanjutnya, kalau tulisan ini ditulis di zaman pemerintaahan Domitian yang penuh teror, penulis dengan mudah bisa melihat satu pengenapannya di zamannya, jika bukan di akhir zaman. Pada akhirnya, perbedaan teologis tidak bisa saling dipertentangkan, meski keduanya mungkin memang memiliki kerangka waktu yang berbeda. Dengan demikian, rasul Yohanes mungkin yang menulis keduanya.

c. Persoalan Linguistik.

Banyak kesalahan tatabahasa dalam kitab Wahyu! “Pengarannya nampaknya tidak mengenal aturan-aturan dasar mengenai keteraturan bahasa Yuanani[27]. Ia menempatkan nominatif bertolakbelakang dengan kasus-kasus lain, penggunaan partisipel secara tidak beraturan, susunan kalimat yang tidak lengkap, menambahkan kata ganti yang tidak perlu, mencampuraduk gender, kata bilangan dan kasus dan ia memperkenalkan beberapa susunan aneh. Kelihatannya sangatlah tidak meragukan bahwa penggunaan taabahasa dalam kitab ini berbeda dengan yang terdapat dalam Injil. Namun yang menjadi persoalan sebenarnya adalah apakah orang yang sama yang membuat perbedaan-perbedaan ini.[28]

Mengenai persoalan lingustik, nampaknya tidak mungkin orang yang sama yang mengarang Injil dan Wahyu yang hanya berselang beberapa tahun saja. Tidak hanya perbedaan linguistik, namun juga ada perbedaan dalam memahami tuisan-tulisan dalam Alkitab. Banyak sarjana yang mendukung kepengarangan apostolik untuk kedua buku itu akan berpendapat bahwa kitab Wahyu ditulis lebih dulu kemudian injil Yohanes. Alasannya adalah bahwa rasul Yohanes memerlukan waktu untuk memperbaiki bahasa Yunaninya. Namun pendapat ini salah dalam dua hal (1) itu mengabaikan persoalan psikologis: bukankah seseorang yang telah berusia 50an telah memiliki cara yang mapan dalam berbicara dan berpikir? Apakah mungkin ia bisa memperbaiki bahasanya selama tigapuluh tahun kemudian, kalau ia berbicara dan menulis dengan cara tertentu selama lebih dari setengah abad? (2) Pkitangan ini beranggapan bahwa bahasa Yunani dalam Wahyu dikarenakan oleh kebodohan pengarangnya dalam sintaksis bahasa Yunani, dimana kenyataannya kemungkinan ada faktor lain yang menyebabkannya.

Kami setuju bahwa tidak mungkin Yohanes menulis kedua kitab itu di waktu yang sama. Bukti linguistik (juga dalam penggunaan Alkitab) meyakinkan kami akan hal ini. Namun kami ingin mengemukakan pkitangan lain: seiring bertambahnya usia rasul Yohanes, bahasa alkitab PL telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kosakatanya. Kami yakin ia menulis Injil pada usia 60an. Tigapuluh tahun kemudian setelah menggembalakan jemaat di Asia Kecil, bahasa Yohanes bisa saja dengan mudah menjadi sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Alkitab yang ia ajarkan. Ini biasanya terjadi pada pengkhotbah lanjut usia yang menggunakan Alkitab King James selama hidupnya. Pada usiannya yang semakin tua ia akan hampir kurang bisa memahami ungkapan-ungkapan modern! Dalam kitab Wahyu setidaknya ada hampir 40 referensi dari PL, meski tidak satupun yang langsung menggunakan sintaksis asli dari PL yang ia pakai, meski sintaksi seperti itu akan tidak sesuai dengan konteks tulisannya sendiri (cf. 1:4-5, etc.). Kebanyakan diantaranya memang disengaja; tapi banyak juga yang tidak. Namun saat Yohanes menjadi semakin tua, bahasa alkitab menjadi bagian dari struktur linguistik yang ia buat.

Sebagai kesimpulan, kami berpikir bahwa keseimbangan bukti yang ada masih mendukung kepengarangan apostolik[29], meski pada saat rasul Yohanes menulis Injil keempat pasti lebih dulu dari saatnya ia menulis kitab Wahyu dalam beberapa tahun. Yohanes adalah pengarang kitab Wahyu. Kita bisa menambahkan disini bahwa karena Yohanes nampaknya mengenal Tuhan lebih dekat dari murid-murid lainnya saat Kristus datang pada kali yang pertama, nampaknya wajar kalau dia juga dipilih untuk melihat-Nya dalam kedatanganNya pada kali yang kedua dengan cara yang paling intim. Sebenarnya, atas analogi perkataan Yesus dalam Mat 16:28, yang digenapi dalam Transfigurasi (17:1), maka mungkin saja Wahyu Yesus Kristus yang ditulis oleh Yohanes adalah satu penggenapan Yoh 21:21-23.

1.2. Tahun Penulisan

Umat Kristen yang kepadanya wahyu ditujukan sebagai penghiburan dan penguatan ialah umat yang dilkita penganiayaan dan terancam penganiayaan yang lebih hebat lagi. Alasannya ialah bentrokan dengan negara Roma. Oleh karena umat tidak bersedia ikut serta dalam agama negara, khususnya pemujaan kaisar sebagai dewa.[30] Inilah situasi umum yang dihadapi umat ketika Wahyu Yohanes ini ditulis. Akan tetapi, sehubungan dengan ini pula muncul beberapa interpretasi sehubungan dengan kapan tepatnya kitab ini ditulis.[31]

1.2.1. Kitab Wahyu Ditulis atau Pada Zaman Kaisar Nero atau Pada Jaman Kaisar Domitian.[32]

Mengapa harus disimpulkan demikian? Karena Kitab Wahyu jelas ditulis kepada orang kristen yang menderita penganiayaan. Ini terlihat dari:

Why 1:9 pembuangan terhadap Yohanes di Patmos[33]
Why 2:13 pembunuhan terhadap Antipas, yang adalah orang yang setia kepada Tuhan dan merupakan saksi Tuhan
Why 2:10 pemenjaraan yang dibicarakan terhadap jemaat Smirna
Why 6:9 ada orang-orang yang dibunuh karena Firman Allah dan kesaksian yang mereka miliki
Why 17:6  bdk. 16:6, 18:24, 19:2, 20:4 perempuan yang mabuk oleh darah orang-orang kudus dan saksi-saksi Yesus

Ada 10 kaisar Roma yang menganiaya orang kristen, tetapi hanya 2 yang hidup pada jaman rasul Yohanes, yaitu Nero (tahun 54-68 M) dan Domitian (tahun 81-96 M), dan karena itu Kitab Wahyu pasti ditulis pada salah satu dari 2 pemerintahan itu. Pada umumnya para penafsir berpendapat bahwa kitab Wahyu ditulis pada jaman kaisar Domitian, yaitu pada sekitar tahun 95-96 M. Tetapi para ‘preterist’ (= orang yang percaya bahwa hampir semua nubuat dalam Kitab Wahyu sudah digenapi pada masa yang dekat dengan penulisan Kitab Wahyu itu), mengambil tahun 69 M, persis sebelum tahun 70 M yang merupakan tahun kejatuhan Yerusalem, supaya dengan demikian mereka bisa memasukkan kejatuhan Yerusalem sebagai salah satu penggenapan kitab Wahyu.

1.2.2. Argumentasi Untuk Tahun 69 M (Zaman Nero[34]):

  1. Bait Allah masih ada (Wah 11:1-2), padahal Bait Allah dihancurkan pada tahun 70 M.[35]
  2. Wah 17:10 menyebutkan tentang 7 raja, 5 sudah jatuh, yang ke 6 masih ada, yang ke 7 belum datang. Nero memang adalah kaisar yang ke 6.
  3. Nama Nero (Neron Kesar) cocok dengan bilangan 666 dalam Wah 13:18.[36]
  4. Jika Yohanes menulis Injil Yohanes, Surat Yohanes, dan Kitab Wahyu, maka perbedaan bahasa Yunani (Yunani yang bagus untuk Injil Yohanes dan surat Yohanes; Yunani yang jelek untuk Kitab Wahyu), menunjukkan adanya perbedaan waktu yang cukup lama. Jadi mungkin sekali ia menulis Kitab Wahyu pada sekitar tahun 69 M, waktu kemampuan Yunaninya masih rendah, dan lalu menulis Injil Yohanes dan surat Yohanes pada akhir abad pertama, pada waktu bahasa Yunaninya sudah maju.[37]

1.2.3. Argumentasi Untuk Tahun 96 M (Zaman Domitian[38]):

  1. Penganiayaan yang dilakukan oleh Nero hanya terjadi di kota Roma dan dalam waktu relatif singkat, tetapi penganiayaan yang dilakukan oleh Domitian terjadi di seluruh wilayah kekaisaran Romawi. Dalam Kitab Wahyu Yohanes menulis kepada  gereja-gereja, yang pada jaman ini terletak di Turki, yang cukup jauh dari Roma, sehingga tidak mungkin terjadi pada jaman  Nero.
  2. Binatang yang disembah (Wah 13:4,12,15  14:9,11  15:2  16:2  19:20  20:4) dianggap menunjuk kepada kaisar Romawi. Kaisar-kaisar lain juga disembah, tetapi penyembahan itu tidak diperintahkan oleh si kaisar, dan penyembahan itu tidak terlalu banyak. Tetapi pada jaman kaisar Domitian, penyembahan itu diperintahkan oleh Domitian yang menganggap dirinya sendiri sebagai allah, dan karena itu penyembahan itu tersebar luas.
  3. Tahun 69 M dianggap terlalu pagi untuk menyebabkan gereja-gereja memburuk sampai taraf yang digambarkan dalam Kitab Wahyu.
  • Gereja Efesus sudah kehilangan kasih yang semula (Wah 2:4). Padahal pada waktu Paulus menulis surat Efesus, yaitu pada sekitar tahun 62 M, ia memuji jemaat Efesus atas kasih mereka (Ef 1:15).
  • Adanya pengaruh ajaran Nikolaus di Efesus dan Pergamus (Wah 2:6,15), padahal ajaran ini berkembang setelah jaman Paulus (Homer Hailey, hal 33).
  • Gereja Laodikia sudah menjadi gereja yang jelek yang suam-suam kuku, yang hanya mendapatkan celaan, tetapi tidak mendapatkan pujian apapun dari Kristus (Wah 3:14-22). Padahal pada saat Paulus menulis surat Kolose, kelihatannya gereja Laodikia masih aktif, dan Paulus tidak memberikan kritikan apa-apa tentang mereka (Kol 4:13-16).

Tanpa memastikan penanggalan yang mendetail, kami yakin bahwa kitab ini ditulis pada zaman pemerintahan Domitian (c. 95-96 CE), bukan di zaman pemerintahan Nero.[39] Meski ada alasan yang baik kalau menanggalkannya pada pemerintahan Nero, dalam hal pembahasan kita mengenai kepengarangan apostolik juga karena perbedaan linguistik dibandingkan dengan Injil yang keempat, kami lebih suka penanggalan tradisional (karena kami telah yakin dengan tahun ke 60an untuk Injil).

1.3. Penerima

Kitab Wahyu ditulis kepada ketujuh jemaat di dataran Asia Kecil yaitu Propinsi Asia yang terletak di bagaian barat negara Turki (Why 1:11).[40] Beberapa sarjana lebih suka melihat ketujuh jemaat ini sebagai wakil dari ketujuh zaman yang berbeda dalam sejarah gereja, namun tidak ada pembenaran untuk pkitangan seperti ini yang didukung oleh teks itu sendiri ataupun dari sejarh gereja. Akan tetapi ketujuh gereja ini mungkin dipilih karena mewakili macam-macam gereja dan orang Kristen yang dikenal Yohanes dan yang ia layani. Secara umum, sebagai bagian dari Alkitab, kitab ini juga ditulis untuk setiap orang Kristen (Why 2:7, 17, 29, dst).[41]

1.4. Latarbelakang dan Tujuan

1.4.1. Latarbelakang

Latarbelakan tulisan ini sangat mungkin terjadi saat penganiayaan gencar terjadi pada orang-orang Kristen (1:9). Jika ini berkaitan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh Domitian, maka penilik Patmos[42] ini akan berpikir sampai kapan eskaton itu akan terjadi. Kemungkinan besar ia menyakini bahwa penganiayaan yang ia alami menunjukkan bahwa akhir zaman itu telah sangat dekat. Saat itu berakhir, ada satu gelombang penggenapan (sama seperti saat Hadrian meratakan Yerusalem pada 135 CE akan menjadi gelombang ketiga, dst.). Namun harapan eskatologis selalu ada dalam tulisan-tulisan PB—khususnya dalam masa-masa sulit, sama seperti pentingnya kesabaran yang selalu diperlukan.

1.4.2. Tujuan

Kitab Wahyu ditujukan untuk mendorong orang percaya dalam penganiayaan di zaman Romawi (dan kepada kita), dengan mengungkapkan bahwa Mesias mereka masih memegang kendali dan pada akhirnya akan menjadi pemenang. Selain itu juga untuk menegur, mendorong dan membesarkan hati mereka. Hal ini diungkapkan secara jelas melalui teguran-teguran Tuhan Yesus dan janji kemenangan-Nya yang akan mengalahkan segala kejahatan yang mengancam mereka. Juga ditulis untuk menantang mereka bertopat atau supaya mereka berdiri tegak, sesuai dengan keadaan mereka masing-masing. Dengan demikian, jika mentaati yang tertulis dalam kitab ini, mereka akan turut bersukacita kerena Tuhan Yesus dan kemenangan-Nya (why 1:3; 2:7,11,17;15-28).[43] Secara lebih rinci dapat disebut tiga tujuan dari Kitab Wahyu adalah:

a.       Surat-surat kepada tujuh jemaat itu menyatakan bahwa suatu penyimpangan yang parah dari stkitar kebenaran rasuli sedang terjadi di antara banyak jemaat di Asia. Atas nama Kristus, Yohanes menulis kitab ini untuk menegur tindakan kompromi dan dosa mereka, serta menghimbau mereka untuk bertobat dan berbalik kepada kasih mereka yang mula-mula.
b.      Mengingat penganiayaan yang diakibatkan oleh karena Domitianus memuja dirinya sendiri, kitab Wahyu telah dikirim kepada jemaat-jemaat guna meneguhkan iman, ketetapan hati, dan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus, serta untuk memberi semangat kepada mereka agar mereka menjadi pemenang dan tinggal setia sampai mati sekalipun.
c.       Akhirnya, kitab ini telah ditulis untuk memperlengkapi orang percaya sepanjang zaman dengan segi pkitangan Allah terhadap perang yang sengit melawan gabungan kekuatan Iblis dengan menyingkapkan hasil sejarah yang akan datang. Kitab ini secara khusus menyingkap tujuh tahun terakhir  yang mendahului kedatangan Kristus kali kedua. Allah akan menang dan membenarkan orang yang kudus dengan mencurahkan murka-Nya atas kerajaan Iblis; ini akan diikuti oleh kedatangan Kristus kali kedua.

1.5. Aliran-Aliran Interpretasi

Ada empat aliran interpretasi (dalam hal skema kronologi kitab Wahyu, bukan dalam hal aliran eskatologi semata): preteris, historis, futuris, dan idealis.

1.5.1. Pendekatan Preteristis

Golongan Preteris menafsirkan bahwa simbolisme kitab Wahyu hanya berhubungan dengan kejadian-kejadian pada saat ia ditulis. Segala perumpamaan mengenai meterai, sangkakala, dan cawan tidak ada kaitannya dengan masa depan. Mereka percaya bahwa Wahyu hanyalah satu gambaran keadaan kekaisaran abad pertama.[44]

1.5.2. Pendekatan historistis (atau historikis-berlanjut)

Melihat kitab Wahyu sebagai satu presentasi simbolis keseluruhan sejarah gereja sejak awal abad pertama hingga akhir zaman.[45] Namun ada beberapa persoalan dengan pkitangan ini. Pertama, identifikasi yang pasti atas kejadian-kejadian sejarah dengan simbol-simbolnya tidak pernah bisa lengkap dibuat, bahkan setelah kejadian-kejadian tersebut terjadi. Kedua, para penafsir aliran historikal tidak pernah bisa dengan memuaskan menjelaskan mengapa satu nubuatan umum harus dibuat menguntungkan kekaisaran Roma bagian barat. Ketiga, kalau memang pendekatan historis-berlanjut benar, maka prediskinya akan cukup mudah agar para pembacanya (yang mula-mula) bisa memahami apa maksudnya (Why 22:10).[46]

1.5.3. Pendekatan futuris

Berpendapat bahwa semua versi dari Wahyu 4:1 hingga bagian akhir kitab ini akan nanti digenapi pada periode segera sebelum dan mengikuti kedatangan Kristus yang kedua,[47] bahwa Wahyu memberitakan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir zaman.[48] sejarah Pendekatan ini adalah yang paling memuaskan karena (1) kemungkinan bahwa 1:19 dimaksudkan untuk menjadi garis besar kitab ini; (2) terminus ad quem atas kedatangan Kristus yang kedua sebenarnya mendukung hal ini, karena saat kejadian-kejadian ini mengarah pada terminus ini dalam suksesi yang dekat, orang akan mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan berkata bahwa banyak dari kejadian ini masih harus terjadi di mas depan karena penggenapannya belum terjadi dan karena simbol-simbolnya nampaknya merupakan pergantian kejadian-kejadian yang terjadi dengan cepat dan bukan merupakan satu proses yang lama; dan (3) “semakin seseorang menggunakan interpretasi literal, maka semakin ia akan menjadi seorang futuris.”

1.5.4. Pendekatan idealis

Pkitangan golongan Idealis, yang sering kali berhubungan erat dengan pkitangan Preterist, menganggap Wahyu sekadar sebagai suatu gambaran simbolis dari peperangan yang tidak ada habisnya antara kebaikan dan kejahatan, serta di antara umat Kristen dan orang-orang kafir. Bagi mereka, Wahyu mewakili konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang berlangsung di sepanjang masa, meski dalam hal ini hal itu memiliki aplikasi tertentu bagi zaman gereja.[49] Namun sama seperti pkitangan aliran preteris, pendekatan ini mengabaikan elemen prediktif dalam kitab ini. Singkatnya, pkitangan idealist memang memiliki banyak kebenaran. Kesalahannya tidak terdapat dalam apa yang ditegaskannya melainkan banyak dalam apa yang dibantahnya.[50]

Pendakatan kita terhadap kitab Wahyu pada dasarnya adalah dari perspektif futuris, meski aliran preteris dan idealis tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan karena nampaknya juga ini merupakan bagian dari tujuan pengarangnya.

1.6. Tema

Tema kitab ini dinyatakan dalam ayat pertama: “Wahyu Yesus Kristus.” Kitab Wahyu adalah wahyu dari Dia maupun tentang Dia, dan pada dasarnya merupakan satu wahyu tentang Dia yang akan datang sebagai pahlawan dan raja. Pada intinya kitab ini menyatakan: “Yesus akan menang!”

1.7. Struktur Kitab Wahyu

Terdapat beragam pendapat terhadap struktur dari Kitab Wahyu, yang disebabkan oleh perbedaan pendapat terhadap muatan isi teologis dari tiap-tiap bagian dari struktur tersebut. Pada bagian berikut ini, dengan menggabungkan beberapa struktur yang sempat dipelajari,[51] kami berusaha untuk memaparkannya sebagai berikut:

I. Apa yang telah terjadi: pada Kristus (1:1-20)

A. Pendahuluan (1:1-8)

1. Jenis, sumber dan tujuan kitab ini (1:1-3)

2. Salam (1:4-5a)

3. Karya Kristus: dulu, sekarang dan akan datang (1:5b-8)

B. Penglihatan tentang Kristus (1:9-20)

1. Latar (1:9-11)

2. Tayangan (1:12-16)

3. Sejumlah Respon dan perintah (1:17-20)

II. Apa yang sedang terjadi: pada Gereja (2:1–3:22)

A. Pesan kepada jemaat Efesus (2:1-7)

B. Pesan kepada jemaat Smirna (2:8-11)

C. Pesan kepada jemaat Pergamus (2:12-17)

D. Pesan kepada jemaat Tiatira (2:18-29)

E. Pesan kepada jemaat Sardis (3:1-6)

F. Pesan kepada jemaat Filadelfia (3:7-13)

G. Pesan kepada jemaat Laodikia (3:14-22)

III. Apa yang akan terjadi: Penggenapan (4:1–22:21)

Zaman Tribulasi (4:1–18:24)

A. Pendahuluan: Penglihatan dari Sorga (4:1–5:14)

1. Takhta Tuhan Allah Mahakuasa (4:1-11)

2. Anak Domba Allah dan gulungan kitab (5:1-14)

B. Ketujuh Materai Penghakiman (6:1–8:1)

1. Materai pertama (6:1-2)

2. Materai kedua(6:3-4)

3. Materai ketiga (6:5-6)

4. Materai keempat (6:7-8)

5. Materai kelima (6:9-11)

6. Materai keenam (6:12-17)

(Sisipan pertama: 144,000 orang Israel dan orang banyak yang tidak terhitung [7:1-17])

a. Pemateraian 144,000 orang Israel (7:1-8)

b. Penyembahan dari orang-orang kudus zaman Tribulasi (7:9-17)

7. Materai ketujuh(8:1)

C. Tujuh Sangkakala Penghakiman (8:2–11:19)

1. Sangkakala pertama (8:2-7)

2. Sangkakala kedua (8:8-9)

3. Sangkakala ketiga (8:10-11)

4. Sangkakala keempat (8:12-13)

5. Sangkakala kelima (9:1-12)

6. Sangkakala keenam (9:13-21)

(Sisipan kedua: Kitab kecil dan dua saksi [10:1–11:14])

a. Kitab kecil (10:1-11)

b. Dua saksi (11:1-14)

7. Sangkakala ketujuh (11:15-19)

(Sisipan ketiga: Perempuan dan Perang [12:1-18])

a. Lahirnya Anak laki-laki (12:1-6)

b. Peperangan di Sorga (12:7-12)

c. Penganiayaan perempuan itu (12:13-18)

(Sisipan keempat: Dua binatang [13:1-18])

a. Binatang dari laut (13:2-10)

b. Binatang dari bumi (13:11-18)

(Sisipan kelima: Penghakiman oleh Anak Domba [14:1-20])

a. 144,000 penyembah Anak Domba (14:1-5)

b. Tiga pengumuman penghakiman dari malaikat (14:6-12)

1) Terhadap seluruh dunia (14:6-7)

2) Terhadap Babel (14:8)

3) Terhadap penyembah binatang itu (14:9-12)

c. Berkat untuk para Martir (14:13)

d. Penghakiman atas tuaian (14:14-16)

e. Penghakiman atas pohon anggur (14:17-20)

D. Tujuh cawan penghakiman (15:1–18:24)

1. Pengumuman penghakiman angung (15:1–16:21)

a. Pendahuluan atas cawan penghakiman (15:1–16:1)

1) Nyanyian Musa dinyanyikan para martir (15:1-4)

2) Tayangan di Sorga tentang para malaikat (15:5–16:1)

b. Cawan pertama (16:2)

c. Cawan kedua (16:3)

d. Cawan ketiga (16:4-7)

e. Cawan keempat (16:8-9)

f. Cawan kelima (16:10-11)

g. Cawan keenam (16:12-16)

h. Cawan ketujuh (16:17-21)

2. Penghakiman atas si Pelacur besar (17:1-18)

a. Penglihatan tentang si pelacur (17:1-6)

b. Arti penglihatan itu (17:7-18)

1) Keadaan di masa sekarang (17:7-8)

2) Penghakiman di masa akan datang (17:9-18)

a) Ketujuh kepala (17:9-11)

b) Sepuluh tanduk (17:12-14)

c) Wanita pelacur (17:15-18)

3. Jatuhnya kota besar (18:1-24)

a. Pengumuman atas jatuhnya Babel (18:1-3)

b. Penyebab kejatuhan (18:4-8)

c. Ratapan atas kejatuhannya (18:9-19)

1) Oleh raja-raja (18:9-10)

2) Oleh pedangang (18:11-17)

3) Oleh para nahkoda (18:18-19)

d. Sukacita atas kejatuhannya (18:20)

e. Akibat kejatuhannya (18:21-24)

E. Tujuh hal terakhir (19:1–22:5)

Kerajaan Seribu tahun (19:1–20:15)

1.  Pendahuluan: Pujian atas penghakiman atas wanita Pelacur dan atas perkawinan Penganting (19:1-10)

a. Penghakiman atas wanita pelacur itu (19:1-5)

b. Perkawinan pengantin (19:6-10)

2. Hal terakhir yang pertama: Kedatanga Kristus Keduakali (19:11-16)

3. Hal terakhir yang kedua: Perjamuan dan penyembelihan (19:17-21)

4. Hal terakhir yang ketiga: Setan diikat (20:1-3)

5. Hal terakhir yang keempat: Kerajaan Mesias (20:4-6)

6. Hal terakhir yang kelima: Setan dilepaskan (20:7-10)

7. Hal terakhir yang keenam: Takhta Putih Agung (20:11-15)

Keabadian (21:1–22:5)

8. Hal terakhir yang ketujuh: Langit dan bumi baru (21:1–22:5)

a. Penglihatan dikumkitangkan (21:1-2)

b. Langit dan bumi baru: Dikumkitangkan dari Takhta (21:1-8)

c. Yerusalem baru: dilihat oleh Yohanes (21:9–22:5)

1) Kota baru (21:9-21)

2) “Bukan-Bait Suci” (21:22-27)

3) Sungai kehidupan (22:1-3a)

4) Cahaya Anak Domba (22:3b-5)

F. Epilog (22:6-21)

1. Kesaksian dari malaikat (22:6-11)

2. Kesaksian dari Yesus (22:12-17)

3. Kesaksian dari Yohanes (22:18-21)

II. ANAK DOMBA ALLAH DALAM KITAB SUCI

2.1. Anak Domba dalam Kitab Perjanjian Lama[52]

Dalam  Perjanjian Lama, kata anak domba digunakan sebanyak 35 kali[53] dengan penekanan yang berbeda-beda. Sekitar tahun 1250 SM, bangsa Israel dijadikan budak di tanah Mesir. Allah yang Mahakuasa mendengar jerit tangis umat-Nya: Keluaran 2:24 mengatakan, “Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.” Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu penindasan. Sesudah Musa mengadakan sembilan tulah, Firaun masih tetap bertegar hati. Akhirnya, Tuhan memerintahkan Musa agar setiap keluarga mengambil seekor anak domba berumur satu tahun, jantan, dan tak bercela; menyembelihnya, dan memberi tkita dengan darahnya pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu dari setiap rumah di mana mereka makan daging anak domba yang dipanggang dengan roti tak beragi dan sayur pahit. Malam itu, Malaikat Maut akan “melewati” rumah-rumah yang dilindungi darah anak domba, tetapi ia akan merenggut nyawa anak-anak sulung dari rumah-rumah yang tidak dilindungi darah anak domba. Karena korban darah itulah, Firaun akhirnya membiarkan orang Israel pergi; dari perbudakan menuju kebebasan, dari tanah dosa menuju Tanah Terjanji, dan dari mati menuju hidup baru.

Di lingkungan orang Yahudi, anak domba adalah bahan korban (Kej 22:7-8). Korban persembahan/bakaran dalam kenisah adalah anak domba (Kel 29:38-41; Bil 28:1-8). Pada awal bulan dipersembahkan 7 anak domba (Bil 18:11). Adalah suatu bencana bila korban bakaran tidak bisa dipersembahkan, seperti pada zaman Antiokhus Epifanes (lihat Dan 8:11-13; 11:31; 12:11).

Ada banyak persembahan yan dihubungkan dengan anak domba. Anak domba adalah persembahan bila seorang kusta disembuhkan (Im 14:10-32), seperti halnya dalam upacara Nazir[54] (Bil 6:1-21). Anak domba dan burung merpati – dua burung merpati bila orang miskin – merupakan persembahan pembersihan seorang ibu yang habis melahirkan. Anak domba merupakan korban bakaran dalam pencucuian altar Tabernakel (Bil 7:15-17). Anak domba juga merupakan korban tebusan bagi anak sulung (Kel 34:20). Pesta-pesta besar Yahudi mempunyai makna pertanian maupun sejarah. Dalam bagian pesta Paskah anak domba dikorbankan, 7 ekor untuk seluruh pesta itu (Im 23:18-21; Bil 28:27; 29:2).

Pada setiap kesempatan besar, anak domba merupakan bagian upacara korban. Pada persiapan untuk mendirikan kenisah yang kemudian dibangun oleh Raja Salomo, Raja Daud menyediakan seribu kambing domba dan anak domba (1Taw 29:21). Di zaman Hesekia, sesudah pembersihan kenisah, dipersembahkan 7 anak domba sebagai pengamunan dosa dan dua ratus untuk syukuran (2Taw 29:21-22). Dalam zaman pembangunan Yosia, untuk keperluan pesta Paskah dipersiapkan tiga ribu anak domba (2Taw 35:7). Bisa dipersoalkan jumlah dalam angka-angka itu, tetapi yang penting disadari adalah peranan anak domba dalam sistem upacara keagamaan/ibadah Israel. Dalam ibadah korban sesudah pembuangan, anak domba dibutuhkan (Ezr 8:35); dalam kenisah baru juga anak domba menjadi korban harian (Yeh 46:4-15). Sebagai korban silih dosa, dipilih anak domba tanpa cela, darahnya mejadi curahan. Demikian menurut peraturan Im 4:32-35. Bagi orang Yahudi, anak domba adalah binatang korban, binatang untuk silih, pemulihan hubungan dengan Allah dan manusia.

2.2. Anak Domba dalam Seluruh Kitab Perjanjian Baru

Kita sudah melihat bagaimana penggunaan kata “anak domba” dalam Perjanjian Lama. Kata yang sama juga terdapt dalam Perjanjian Baru, tetapi makna dan penunjukkannya menjadi berbeda dari apa yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Anak domba dalam Perjanjian Baru tidak lagi dimaksudkan sebagai hewan sembelihan, tetapi anak domba dipakai untuk menunjuk pribadi Yesus yang dikorbankan sebagai pendamai antara manusia dan Allah. Penggunaan Anak Domba sebagai korban yang amat erat hubungannya dengan sejarah Israel adalah sebagai anak domba Paskah (Kel 12). Kata Paskah bahkan bisa berarti baik pestanya maupun anak domba korban (Mrk 14:12; Luk 22:7-11; Yoh 18:28). Dari semua gambaran anak domba paska yang langsung dan tegas pada Yesus terdapat dalam 1Kor 5:7. Anak domba ini mempunyai arti:

  1. Anak Domba ini merupakan simbol pembebasan. Orang Yahudi melihat pembebasan itu sebagai karya Allah bagi bangsa terpilih. Maka Yesus sebagai Anak Domba juga memilih ciri pembebasan ilahi tersebut.
  2. Anak domba, sekalipun merupakan alat atau sarana pembebasan itu, adalah tkita pada jenang pintu yang menyelamatkan keluarga Israel dari bencana. Tkita itu berasal dari darah anak domba yang harus mati untuk keperluan tersebut. Kematian anak domba perlu bagi keselamatan seluruh bangsa.

Injil Yohanes nampaknya mau menampilkan Yesus Kristus dalam pengertian Anak Domba Paskah. Cukup jelas perbedaan saat penyaliban dalam sinopsisi dan Injil Yohanes. Dalam sinopsisi, Yesus disalibkan sesudah perayaan Paskah (Mat 27:17-20; Mrk 14:12-17; Luk 22:7-15), sedangkan dalam Yohanes penyaliban sebelum perayaan Paskah (Yoh 18:28; 19:14). Pada waktu itu Anak Domba Paskah disembelih di kenisah oleh para imam. Simbolisme bahwa Yesus sebagai Anak Domba Allah dipersembahkan sebagai pembebasan dosa menjadi sangat jelas. Memahami Yesus sebagai Anak Domba Allah, mau tidak mau menyangkut peranan-Nya sebagai korban silih dan sekaligus sebagai sarana pembebasan dosa. Yesus dilihat sebagai puncak pengorbanan yang menyebabkan korban-korban lain tak berarti lagi (bdk. Ibr 10:8-10). Dalam Injil, Yesus  teristimewa dinyatakan sebagai “Anak domba Allah” dalam arti baik sebagai kurban penebus dosa dan sebagai hamba yang menderita. Sementara Yohanes Pembaptis di sungai Yordan mewartakan kedatangan Mesias, ia melihat Yesus dan berseru, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh 1:29).[55]

Dalam PL, dilukiskan tokoh besar yang menderita, mati untuk sesamanya sebagai hamba Yahwe. Hamba ini dilukiskan sebagai domba (Yes 53:7). Yeremia melukiskan dirinya sendiri demikian (Yer 11:19).[56] Gambaran itu mau tak mau mejadi gambaran yang amat disenangi umat Kristen.

2.3. Anak Domba dalam Seluruh Kitab Wahyu

Gelar ‘Anak domba Allah’ adalah gelar Yesus yang paling khas dan istimewa dalam Kitab Wahyu yang muncul sebanyak 28 kali. Anak domba menggabungkan ciri-ciri paradoksal, yaitu yang sudah disembelih dan disalibkan. Kitab Wahyu memberikan banyak gambaran tentang anak domba dan itu membantu memberikan pemahaman yang holistik tentang anak domba itu sendiri. Istilah itu (arnin) berbeda dengan istilah yang digunakan pada Yohanes sampai Petrus maupun Yes 53:7. Istilah yang digunakan Wahyu sama denga Yer 11:19. Dengan demikian memang ada kesan bahwa Wahyu mau menegaskan unsur-unsur lain. Unsur-unsur tersebut adalah:[57]

  1. Perlu ditegaskan bahwa usnsur-unsur itu tidak menghilangkan atau menyingkirkan ciri korban. Karena wahyu tetap berbicara tentang anak domba yang disembelih (Why 5:6.12).
  2. Dibicarakan tentang darah anak domba. Darah itulah yang membuat jubah-jubah menjadi putih murni (Why 7:14). Dengan kemurnian itu, diperoleh perjuangan dan korban (Why 12:10-11). Mereka itu menjadi murni karena bebas dari penghakiman si jahat berkat Anak Domba yang berada pada jantung surga.[58] Darah Yesus menjadikan orang Kristen benar di hadapan hadirat Allah. Dan melalui darahNyalah umatNya yang sudah mati martir bangkit dalam kemenangan.
  3. Ciri kelembutan dan kebaikan anak domba juga tidak hilang dalam Wahyu, karena anak domba inilah yang menghantar orang sampai pada sumber kehidupan (Why 7:17).
  4. Anak domba adalah panutan dan contoh. Para rasul adalah rasul Anak Domba (Why 21:14). Mereka yang murni mengikuti Anak Domba ke mana pun juga dan merekalah buah-buah penebusan-Nya (Why 14:4).
  5. Tetapi Anak Domba ini berkuasa dan berkekuatan. Simbolik 7 tanduk dan 7 mata merupakan simbolik kekuatan yang luar biasa (Why 5:6).[59]
  6. Anak Domba itu juga berwibawa. Buku kehidupan adalah milik-Nya (Why 13:8; 21:27). Di Timur Tengah, setiap raja memiliki daftar penduduk yang setia kepadanya. Demikian juga Anak Domba itu, punya wibawa terhadap pengikut-Nya.
  7. Anak Domba adalah pemenang. Si jahat akan disiksa di hadapan si Anak Domba (Why14:10). Mereka yang memberontak kepada-Nya akan dihancurkan. Ia memimpin umat Allah dalam peperangan (rohani), tetapi darahNyalah yang menjadi kurban penghapus dosa.  (Why 17:14).
  8. Kitab Wahyu juga berbicara tentang pembalasan. Dan pembalasan terhadap lawan-lawan oleh Anak Domba bisa amat mengerikan (Why 6:16).[60]
  9. Anak Domba adalah penguasa sejarah. Hanya Dialah yang mampu membuka buku kehidupan (Why 6:1). Ia merupakan tumpuan nasib semua.
  10. Anak Domba itu disembah dan dipuja (Why 5:12-14).[61] Para penatua dan mereka yang diselamatkan memuji-Nya (Why 5:8-9). Di masa depan tiada lagi kenisah di Yerusalem. Allah dan Sang Anak Domba merupakan kenisah (Why 21:22). Sang Anak Domba adalah terang-Nya (Why 21:23), ia mengambil bagian dalam kemuliaan Allah.
  11. Akhirnya Anak Domba dilambangkan dengan Gereja. Anak Domba berhubungan denga Gereja sebagai pengantin (19:8-9; 21:9).

Inilah beberapa ciri baru. Kelembutan dan unsur korban paa Anak Domba tetap berlaku, tetapi ciri-ciri baru seperti kekuatan, kuasa, kemuliaan, penghakiman dan pembalasan juga muncul sebagai karakter Anak Domba. Hal ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks keadaan penindasan yang dialami jemaat Kristen Kitab Wahyu dituju, tidak aneh digambarkan tokoh pejuang sebagai Anak Domba bertanduk.[62] Dan penulis Wahyu mengambil gambaran tersebut. Gambaran ini mungkin asing, tetapi demikianlah gambaran Wahyu. Anak Domba bertanduk adalah pejuang Allah.

Kitab Wahyu mengambil dua wajah gambar dan memperkembangkan renungan di antara keduanya. Untuk kembar tidak ditanggalkannya; sakratul maut, nestapa, air mata tetap punya makna; tetapi di dalamnya sudah terkandung juga kekuatan, kuasa, kemuliaan yang mencengkam. Lewat jalan itulah kemenangan ilahi diperjuangkan. Allah memang menang dalam kelemahan dan kekalahan. Anak Domba yang dikorbankan adalah Anak Domba yang membawa kemenangan. Lewat penderitaan, kemuliaan, kelemahan, kekuatan Yesus Kristus, Allah menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, orang Kristen berani berdoa: Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami.[63]

III. ANAK DOMBA DALAM WAHYU 5:1-14

5:1 Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.

5:2 Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”

5:3 Tetapi tidak ada seorang pun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya.

5:4 Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.

5:5 Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”

5:6 Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.

5:7 Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.

5:8 Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”

5:11 Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa,

5:12 katanya dengan suara nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!”

5:13 Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!”

5:14 Dan keempat makhluk itu berkata: “Amin”. Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.

Pada bagian paper ini telah kita lihat dalam struktur Kitab Wahyu bahwa perikop 5:8-14 ada dalam konteks

3.1. Pembatasan (Delimitasi) Teks

Dalam Kitab Wahyu – secara eksplisit – kata “Anak Domba” pertama kali disebut dalam Why 5:6, “maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi”. Terakhir kali dalam Wahyu disebutkan pada Why 22:3, “Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya”. Nah, untuk memahami apa yang kami maksudkan dalam delemitasi ini, maka sangat pentinglah untuk mengetahui dalam konteks apa teks ini ditempatkan dalam keseluruhan Kitab Wahyu.

Why. 5:1-14 dimulai dengan frase, “Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya[64] dan dimeterai[65] dengan tujuh meterai[66]”. Kata “maka” yang mengawali perikop ini menggambarkan bahwa perikop ini merupakan kelanjutan dari perikop terdahulu yang menggambarkan tentang Allah Pencipta atas takhta-Nya dalam kekudusan yang mempesona. Perikop pasal 4 dari Kitab Wahyu tersebut menampilkan penglihatan perihal Tuhan sebagai pencipta.[67] Menindaklanjuti apa yang ditulis tetang keadaan surgawi ini, penulis kemudian memaparkan tentang Anak Domba yang menjadi penghuni kerajaan itu dalam hubungannya dengan kitab yang dimeteraikan dalam perikop pasal 5.

Perikop pasal 5 ini sendiri dimulai dengan dilihatnya sebuah gulungan kitab (ayat 1) yang berisi rencana penciptaan dan penyelamatan Allah yang tidak dapat dipahami oleh siapa pun di dunia (ayat 3).[68] Dengan meriah, seperti dalam upacara liturgis, Anak Domba menerima gulungan kitab termeterai itu (ayat 6-7). Dia akan mampu menyatakan dan mewujudkan isinya. Terhadap kenyataan bahwa hanya Anak Dombalah yang mampu mengambil dan membuka kitab yang termetarai itu, diadakanlah perayaan dalam pujian yang sangat meriah. Pujian yang pertama-tama dilakukan oleh keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua (ayat 8-10) kemudian oleh malaikat yang jumlahnya sangat besar (ayat 11-12) dan pada akhirnya oleh seluruh ciptaan (ayat 13-14) yang secara bersama-sama menyanyikan suatu nyanyian baru.

Perlu diperhatikan bahwa dalam ayatnya ke-8 dari perikop 5 ini, penulis mengawali dengan frase “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu…” Kata ‘ketika’ di sini menunjuk pada suatu suasana penting yang sedang dan akan terjadi. Bila dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya, pengarang melukiskan suasana surgawi: Dia yang duduk di atas takhta dan gulungan kitab – ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai – di tangan-Nya (ay. 1); seorang malaikat yang gagah (ay. 2); seorang dari tua-tua itu (ay. 5); di tengah-tengah takhta dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh (ay. 6); datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu (ay. 7).

Penggunaan kata ‘Ia’ dalam ay. 8 merujuk pada Anak Domba yang datang dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu (ay. 7). Kata ‘mengambil’ merupakan suatu tindakan menerima dari seseorang. Sedangkan frase ‘gulungan kitab itu’ merujuk pada gulungan kitab yang ada di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta (ay. 1). Tindakan Anak Domba mengambil gulungan kitab itu menimbulkan reaksi dari mereka yang berada di sekitar takhta tersebut dan kemudian reaksi dari lingkungan yang lebih luas.

Why. 5:1-14 diakhiri dengan reaksi dari keempat makhluk itu yang berkata: “Amin” dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (ay. 14). Penglihatan dalam ayat selanjutnya (6:1) sudah merupakan suatu tindakan yang lain lagi, yaitu Anak Domba itu membuka meterai yang pertama dari ketujuh meterai itu.[69] Sehubungan dengan delemitasi ini, maka dapat digambarkan sebagai berikut:

3.2. Konteks

Konteks teks Why 5:1-14 tentang Anak Domba ini akan kita analisa dengan melihat konteks dari perikop ini. Berasarkan struktur Kitab Wahyu seperti yang dibuat oleh I Suharyo, maka teks 5:1-14 ini berada dalam konteks “tujuh meterai (tujuh rangkai kedua” seperti yang terungkap dalam tabel berikut ini:

1:1-8 Pendahuluan
1:9-3:22 Tujuh surat

 

(7 rangkaian pertama)

4:1-8:1 Tujuh meterai

 

(7 rangkaian kedua)

4:1-5:14

 

Adegan di surga

4:1-11

 

Takhta Allah dan kemuliaannya

5:1-14

 

Kitab dimeterai dan Anak Domba

6:1-8:1

 

Meterai-metarai dibuka

8:2-11:18 Tujuh sangkakala

 

(7 rangkaian ketiga)

11:19-15:4 Tujuh tkita

 

(7 rangkaian keempat)

15:5-16:21 Tujuh cawan

 

(7 rangkaian kelima)

17:1-20:15 Tujuh penglihatan

 

(7 rangkaian keenam)

21:1-22:5 Kesudahan kota suci
22:6-20 Kesaksian terakhir
22:21 Berkat penutup

Dari tabel singkat di atas kita melihat bahwa peristiwa Anak Domba membuka kitab yang termeterai ada dalam tema besar yakni “tujuh meterai kedua (7 rangkaian kedua)” yang terdapat dalam Why 4:1-8:1. Dari tema besar ini, kemudian dirinci menjadi dua bagian yakni “adegan di surga” (4:1-5:14) dan “meterai-meterai dibuka” (6:1-8:1). Dengan demikian Why 5:1-14 ada dalam konteks “adegan di surga” (4:1-5:14). Dari struktur di atas, kita dapat merinci pula teks yang mendahului dan yang mengikutinya sehingga lebih memperkenalkan kepada kita konteks perikop ini sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini:

Teks pilihan Teks yang mendahului Teks yang mengikuti
4:1-11

 

Takhta Allah dan kemuliaan-Nya

5:1-14

 

Kitab dimeterai dan Anak Domba

6:1-17, 8:1

 

Ketujuh Meterai dibuka

(7:1-17)

Sisipan dua penampakkan: 144.00 orang dimeteraikan dan para pilihan takhta

Dari tabel ini dapat dilihat bahwa teks Why 5:1-14 memiliki kaitan yang sangat erat dengan baik teks yang mendahului maupun yang mengikutinya. Dalam pasal 4, pokok orientasi yang diceriterakan adalah suasana, situasi, oknum dan kelakuan yang terjadi di ruangan takhta surga. Inilah unsur-unsur yang terjadi dalam takhta surga itu. Why 5:1-14 menampilkan unsur lain dari situasi tersebut, yakni mengenai sebuah gulungan kitab yang ada di dalam tangan kanan Allah (5:1). Gulungan kitab inilah yang kemudian diambil oleh Anak Domba (5:7). Setelah mengambil gulungan kitab ini, perikop 5:1-14 dilanjutkan dengan tindakan Anak Domba mengambil gulungan kitab yang dimeterai itu (5:8a). Terhadap tindakan mengambil ini, dilanjutkan dengan puji-pujian (5,8b-14). Perikop yang menjadi inti paper ini kemudian dilanjutkan penulis dengan mengisahkan tentang bagaimana Anak Domba memulai membuka satu per satu meterai yang ada pada gulungan kitab tersebut.

Melihat konteks teks seperti ini, Why. 5:8-14 memiliki kedudukan yang penting dalam keseluruhan Why. Karena itu perlu ditelusuri latar-belakang historis penulisannya.[70] Why. ditulis pada zaman gangguan dan penganiayaan sengit terhadap jemaat Kristen yang masih muda. Penulisan Why. ini dimaksudkan untuk membina dan meneguhkan semangat orang-orang Kristen; kepercayaan mereka kiranya tergoncang akibat penganiayaan begitu hebat yang melkita jemaat Kristus. Kristus pernah menegaskan: “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:3). Untuk melaksanakan maksudnya itu Yohanes memungut ajaran-ajaran pokok nabi-nabi dahulu, khususnya ajaran mereka tentang “Hari Besar” Yahwe (bdk. Am. 5:18): kepada umat yang suci yang diperbudak dahulu oleh orang Asyur dan Babel, lalu oleh orang-orang Yunani, kepada umat yang terpencar-pencar dan hampir-hampir saja musnah seluruhnya, para nabi menubuatkan hari penyelamatan yang sudah mendekat; pada hari itu Allah datang menyelamatkan umatNya dari genggaman para penindas, dengan tidak hanya membebaskan umatNya tetapi juga memberinya kekuasaan dan pemerintahan atas musuh-musuhnya yang pada gilirannya dihukum dan hampir-hampir dibinasakan.

Waktu Yohanes menulis Wahyu Gereja, umat terpilih yang baru dilkita suatu penganiayaan yang berdarah (13; 6:10-11; 16:6; 17:6). Penganiayaan itu dilontarkan oleh pemerintah Roma (Binatang), tetapi dihasut oleh Iblis (12; 13:2-4), yang merupakan Lawan kawakan Kristus serta umatNya.

Dalam penglihatan pembukaan Wahyu, digambarkan kebesaran Allah yang bersemayam di sorga, Penguasa mutlak atas segala hal-ihwal manusia (4). Ia menyerahkan kepada Anak Domba kitab yang memuat penetapan ilahi tentang pemusnahan para pengejar (5). Penglihatan selanjutnya menubuatkan suatu penyerbuan oleh sebuah bangsa biadab (Partia) disertai bencana tradisional: perang, kelaparan, wabah (6). Tetapi mereka yang percaya dan setia pada Allah akan luput (7:1-8; bdk. 14:1-5), sedangkan masih menantikan kemenangannya yang akan dinikmati di sorga (7:9-17; bdk. 15:1-5).

Tetapi oleh karena menghendaki keselamatan orang berdosa maka Allah tidak segera membinasakan mereka; terlebih dahulu Ia mengirim sederetan bencana untuk memperingatkan mereka, sama seperti dahulu Ia berbuat terhadap Firaun dan orang Mesir (8-9; bdk. 16). Tetapi percuma saja. Karena ketegaran hati pengejar yang fasik Allah membinasakan mereka (17), apa lagi oleh karena mereka berusaha memfasikkan dunia dengan memaksa bangsa-bangsa menyembah Iblis (yang dimaksudkan ialah penyembahan kepada Kaisar-kaisar Roma yang didewakan); menyusullah sebuah lagu ratapan karena Babel (Roma) yang jatuh binasa (18), dan nyanyian kemenangan yang dilambungkan di sorga (19:1-10).

Sebuah penglihaan baru kembali memperlihatkan kemusnahan Binatang (Roma yang menganiaya umat), yang ditimpakan oleh Kristus yang mulia (19:11-21). Kemudian Gereja menikmati zaman kedamaian dan kesejahteraan (20:1-6), yang diakhiri oleh sebuah serangan baru dari pihak Iblis (20:7-10), sampai Musuh itu dibinasakan sama sekali, orang-orang mati bangkit dan penghakiman terlaksana (20:11-15). Akhirnya Kerajaan Sorga ditegakkan untuk selama-lamanya dengan sukacita sempurna, oleh karena maut sendiri dilenyapkan (21:1-8). Dengan melayangkan pkitangan kembali pengarang melukiskan kesempurnaan Yerusalem baru selama memerintah di bumi (21:9-22:15).

Demikianlah penafsiran Wahyu yang historis dan makna utama dan pertamanya. Tetapi dengan demikian isi Kitab Wahyu belum digali seluruhnya. Sebab di dalamnya juga termaktub nilai-nilai abadi yang selalu dan setiap waktu dapat mendukung kepercayaan kaum beriman. Sudah dalam Perjanjian Lama kitalan umat yang suci ialah janji Allah bahwa selalu akan “ada pada umatNya” (bdk. Kel. 25:8), dll.; dan kehadiranNya itu berarti Ia melindungi umatNya terhadap segala musuh untuk mengerjakan keselamatan. Sekarang juga dan dengan cara jauh lebih sempurna Allah tetap pada umatNya yang baru yang bersatu dalam diri Anak Allah, ialah Imanuel (Allah menyertai kita, [bdk. Mat. 1:23]); dan Gereja dapat hidup terus berkat janji Kristus yang dibangkitkan ini: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Kalau demikian halnya, maka kaum beriman tak perlu takut atau khawatir. Kalaupun untuk sementara waktu harus menderita oleh karena nama Kristus, namun akhirnya mereka akan mengalahkan Iblis dan segala tipu-dayanya. Why. merupakan suatu Madah Agung pengharapan Kristen, nyanyian kemenangan yang dilambungkan Gereja yang dianiaya.

3.3. Divisi Teks

Berdasarkan struktur Wahyu yang dibuat oleh I Suharyo, teks Why 5:1-14 maka kita dapat membuat devisi atas teks ini sebagai berikut:

Why 5:1-14
5:1.

 

Tentang gulungan kitab

  1. Ditulisi bagian dalam dan luarnya (5:1a)
  2. Dimeterai dengan tujuh meterai (5:1b)
5:2-3.

 

Siapa yang layak membukanya

  1. Pertanyaan malaikat yang gagah tentang siapa yang layak (5:2)
  2. Tidak ada seorangpun di bumi dan di bawah bumi yang layak (5:3)
5:4.

 

Reaksi atas ketidaklayakan seorangpun

5:5-6.

 

Yang layak menerima

  1. Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud
  2. Anak Domba seperti disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh
5:7-8a.

 

Anak Domba menerima kitab

5:8b-14.

 

Reaksi atas tindakan Anak Domba mengambil gulungan kitab

  1. Keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua tersungkur di hadapan Anak Domba (5:8b)
  2. Masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan (5:8c)
  3. Keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua menyanyikan suatu nyanyian baru (5:9-10)
  4. Nyanyian pujian dari banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu (5:11-12)
  5. Nyanyian pujian dari semua makhluk (5:13)
  6. Keempat makhluk itu berkata: “Amin” (5:14)

Tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (5:14)

3.4. Analisa Teks Why. 5:1-14

Bagi setiap orang dalam nas ini, kepentingan permintaan dan pengambilan gulungan kitab itu sangat jelas. Tanggapan mereka semua merupakan pujian. Pada saat pengambilan itu waktu kedatangan Yesus dan kerajaan-Nya sudah ditentukan. Mereka dengan setia akan diberi pahala dengan segera. Mereka akan segera “memerintah atas bangsa-bangsa”. Tetapi bangsa-bangsa itu harus lebih dahulu dibersihkan dengan hukuman yang sangat dahsyat.[71]

3.4.1. Tentang Gulungan Kitab dan Suasana di Surga

Kata dalam bahasa Yunani “biblion”[72] dapat pula berarti sebuah dokumen yang dilipat dan dimeterai, seperti sebuah testamen yang ditulisi bagian dalam dan luarnya (5:1). Sebuah testamen menjadi berlaku pada waktu meterai-meterainya dibuka, dan sebagian penafsir menanggap bahwa Yohanes melihat dokumen semacam itu yang berisikan kehendak Allah. Yohanes melihat dalam tangan Allah, yang bersemayam di atas takhta itu, sebuah kitab. Ketujuh meterai itu tampaknya mendukung anggapan tersebut. Tetapi lebih mungkin lagi ialah bahwa Yohanes melihat sebuah gulungan kitab; Allah belum mati, dan gagasan tentang kehendak terakhir tampaknya tidaklah tepat. Gagasan tentang sebuah Kitab Jalan Hidup juga ditemukan dalam apokalips-apokalips lainnya,[73] dan amat sesuai dengan konteks penglihatan Yohanes ini.

Apakah yang dituliskan dalam gulungan kitab ini? Dari 5:1-4 tidak mungkin kita berbicara banyak tentang isi gulungan kitab itu. Dalam menjawab pertanyaan ini, J.J. de Heer[74] bertolak dari Dan. 12:9. Di sana dikatakan bahwa rahasia-rahasia tentang jalan, yang ditempuh oleh Allah untuk mendatangkan Kerajaan-Nya ke atas bumi, adalah tersembunyi dan dimeteraikan.[75] Dari tindakan selanjutnya dalam tujuh rangkai kedua ini dan dari penglihatan-penglihatan yang lain, kita dapat menduga isinya: tentang “rencana Allah predestinasi” (penentuan nasib oleh Allah) atau campur tangan Allah terus-menerus dalam sejarah dan yang berpuncak pada parousia. Karena campur tangan ini sehari-hari diwujudkan dalam karya Gereja (Kristus berjalan di tengah tujuh kaki dian). Maka hanya kepala Gereja sajalah yang layak membuka meterai pengalaman-pengalamannya. Rencana Allah bagi bangsa manusia ada di tangan Kristus. “Malaikat kuat dengan suara keras” tidak dapat menemukan manusia atau malaikat yang dapat melaksanakan tugas itu. Dengan cara itu juga kita boleh mengartikan gulungan kitab yang dimeteraikan dalam Wahyu: kitab itu berarti “semua rahasia” rencana Ilahi untuk mendirikan KerajaanNya. Kebanyakan penafsir pada zaman kita ini mempunyai pendapat yang demikian mengenai gulungan kitab itu.

Suasana di surga tersebut sangat penting untuk adegan yang berikut.[76] Allah di atas tahta memegang sebuah gulungan kitab “yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya” (menunjukkan sifat istimewanya, karena yang ditulisi biasanya hanya sebelah dalam), dan “dimeteraikan dengan tujuh meterai” (menunjukkan isinya terjamin utuh). Beberapa penafsir menunjukkan, bahwa bagi orang-orang Romawi pada zaman Yohanes adalah suatu kebiasaan untuk memeteraikan suatu surat wasiat dengan tujuh meterai.[77] Jika perlu, rencana Allah dapat dibandingkan dengan suatu surat wasiat. Tetapi adalah juga mungkin bahwa angka tujuh di sini tidak ada sangkut pautnya dengan suatu surat wasiat Romawi, melainkan adalah angka suci saja, yang dipergunakan begitu sering dalam Why. Dalam Yehezkiel (Yeh 2:9-10) kita baca: “Aku melihat, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab, lalu dibentangkan-Nya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.” Keaslian penggunaannya dalam Wahyu nampak jelas.

Kaum futuris dan kaum historis melihat gulungan kitab sebagai kunci dalam penafsiran. Kaum futuris menghubungkan bagian ini dengan Dan. 7:13, 14 dan melihat gulungan kitab itu sebagai perbuatan yang utama bagi pembangunan Kerajaan Yesus di bumi sesudah meterai-meterai, melepaskan penghakiman sebelumnya, dibuka. Sedangkan kaum historis melihat gulungan kitab itu sebagai simbol penyelamatan. Dengan demikian waktu penglihatan dimengerti tepat sesudah penyaliban ketika Yesus kembali ke surga untuk membuka penebusan bagi semua manusia, bahkan sekarang lagu kemenangan dinyanyikan semua orang percaya dalam Kristus berkuasa atas bumi. Karena itu tidak perlu mendalilkan jarak milenium.[78]

Secara dramatis pengarang Wahyu mengeluh dengan amat sedih, karena jiwanya sama sekali selaras dengan kehendak Allah untuk mewahyukan rencana ilahi-Nya. Keprihatinannya mengenai saudara-saudara di tengah-tengah pengejaran, yang berseru memohon terang dan jaminan agar penderitaan mereka tidak sia-sia. Terang dan jaminan demikian tidak membutuhkan pewahyuan baru. Tetapi kanyataan lama mengenai keadilan dan belas kasih Allah mendapat pengungkapan baru. Dan pemahaman semacam ini memberikan semangat dan keberanian kepada orang-orang Kristen. Kitab Wahyu dapat disebut sebagai ringkasan campur tangan Allah dalam sejarah – Sejarah Keselamatan secara ringkas.

3.4.2. Anak Domba

Sekarang mudah memahami mengapa hanya Kristus dapat menerima dan membuka meterai gulungan kitab. Digunakan sebutan Mesias untuk menggelari-Nya, seperti “singa suku Yehuda”, sebutan dalam berkat akhir kepada anaknya (Kej 49:9), dan “tunggul Daud”, sebutan berasal dari “nubuat sisa-sisa” Yesaya (Yes 11:1.10). karena ini suatu lambang-konsep, maka dalam ayat 6 lukisannya berubah lagi, “Anak Domba berdiri seperti telah disembelih (yang sangat sukar dibayangkan). “Tujuh tanduk” dan “tujuh mata” melanjutkan perlukisan Anak Domba, yang berarti penuh kekuatan dan pengetahuan.[79] Kita temui lagi “tujuh Roh Allah” (seperti dalam 4:5), juga di sini tidak menunjuk pada Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Kepenuhan Roh Allah “diutus ke seluruh bumi” lewat kuasa Anak Domba untuk memberikan kuasa ilahi sebagai ganjaran dan sebagai hukuman. Sebaiknya jangan bingung dengan ungkapan “di tengah-tengah”. Maksudnya tidak lain adalah bahwa sangat dekat dengan takhta Allah. Juga jangan dibayangkan bagaiman Anak Domba “mengambil gulungan” karena semua ini termasuk dalam lambang-konsep.

3.4.2.1. Anak Domba (άρνίον)

Kita sudah melihat pada bagian sebelumnya bagaimana Anak Domba mendapatkan arti yang sangat besar dalam kisah Wahyu ini.[80] Kita melihat hal yang sangat kontras, di antara beribu-ribu laksa kenapa Yohanes tidak melihat ada Anak domba yang dapat membuka gulungan kitab itu? Ada dua kemungkinan: pertama, Anak domba itu memang belum muncul pada saat Yohanes melihat ke surga; kedua, Yohanes sangat terpesona dengan pemkitangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, yaitu Bapa duduk di atas takhta dan dikelilingi oleh empat kerub, dua puluh empat tua-tua dan berjuta-juta malaikat yang berkilauan sehingga ia tidak melihat ada Anak domba. Yohanes hanya melihat hal yang bersifat spektakuler belaka dan ia melupakan Anak domba yang justru merupakan pusat dari seluruh alam semesta.[81]

Anak Domba (άρνίον) mulanya adalah turunan dari dari kata άρήν yang berarti anak domba; tetapi arti itu tidak selamanya mempunyai kekuatan dalam Perjanjian Baru. Selain Yoh. 21:15, άρνίον hanya ditemukan dalam Wahyu, di mana itu terjadi 29 kali.[82] Bagi orang-orang Yahudi berbahasa Yunani, pemakaian kata-kata ini penting untuk Perjanjian Baru. Yang dimaksud domba-dombaKu, dalamYoh. 21:15, adalah komunitas sebagai suatu obyek dari kasih dan perhatian Yesus. Ungkapan άρνίον juga dipakai untuk menggambarkan bagian integral dari kultus Yahudi dalam hal ini “materi kurban” Anak Domba, yang “telah disembelih” (Why. 5:6; bdk. 5:9, 12; 13:8). Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat memisahkan pernyataan-pernyataan Why. dari apa yang dikatakan dalam Perjanjian Baru tentang Yesus sebagai Anak Domba yang telah dikurbankan satu kali untuk selama-salamanya (Ibr. 7:27).

3.4.2.2. Anak Domba yang disembelih

Dalam Why. 5:6, 9, 12; 13:8 Yesus Kristus disebut “Anak Domba yang disembelih” dalam suatu referensi liturgis yang tidak bisa dipungkiri. Tradisi Yohanes barangkali mempunyai pkitangan tentang anak domba paskah yang memikul tkita penyembelihan di atas lehernya.[83] Dalam 5:6 digambarkan bahwa Anak Domba yang disembelih itu bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Adalah menarik bahwa pada Anak Domba, yang dilihat oleh Yohanes itu, bergabung kelemahan dan kekuatan. Ia mempunyai tujuh tanduk, yang merupakan symbol kekuatan. Dalam PL, dan juga dalam tulisan-tulisan apokaliptis Yahudi sekitar abad pertama, tanduk adalah simbol yang seringkali dipergunakan untuk kekuatan (bdk. 1 Sam. 2:1; Mzm. 75:4-7) dan untuk martabat raja (bdk. Dan. 7:8; Za. 1:18-19). Jadi tujuh tanduk berarti suatu kepenuhan kekuatan, sebab tujuh adalah angka kesempurnaan. Tetapi serembak anak domba ini “seperti telah disembelih”, yaitu dengan parut sayatan pada leher yang memperlihatkan bahwa domba itu telah pernah disembelih. Yang dimaksudkan di sini adalah kematian Kristus di kayu salib.

Anak domba yang disembelih dalam Why. 5:6 ini mengingatkan kita kepada Yes. 53:7 (“sebagai domba sembelihan ia digiring ke pembantaian”) dan kepada domba-domba Paskah yang disembelih di waktu orang Israel berjalan keluar dari Mesir, dan kepada anak domba yang setiap pagi dan setiap petang disembelih dan dipersembahkan di bait suci Yerusalem. Anak-anak domba yang disembelih di waktu Paskah dan anak-anak domba yang setiap hari dipersembahkan di bait suci, berumur satu tahun (Kel. 12:5; Bil. 28:3); jadi bukan anak-anak domba yang kecil, tetapi domba-domba muda yang sudah cukup besar badannya. Domba semacam itulah tentu yang Yohanes lihat dalam penglihatannya; tanduk-tanduk yang di atas kepalanya itu telah juga menunjukkan bahwa di sini bukanlah mengenai seekor anak domba yang kecil.

Jadi Kristus dalam penglihatan ini menampakkan diri dalam kelemahan (disembelih) dan serentak juga dalam kekuatan (tujuh tanduknya). Inilah “paradoks Kristen”: Kristus menempuh penderitaan untuk sampai kepada kemuliaan. Suatu paradoks yang juga berlaku untuk seluruh gereja Kristen, yang melalui jalan penderitaan dan pelayanan untuk sampai kepada kemuliaan.

Yohanes melihat bahwa anak domba itu mempunyai tujuh mata, yang bersamaan dengan tujuh roh Allah, yaitu Roh Kudus dalam kepenuhan-kuasaNya (bdk. Why. 1:4 dan 4:5). Dalam 1:4 dan 4:5 Roh Kudus diperbantukan kepada Allah. Dalam konteks pokok pembahasan ini, Roh Kudus dalam kepenuhan-kuasaNya diperbantukan kepada Anak Domba, yakni Kristus, sehingga nyatalah kesatuan Sang Bapa dengan Kristus. Yang merupakan latar belakang gambaran yang agak aneh tentang ketujuh mata itu tentulah Zakaria 4:10, di mana dibicarakan tentang ketujuh mata Allah yang memeriksai seluruh bumi.[84]

3.4.3. Anak Domba Mengambil Gulungan Kitab itu

Anak Domba itu datang, yaitu maju sedikit ke depan, dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Allah. De Heer menyarankan kita untuk tidak menanyakan bagaimana mungkin bagi seekor anak domba untuk mengambil dan memegang suatu gulungan. Dalam penglihatan ada hal-hal yang mungkin, yang tidak mungkin dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa penafsir berpendapat bahwa pengambil-alihan gulungan kitab oleh anak domba itu bukan hanya berarti bahwa Anak Domba itu (Kristus) kini akan menyatakan isi gulungan tersebut, yakni rencana Allah sendiri untuk melaksanakan rencana ini. Sehingga hal menyerahkan gulungan kitab itu menurut pendapat mereka adalah suatu penyerahan kuasa pelaksana kepada Kristus. Malahan pelbagai penafsir mempergunakan untuk ini ungkapan “naik-takhtanya Kristus”. Tetapi menurut de Heer, hal ini tidak dapat dibaca dengan jelas dalam nats itu. Dengan jelas hanyalah dapat dibaca dalam bab 5 dan 6 bahwa Anak Domba itu membuka gulungan kitab tersebut untuk memberitahukan rencana Allah yang ada di dalamnya. Tentulah dapat diakui bahwa menurut pendapat Alkitab rencana Allah, kalau sudah pernah diberitahukan oleh nabi-nabi, akan menuju penggenapan yang pasti akan terjadi. Dalam makna itu mulailah bekerja suatu kekuatan dengan diterimanya dan dibukanya gulungan kitab tersebut oleh Anak Domba itu.[85]

Yohanes melihat dalam penglihatannya itu bahwa tidak ada seorangpun terdapat di sorga dan di bumi dan di bawah bumi (yaitu di alam maut, di alam barzakh) yang layak membuka rahasia-rahasia Allah, meskipun sudah ada seorang malaikat yang mempunyai suara kuat telah berseru-seru. Inilah yang menyebabkan Yohanes menangis, karena ia ingin mengetahui rencana Allah untuk menyingkapkannya kepada Gereja (Why. 5:2-4). Yohanes mengerti bahwa  soalnya ialah melaksanakan kepastian kehendak Allah untuk Kerajaan Allah. Lalu apakah yang terjadi dengan Gereja yang dikejar-kejar? Apakah yang tumbuh dari dunia yang ada dalam genggaman iblis? Apakah yang akan terjadi dengan Kerajaan Yesus Kristus? Bagaimanakah kebenaran dan kemuliaan Allah akan menjadi nyata dalam sejarah? Bagaimanakah hari depan Yohanes sendiri, yang sekarang dalam pembuangan di pulau Patmos? Hal itu tertulis dalam gulungan kitab yang masih tertutup. Yohanes ingin sekali mengetahui isi kitab itu dan lebih ingin lagi akan pelaksanaan kepastian kehendak Allah, akan kemenangan Kerajaan Allah, akan kedatangan langit yang baru dan bumi yang baru.[86]

Pada saat yang menegangkan ini berkatalah sekonyong-konyong salah seorang dari keduapuluh empat tua-tua itu yang menghibur Yohanes, dan menunjuk kepada Yesus (5:5). De Heer[87] melihat adanya kekhususan dalam Wahyu bahwa Yesus dinamai dengan dua gelar dari PL, yaitu singa dari Yehuda dan tunas Daud dikutip dari Kej. 49:9 dan Yes. 11:1. Kristus ini “telah menang”. Yang dimaksudkan ialah bahwa Ia telah mengalahkan segala kuasa kegelapan kematian dan kebangkitanNya, sehingga Ia layak membukakan rahasia-rahasia kedatangan Kerajaan Allah. Layak adalah Dia yang dalam percobaan dengan perbuatan-perbuatanNya telah membuktikan diriNya layak (Why. 5:9, 12).[88]

3.4.4. Reaksi atas tindakan Anak Domba mengambil gulungan kitab itu (5:8b-14)

3.4.4.1. Keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua tersungkur di hadapan Anak Domba (5:8b)

Reaksi yang timbul ketika Anak Domba mengambil gulungan kitab itu pertama-tama datang dari keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua yang mengelilingi takhta itu. Tua-tua itu berperan sebagai imam dan raja: mereka memuji dan menyembah Allah (Why. 4:10; 5:9; 11:16, 17; 19:4) dan menyampaikan kepada Allah doa kaum beriman (5:8). Mereka membantu Allah dalam memerintah dunia (takhta) dan menjadi penyerta dalam kuasaNya sebagai Raja (mahkota). Jumlah mereka barangkali menyinggung 24 rombongan imam-imam (1 Taw. 24:1-19).[89] Mereka berpakaian putih tetapi jubah putih mereka bukanlah jubah keimaman atau jubah kerajaan. Keberadaan mereka di sekeliling takhta (4:4; 11:16), pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka (4:4) menunjukkan bahwa tua-tua termasuk dunia surgawi.[90]

Sedangkan empat makhluk merupakan lambang yang diambil dari Yeh. 1:5-21. Makhluk-makhluk (hidup dan binatang) itu ialah keempat malaikat yang mengurus dunia jasmani (bdk. Why. 1:20). Angka empat memang sebuah lambang jagat raya (empat mata angin penjuru bumi, bdk. 7:1). Empat makhluk ini penuh dengan mata yang melambangkan pengetahuan umum dan penyelenggaraan Allah. Rupa makhluk itu (singa, anak lembu, manusia, burung nazar) melambangkan apa yang paling mulia, kuat, bijaksana dan lincah di alam ciptaan. Sejak Irenius tradisi Kristen mengartikan keempat makhluk itu sebagai lambang keempat penginjil.[91] De Heer menyebut kelompok pertama ini sebagai malaikat-malaikat yang paling tinggi pangkatnya.[92]

Keempat makhluk dan keduapuluh tua-tua itu tersungkur di hadapan Anak Domba. ‘Tersungkur’ dalam pengertian harafiah merujuk pada casting themselves down atau intentional falling. Dalam kombinasi yang bervariasi πιπτω biasa digunakan di sini dengan προσκυνέω. Hormat dengan membungkukkan badan wajib bagi hamba-hamba di depan tuan atau raja mereka terjadi dalam Mat. 18:26, walaupun ini dengan jelas tidak dinyatakan dalam ay. 29. Dalam semua hal lain referensinya pada penyembahan yang seharusnya ditujukan kepada Allah (Mat. 4:9; Kis. 10:25; 1 Kor. 14:25; Why. 4:10; 5:14; 7:11; 11:6; 19:4, 10; 22:8). Dalam Why., kecuali 5:8, πιπτω berarti to cast oneself down hanya bersamaan dengan προσκυνέω, juga Mat. 2:11. πιπτω sendiri tanpa προσκυνέω tidak berarti to worship. Jatuh di depan Yesus dimaksudkan untuk menekankan suatu permohonan (Mrk. 5:22 dan par. Luk. 8:14; Luk. 5:12) dan ucapan syukur (Luk. 17:16). Itu adalah suatu sambutan yang respek (Yoh. 11:32) dan Yesus sendiri mengadopsi sikap ini dalam doa (Mat. 26:39 par. Mrk. 14:35.[93]

3.4.4.2. Masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan (5:8c)

Yohanes memberitahu kita benda-benda yang dilihatnya di tangan keduapuluh empat tua-tua itu, yaitu kecapi dan cawan penuh dengan kemenyan.[94] Kedua benda itu dipergunakan dalam bait suci di Yerusalem. Sementara (di waktu pagi dan di waktu petang) seorang imam menaburkan kemenyan ke atas suatu cawan yang berisi dengan arang kayu yang menyala, yang ditaruh di atas mezbah ukupan, seringkali orang-orang Lewi bernyanyi,[95] diiringi dengan kecapi.[96] Demikianlah kita lihat lagi bahwa di dalam penglihatan-penglihatan Yohanes sorga adalah seolah-olah suatu bait suci yang besar, dengan kebaktian seperti dalam bait suci di Yerusalem. Pada zaman ditulisnya Why., bait suci di Yerusalem telah hancur. Di sana tidak mungkin lagi dibuat kebaktian, tetapi para malaikat meneruskan kebaktian itu dalam bait suci  di sorga.

Bagaimana keduapuluh empat tua-tua itu dapat memainkan kecapi (yang untuk itu memerlukan kedua tangannya) dan serempak juga memegang cawan, tidaklah jelas. Barangkali haruslah kita mengatakan lagi bahwa dalam suatu penglihatan lebih banyak hal yang mungkin daripada dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi barangkali bolehlah dibayangkan, bahwa tua-tua itu waktu mulai main kecapi, meletakkan cawan berisi kemenyan itu di hadapan takhta Tuhan. Persembahan kemenyan kepada Anak Domba itu adalah suatu tkita bahwa dalam Why. Kristus dimuliakan sebagai Allah. Di sini Yohanes melihat dalam penglihatannya itu keilahian dari Sang Bapa dan Sang Anak.

Suatu belokan yang sekonyong-konyong  ialah bahwa pada akhir ay. 8 kemenyan yang dipersembahkan oleh para tua-tua itu disamakan dengan doa orang-orang kudus (yaitu orang-orang Kristen). Bahwa doa dapat dibandingkan dengan asap persembahan ukupan yang naik, tidaklah aneh; itu telah terjadi dalam Mzm. 141:2. Yang menonjol ialah bahwa para tua-tua itu, bersama-sama dengan nyanyian pujian mereka, mempersembahkan juga doa-doa pujian orang-orang Kristen ke hadapan Anak Domba itu. Telah kita lihat bahwa keduapuluh empat tua-tua itu tidak harus dipkitang sebagai anggota-anggota Gereja yang dipermuliakan di sorga, tetapi sebagai malaikat-malaikat yang tinggi pangkatnya. Namun jelaslah di sini bahwa para malaikat, sampai kepada yang paling tinggi sekalipun, mempunyai suatu hubungan khusus dengan Gereja Allah di atas bumi. Itu juga telah terdapat dalam perkataan Yesus bahwa para malaikat bersukacita atas seorang berdosa yang bertobat (Luk. 15:10).[97]

3.4.4.3. Keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua menyanyikan suatu nyanyian baru (5:9-10)

Penglihatan yang berikut adalah keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua menyanyikan suatu nyanyian baru. Yohanes mendengar nyanyian keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua itu yang kemudian (pada akhir bab 5) disusul dengan suatu nyanyian banyak malaikat dan suatu nyanyian segala ciptaan. Jadi di sini ditemukan suatu nyanyian berbalas-balasan. De Heer[98] menyebut bahwa Plinius, seorang wali-negeri kafir, menulis dalam suatu surat yang masih tersimpan sampai sekarang ini kepada kaisar Trayanus (permulaan abad kedua Masehi) bahwa orang-orang Kristen dalam pertemuan-pertemuan mereka “menyanyikan suatu nyanyian berbalas-balasan untuk Kristus sebagai Allah”. Justru hal yang sama ditemukan di Why. 5, sehingga timbul pikiran bahwa Allah memperdengarkan kepada Yohanes dalam penglihatannya itu sesuatu yang biasa ia dengar dalam jemaat. Adalah mungkin bahwa dalam nyanyian-nyanyian dalam bab 5 itu dan dalam nyanyian-nyanyian selanjutnya dalam Why. terdapat secara harafiah ungkapan-ungkapan yang juga dipergunakan dalam jemaat-jemaat di Asia Kecil.

Nyanyian para malaikat yang tinggi pangkatnya itu dalam ay. 9 disebutkan nyanyian baru (λέγειν)[99]. Dalam PL seringkali disebutkan tentang suatu “nyanyian baru” sebagai jawab atas perbuatan-perbuatan penyelamatan yang baru oleh Allah (misalnya, Yes. 42:10 dan Mzm. 40:4). Yohanes mengambil-alih ungkapan PL ini; sebab untuk keselamatan yang muncul dalam Kristus tentulah cocok suatu nyanyian baru.

Dalam nyanyian itu dinyanyikan tentang kebesaran karya pelepasan oleh Kristus. Ditekankan harga mahal yang telah dibayar oleh Kristus, yakni darahNya, yang sama dengan nyawaNya. Dengan harga itu Ia telah “membeli” orang-orang Kristen.[100] Kata ini mengingatkan orang-orang dalam zaman Yohanes kepada penebusan budak-budak. Di waktu penebusan budak-budak seringkali uang tebusannya diberikan melalui kuil suatu dewa kafir, dan dengan demikian budak yang ditebus itu dianggap secara resmi sebagai telah menjadi milik dewa itu. Adalah mungkin bahwa nats ini mengambil-alih istilah-istilahnya dari kebiasaan ini (“dibeli bagi Allah”), tetapi para sarjana tidak berani memastikannya. Dengan pasti hanya dapat dikatakan bahwa Kristus telah menebus GerejaNya dan mereka menjadi milik Allah. Gereja dibeli dari segala suku, bahasa, kaum dan bangsa (έθνος),[101] suatu ungkapan yang dengan jelas dipinjam dari Dan. 3:4 dan 7:14. Dalam Dan. 3 adalah raja Nebukadnezar yang dengan congkak menuntut ketaatan bangsa-bangsa. Juga kaisar Romawi pada zaman Yohanes menuntut dengan keilahian yang dilagakkan ketaatan orang dari semua bangsa dan bahasa (bdk. Why. 13:7). Why. 5 mau memperlihatkan perbedaan besar antara Kristus dan kaisar. Seperti kaisar, Kristus juga berurusan dengan bangsa-bangsa, tetapi Ia tidak menuntut secara congkak pemerintahan atas bangsa-bangsa, melainkan mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan manusia dari antara segala bangsa. Itulah sebabnya Ia layak untuk dipermuliakan dan ditaati di mana-mana.

Nyanyian baru dapat dipahami dalam konteks Perjanjian Sinai. Perjanjian Sinai memberi latar belakang bagian akhir nyanyian kita (“Kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus,” Kel. 19:5-6). Berkat perjanjian dengan Israel, Yahwe mendapat sebuah kerajaan imam; dan berkat Darah Perjanjian Baru Kristus memperoleh kerajaan imam yang sama bagi Bapa. Percikan darah dalam Perjanjian Lama berarti memdapat persatuan dengan Allah, berarti hidup dan keberuntungan dan kedamaian. Darah Kristus berarti mendapat persatuan dengan Allah, hidup ilahi bagi manusia yang didapat berkat darah Perjanjian Mesias.[102]

Dalam ay. 10 diulangi isi dari 1:6. Dalam kata-kata terakhir dari ayat ini agak sukar untuk menentukan teks asli. Naskah Alexandrinua, yang biasanya dianggap sebagai naskah yang paling baik dari Why., membacanya sebagai presens (mereka memerintah), sedang naskah Sinaiticus membaca futurum (mereka akan memerintah). Tetapi perbedaan ini tidak penting, sebab presens atau present tense dalam naskah Alexandrinus haruslah kita artikan sebagai presens proleptis, yang sama dengan futurum atau future tense. Presens proleptis adalah suatu gaya bahasa yang di dalamnya hal-hal yang akan datang disebut seakan-akan sudah datang.[103]

3.4.4.4.  Nyanyian pujian dari banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan  tua-tua itu (5:11-12)

Reaksi terhadap Anak Domba yang mengambil gulungan kitab itu datang dari kalangan yang lebih luas lagi dengan adanya banyak malaikat yang turut menyanyikan madah pujian bersama-sama dengan makhluk-makhluk dan tua-tua itu. De Heer[104] menyebut bahwa setelah para malaikat yang tinggi pangkatnya itu memberi teladan, maka diteruskanlah nyanyian pujian kepada Kristus itu oleh para malaikat bawahan. Yohanes melihat dan mendengar sejumlah besar malaikat-malaikat, makhluk-makhluk dan tua-tua itu yang memuji Kristus, Anak Domba yang disembelih itu, dengan tujuh kali gkita. Maksud nyanyian pujian mereka paling jelas seperti ini: Engkau layak menerima pengakuan dari segala sesuatu bahwa Engkau mempunyai kuasa dan kekayaan dan hikmat dan kekuatan dan hormat dan kemuliaan dan puji-pujian. Ada pertalian yang besar antara pujian yang tujuh kali gkita kepada Anak Domba ini dengan pujian yang empatbelas kali gkita kepada Allah dalam 1 Taw. 29:11,12.

3.4.4.5. Nyanyian pujian dari semua makhluk (5:13)

Kini reaksi muncul dari semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya. Yohanes mendengar (di sini ia tidak melihat apa-apa, tetapi hanya mendengar saja) bunyi suatu nyanyian pujian dari segala ciptaan, suatu nyanyian pujian yang bersamaan waktu ditujukan kepada Allah Bapa dan kepada Anak Domba yang disembelih itu. Kalau dikatakan bahwa “semua makhluk” memuji Allah dan Anak Domba itu, maka itu adalah suatu ungkapan umum; ada kekecualian, sebab para setan dan orang-orang fasik tentulah tidak ikut serta dalam pemujian Allah itu. Sangat boleh jadi bahwa ke dalam lingkungan pemuji-pemuji itu termasuk binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan, yang juga dalam Mzm. 148 dibayangkan sebagai bernyanyi. Kita dapat mengingat kepada Rom. 8:19-22, di mana dikatakan bahwa juga dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang akan memetik buah karya penyelamatan Kristus. Sebab itu mereka dapat dibayangkan secara simbolis sebagai menyanyikan pujian-pujian kepada Kristus.[105]

Meskipun demikian, “semua makhluk” juga dapat berarti semua manusia yang ditentukan mendapat kemuliaan berkat karya penyelamatan Domba. Ini menujukkan sifat universal pesan Why., yang tidak terbatas untuk beberapa jemaat Asia Kecil, atau di dunia Romawi, melainkan “dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”.[106]

3.4.4.6. Keempat makhluk itu berkata: “Amin” (5:14a)

Nyanyian pujian itu berakhir pada lingkungan yang paling sentral, yakni keempat makhluk yang berdiri paling dekat kepada takhta Allah. Mereka ini mengatakan ‘amin’ (yakni pasti, sungguh) atas nyanyian pujian segala ciptaan itu. Adalah suatu kebiasaan dalam agama Yahudi dan juga dalam jemaat Kristen pada abad pertama untuk, kalau orang mendengar suatu puji-pujian kepada Allah, menyatakan persetujuannya tentang itu dengan mengucapkan amin (άμήν).[107]

3.4.4.7. Tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (5:14)

Reaksi terakhir terhadap Anak Domba yang mengambil gulungan kitab itu, yakni tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (proskynesis). Pengulangan proskynesis secara tetap terjadi dalam Why. 4:10; 5:14; 7:11; 11:16; 19:4. Di sini ‘tersungkur’ dalam tiap kasus secara khusus disebutkan.[108] Penyembahan ini menegaskan bahwa hanya Dia yang duduk di atas takhta  dan Anak Domba yang layak menerima puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Ini bertentangan dengan penyembahan Caesar dalam ibadat-raja. Pengakuan di sini menunjukkan bahwa Dia yang duduk di atas takhta dan Anak Domba adalah Pencipta dan Tuhan dari semuanya.[109]

IV. REFLEKSI TEOLOGIS

4.1. Yesus Kristus Anak Domba Allah

4.1.1. Anak Domba itu Telah Keluar sebagai Pemenang.

Dalam Wahyu 5:5 dikatakan, salah satu tua-tua itu berkata kepada Rasul Yohanes, “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu.” Ungkapan “singa dari Yehuda” dapat dilihat kembali dari Kejadian 49:9, di mana salah satu putra Yakub, yakni Yehuda, disebut sebagai anak singa. Tapi dalam ayat ini, Kristus yang merupakan keturunan dari Yehuda bukan lagi menjadi anak singa, tetapi singa yang perkasa. Singa adalah raja dan penguasa hutan. Kekuatan dan auman singa menempatkannya sebagai penguasa hutan yang menggentarkan siapa pun. Ungkapan “singa” ini menggambarkan Kristus sebagai pemenang. Istilah “tunas Daud” menyatakan Kristus adalah keturunan Daud, Mesias yang dijanjikan.

Dengan demikian, kedua istilah di atas, yaitu “singa dari Yehuda” dan tunas Daud”, memiliki latar belakang Yahudi yang kental. Kedua sebutan yang menunjuk kepada Mesias telah datang, di mana Kristus secara gemilang telah melakukan tugas sebagai Mesias, sehingga Dia layak dipuji, dipuja dan dimuliakan.

4.1.2. Anak Domba Telah Terlebih Dahulu Menderita.

Dalam puji-pujian gelombang 1 dan 2 dikatakan bahwa Anak Domba layak membuka gulungan kitab dan menerima segala kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian, karena Ia “telah disembelih”. Yesaya 53:7 mencatat: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang yang mengunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”

Pernyataan-pernyataan dari Wahyu mengenai Kristus sebagai άρνίον menggambarkan Dia sebagai Penyelamat dan Penguasa, dan dalam tindakan seperti itu membawa semua elemen yang paling penting dalam julukanNya sebagai Pembebas. (a) Anak Domba memikul pada leher-Nya tkita sembelihan (5:6, 9, 12; 13:8); darah-Nya mengalir dalam penebusan dosa (5:9; 7:14; 12:11). (b) Tetapi Anak Domba telah mengalahkan kematian (5:5-6), Ia Mahakuasa (κέράς) dan Mahatahu (5:6). (c) Dia mengambil alih pemerintahan dunia melalui pembukaan kitab yang dimeterai (4:2ff.; 5:7ff.), menerima penyembahan ilahi (5:8ff. dll.), menetapkan hukum perdamaian (7:9), menjalankan penghakiman (6:16f.; 14:10), membuat pembedaan orang-orang yang tertulis dalam kitab kehidupan (13:8; 21:27), dan mengatasi kekuatan setan (17:14). (d) Sebagai Pemenang, Dia adalah Tuhan dari semua tuhan dan Raja para raja (17:14; 19:16), merayakan pesta perjamuan dengan komunitas (19:9) dan kuasaNya sendiri sebagai partner dari takhta Allah (22:1,3).[110]

Demikian pula dalam Markus 10:45 dikatakan, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (lutron) bagi banyak orang.” Kata “layak” (worthy) dihubungkan dengan seseorang yang memenuhi persyaratan karena telah melaksanakan suatu tugas dengan sempurna. Jadi, alasan mengapa Anak domba itu begitu dimuliakan adalah karena Anak domba itu terlebih dahulu mau berkorban, yakni membiarkan diri disembelih. Tanpa ada penderitaan, tidak ada kemuliaan.

4.1.3. Anak Domba itu Telah Dipulihkan.

Dalam Wahyu 5:6, dikatakan bahwa Anak domba yang seperti telah disembelih itu, bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Dalam ayat-ayat firman Tuhan yang dipakai dalam PB, kata “domba” yang dipakai untuk Kristus adalah Amnos. Amnos adalah anak domba yang kelu yang dibawa ke tempat pembantaian dan dipersembahkan sebagai korban. Ini seperti yang digambarkan dalam Yesaya 53:7, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”

Tetapi dalam Wahyu 5:6, Anak domba ini mempunyai tanduk tujuh dan mata tujuh. Maka istilah domba yang dipakai di sini bukan lagi Amnos, tapi Arnion. Walau Domba itu masih mempunyai bekas disembelih, tapi sekarang Dia mempunyai tanduk dan mata tujuh. Kata “tujuh” menunjukkan kesempurnaan. Tanduk tujuh berarti Kristus mempunyai kekuatan yang sempurna. Mata menunjukkan kemahatahuan Kristus. Dengan demikian, itu berarti Kristus memiliki keperkasaan dan pengetahuan yang lengkap tentang apa pun yang ada di sorga dan di dunia. Dia adalah Anak Allah yang sudah dipulihkan.

Dari penyembahan keempat makhluk, kedua puluh empat tua-tua, dan seluruh makhluk yang ada di sorga yang begitu memuji dan memuja Anak domba, maka seharusnya dalam beribadah di gereja, kita pun perlu memiliki ekspresi yang sama. Tidak cukup dalam hidup kita hanya tergesa-gesa membaca Alkitab, berdoa, setelah itu terlibat lagi dengan aktivitas-aktivitas sehari-hari. Kita perlu menyediakan waktu yang cukup, apakah itu kita ada dalam ibadah pribadi atau ibadah keluarga atau ibadah bersama dalam gereja, untuk memuji dan memuja Tuhan Yesus. Anak domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan, dan puji-pujian dari kita semua.

4.1.4. Anak Domba Paskah

Anak Domba yang telah disembelih sering disebut Anak Domba Paskah. Suatu cara sederhana yang dikatakan Paulus: “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kau menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak-domba Paskah kita telah disembelih, yaitu Kristus” (1 Kor. 5:7), memberi kesan bahwa perbandingan ini sudah familiar bagi Gereja di Korintus. Itu tentu saja sama dalam PB (1 Ptr. 1:19; Yoh. 1:29, 36; bdk. Why. 5:6, 9, 12; 12:11) dan barangkali merujuk pada Yesus sendiri, karena sejak σώμα/αίμα ada, seperti εκχύννεσθαι, term ‘berkorban’, boleh disimpulkan bahwa dalam perkataan-perkataan pada Perjamuan Tuhan (Mrk. 14:22-24 dan par.) Yesus telah membandingkan diriNya dengan anak domba Paskah, dan menyebut kematianNya suatu kurban. Perbandingan ini merupakan inti dari suatu tipologi Paskah yang kaya dalam Gereja Purba. Ini ditemukan dalam tiga bentuk: pertama. Dalam Luk. 22:16 Yesus menyebut perjamuan saat keselamatan suatu pemenuhan paskah. Kedua. Dalam 1 Kor. 5:7f. komunitas untuk mana Kristus telah dikurbankan  sebagai anak domba Paskah disebut adonan tak beragi. Ini mengekspresikan kenyataan bahwa ada dalam Kristus adalah selalu ada dalam kepenuhan Paskah. Ketiga. Dalam 1 Ptr. 1:13-21 pembaptisan dibandingkan pada anak-anak Allah yang, diselamatkan oleh darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (ay. 18f.), memulai ziarahnya (ay. 17) dengan kewaspadaan (ay. 13). Baik dalam 1 Kor. maupun 1 Ptr. tipologi timbul dalam pelayanan dari nasehat pemurnian komunitas dan hati di satu sisi, dan pengudusan dan berjalan dalam ketakutan di sisi lain.[111]

4.1.5. Yesus Kristus Sekaligus Anak Domba dan Gembala?

Dalam banyak perikop Kitab Suci, kita mengetahui bahwa Yesus sering kali menyebut diri-Nya juga sebagai Gembala[112], di samping Anak Domba seperti yang telah kita lihat panjang lebar di atas. Dari dua istilah yang sama-sama dipakai untuk menyebut Yesus ini, menjadi pokok untuk kita lihat adalah bahwa di sana terdapat suatu teologi tentang pola relasi-simbolik antara Allah-Yesus-manusia. Istilah ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan siapa yang disimbolkan itu sebagai mana dimaksudkan dalam arti kata tersebut. Misalnya: Yesus jika disebut sebagai Anak Domba bukan berarti bahwa Yesus adalah binatang. Istilah ini hanya dimaksudkan sebagai simbol semata dan memiliki arti yang jauh lebih luhur dibandingkan dengan arti harafiah dari kata dimaksud.

Pertanyaannya, bagaimana dapat dipahami bahwa Yesus sekaligus disebut sebagai Anak Domba tetapi juga Gembala? Bagi saya, penyebutan itu karena berhubungan dengan relasi maka sangat ditentukan pada bagaiman dan dengan siapa relasi yang dibangun Yesus. Yesus akan disebut sebagai Gembala ketika relasi yang tarjadi adalah relasi antara Yesus dengan kita sebagai umat-Nya. Sementara Yesus akan disebut sebagai Anak Domba, ketika relasi yang terjadi adalah relasi antara Yesus dengan Bapa-Nya, Allah kita. Pada saat seperti ini, kita tergabung bersama dengan Yesus menghadap Allah sebagai satu kawanan domba.

4.2. Pujian dan Penyembahan

4.2.1. Imamat Rajawi

Kristus, Anak Domba yang telah disembelih, telah menumpahkan darahNya bagi keselamatan umat manusia. Menurut Why. 1:6 dan 5:10, orang-orang Kristen adalah imam-imam sebagaimana mereka diselamatkan dan dibeli melalui darah Kristus. Sebagaimana dalam 1 Ptr. 2:5, janji kepada Israel dialihkan kepada komunitas baru. Ini terdiri atas keseluruhan imam-imam Allah dan Kristus. Ini hanya dapat dikatakan dalam PB di mana gambaran imamat dalam suatu pengertian pribadi digunakan oleh kekristenan. [113]

Kristus, Imam Agung dan Pengantara satu-satunya, telah membuat GerejaNya menjadi suatu kerajaan, “menjadi imam-imam bagi Allah, BapaNya. Dengan demikian seluruh persekutuan umat beriman adalah imami. Orang beriman sebagai orang yang dibaptis melaksanakan imamatnya dengan cara bahwa setiap orang sesuai dengan panggilannya ikut serta dalam perutusan Kristus, Imam, Nabi, dan Raja. Oleh Sakramen Pembaptisan dan Penguatan orang beriman disucikan untuk menjadi imamat suci.[114]

4.2.2. Nyanyian bagi Kemuliaan Allah dan Kristus

Dalam Why. nyanyian dan pujian yang khidmat melukiskan kemuliaan Allah dan KristusNya (4:8, 11; 5:9, 10, 12, 13; 11:15, 17f.; 12:10-12; 15:3-4; 19:1f., 5, 6-8). Nyanyian-nyanyian ini juga merupakan homology, walaupun tidak terdapat kelompok kata. Suatu kahal surgawi mengatakan atau menyanyikan bagi kemuliaan Allah, tetapi kata-kata dan nyanyia-nyanyiannya merupakan suatu bentuk khusus dari pemakluman untuk Gereja yang militant. Perbaikan dan pengembangan nyanyian ini mengekspresikan Roh Allah. Nyanyian-nyanyian dan kata-kata merupakan suatu ikrar dari kemenangan dan kesenangan akhir dalam kesusahan saat ini. Karena itu homology merupakan suatu seruan untuk ikut serta dalam kegembiraan (12:12; 19:5, 7). Kristus sendiri sebagai Penyelamat berdiri di tengah-tengah komunitas, berdoa kepada Allah dan memaklumkan namaNya kepada saudara-saudara (Ibr. 2:12 = Mzm. 22:22). Pemazmur dan penulis PL pada umumnya meletakkan dalam kadar yang besar bentuk dan isi dari homology. Kita diarahkan dalam arah yang sama melalui nyanyian pujian para malaikat (Luk. 2:14) dan berkah Simeon (Luk. 2:29-32) dalam cerita kelahiran dari Luk.[115]

4.3. Nyanyian Baru

4.3.1. Arti Pertama Nyanyian Baru

Salah satu tkita Gereja Bangkit adalah kalau gereja menyanyikan nyanyian baru. Apa yang dimaksudkan nyanyian baru? Mazmur 40:4, “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.” Ada sesuatu yang janggal di sini yaitu kita menyanyi seharusnya didengar, bukan dilihat, tetapi kenapa dilihat? Ada sesuatu yang Tuhan mau untuk kita perhatikan: “Tuhan memberikan nyanyian baru dalam mulut kita, banyak orang akan melihat kita, jadi bukannya mendengar, sehingga mereka menjadi takut dan percaya kepada Tuhan”. Nyanyian baru itu sebenarnya nyanyian yang Tuhan berikan akibat dari perbuatan-perbuatan benar yang kita lakukan. Kalau orang di luar yang tidak benar di hadapan Tuhan menyanyikan nyanyian ini, itu bukan nyanyian baru, tetapi nyanyian baru itu nyanyian yang dinyanyikan oleh orang-orang yang hidupnya benar di hadapan Tuhan, karena itu dampaknya mereka bukan hanya mendengar tetapi melihat.

4.3.2. Arti Kedua Nyanyian Baru

Nyanyian baru adalah nyanyian yang intinya meninggikan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata: “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” (Yohanes 12:32). Karena itu Tuhan mau memberikan nyanyian baru kepada kita semua yaitu gerejaNya, tetapi kita harus melakukan perbuatan yang benar di hadapan Tuhan.

4.3.3. Arti Ketiga Nyayian Baru.

Nyanyian baru adalah nyanyian atau berita tentang Injil. Dan kita tahu bahwa Injil adalah kekuatan Allah untuk membuat orang bertobat dan berubah (Roma 1:16), karena itu kita gereja Tuhan harus menyanyikan nyanyian baru. Belum lama kita mengingat kematian Tuhan Yesus dan merayakan kebangkitanNya. Tuhan sangat baik kepada kita semua, dengan apakah kita harus membalas kasih Tuhan Yesus yang sedemikian besar kepada kita? Tuhan Yesus telah disembelih oleh karena kita, dan dengan darahNya Tuhan Yesus telah membeli kita dari tangan iblis. Kita dibuat menjadi suatu kerajaan bagi Allah kita, dan kita akan memerintah sebagai raja di bumi ini.

4.4.4. Arti Keempat Nyanyian Baru

Nyanyian baru itu adalah suatu nyanyian yang saat ini disukai Tuhan, tidak peduli nyanyian yang baru dibuat, atau nyanyian yang dulu sudah cukup lama dibuat, tetapi pada suatu saat nyanyian itu begitu disukai Tuhan. Kalau kita menyanyikan lagu itu, maka kita merasakan hadirat Tuhan yang begitu kuat turun. Kita merasakan ada suatu perbedaan ketika menyanyikan lagu ini pada hari ini dan satu bulan yang lalu. Tuhan memberikan nyanyian baru pada yang berbeda-beda pada setiap waktu. Pada waktu kita menyanyikan nyanyian baru itu, maka Tuhan akan menjamah banyak orang dan mereka menjadi bertobat. Tuhan menginginkan kita sebagai gerejaNya, selalu menyanyikan nyanyian baru.

4.4.5. Tujuh Hal yang Harus Dilakukan agar Tuhan Memberikan Nyanyian Baru

Tuhan memberikan nyanyian baru disebabkan karena perbuatan-perbuatan baik dan benar yang kita lakukan. Ada 7 hal yang dilakukan oleh kedua puluh empat tua-tua sebelum mereka menyanyikan nyanyian baru. Ketujuh perbuatan-perbuatan benar inilah yang harus dilakukan supaya nyanyian baru itu diberikan Tuhan kepada kita, yaitu: Mereka duduk bersama-sama di hadapan Dia yang duduk di atas tahta, ini berbicara tentang unity, “Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua” (Wahyu 4:4a).

  1. Mereka memakai pakaian putih (Wahyu 4:4b), yang berarti berbicara tentang hidup kudus.
  2. Mereka memakai mahkota emas di kepala mereka (Wahyu 4:4c).
  3. Mereka memuji dan menyembah Tuhan siang dan malam (Wahyu 4:8-11).
  4. Mereka melemparkan mahkota (Wahyu 4:10) yang bisa berarti kebanggaan, prestasi kita, kehebatan kita, tetapi semuanya itu harus ditanggalkan di hadapan Tuhan, kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan.
  5. Mereka tersungkur menyembah Yesus (Wahyu 5:8), hanya kepada Tuhan Yesus kita menyembah.
  6. Mereka memegang kecapi dan cawan emas yang berisi kemenyan yaitu doa orang-orang kudus (Wahyu 5:8), ini berbicara tentang doa – pujian – dan penyembahan.

4.5. Anak Domba Allah dalam Liturgi

Yesus sebagai Domba Allah sangat faktual kita rayakan dan hayati dalam liturgi kita, khusunya dalam ekaristi. Di bidang liturgi Gereja, Kristus, Anak Domba yang telah disembelih itu berkurban dan dikurbankan, mempersembahkan dan dipersembahkan dalam Perayaan Ekaristi kudus, khususnya Liturgi Ekaristi. Di sana Kristus hadir sebagai pusat dan puncak hidup umat Kristiani. Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan maupun dalam rupa roti dan anggur.[116] Dalam liturgi juga dinyanyikan lagu-lagu pujian untuk mengagungkan Allah demi diriNya sendiri. Gereja di bumi juga menyanyikan lagu pujian dalam iman dan dalam pencobaan. Dalam permohonan dan syafaat, orang beriman berharap meskipun tidak ada dasar untuk berharap, dan berterima kasih kepada “Bapa segala terang”. Umat saat ini lebih cenderung memilih devosi-devosi berkaitan dengan kesusahan yang melkita hidup pribadi dan keluarga serta relasi mereka. Mereka mengalami kesulitan-kesulitan yang besar dalam hidup mereka. Dan banyak di antara umat kita yang mencari ketenangan dalam doa, pujian dan penyembahan.

Satu kata konkrit yang dikutip dari Yoh 1:29, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” seringkali kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi. Kata-kata ini memiliki arti dan makna yang sangat mendalam untuk kita renungkan sebagai berikut:

4.5.1. Kebenaran yang Ada dalam Diri-Nya.

Dalam ayat 31 Yohanes berkata, “Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia.” Beberapa orang berkata bahwa mereka berdua belum pernah berjumpa. Namun saya sulit untuk mempercayainya. Yohanes telah mengenal Yesus di sepanjang hidupnya. Jadi, ketika Yohanes berkata, “Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia,” saya melihat maksud yang lain. Yohanes telah mengenal Yesus, namun ia belum mengenal Dia sebagai penanggung dosa. Yohanes memiliki hubungan keluarga dengan Yesus, dan ia seharusnya telah mengenal Dia sejak masa kanak-kanak. Namun ia belum mengenal Dia sebagai Anak domba Allah, sang penanggung dosa.

Namun ketika Yohanes membaptiskan Yesus ke dalam air di sungai Yordan, dan mendengar suara Allah dari Sorga, “Inilah Anak yang Kukasihi” (Matius 3:17) ia menjadi yakin tentang siapa Yesus sebenarnya. Dari peristiwa itu, Yohanes dengan tegas menyerukan, “Lihatlah Dia. Lihatlah Dia untuk diri kita sendiri! Inilah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Saya berharap agar kita mau mengenal Yesus untuk diri kita sendiri, menerima pengorbanan bagi dosa-dosa kita. Beberapa dari kita telah mempelajari ini sejak masih kanak-kanak bahwa Yesus adalah Anak domba Allah. Namun apa yang kita telah pelajari dari Alkitab seharusnya menyingkapkan selubung hati kita, atau kita tidak akan mengenal untuk diri kita sendiri bahwa Yesus dapat menghapus dosa kita.

4.5.2. Kristus Sebagai Persembahan Korban Yang “Istimewa.”

Yohanes tahu semua tentang anak domba yang disembelih di dalam upacara korban Perjanjian Lama. Ia melihat anak-anak domba yang disembelih setiap hari di Bait Suci. Namun Yohanes memperkenalkan Kristus dan berkata, “Lihatlah Anak domba Allah.” “Lihatlah Anak domba.” (dalam KJV ada artikel “the Lamb,” yang mana “the” adalah definite article yang digunakan untuk mengacu kepada hal tertentu atau sesuatu yang bersifat partikuler). Semua anak domba lain, yang orang-orang Yahudi persembahkan di Bait Suci, hanyalah sebagai tipe dan gambaran tentang Dia. ‘Lihatlah Anak domba Allah.”

Ini adalah sesuatu yang luar biasa ketika kita dapat memfokuskan kesaksian kita hanya kepada satu poin ini – Anak domba itu. Begitu banyak “kesaksian” hari ini yang berfokus kepada hal-hal yang lain. Orang-orang berbicara hampir tentang segala suatu namun bukan tentang Anak domba Allah. Nampaknya hampir segala sesuatu dapat dijadikan sebagai kesaksian orang Kristen hari ini. Namun saya meragukan beberapa kesaksian itu. Saya ingin tahu apakah pendapat orang itu tentang “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Jika seseorang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan tentang Kristus, Anak domba Allah, saya tidak yakin kalau orang itu telah bertobat. Mengapa? Karena tidak ada keselamatan yang terpisah dari Kristus, Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia – itulah sebabnya mengapa! “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Rasul 4:12).

4.5.3. Kristus Sebagai Persembahan Korban “Dari Allah.”

Siapakah yang mengorbankan Anak domba Allah itu? Siapakah yang membuat Kristus menderita di kayu Salib? Siapakah yang membuat Dia berdukacita? Siapakah yang menyebabkan Dia mengalami semua penderitaan sehingga Ia berseru dari kayu Salib, “Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46).

Allah yang membuat semua itu, menurut “maksud dan rencana-Nya,” Kristus telah “kamu salibkan dan kamu bunuh” (Kisah Rasul 2:23). “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan” (Yesaya 53:10).

Yesus adalah “Anak domba Allah.” Ketika kita percaya kepada Kristus, kita sedang percaya atas pengorbanan Allah sendiri bagi dosa kita. Ketika kita percaya pengorbanan Allah sendiri bagi dosa kita, Ia tidak dapat menolak kita. Korban penebusan Kristus menutupi dosa kita dan membuat kita suci dalam pemkitangan Allah.

4.5.4. Kristus Sebagai yang Menanggung dan Menghapus Dosa Kita.

Kata Yunani yang diterjemahkan “yang menghapus” di sini berarti “memikul, membawa lari” (“to bear, to carry off”). Kedua arti itu adalah maksud dari kata di sini. Tuhan Yesus memikul dosa-dosa kita, dan Ia juga telah membawa pergi dosa-dosa itu. Alkitab penuh dengan pernyataan-pernyataan seperti ini. “TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6); “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib” (I Petrus 2:24). Kristus memikul dosa dunia di kayu Salib. Namun yang terpenting dari semuanya, Kristus bukan hanya memikul semua beban dosa, namun Ia juga menghapuskan semua dosa itu!

Jika kita percaya Yesus, kita tidak perlu bertanya, “Di mana dosa saya?” Yesus telah menghapuskannya. Ia telah mengambil dosa kita, menanggungnya, dan membawanya pergi! Dosa itu telah pergi untuk selama-lamanya – sepenuhnya telah dihapus. Ini adalah Injil yang berharga untuk dipercayai, berharga bagi orang yang hidup, berharga bagi orang yang sedang sekarat. Terkutuklah semua pengajaran yang menentangnya. Ini adalah keselamatan bagi orang-orang yang dosanya sedang menyeret mereka turun ke dalam Neraka. Dosa-dosa kita dapat dihapuskan karena Yesus adalah “Darah Yesus Kristus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (I Yohanes 1:7).

4.5.5. Kristus Sebagai yang Terus Menerus Menghapus Dosa.

Yohanes tidak berbicara di dalam tensis masa lampau, atau tensis masa yang akan datang. Ia berbicara dalam tesis masa kini. Sekarang, “Ia menghapus dosa dunia.” Walaupun itu telah terjadi hanya sekali, efek pengorbanan Kristus terus berlangsung untuk selama-lamanya. Kristus telah mati pada zaman itu, namun Ia masih menghapus dosa. Sebagai Penyuci yang Agung (Great Purifier) Ia terus menerus menghapus dosa, dan akan terus menerus menghapus dosa, dosa dunia.

Namun kita harus percaya kepada Anak domba Allah bagi diri kita sendiri. Kita harus mengenal Dia untuk diri kita sendiri. Kita sendiri harus percaya kepada Dia. Maka Ia pasti akan menyucikan dosa yang sekarang membebani dan menghukum kita. Kita akan “dibenarkan oleh darah-Nya” (Roma 5:9). Ia akan menyembunyikan dosa kita. Dosa itu tidak akan nampak atau eksis dalam pemkitangan Allah. Kita akan menjadi bebas darinya untuk selama-lamanya. Kiranya Allah menolong kita untuk percaya kepada Yesus Kristus, seperti yang saya bicarakan di sini.

4.5.6. Pengorbanan Kristus Cukup untuk Semua Orang.

Tidak ada dosa yang tidak dapat Ia hapuskan. Tidak ada batasan untuk nilai pengorbanan-Nya di atas kayu Salib. Ia mengapus dosa dunia. Tidak ada yang lain yang dapat menghapuskan dosa kita. Tidak ada penebusan atau pengorbanan yang lain. Tidak ada api penyucian atau “purgatory” yang dapat menghapuskan dosa. Tidak ada tangisan atau penyesalan yang dapat menghapuskan dosa. Hanya Yesus yang menghapuskan dosa dunia. Selain Dia tidak ada yang lainnya. Kristus telah membuat mungkin seluruh dunia menerima penghapusan dosa mereka. Namun kita harus percaya Kristus untuk diri kita sendiri.  “Barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma” (Wahyu 22:17). Namun ingat, “Tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:16).

4.5.7. Bagaimana Menerima Berkat dari Pengorbanan Kristus.

Kata “lihatlah”, berarti, “melihat, memkitang.’ Kata Yunaninya adalah “ideh.” Ini adalah bentuk perintah (imperative mood), yang berarti bahwa Yohanes sedang menghimbau kita untuk memkitang kepada Kristus. Itulah caranya menerima keselamatan dari dosa. Lihatlah Kristus melalui iman! Pkitanglah Dia melalui iman!

Perhatikanlah betapa yakinnya dan dengan kepercayaan penuh Yohanes Pembaptis menyerukan itu. Tepat di depan matanya sendiri ia melihat Yesus, sang Penanggung dosa. Dan ia mengajak orang lain untuk memkitang Dia. Pkitangalah Yesus dengan iman dan kita akan hidup! Yesus berkata, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan” (Yesaya 45:22). Pkitanglah Kristus, yang pernah disalibkan bagi dosa-dosa kita, yang sekarang telah duduk di sebelah kanan Allah di Sorga. Pkitanglah Dia dan kita akan diselamatkan.

Melihat Dia sama dengan datang kepada Dia! Kita mungkin berkata, “Saya tidak dapat datang kepada Dia.” Yah, maukah kita melihat Dia dengan iman yang sederhana? Kita harus memiliki iman pribadi di dalam Yesus atau kita tidak akan mengalami penghapusan akan dosa kita. Pkitanglah Kristus! Ia akan menyucikan kita dari dosa-dosa kita dengan darah-Nya yang mahal!

PENUTUP

Salah satu usaha yang dilancarkan oleh musuh-musuh kekristenan untuk membasmi kekristenan pada abad permulaan adalah penganiayaan. Terhadap kenyataan ini, Yohanes penulis Wahyu yang dibuang ke pulau Patmos mneuliskan kitab ini untuk menguatkan, menghibur bahkan menasehatkan jemaat-jemaat Kristen ini. Ketika berada di pulau Patmos, Allah memberikan banyak penglihatan kepada Rasul Yohanes, salah satu yang paling menakjubkan adalah tentang kemuliaan Anak domba. Penglihatan tentang kemuliaan Anak Domba itu diawali ketika Yohanes melihat Tuhan Allah duduk di atas takhta-Nya, dan di sebelah kanan-Nya adalah sebuah gulungan kitab yang telah dimeterai dengan 7 meterai. Lalu Rasul Yohanes melihat seorang malaikat yang gagah perkasa, berseru dengan suara nyaring, “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan meterai-meterainya?”

Dalam Paper ini, kita telah melihat pemahaman secata holistik tentang Anak Domba itu, Dia yang membuka gulungan kitab sehingga penulis tidak lagi menangis memikirkan keselamatan, tetapi bahkan seluaruh manusia dikatakan bersukacita atas tindakan mulia ini. Kehidupan kita telah banyak dijiwai dan diinspirir “kelakuan” mulia Anak Domba ini, mari kita belajar menjadi “domba-domba” yang baik, yang selalu sedia berkenan di hadapan Allah sehingga sukacita surgawi dan kemenganan sebagai anak-anak Allah yang digambarkan dalam kitab Wahyu ini dapat pula kita nikmati.

*************


[1]Ditempatkannya Kitab Wahyu paling akhir dengan pertimbangan bahwa kitab ini erbicara tentang akhir seluruh sejarah. Maka wajar kitab ini menutup rangkaian, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yang berisikan sejarah penyelamatan itu. Meskipun Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan pada urutan paling terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (bahkan dalam keseluruhan Alkitab) bukan berarti Kitab ini ditulis paling terakhir. Kitab Wahyu ditulis pada tahun 90/95 dan yang ditulis paling terakhir adalah II Petrus (thn. 125). Penerimaan kitab ini sebagai salah satu kitab resmi Agama Kristen terjadi pada abad VII di Asia Kecil. Secara historis, umumnya lingkungan Gereja Katolik Barat tidak memiliki halangan yang berarti untuk menerima kitab ini sebagai kitab resmi Perjanjian Baru. Sedangkan dalam lingkungan Gereja Katolik di Timur terjadi perdebatan panjang mengenai kitab ini. Meskipun demikian, pada abad ke-7 kitab ini sudah diterima. Bdk. Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 134-135. Bdk. pula. C. Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 13, 15, 180. Juga, LBI, Kitab Wahyu, Tafsir Perjanjian Baru 10, (Jakarta: Yayasan Kanisius, 1983), hlm. 11. Bdk. juga dalam Anthony J Saldarini, Apocalyptic and Rabbinic Literaure, dalam Catholic Biblical Quarterly 37/3 (July, 1975), hlm. 348-349.

 

[2]Kata Apokalipsys (Bahasa Yunani) dibentuk dari kata apo yang berarti jauh dari [sesuatu yang tersembunyi] dan kalypto berarti menyembunyikan “pernyataan” misalnya tentang penghakiman Allah, rahasia pribadi Yesus [Mat. 11: 25, 27 (=Luk. 10: 21-22); 16: 17], [Luk. 17:30], [Yoh. 12: 38], [Rm. 1: 17-18; 2:5; 8: 18-19; 16: 25], [Gal. 1:12], [Ef. 1:17; 3:13], [II Tes. 1:7; 2: 2], karunia adikodrati yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang-orang tertentu [I Kor. 14: 26, 30], [II Kor. 12:1,7], [Ga. 2:2]. Apokalipsis lalu umumnya di artikan sebagai “membuka selubung” atau menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi. Bdk. Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, hlm. 134. Lih. Juga. Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Terj. I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. vii. Dalam bahasa Inggris, kata ini giterjemahkan dengan Revelation. Arti Wahyu itu sendiri terlepas dari konteks kitab Wahyu (The Book of Revelation) adalah penyingkapan oleh Allah mengenai sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia, “Wahyu” dalam Kamus Teologi, terjemahan I Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 350.

[3]Tulisan-tulisan ini berisikan pelbagai adegan ajaib serta suka akan nama-nama samaran. Inilah sejumlah tulisan lain yang termasuk dalam jenis sastra ini: Yes. 24-27, He-nokh, Ezra, Barukh dan rangkaian ucapan-ucapan Yesus yang bernada eskatologis: misalnya, Mat. 24 [= Mrk. 13 = Luk. 21], Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru,hlm. 134.

[4]C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 381. Bdk. juga Teresa Okure, “From Genesis to Revelation: Apocalyptic in Biblical Faith”, dalam Concelium edisi April, ed. by Sean Freyne & Nicholas Lash, (London: SCM Press, 1998), hlm. 23.

[5]The revelation is the most controversial book and one of those whish have given rise to the most varied interpretations. Bdk, Jean-Piere Prévost, How to Read the Apocalypse, translated by John Bowden & Margaret Lydamore (English: SCM Press Ltd., 1993), hlm. Vii.

[6]Kitab Wahyu sendiri memberi suatu keterangan  mengenai pengarangnya. Pengarang menyebut namanya sebagai Yohanes 1:1, 4, 9 dan 22:8, yang menempatkan diri dalam kalangan para nabi (22:9) dan  menyebut diri dengan sebutan-sebutan umum seperti “hamba” Allah (1:1), “saudara dan sekutu dalam kesusahan” bagi yang dikirimi tulisan ini (1:9). Ia tinggal dan tempat menulisnya di Patmos (1:10). Bdk. Tafsiran Alikitab Masa  Kini 3 Matius-Wahyu (Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OFM,1976), hlm. 892; Bdk.  I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 12. Bdk juga, Tafsir Perjanjian Baru 10 (Yogjakarta: Kanisius, 1983), hlm. 9.

[7]Bagi Dionisius, hanya Injil dan surat pertama Yohaneslah yang ditulis oleh Rasul Yohanes. Sedangkan kitab Wahyu kiranya ditulis oleh Yohanes Presbyter (Eusebius, HE, 3:39; 7.25,16). I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, hlm. 12.

[8]Dasar penolakannya adalah bahwa Rasul Yohanes adalah penulis Injil keempat dan surat-surat Yohanes. Tetapi bahasa Yunani dan gaya bahasa yang dipakai Wahyu sangat berbeda dengan bahasa Yunani dan gaya bahasa yang dipakai karangan-karangan Yohanes. Kecuali itu, ajaran yang tercantum dalam karangan-karangan itu berbeda, beberapa gagasan pokok yang terdapat dalam tulisan Yohanes tidak terdapat dalam Wahyu seperti terang dan gelap, kasih, pengampunan dosa, penghakiman. Sebaliknya, akhir zaman (penghakiman terakhir), kedatangan Tuhan Yesus, kebahagiaan surgawi kelak yang menyerap perhatian penulis Wahyu, hanya sedikit saja berperan dalam karangan-karangan Yohanes. Bdk. C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 395-396.

[9]J. F. Walvoord, The Revelation of Jesus Christ, 12. I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, hlm. 12. Bdk juga Robert H Mounce, The Book of Revelation (Jeverson USA, William B Eerdmans Pblishing Company, 1977), hlm. 25-28.

[10]Donald Guthrie, New Testament Introduction, edisi 1 (1970), hlm. 936.

[11]Ibid.

[12]Ibid.

[13]Bdk. Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997), hlm. 1-3.

[14]Lihat E. C. Colwell, The Character of the Greek of the Fourth Gospel (Disertasi Doktor di University of Chicago, 1930; diterbitkan pada 1931).

[15]Persoalan mengenai linguistik akan dibahas lebih mendalam pada bagian berikut, dalam bukti internal.

[16]Daniel B. Wallace, Kitab Wahyu:Pendahuluan, Argumen dan Garisbesar, www.bible.org/page. php?page_id=2652 – 80k. Bdk. juga LBI, Tafsir Perjanjian baru 10: Wahyu (Yogyakarta: Kanisius, 1983), hlm. 9.

[17]I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, hlm. 12.

[18]Kita tidak bermaksud berinterkasi dengan argumen-argumen ini, juga tidak bermaksud menjelaskannya dengan mendetail; kami hanya bermaksud membuat sketsa kerangka kerja bagaimana pernyataan Papias bisa dipahami secara berbeda. Namun, perlu dikemukankan disini bahwa (1) Ada beberapa keraguan bahwa Papias sungguh menyebutkan dua orang yang bernama Yohanes, meski Dionisius kemungkinan menjadikan pernyataan ini sebagai lkitasan. (2) Meski kalau memang Papias membicarakan dua orang berbeda yang bernama Yohanes, ini tidak membuktikan apa-apa mengenai kepengarangan apostolik. Kasusnya jelas masih perlu diselesaikan dengan cara lain. Daniel B. Wallace, Kitab Wahyu:Pendahuluan, Argumen dan Garisbesar, www.bible.org/page. php?page_id=2652 – 80k.

[19]Donald Guthrie, New Testament Introduction, edisi 1 (1970) hal 933.

[20]Karena diresahkan oleh akibat-akibat buruk keyakinan chialisme, yaitu bidaah yag melkitaskan pada pemerintahan 1000 tahun yang disebut dalam Why 20:1-6, kebanyakan uskup di Siria dan Asia Kecil menolak Kitab Wahyu. Sekolah Antiokhia menolak asal-usul rasul kitab Wahyu, dan Gereja Siria tidak menerima samasekali kitab ini. I Suharyo, Kitab Wahyu Paham dan Maknya Bagi Kehidupan Kristen (Yogyakarta: LBI-Kanisius, 1993), hlm. 13.

[21]Bdk. Teresa Okure, “From Genesis to Revelation: Apocalyptic in Biblical Faith”, dalam Concelium edisi April, ed. by Sean Freyne & Nicholas Lash, (London: SCM Press, 1998), hlm. 24-25.

[22]Kitab Wahyu memberikan beberapa keterangan mengenai pengarangnya: namanya Yohanes (1:1.4.9; 22:8), yang menempatkan diri dalam kalangan para nabi (22:9) dan menyebut diri dengan sebutan-sebutan umum seperti “hamba” Allah (1:1), “saudara dan sekutu dalam kesusahan” bagi yang dikirimi tulisan ini (1:9). Ia tinggal di pulau Patmos (1:10) mungkin karena dibuang oleh penguasa Romawi. Surat-surat yang ia kirimkan kepada tujuh gereja (2:1-3:22) menunjukkan bahwa pengaran tulisan ini sangat dikenal oleh orang Kristen di Asia dan diakui kewibawaannya. Bdk. I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 12. Bdk juga Robert H Mounce, The Book of Revelation , hlm. 28. Juga dalam Francois Bovon, John’s Self-presentation in Revelation 1:9-10, dalam Catholic Biblical Quarterly (Oktober 2000), hlm. 693-694.

[23]Istilah “Logos” untuk menunjuk kepada Yesus, ditemukan hanya dalam Injil Yohanes, Surat Yohanes dan Kitab Wahyu (Yoh 1:1  1Yoh 1:1  Wah 19:13). Perlu diingat bahwa tidak ada penulis Kitab Suci lain yang menggunakan istilah “Logos” untuk menunjuk kepada Yesus. Selain itu, ada juga kata “Anak Domba” yang terdapat dalam baik Injil Yohanes maupun Wahyu. Istilah ini dipakai untuk menunjuk kepada Yesus (Yoh 1:29,36  Wah 5:6). Memang dalam hal ini istilah bahasa Yunani yang digunakan berbeda. Dalam Kitab Wahyu digunakan kata Yunani arnion, sedangkan dalam Injil Yohanes digunakan kata Yunani amnos. Tetapi menurut saya ini tidak terlalu menjadi soal. Selain itu pula, baik dalam Injil Yohanes maupun dalam Kitab Wahyu, Yesus digambarkan sebagai Gembala (Yoh 10:1-dst  Wah 7:17). Juga baik Injil Yohanes maupun Kitab Wahyu menjanjikan air hidup bagi mereka yang haus (Yoh 4:10-14  Yoh 7:37  Wah 22:17). Bdk Robert H Mounce, The Book of Revelation, hlm. 30.

[24]Bdk. I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 13.

[25]Anthony J Saldarini, Apocalyptic and Rabbinic Literaure, hlm 353-355.

[26]Perlu diingat bahwa penulis Kitab Wahyu menyebut namanya sebagai “Yohanes”, padahal penulis Injil Yohanes dan Surat Yohanes tidak pernah menyebutkan jati dirinya. Jadi jika demikian, dapatkah penyebutan “Yohanes” sebagai penulis wahyu bisa memberikan indikasi kepada kita bahwa dia adalah orang yang sama yang menulis karangan-karangan Yohanes?

[27]William Barclay mengatakan bahwa “… from the point of view of grammar it is easily the worst Greek in The New Testament. He makes mistakes which no schoolboy who knew Greek could make. Greek is certainly not his native language; and it is often clear that he is writing in Greek and thinking in Hebrew”. Ia menambahkan “The Greek of the Fourth Gospel is simple but correct; the Greek of the Revelation is rugged and vivid, but notoriously incorrect”. Sementara J.H. Moulton mengatakan bahwa “Its grammar is perpetually stumbling, its idiom is that of a foreign language, its whole style that of a writer who neither knows nor cares for literary form”. J.H. Moulton, A Grammar of New Testament Greek, Book II, hal 3.

[28]Daniel B. Wallace, Kitab Wahyu:Pendahuluan, Argumen dan Garisbesar, www.bible.org/page. php?page_id=2652 – 80k.

[29]Bdk. Elisabeth Schussler Fiorenza, Composotoin and Structure of The Book of Revalation, dalam “The Catholic Biblical Quarterly 39:3 (July, 1977), hlm. 346-348.

[30]Bdk. C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 400.

[31]Bdk. Robert H Mounce, The Book of Revelation, hlm. 31-36.

[32]Dalam menentukan tahun penulisan, para penafsir mempunyai pendapat yang sangat berbeda-beda. Ada beberapa yang berpendapat bahwa kitab Wahyu ditulis pada pemerintahan Kaisar Claudius (41-54 M), ada pula yang menghubungkannya dengan pemerintahan Kaisar Nerva (96-98 M) atau bahkan Trainus (98-117 M). I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, hlm. 14.

[33]Bdk.  juga Francois Bovon, John’s Self-presentation in Revelation 1:9-10, dalam Biblical Quarterly (Oktober 2000), hlm. 699.

[34]Kaisar Nero pada tahun 64 M menganiaya umat Kristen di kota Roma dan sejumlah besar dibunuh. Para penulis sejarah mencatat bahwa penganiaya orang Kristen pertama adalah Kaisar ini. Berbeda dengan yang ada dalam Wahyu bahwa umat yang dianiaya dalam jumlah yang besar, Kaisar ini hanya menganiaya hanya terbatas di kota Roma dan sekililingnya karena orang-orang Kristen dituduh membakar kota Roma bukan karena menolak menyembah Kaisar. I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, hlm. 15. Bdk. juga C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 400.

[35]Keberatan: ini menafsirkan bagian yang bersifat simbolis (yaitu Bait Allah) sebagai sesuatu yang bersifat harufiah.

[36]Bilangan binatang – 666 – adalah jumlah angka yang diambil dari nama Kaisar Nero apabila ditulis dengan huruf Ibrani. J Sidlow Bayter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, diterjemahkan oleh Sastro Soedirdjo (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982), hlm. 214.

[37]Untuk point terakhir ini ada keberatan yang cukup serius, karena: ini membuang kemungkinan adanya penulis/sekretaris pada waktu menulis Injil Yohanes dan Surat Yohanes; sekalipun bahasa Yunani yang digunakan dalam Kitab Wahyu mempunyai banyak ‘kesalahan’, tetapi di atas telah kita lihat bahwa itu bukan bahasa Yunani dari seorang yang baru belajar bahasa Yunani, tetapi ‘kesalahan’ yang disengaja karena adanya maksud tertentu di balik ‘kesalahan-kesalahan’ itu; kalau kesalahan bahasa Yunani itu betul-betul merupakan kesa-lahan, ini menghancurkan doktrin inerrancy (= ketidakbersalahan) dari Alkitab.

[38]Kaisar Domitian (tahun 81-96 M) adalah Kaisar Roma pertama yang menyuruh dirinya dipuja sebagai dewa. Sejak tahun 90, kaisar itu mulai mengambil tindakan terhadap mereka yang menolak pemujaan itu (orang-orang Yahudi, filsuf-filsuf, orang-orang Kristen; mereka dituduh sebagai “ateis”). Bagi Diomitian, Kaisar adalah Dominus er dues noster. Bdk. C. Groenen, OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 400. Bdk. juga I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, hlm. 15.

[39]Menurut William Hendriksen, dari seluruh kitab dalam Alkitab, kitab Wahyu merupakan kitab yang paling akhir ditulis yaitu sekitar tahun 94 M- 96 M, di akhir masa pemerintahan kaisar Domitian yang kejam. Selain di jaman Nero, pada masa pemerintahan kaisar Domitian ini orang Kristen juga mengalami penganiayaan dan penindasan yang kejam sehingga pada masa itu orang Kristen mengalami masa-masa yang paling sulit dimana sebagian besar para rasul sudah meninggal kecuali Rasul Yohanes, penulis kitab Wahyu, satu-satunya Rasul yang belum meninggal; ia dipenjarakan di pulau Patmos. Hendry Ongkowidjojo, http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040516.htm.

[40] Dalam Kitab Wahyu terdapat sepuluh kota yang disebutkan; antara lain; Efesus [2: 1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13], Laodokia [3:14-22], Mesir [11:8], Sodom [11:8], Yerusalem [ 21:2-22:5]. Jarak antara tujuh kota itu sekitar 50-80 km. Setiap tujuh kota tersebut mempunyai kantor pos besar untuk wilayah Propinsi Asia bagian barat-tengah. Bdk. Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm. 5. Bdk. Eva Maria Rapple, The City of Revelation” dalam The Bible Today, Vol. 34/6 [1996] (Minnesota: Order of Saint Benedict., Inc.), hlm. 359.

[41]Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm.  5.

[42]Bdk.  juga Francois Bovon, John’s Self-presentation in Revelation 1:9-10, dalam Biblical Quarterly (Oktober 2000), hlm. 699.

[43]Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm. 5-7.

[44]M.C. Tenney, Interpreting Revelation, hlm. 136-46. Berangkat dari Wahyu 1:19, “Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini” ditafsirkan sebagai yang berhubungan dengan perkara-perkara yang terjadi pada masa kitab ini ditulis pada tahun-tahun berikutnya. Berdasarkan teori ini maka Wahyu dianggap menggambarkan situasi penganiayaan yang dilakukan oleh Kaisar Nero, dan pemberontakan bangsa Yahudi. Tujuh raja dalam Wahyu 17:10 diartikan: Kaisar Agustus, Tiberias, Gayus (Caligula), Claudius, Nero, Galba, dan Oco. Bdk. J Sidlow Bayter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, diterjemahkan oleh Sastro Soedirdjo (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982), hlm. 213-214; Bdk juga Robert H Mounce, The Book of Revelation, hlm. 41 dan Hendry H. Haley, Penuntun ke dalam Kitab Suci Perjanjian Baru: Matius-Wahyu, hlm. 313.

[45]J Sidlow Bayter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, hlm. 214. Bdk juga Hendry H. Haley, Penuntun ke dalam Kitab Suci Perjanjian Baru: Matius-Wahyu, hlm. 313; M.C. Tenney, Interpreting Revelation, hlm.137 dan Robert H Mounce, The Book of Revelation, hlm. 41-42.

[46]Ibid., hlm. 138-139.

[47]Ibid. Bdk juga Robert H Mounce, The Book of Revelation, hlm. 42.

[48]Banyak orang futurist setuju bahwa surat-surat kepada tujuh jemaas (ps 2-3) menggambarkan tujuh babak dalam sejarah Gereja. Tetapi segala yang tersebut dalam ps 4 (atau ps 6) sampai ps 19 memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi menjelang Kedatangan Tuhan yang kedua. Kemudian ps 20 memberitakan Kerajaan Seribu tahun sampai terjadinya “Hukum Terakhir” bagi semua manusia, dan dua pasal yan terakhir (21-22) memberitakan hal “langit dan bumi yang baru”.  J Sidlow Bayter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, 214.

[49]Golongan idealist menganggap bahwa Wahyu tidak melukiskan peristiwa-peristiwa sejarah, melaikan membantangkan kenyataan-kenyataan rohani dengan kiasan dan ibarat. J Sidlow Bayter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, hlm. 214.

[50]M.C. Tenney, Interpreting Revelation, hlm.143; Hendry H. Haley, Penuntun ke dalam Kitab Suci Perjanjian Baru: Matius-Wahyu, hlm. 313.

[51]Bdk. Elisabeth Schussler Fiorenza, Composotoin and Structure of The Book of Revalation, hlm. 362-365. Bdk juga Robert H Mounce, The Book of Revelation, hlm. 45-49. Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, hlm. 18-21.

[52]Lihat St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius,1987), hlm. 199-201.

[53]Kej 21:28, 29,30; 22:7:8; Kel 12:3-5,21; 29:38; Im 22:27; Ul 32:14; 1 Sam 7:9; 15:9; 2 Sam 12:3-4.6; 2 Raj 3:4; Ezra  6:9; Ez 6:17.20; 7:17; 8:35; Mzm 114:4.6; Yes 16:1; 34:6; 40:11; 53:7; 65:25; Yer 11:19; Yeh  27:21; 39:18; 45:15; Am 6:4.

[54]Berasal dari bahasa Ibrani nάzίr yang berarti “yang dikesampingkan, dikuduskan”. Adalah suatu praktek keagamaan yang bersumberkan suatu kaul, yang seringkai kekal sifatnya dan yang kadang-kadang dibatasi lamanya selama 30 hari saja; bila memang sementara sifatanya, ia digenapkan dengan sebuah persembahan di Bait Suci (1Mak 3:49; Kis 21:23). Berlandasakan kaul ini, orang wajib tidak mencukur rambutnya, tidak minum minuman yang memabukkan dan menghindari segala kenajisan legal (Bil 6:1-21). Xavier Léon – Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, hlm. 43-47. Bdk juga I. Suharyo, Dunia Perjanjian Baru, hlm. 416.

[55]Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, Yohanes hendak menegaskan: pertama, Yohanes melihat kebenaran yang ada dalam diri-Nya, (Mat 3:17). Kedua, Yohanes memberitakan Kristus sebagai persembahan korban yang “istimewa,” (Kis 4:12). Ketiga, Yohanes memberitakan Kristus sebagai persembahan korban “dari Allah” (Mat 27:46; Kis 2:23; Yes 53:10; Yoh 1:29). Keempat, Yohanes memberitakan Kristus sebagai yang menanggung dan menghapus dosa kita (Yes 53:6; 1Pet 2:24; 1Yoh 1:7). Kelima, Yohanes memberitakan Kristus sebagai yang terus menerus menghapus dosa (Rom 5:9). Keenam, Yohanes memberitakan bahwa pengorbanan Kristus cukup untuk semua orang (Why 22:17; Mrk 16:16). Ketujuh, Yohanes memberitahu kita bagaimana menerima berkat dari pengorbanan Kristus (Yes 45:22). R. L. Hymers, Lihatlah Anak Domba Allah, http://www.rlhymersjr.com/Online_Sermons_Indonesian/2007/ 012107AM_ BeholdTheLambOfGod.html.

[56]Perikop ini merupakan salah satu bagian dari “pengakuan-pengakuan Yeremia” yang tidak ada dalam kitab-kitab para nabi lainnya. Yeremia mengucapkannya dalam emosinya yang bersifat pribadi dan mendalam. Dengan demikian kita memperoleh kebijaksanaan tentang perjuangan-perjuangan yang bersifat batin dan rohani di mana di dalamnya Yeremia terlibat karena panggilannya menjadi seorang nabi. Bdk. Robert M. Paterson, Kitab Yeremia (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), hlm. 145-146. Lihat juga Derek Kidner, Yeremia: Teladan Iman di Tengah Kehidupan Modern, diterjemahkan oleh Henry Lantang (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OFM, 1996), hlm. 81.

[57]St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius,1987), hlm. 203-204.

[58]Di tengah-tengah tahta, pada tempat yang paling tengah. Anak domba Allah berada pada jantung surga. Semuanya mengerumuni / menaungiNya. Dia-lah sang Penguasa yang dasyat. Berdiri hidup, namun memikul tkita derita penebusan yang mulia, Anak domba Allah yang telah disembelih, kurban yang telah dibantai. Saksi dan kesaksian darah Yesus adalah saksi abadi bagi tindakan penebusanNya. Kemurnian / ke-mulia-an darahNya ditentukan oleh penghembusannya ke tempat maha tinggi yang tepat pada waktunya dan kekal, di bumi maupun di langit. Pada tahta Yang Maha Kuasa. Dia dikerumuni empat makhluk hidup dan duapuluh empat tua-tua. Bdk. C. Joe McKnight, Kitab Wahyu, http://www.gpdiworld.us/ isi/cjm/revelationina.htm. Lihat juga dalam http://www.griiandhika.org/ready_bread/main/152a.htm.

[59]Wahyu 5:6 berbicara tentang Anak domba itu memiliki tujuh tanduk, yakni kekuatan dan kuasa yang absolut untuk menguasai dan memerintah. BapaNya berkenan menginvestasikan kekuatan dan kuasa di dalam anakNya, yakni Yesus Kristus. Dalam Kolose 2:9, bahkan kepenuhan keIllahian tinggal tetap di dalam Dia. Satu-satunya tubuh fana yang dimiliki Allah adalah tubuh Tuhan Yesus. Sebagaimana Roh Kudus datang memenuhi serta berdiam di dalam kita tanpa kehilangan kepribadian dan identitasNya, demikianlah kepenuhan Allah itu berdiam di dalam Kristus. Segala kuasa, tidak hanya di bumi saja tetapi di surga juga, telah dihibahkan kepada Yesus. Tujuh adalah bilangan kegenapan / kepenuhan Illahi.Yesus adalah kuasa Allah yang sanggup memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia yang menyebut  namaNya. Tidak hanya tujuh tanduk Ia miliki, tetapi tujuh mata juga. Yakni tujuh Roh Allah. Di dalam beberapa tafsiran Alkitab, tujuh Roh diterjemahkan sebagai Tujuh Kali Lipat. Dalam hal ini membuat kita lebih mengerti apa sebenarnya yang dimaksud. Lagi-lagi berbicara tentang kepenuhan atau kegenapan. Roh yang seutuhnya hidup di dalam Kristus, membuat Dia melakukan Pekerjaan-pekerjaan BapaNya. Mata, kesanggupan meneropong serta memahami segala situasi yang tampak ataupun yang tak tampak. Yakni hal-hal rohani dan hal-hal jasmani. II Tawarikh 16:9. Mata Tuhan berwatak dan berkesanggupan menopang orang-orang yang punya komitment kepadaNya. Zakharia 3:9. Permata, Tuhan Yesus, Sang batu penjuru, Batu yang tertolak / dibuang, permata bermata tujuh. Penguasaan / pengertian seutuhnya atas kehendak dan tujuan Yang Maha Kuasa, serta penggenapan hal-hal yng telah ditetapkan bagi Dia. Dalam satu hari, dengan satu tindakan maka segala ketidak layakan masa silam telah ditebus dan dihapuskan. Tak dapat disangkal lagi, Dia-lah kuasa Allah untuk keselamatan. Tiada keselamatan yang dikerjakan oleh nama lain, kecuali nama Tuhan Yesus Kristus. Allah telah memberi Dia sebuah nama yang di atas segala nama yang tersebutkan, bahwasanya kepada namanya semua lutut bertelut dan setiap lidah mengaku Yesus Kristus-lah Tuhan. Bdk. C. Joe McKnight, Kitab Wahyu, http://www.gpdiworld.us/ isi/cjm/revelationina.htm.

[60]Why 6:16 berisi tentang hari pembalasan telah tiba. Bumi beserta isinya harus menghadap meja pengadilan dan penghukuman. Mengapa harus ada pengadilan semacam itu? Dalam Roma 2:4-6 dikatakan bahwa oleh sebab penyataan penyepelehan dan rasa tidak hormat  terhadap kasih dan pengorbanan Yang Maha Tinggi. Dia telah menyatakan kasih karunia dan kemurahanNya yang besar, kesabaran dan penahanan diri yang berkepanjangan terhadap manusia. KeterlibatanNya dalam kehidupan manusia akan membawa mereka kepada pertobatan. Dia tidak menghendaki ada yang dibinasakan, tetapi semua orang hendaknya memperoleh pengertian tentang pengampunan dosa. Setiap insan yang belum bertobat sedang mengisi sebuah gudang yang sarat dengan penolakan-penolakan terhadap kasih kemurahan Tuhan yang luarbiasa dan dahsyat. Kebengalan dan kekerasan hati, penolakan total terhadap pertobatan serta datang kepada Tuhan, semata-mata kesalahan pribadi. Tak seorangpun yang harus bertanggung jawab. Camkan baik-baik, bahwasanya penghukuman yang akan dilaksanakan pada hari murkaNya itu adalah benar dan adil. Setiap orang harus dihakimi dan dihukum sesuai penerimaannya atau penolakannya terhadap Tuhan Yesus. Bdk. C. Joe McKnight, Kitab Wahyu, http://www.gpdiworld.us/isi/cjm/revelationina.htm.

[61]Dalam Why 5:12-14, setiap makhluk, semua yang pernah hidup di bumi, yang telah diselamatkan maupun yang belum diselamatkan akan memuliakan, menghormati, memberkati dan mengakui kekuatan-Nya yang dasyat. Hal ini sejalan dengan apa yang terdapat dalam Filipi 2:10. Semua lutut kan bertelut, setiap lidah mengaku bahwa Yesus-lah Tuhan. Tanpa kecuali, yang hidup maupun yang mati, orang kudus ataupun orang berdosa, bahkan, Lucifer juga harus mengaku siapa Yesus. Itulah Hari Kemenangan dan victory dahsyat manakala segala bentuk kontroversi tentang diri-Nya telah terselesaikan, oleh-Nya. Sebagaimana sediakala, sehubungan dengan keIllahian, Yesus adalah penerima kehormatan ini dan Bapa dimuliakan. Dia sangat berkenan kepada Putera-Nya dan bersuka-ria di dalam kemuliaan atau hormat yang diberikan kepada PuteraNya. Dia bangga akan Putera-Nya. C. Joe McKnight, Kitab Wahyu, http://www.gpdiworld.us/isi/ cjm/revelationina.htm. Juga dalam BP, Gelar ‘Anak Domba Allah’ bagi Yesus, http://www.sarapanpagi. org/gelar-anak-domba-allah-bagi-yesus-vt71.html.

[62]Dalam Kitab Henokh, Daud dan Yudas Makabe juga digambarkan secara demikian (1Hen 89:45; 90:6-17). St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, hlm. 204.

[63]Ibid., hlm. 204-205.

[64]Gulungan kitab itu ditulis di sebelah dalam dan sebelah luarnya menjelaskan bahwa gulungan kitab yang dimaksud di sini penuh dengan tulisan. Kita tahu bahwa bagian balik papirus sulit untuk ditulisi, sehingga bagian sebelah luar dari gulungan kutab jarang ditulisi. Dalam Yeh 2:9-10, juga ada gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan luarnya. Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm. 151.

[65]Kata ini κατασφραγίξω/katasfragizo, lebih baik diterjemahkan dengan kata “segel”. Zaman itu bukan tkita tangan yang dipakai untuk memastikan penulis surat, tetapi segel, seperti misalnya dalam 1Raj 21:8 dan Neh 9:38. Orang kaya memakai cincin (seperti dalam Kej 41:42 dan Ester 8:8) dan batu permata yang sangat kecil yang diukir (bdk. Kej 38:18), yang siap dipakai untuk menyegel surat. Barang yang dikirim juga disegel untuk menjamin suatu mutu. Segel tidak boleh dipakai oleh sembarangan orang. Istilah ini hanya dipakai di sini dalam seluruh PB, tetapi kata κατασφραγίξω/katasfragizo (tanpa awalan κατα/kata) dipakai antara lain dalam Mat 22:66; Rm 15:28; Ef 1:13;  4:30 dan Why 22:10. Awalan κατα/kata menegaskan bahwa gulungan kitab itu sungguh disegel. Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm. 150.

[66]Mengapa memakai tujuh segel/meterai? Menurut hukum Roma, surat wasiat harus ditutup dengan tujuh segel, sama seperti gulungan kitab itu. Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm. 151.

[67]Hendry H. Halley, Penuntun ke dalam Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Siem Hong An dan Liem Khiem Soe (Surabaya: Yakin, 1965), hlm. 338.

[68]Kalau Kristus tidak membukanya, seluruh dunia akan menempuh arah yang keliru menuju kehancuran. Kristus yang campur tangan dalam sejarah dunia ini disebut dengan gelar khusus Anak Domba. Kemengan-Nya atas kejahatan yang Ia peroleh melalui kematian dan kebangkitan-Nya mampu membaca gulungan kitab itu dan mewahyukan isinya. I Suharyo, Kitab Wahyu, Paham dan Maknanya bagi Hidup Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 40.

[69]Pheme Perkins dalam Tafsir Wahyu membagi Why. 5:1-14 ke dalam dua bagian. Bagian pertama tentang Anak Domba menerima gulungan, 5:1-7. Sedangkan bagian kedua tentang Pujian bagi Anak Domba, 5:8-14. Pheme Perkins, ‘Wahyu: Tafsir’ dalam Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (eds.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, terj. A.S. Hadiwiyata, Lembaga Biblika Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 491-492. Drs. J.J. de Heer dan beberapa ahli lain melihat Why. 5:1-14 ini dalam satu kesatuan. Tetapi dalam pembagiannya, de Heer menggabungkan beberapa ayat sekaligus, 5:1, 2-4, 5, 6, 7, 8, 9-10, 11, 12, 13, 14. Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979), hlm. 75-84.

[70] Bagian ini diambil dari Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, (Ende: Arnoldus, 1982).

[71]Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, hlm.  154-156.

[72] Kata Yunani ini berarti: Pertama, gulungan perkamen atau kodeks dari papirus di mana ada tercatat dan terkumpul ucapan-ucapan dan pemikiran-pemikiran Allah atau manusia. Kedua, kata kitab mendapat arti berbeda-beda, tergantung dari isi kitabnya. Demikianlah, dalam PB, ada disebut Kitab Perjanjian (Kel. 24:7; Ibr. 9:19), Kitab Hukum (Ul. 28:58, 61; Gal. 3:10), Kitab Musa (2 Taw. 25:4; Mrk. 12:26), Kitab Yesaya (Luk. 3:4; 4:17), atau Kitab Mazmur (Luk. 20:42; Kis. 1:20), dan juga Kitab Injil atau Kitab Wahyu Yohanes (Yoh. 20:30; Why. 1:11). Fungsi kitab-kitab itu serupa dengan Kitab Suci pada umumnya; memberikan kesaksian, mengingatkan, memeteraikan ucapan-ucapan para nabi (Ul. 31:26-27; Yes. 30:8; Yer. 36; Why.22:7,9,18-19). Ketiga, dalam arti metaforis, ada sebuah kitab kehidupan (Kel. 32:32-33; Mzm 69:29; Dan. 12:1; Luk. 10:20; Flp. 4:3; Why. 3:5; 13:8; 17:8), yaitu kitab dimana ada tercatat perbuatan-perbuatan manusia yang dilihat dari segi penghakimaan (Dan. 7:10; Why. 20:12), akhirnya sebuah kitab yang dimeteraikan dan dapat dibuka hanya oleh Anak Domba; barangkali kitab itu berisikan perbuatan-perbuatan Allah sepanjang sejarah manusia, rencana-Nya yang tergenapi dalam Yesus Kristus (Yeh. 2:9-10; Why. 5:1-10; bdk. 2 Kor 3:14-16). Xavier Léon – Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Stefan Leks dan A.S. Hadiwijaya (Yogyakarta, Kanisius, 1990), hlm. 339-340).

[73]Bdk. Vincent Taylor, The person of Christ in New Testament Teaching (London: Macmillan, 1966), hlm. 138-139. Bdk juga I Suharyo, Kitab Wahyu, Paham dan Maknanya bagi Hidup Kristen, hlm. 9-12.

[74] Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 76-77.

[75] Why. sering membuat dan menggunakan secara berbeda kata “meterai” dalam kerangka gambaran apokaliptik. Yang Ilahi tidak memeteraikan kata-kata nubuat (2:10). Ini berarti bahwa Dia tidak menyimpannya, merahasiakan dan menyembunyikannya. σφραγιζω terjadi dalam 20:3 dalam pengertian meterai yang tidak diganggu gugat sebagaimana dalam Mat. 27:66; malaikat dari surga, yang mengikat setan dan melemparkannya ke dalam jurang maut, menutup dan memeteraikan jurang maut itu untuk seribu tahun – sebagaimana tulisan ditutup dan dimeteraikan. Di sisi lain σφραγιζω digunakan dalam suatu pengertian yang lebih lunak: “to close” (= menutup), “to conceal” (= memeteraikan), tidak untuk menulis (Why. 10:4). Di tempat lain apa yang ditulis dimeteraikan melawan penyalahgunaan dan pengetahuan yang tidak sah, tetapi di sini kombinasi “memeteraikan” dan “tidak untuk menulis” menunjukkan bagaimana beberapa ide konkrit telah menghilang ke dalam dasar. (Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VII, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 950).

[76]LBI, Kitab Wahyu (Yogyakarta: Kanisius, 1983), hlm. 73-74.

[77]Sekelompok meterai merujuk pada sebutan “kitab yang dimeterai”, kitab dengan tujuh meterai. Itu merupakan dokumen gkita. Tujuh meterai mengingatkan kita pada hukum Romawi dengan enam testes-nya untuk suatu kehendak bersama dengan testator. Metafora tidak tercapai terus-menerus tetapi menyediakan sebagai suatu tulisan terpisah dalam pemaparan apokaliptik. Pembukaan tujuh meterai berturut-turut melancarkan peristiwa-peristiwa, mengingat semua metarai harus dibuka atau dilepaskan pada suatu waktu dalam suatu tempat yang dalam. Hanya pada suatu kesempatan yang mana halaman tertutup κατασφργιζω digunakan dalam PB Why. 5:1 merupakan meterai dari dokumen surgawi ini. Hanya Anak Domba yang berhak dan berkuasa untuk membuka meterai ini (5:1, 2, 5, 9). Satu meterai dibuka sesudah yang lain, 6:1, 3, 5, 7, 9, 12; 8:1). Masing-masing menyertakan peristiwa apokaliptik yang kemudian terjadi. Ide dari suatu dokumen yang dimeterai dengan tujuh kitab yang dimeterai tidak berkembang lebih lanjut. Menurut hukum, perbedaan meterai-meterai bergantung pada mereka yang memilikinya. Itu tidak disebutkan di sini. Nomor meterai-meterai hanya berarti disebabkan oleh perbedaan dalam isi, yang menentukan bagian dari peristiwa eskatalogis. (Ibid.).

[78]Lawrence O. Richards, Complete Bible Handbook, (Dallas: Word Publishing, 1987), hlm. 827.

[79]LBI, Kitab Wahyu, hlm. 73-74.

[80]Kita juga menemukan gelar yang menunjuk kepada pengorbanan Kristus sebagai Anak domba yang disebutkan 28 kali dalam kitab Wahyu. Ada empat aspek tentang Kristus sebagai Anak domba yang terlihat jelas dalam kitab Wahyu: Dalam fasal 4-5, penyembahan kepada Anak domba diperingati; dalam fasal 6-18, murka dari Anak domba dinyatakan; dalam fasal 19–20, perkawinan Anak domba diadakan; dan dalam fasal 21-22, mempelai dari Anak domba dijelaskan. Pendahuluan Wahyu http://www.biblepathway.org/cgi-bin/in/in_view.cgi?book=rev&language=in&ext=.

[81]Hendry Ongkowidjojo, Dia yang Duduk di Takhta & Anak domba Allah, http://www.grii-andhika. org/ringkasan_kotbah/2004/20040516.htm.

[82] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, (Grand Rapids, Michigan: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1968), hlm. 340. Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, (Ende: Arnoldus, 1982) dalam bagian catatan kaki pada Why. 5:6 menyebut bahwa gelar Anak Domba sebagai gelar Kristus dalam Why. Dipakai 30 kali lebih.

[83] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VII, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 934.

[84] Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 78-79. bdk. juga Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, pada catatan kaki 5:6; Ds A. Pos, Tafsir Alkitab: Wahyu kepada Rasul Jahja, terj. F. Sitanggang, Cetakan II, (Djakarta: Penerbit Kristen, 1966), hlm. 72-73; Tafsir Alkitab Masa Kini 3, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1982), hlm. 908-909; The New Biblical Commentary, Raymond E. Brown, Joseph A. Fitzmyer, Roland E. Merphy (eds.), (Quezon City, Philippines: Claretian Publications, 1989), hlm. 1004; Lembaga Biblika Indonesia, Tafsiran Perjanjian Baru 10: Kitab Wahyu, (Yogyakarta: Kanisius, 1983), hlm. 73-74.

[85]Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 79-80.

[86]Ds A. Pos, Tafsir Alkitab: Wahyu kepada Rasul Jahja, terj. F. Sitanggang, Cetakan II, hlm. 72.

[87]Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 78. Dalam berkat Yakub atas anak-anaknya dalam Kej. 49:9-10 Yehuda dimisalkan sebagai singa, dan diberikan janji tentang Silo, Mesias akan datang, dan kekuasaan. Kristus juga disebut akar Daud. Di satu pihak Dia adalah Tuhan Daud pula, Mat. 22:41-46. Dia adalah tunas pada suku bangsa Yehuda (Yes. 11:1; 53:1), tetapi sebenarnya Daud adalah dari akar Kristus, dan dia hanya ada sebagai bayangan Kristus. Semua janji yang diberikan kepada Daud, terlaksana dalam Kristus. Dia adalah Daud yang sebenarnya, Raja yang sebenarnya dari Kerajaan Allah. Ds A. Pos, Tafsir Alkitab: Wahyu kepada Rasul Jahja, terj. F. Sitanggang, Cetakan II, hlm. 72-73.

[88]Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, pada catatan kaki 5:2.

[89]Ibid., pada catatan kaki 4:4.

[90] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. IV, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 249 dan Vol. VI, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 668.

[91] Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, pada catatan kaki 4:6. Dalam Yeh. 1:4-20, pada permulaan nabi melihat angina badai besar. Di dalamnya ia menemukan kereta takhta Allah ditarik oleh empat makhluk. Yehezkiel mengkitaikan bahwa masing-masing makhluk mempunyai empat muka: manusia, singa, sapi, dan burung nasar. Wahyu menetapkan satu muka pada masing-masing empat pemilik takhta. Gambaran ini mungkin diambil dari gambar-gambar zodiac dari Babel. Unsur pertama, sapi (Taurus), adalah tkita bumi; unsur kedua singa (Leo), adalah tkita api; unsur ketiga, seperti wajah manusia, mungkin Scorpio (karena Scorpio kerap kali digambarkan dengan wajah manusia), adalah tkita air. Burung nasar merupakan lambang dari unsur keempat, udara. Ini juga menampilkan tkita lain dari kedaulatan ilahi atas Kerajaan Roma. Demikianlah, keempat makhluk itu tidak hanya dimaksudkan untuk menggambarkan kereta takhta ilahi, tetapi juga mewartakan kekuasaan ilahi atas empat unsur dari kosmos dan tkita-tkita zodiac. Ayat terakhir menampilkan dalam penglihatan tentang ruangan takhta dalam Yes. 6:1-2. Makhluk-makhluk itu bergabung dengan cherubim dan seraphim dalam adegan itu. [Pheme Perkins, ‘Wahyu: Tafsir’ dalam Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (eds.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, terj. A.S. Hadiwiyata, Lembaga Biblika Indonesia, hlm. 490-491]. Bdk juga Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VIII, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 134.

[92] Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 80.

[93] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. IV, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 249.

[94] De Heer dan kebanyakan penafsir berpendapat bahwa yang dimaksudkan Yohanes ialah bahwa hanya keduapuluh empat tua-tua dan bukan keempat makhluk itu yang memegang kecapi dan cawan. (Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 80).

[95] Agripa II menunjuk sekelompok orang-orang Lewi yang berperan dalam kenisah τούς ϋμηος έκμαθειν dan tentu saja untuk menyanyi…. Tata ibadat amat dengan menyanyikan lagu-lagu mazmur dalam kenisah. (Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VIII, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 496).

[96] Petunjuk untuk memasang alat-alat dalam penyembahan surgawi pada Why. 5:8; 15:2 dibutuhkan tidak berarti bahwa alat-alat yang demikian kadang-kadang boleh mengiringi nyanyian pada penyembahan kuno. (Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VIII, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 499).

[97] Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 81.

[98] Ibid., hlm. 82-83.

[99] Bdk. Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 164.

[100] Bdk. Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, pada catatan kaki 5:9.

[101] έθνος digunakan pada manusia dalam pengertian suatu people (orang-orang, bangsa, rakyat). Sinonimnya adalah θυλή (people sebagai suatu kesatuan bangsa dari keturunan yang sama), λαός (people sebagai suatu kesatuan politik dengan suatu sejarah dan konstitusi yang sama) dan γλώσσα (people sebagai suatu kesatuan bahasa). έθνος paling umum dan oleh karena itu paling lemah dari term-term ini, mempunyai suatu pengertian etnografikal yang sederhana dan merupakan perpaduan dari suatu rakyat pada umumnya. (Theological Dictionary of the New Testament, Vol. II, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 369; bdk. Vol. IV, hlm. 52).

[102] Lembaga Biblika Indonesia, Tafsiran Perjanjian Baru 10: Kitab Wahyu, hlm. 75-76.

[103]J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 83.

[104]Ibid. Bdk juga. Eduard Schick, The Revelation of St. John for Spiritual Reading (London: Sheed & Ward, 1971), hlm. 58-59.

[105]Ibid., hlm. 83-84.

[106]Lembaga Biblika Indonesia, Tafsiran Perjanjian Baru 10: Kitab Wahyu, hlm. 76.

[107]Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Wahyu Yohanes I, hlm. 84. Bdk. juga Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 336-337.

[108]Di atas bumi, juga, mereka yang takut akan Allah adalah proskynesis di satu sisi (11:4; 14:7), walaupun penyembah-penyembah naga dan binatang juga disebut proskynesis di sisi lain (13:4, 8, 12, 15; 14:9 ,11; 16:2; 19:20; 20:4). Pada hari akhir, bagaimanapun, tidak hanya semua bangsa akan datang dan menyembah di hadapan Allah (15:4) tetapi mereka yang melayani setan di Philadelphia juga akan datang menyembah di hadapan malaikat-malaikat gereja itu (3:9). Sebagaimana kekuatan adalah referensi pada proskynesis actual boleh dilihat dari penolakan yang berulang-ulang dari sikap ini melalui pengartian malaikat (19:10; 22:8f.). (Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VI, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 764-765).

[109]Bdk. Eduard Schick, The Revelation of St. John for Spiritual Reading (London: Sheed & Ward, 1971), hlm. 59-60. Theological Dictionary of the New Testament, Vol. VIII, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 178.

[110]Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 341.

[111] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 900-901.

[112]10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.

[113] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. III, Edited by Gerhard Kittel, hlm. 264-265.

[114] Katekismus Gereja Katolik no. 1546.

[115] Theological Dictionary of the New Testament, Vol. V, Edited by Gerhard Friedrich, hlm. 213-214.

[116] Konstitusi tentang Liturgi Suci (SC) no. 7. bdk. juga Katekismus Gereja Katolik no. 1137.

2 Tanggapan to “GORESAN PENA SAHABATKU (PAUL KALKOY)”

  1. http://answering-ff.org/board/kitab-wahyu-13-18-anti-christ-666-is-the-trinity-t3975.html

    “Coba main ke sini mas…barangkali anda mau ikut menelaah kitab wahyu..
    salam kenal sebelumnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: